MasukKesadaran Sienna kembali secara perlahan, ditarik paksa dari dalam kegelapan pekat oleh rasa pening yang hebat di kepalanya. Sisa-sisa obat bius yang dihirupnya masih mengalir di dalam pembuluh darah, membuat setiap otot di tubuhnya terasa berat.Sienna membuka kelopak matanya dengan susah payah. Hal pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah langit-langit kayu kasar yang lapuk dan dipenuhi sarang laba-laba. Udara di sekitarnya terasa luar biasa lembab, bercampur dengan bau tanah basah dan asap kayu bakar dari perapian kecil yang berderak di sudut ruangan.Ini adalah sebuah gubuk perburuan yang terbengkalai.Ingatan tentang apa yang baru saja terjadi merangsek masuk ke dalam kepalanya seperti hantaman palu. Ledakan di Ruang Audiensi. Kepanikan di lorong istana. Dan lengan kuat yang membekap wajahnya di tengah kobaran api.Napas Sienna seketika memburu. Kepanikannya meledak ruah. Ia mencoba bangkit dengan cepat, namun baru menyadari bahwa tubuhnya telah dibaringkan di atas seb
Di sisi lain istana, kobaran api menjilat-jilat liar menghancurkan sisa-sisa Ruang Audiensi.Pintu ganda berbahan kayu eboni raksasa yang telah tertimpa puing-puing bebatuan itu tiba-tiba meledak dari dalam, hancur berkeping-keping oleh sebuah tendangan dengan tenaga yang sama sekali tidak manusiawi.Dari balik tirai api dan debu reruntuhan, Lucian melangkah keluar.Aura sang Kaisar itu begitu mengerikan, segelap dan sedingin dewa kematian yang baru saja merangkak naik dari dasar jurang. Seragam kekaisarannya hangus di beberapa bagian, dan noda abu serta cipratan darah samar menutupi separuh wajah aristokratnya yang mengeras kaku.Lucian tidak keluar dengan tangan kosong. Di kedua tangannya yang besar dan berotot, ia membawa dua penguasa negara sekutu yang telah jatuh pingsan akibat menghirup terlalu banyak asap beracun dari bubuk peledak tersebut. Melihat Kaisar mereka berhasil keluar dari reruntuhan hidup-hidup, Komandan Ksatria Bayangan dan tim medis yang bersiaga di luar langsun
Memanfaatkan kepanikan yang melumpuhkan seluruh sistem keamanan istana, Alexander bergerak bagaikan hantu di tengah kepulan asap.Sementara para Ksatria Bayangan dan pelayan utara berlarian ke arah sumber ledakan di sayap utama, sang Raja justru menyelinap ke arah sebaliknya. Di dalam pelukannya, tubuh Sienna terkulai tak berdaya. Efek obat bius berdosis tinggi racikan tabib selatan itu telah memutus total kesadaran sang Permaisuri.Alexander melewati lorong-lorong pelayan yang sepi dan jalur rahasia yang telah dipetakan oleh mata-matanya jauh-jauh hari. Tujuannya adalah gerbang utara yang berbatasan langsung dengan hutan pinus.Di sana, di balik bayangan pepohonan besar, pelayan setia Eldoria telah berdiri siaga menahan tali kekang seekor kuda jantan hitam bertubuh besar. Kuda itu sengaja tidak dipasangi pelana berlambang kerajaan, melainkan pelana kulit lusuh yang biasa dipakai oleh para pedagang."Semuanya sudah siap sesuai perintah Anda, Yang Mulia," bisik pelayan itu seraya m
