Share

BAB 91

Author: Rainina
last update publish date: 2026-02-11 15:15:04

Malam semakin larut, namun Sienna masih belum bisa memejamkan matanya. Dalam kehangatan selimut tebal dan pelukan Lucian yang kokoh, pikirannya masih berkelana pada kejadian hari ini.

"Tuan Duke..." bisik Sienna pelan, jemarinya bermain di dada bidang Lucian yang terbalut baju tidur. "Apa Lady Alexandria benar-benar sudah pergi?"

Lucian mengecup puncak kepala Sienna, mengeratkan dekapannya.

"Ya." jawab Lucian. "Keretanya melewati gerbang tepat saat aku kembali tadi. Semua sudah baik-baik saja,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 277

    Siang itu, Lady Alexandria berjalan menyusuri jalan setapak berbatu putih sambil bersenandung pelan. Nada yang meluncur dari bibir merahnya terdengar riang, sangat kontras dengan ketegangan yang menyelimuti istana hari itu.Di balik pepohonan dan dari sudut-sudut pilar, Alexandria bisa merasakan tatapan tajam dari para ksatria kekaisaran berseragam hitam yang mengawasinya layaknya elang yang memantau mangsa. Lucian telah memperketat penjagaan di sekitarnya, menempatkan anjing-anjing pelacaknya di mana-mana.Namun, Alexandria tidak peduli. Senyum merendahkan justru terukir di wajahnya. Biarkan saja mereka mengawasi sesuka hati mereka hari ini, batin Alexandria penuh kemenangan.Kini, setelah posisinya di istana dijamin oleh Ibu Suri, Alexandria mulai menyusun papan caturnya sendiri. Ada begitu banyak hal yang harus dihancurkan di istana berdarah ini demi memuluskan ambisinya. Dan ia memutuskan untuk memulainya dari hal yang paling mudah.Ia akan mulai menghancurkan kecoak-kecoak tid

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 276

    Keesokan harinya, sinar matahari pagi belum sepenuhnya menghangatkan dinding-dinding batu istana ketika Marquess Ashford melangkah masuk ke dalam ruang audiensi pribadi sang Kaisar.Pria paruh baya itu menunduk hormat di hadapan takhta. Namun, ketenangan yang ia tampilkan hanyalah sebuah topeng. Begitu ia menerima surat panggilan mendesak dari kaisar, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres."Bawa putrimu kembali ke wilayahmu, Marquess Ashford." titah Lucian tanpa basa-basi, suaranya menggema penuh ancaman di ruangan yang sunyi itu. "Hari ini juga."Marquess Ashford terdiam kaku. Matanya sedikit melebar. Sejujurnya, ia sama sekali tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Alexandria di belakang punggungnya. Putrinya itu tidak pernah mengabarkan rencana kepindahannya ke Istana Ibu Suri.Namun, terkejutnya saat menerima surat itu kemarin telah tergantikan oleh ambisi yang kembali menyala.Ini adalah sebuah peluang emas. Sebuah celah besar yang selama ini ia tunggu-tunggu.Sejak Lucian

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 275

    Lucian akhirnya berbalik. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, sang Kaisar melangkah keluar dari ruang minum teh tersebut.Pintu ganda kayu ek itu ditutup kembali dengan dentuman yang menggetarkan dinding. Namun, kepergian sang Kaisar sama sekali tidak membawa kelegaan. Dari balik celah pintu dan jendela, terdengar derap langkah berat dari puluhan sepatu bot besi. Lucian tidak sekadar pergi, pria itu baru saja menitahkan puluhan ksatria elit kekaisarannya untuk berbaris dan berjaga di sepanjang koridor Istana Ibu Suri.Lucian memastikan bahwa Alexandria tidak akan bisa mengambil satu napas pun di istana ini tanpa sepengetahuannya.Di dalam ruangan yang kini kembali tertutup rapat itu, keheningan mencekam sempat menggantung di udara. Nyonya Beatrice masih berdiri kaku, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak teratur, menahan sisa-sisa badai amarah yang baru saja menghantamnya.Prok. Prok. Prok.Suara tepukan tangan yang pelan, lambat, dan luar biasa sarkastis memecah kesunyian

