로그인Ketegangan seketika menebal, merayap dan mencekik udara di ruang minum teh itu begitu Alexandria menyelesaikan kalimatnya.Kata-kata yang baru saja dilontarkan wanita bergaun zamrud itu bukan lagi sekadar sindiran, melainkan tuduhan terang-terangan bahwa sang Permaisuri tak lebih dari seorang pencuri tak beradab yang merebut posisinya.Mendengar kalimat yang berpotensi memicu hukuman mati itu, Lady Elizabeth dan Lady Lesley langsung mencuri pandang ke arah Sienna dengan panik. Jari-jari Elizabeth menegang di atas pangkuannya, bersiap jika nyonyanya meledak dalam amarah atau memerintahkan ksatria masuk. Sementara Lesley menggigit bibir bawahnya,pikirannya langsung memperhitungkan ke siapa ia harus berpihak jika itu semua benar terjadi.Namun, Sienna sama sekali menolak untuk terprovokasi.Wajah cantik sang Permaisuri tetap tenang. Ia bahkan tidak berkedip. Alih-alih marah, matanya menatap lurus ke arah Alexandria dengan sorot tenang."'Merebut' sesuatu yang menolak menjadi milikmu...
Lucian terdiam, mencerna strategi istrinya. Pikirannya yang tajam sebagai ahli perang segera menangkap arah pemikiran Sienna."Maksudmu... kau ingin menggunakan dirimu sendiri sebagai umpan untuk memancing tikus-tikus lain keluar?" geram Lucian, tangannya tanpa sadar mencengkram seprai. "Itu terlalu berisiko, Sienna. Terutama dengan kondisimu saat ini.""Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada anak kita, aku berjanji." ucap Sienna meyakinkan, menekan tangan Lucian lebih erat ke perutnya. "Aku akan membawa Elizabeth dan ksatria. Aku akan sangat berhati-hati dengan apa pun yang kusentuh atau kuminum di sana."Sienna menatap suaminya dengan tatapan memohon sekaligus menuntut kepercayaan. "Kita tidak bisa hanya bertahan di dalam kamar ini selamanya, menunggu mereka memicu ledakan."Lucian menatap dalam ke mata biru istrinya. Ia melihat api keberanian yang sama dengan yang ia miliki saat ia memutuskan untuk merebut takhta. Setelah keheningan yang cukup lama, Lucian akhirnya menghe
Gerakan Beatrice terhenti. Ia perlahan menurunkan cangkir tehnya, menatap Alexandria dengan sorot mata yang dingin. "Kau pikir siapa kau hingga berani memerintahku, Lady Alexandria?" desis Beatrice dingin. Setiap suku kata yang keluar dari bibirnya terdengar seperti gesekan pedang. "Kau pikir hanya karena kau tinggal di bawah atapku, kau bisa mendikte apa yang harus kulakukan?"Alexandria menyeringai sinis, mencondongkan tubuhnya ke depan melintasi meja."Apa anda sudah mulai pikun?" balas Alexandria dengan nada mengancam, membalas tatapan tajam itu tanpa gentar. "Aku akan membongkar semuanya pada Lucian jika Anda terus bersikap tidak berguna seperti ini, Ibu Suri. Aku pastikan putramu akan tahu siapa dalang sebenarnya di balik konspirasi di Duchy saat itu."Ruangan itu seketika hening.Rahang Beatrice menegang kaku di balik kulit pucatnya. Tangan wanita paruh baya itu yang berada di pangkuan meremas gaun sutranya dengan kuat. Kilat kebencian dan rasa muak menyala di matanya, namun