Asap hitam yang tebal dan mencekik mulai merayap memenuhi langit-langit lorong utama istana. Udara musim semi yang semula sejuk kini berubah menjadi panas dan berbau hangus. Suara dentuman yang baru saja menghancurkan Ruang Audiensi kini digantikan oleh paduan suara kepanikan yang memekakkan telinga."Air! Bawa lebih banyak air ke ruang audiensi!" raung seorang komandan Ksatria dari ujung koridor, suaranya nyaris serak mengalahkan suara bising."Minggir! Beri jalan untuk tim medis! Ada korban yang tertimpa pilar batu!" teriak pelayan lain sambil mendorong kereta dorong kayu yang dipenuhi perban dan ramuan obat, wajahnya pucat pasi."Di mana regu pelindung tambahan?! Evakuasi para tamu ke paviliun utara sekarang juga!"Kepanikan meledak di setiap sudut. Para pelayan berlarian tak tentu arah, sementara barisan Ksatria berzirah baja berderap maju dengan langkah berat, berusaha menembus kekacauan menuju titik ledakan untuk memadamkan api. Di tengah arus manusia yang berdesakan panik itu
Di dalam kamar utama Permaisuri yang luas, Sienna tengah duduk bersama kedua dayangnya. Sienna meletakkan cangkirnya dengan gerakan lembut, matanya menatap Alice yang sejak tadi tampak gelisah. "Alice," panggil Sienna dengan nada penuh perhatian. "Sudah beberapa hari berlalu sejak pengumuman itu. Bagaimana persiapan pernikahanmu? Apakah ada sesuatu yang bisa kubantu, atau mungkin ada hal yang membuatmu merasa tidak nyaman?"Alice tidak langsung menjawab. Gadis itu hanya bisa menunduk, menatap jemarinya sendiri yang bertaut erat di atas pangkuan. Perasaannya masih sangat campur aduk, di satu sisi ada rasa syukur yang luar biasa karena telah diselamatkan dari nasib buruk, namun di sisi lain, beban rasa bersalah kepada Lord Caesar terasa begitu menyesakkan. Ia merasa seperti seseorang yang tidak sengaja merusak barang berharga milik orang lain dan kini harus menerima tanggung jawab yang tak pernah ia minta. Ketegangan menghadapi pernikahan yang mendadak ini membuat napasnya terasa le
Sinar matahari pagi musim semi utara menyusup masuk melalui celah gorden tebal berbahan beludru di kamar utama Paviliun Tamu, namun cahaya pucat itu sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin yang luar biasa pekat di dalam ruangan tersebut.Raja Alexander berdiri mematung di depan cermin perak berukuran besar, menatap pantulan dirinya sendiri dengan sorot mata yang kosong.Suara gemericik air memecah kesunyian yang mencekik saat pria itu mencelupkan kedua tangannya ke dalam baskom porselen di atas nakas. Ia menggosok sela-sela jarinya dengan sangat lambat. Air di dalam baskom itu bergoyang pelan, permukaannya yang semula jernih kini perlahan mengeruh, diwarnai oleh jejak merah muda pudar yang menguar bersama aroma amis besi yang sangat khas dan menyengat.Alexander mengangkat tangannya, meraih sehelai handuk putih bersih untuk mengeringkan kulitnya yang pucat. Ia menatap ke sekeliling kamarnya yang sunyi senyap.Biasanya, pada jam seperti ini, ajudan bertubuh besarnya sudah berdir
Sementara kepanikan melanda kamar utama, kesunyian yang mencekam menyelimuti kamar Tabib.Damien berdiri diam di tengah ruangan tersebut. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut kamar yang terlihat rapi. Tidak ada botol ramuan yang tersisa, tidak ada pakaian di dalam lemari kayu itu. Membuatnya te
Begitu mereka melangkah lebih jauh ke dalam aula, beberapa bangsawan yang didorong oleh rasa penasaran, ambisi politik, atau sekadar ingin menjilat, mulai mencoba mendekat.Mereka memasang senyum pal
Bruk!Baron Borgia jatuh tersungkur di atas tanah berkerikil di pelataran depan. Sebelum ia sempat bangun untuk mengutuk lagi, seorang pelayan pria melangkah tenang menuruni anak tangga batu.
Riuh seketika meledak, memenuhi setiap sudut aula yang megah itu sesaat setelah pengumuman sang Kaisar bergema.Kali ini, tidak ada lagi yang menyembunyikan bisik-bisik mereka. Aturan kesopanan seolah dilupakan. Seluruh