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 274

    Urat-urat di pelipis Nyonya Beatrice berkedut keras menahan amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Melihat senyum merendahkan dari wanita di hadapannya, sang Ibu Suri mencengkeram erat sandaran kursinya."Jangan bersikap congkak di hadapanku, Alexandria." desis Beatrice dingin, suaranya sarat akan peringatan. "Aku yang membawamu masuk kemari, dan aku juga yang bisa menghancurkanmu. Jangan lupa tempatmu. Aku tetap Ibu Suri di kekaisaran ini."Mendengar ancaman itu, Alexandria sama sekali tidak terlihat gentar. Ia justru tertawa kecil, suara yang mengalun memuakkan di telinga Beatrice. Wanita itu melangkah maju dengan angkuh, memiringkan kepalanya dengan tatapan penuh kepolosan palsu."Begitukah?" balas Alexandria lembut, mencondongkan wajahnya mendekati sang Ibu Suri. "Bukankah dulu Anda begitu menyukai sikap percaya diriku yang seperti ini? Anda memujinya, mengatakan bahwa hanya wanita dengan keberanian dan ambisi sepertiku yang pantas bersanding dengan putra Anda."BRAK!Sebuah

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 273

    Mendengar jawaban yang begitu terus terang itu, jantung Sienna berdegup satu ketukan lebih cepat. Darahnya berdesir hangat. Semburat merah seketika menjalar, mewarnai kedua pipinya.Sienna menundukkan pandangannya, tiba-tiba merasa sangat malu dan salah tingkah. Melihat wajah istrinya yang merona merah padam, tatapan Lucian semakin melembut. Senyum tipis yang memabukkan terukir di sudut bibirnya. Pria itu mengulurkan tangannya, memetik sekuntum bunga berwarna putih yang mekar sempurna dari semak di dekat mereka.Dengan sentuhan yang sangat berhati-hati, seolah takut merusak barang berharga yang mudah pecah, Lucian menyelipkan tangkai bunga itu ke balik telinga Sienna. Jari-jari besarnya, kini mengusap lembut pipi istrinya yang merona, lalu menelusuri garis rahangnya, hingga beristirahat dengan posesif di tengkuk wanita itu.Sienna kembali mendongak. Mata biru jernihnya menatap lurus ke dalam manik mata merah suaminya."Kau jauh lebih indah dari bunga manapun di taman ini, Sienna."

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 272

    Lesley menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga nyaris berdarah. Kedua tangannya yang berada di atas pangkuan kini mengepal erat. Harga dirinya terasa hancur diinjak-injak, dan amarah tertahan membuat napasnya sedikit memburu.Melihat reaksi Lesley, Elizabeth mencondongkan tubuhnya ke depan."Apa pun yang sedang kau pikirkan di dalam kepalamu saat ini, Lady Lesley." desis Elizabeth tajam, memutus setiap angan-angan Lesley bahwa mereka berdua adalah rekan yang setara. "Jangan pernah merasa bahwa kita berada di tempat yang sama. Kau dan aku... darah yang mengalir dalam diri kita sangat berbeda."=Matahari mulai naik ke tengah, namun pikiran Sienna masih tertinggal pada kehangatan dan percakapan intim antara dirinya dan Lucian tadi pagi.Bahkan setelah Lucian keluar, sang Permaisuri merenung dalam diam. Ia baru menyadari sebuah kebenaran yang selama ini ia abaikan. Hubungannya dengan Lucian memang selalu terasa begitu tegang dan dipenuhi kewaspadaan, bahkan jauh sebelum mereka pindah

  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 94

    Perjalanan baru berlangsung satu jam, roda kereta baru saja meninggalkan jalan utama berbatu di sekitar kastil dan memasuki jalan hutan yang sedikit tidak rata.Namun, di dalam kereta yang hangat itu, wajah Sienna tiba-

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 90

    Lucian berjalan melewati ibunya menuju tangga, membiarkan punggungnya menjadi pemandangan terakhir bagi ibunya yang masih terisak di lantai yang dingin. Ia tidak menoleh lagi, meski teriakan dan tangisan Beatrice menggema memantul di dinding batu kastil.Ia menaiki tangga dengan langkah lebar, piki

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 78

    Sienna membulatkan matanya mendengar perkataan itu. Apa obat itu… membuat orang yang mengkonsumsinya jadi berbicara melantur?"Itu... itu berlebihan sekali...." ucap Sienna dengan dahi berkerut. "Anda tidak boleh mempertaruhkan nyawa semudah itu, Tuan Duke! Itu mengerikan!"Lucian terdiam sejenak.

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Satu Malam Bersama Duke   BAB 79

    "Nona... apa Anda yakin?"Pelayan pribadi Alexandria bertanya dengan suara gemetar. Tangannya memegang lentera kecil, menerangi lorong sempit di balik dinding kastil yang biasanya hanya dilewati oleh tikus dan pelayan yang menuju kamar tuannya.Alexandria menatap pelayan itu dengan tajam, matanya b

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status