Malam harinya, ketika Lucian akhirnya kembali ke kamar utama setelah seharian penuh, ia menatap istrinya yang terlihat gelisah."Sienna? Ada apa?" tanya Lucian, suaranya sarat akan kekhawatiran yang mendalam. Ibu jarinya mengusap lembut kulit istrinya yang terasa sedingin es. "Kau sakit? Pusingmu semalam belum hilang? Aku akan memanggil tabib sekarang juga…""Tidak, Lucian. Jangan." cegah Sienna cepat, menahan pergelangan tangan suaminya sebelum pria itu sempat berdiri.Sienna menelan ludah dengan susah payah. Mata birunya menatap lurus ke dalam manik mata merah suaminya. Ruangan itu terasa begitu hening, seolah dunia ikut menahan napas menanti kalimat yang akan keluar dari bibir sang Permaisuri.Sienna perlahan melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Lucian, lalu memindahkan telapak tangan besar pria itu, membimbingnya turun dan meletakkannya dengan lembut tepat di atas perut ratanya.Jantung Lucian berdegup satu ketukan lebih cepat, kebingungan menyelimuti matanya."S
Malam itu, di balik kamar utama kekaisaran yang tertutup rapat, dunia seolah hanya menjadi milik Lucian dan Siena.Cahaya lilin yang temaram dari luar tirai mencetak siluet dua tubuh yang saling memagut penuh kerinduan. Helaian rambut hitam Lucian jatuh membingkai wajah Sienna saat pria itu menunduk, mencium bibir Sienna dengan intensitas yang mengaburkan akal sehat. Tangan besar sang Kaisar itu membelai lekuk pinggang istrinya, menarik tubuh ramping Sienna agar semakin melebur dalam pelukannya.Sienna membalas ciuman itu dengan sama bersemangatnya. Jari-jarinya menyusup ke sela-sela rambut Lucian, menikmati kehangatan dan rasa aman yang selalu pria itu berikan.Namun, tepat ketika gairah mulai membakar udara di sekitar mereka dan ciuman Lucian turun menelusuri jenjang lehernya, sebuah serangan fisik yang tak terduga menghantam Sienna.Tanpa peringatan, rasa sakit yang berdenyut tajam menusuk pelipisnya, seolah ada jarum tak kasat mata yang ditusukkan ke dalam kepala wanita itu. Si
Mendengar penolakan terang-terangan itu, wajah Alexandria memerah padam. Amarahnya meledak seketika. "Berani sekali kau! Kau tahu siapa aku?! Aku adalah dayang kepala Ibu Suri! Ini adalah kamar Ibu Suri! Aku diizinkan masuk kapan saja! Minggir dari jalanku, dasar anjing-anjing rendahan!"Alexandria mengayunkan tangannya, mencoba menampar ksatria yang menghalanginya. Namun dengan gerakan kilat yang tak kasat mata, ksatria itu menangkis tangannya tanpa sedikit pun tenaga yang menyakiti, namun cukup kuat untuk membuat Alexandria terhuyung mundur."Tarik kembali tangan Anda, Lady." peringat ksatria yang lain, tangannya kini berada di gagang pedang. "Kami hanya menjalankan perintah langsung dari Yang Mulia Ibu Suri. Beliau sedang menginginkan waktu untuk sendirian.""Omong kosong!" jerit Alexandria, suaranya melengking memenuhi lorong, mengundang tatapan dari beberapa pelayan yang kebetulan lewat. "Apanya yang waktu sendirian? Kau kira seorang Ibu Suri bisa melakukan semuanya tanpa pelay
"Apa yang kau lakukan di sini, Arthur?" Lucian menatap tajam ke arah sang Putra Mahkota. Ia tidak repot-repot membungkuk atau memberikan salam formal pada sepupunya itu. Arthur tersenyum miring, tidak tersinggung dengan ketidaksopanan itu. Ia justru melangkah santai, mendekat pada Lucian."Aku sed
"KYAAA!" Jeritan histeris salah seorang wanita bangsawan yang hadir di sana memecahkan keheningan yang sempat menggantung selama beberapa detik.Kepanikan meledak seketika. Kursi-kursi berdecit keras dan berjatuhan saat para wanita bangsawan itu melompat berdiri, menjauh dari meja seolah-olah penya
Alexandria tidak mengatakan apa pun, lidahnya terasa kelu oleh amarah. Namun, tangannya yang mencengkeram pagar pembatas batu itu bergetar hebat. Ia menekan jemarinya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kulit telapak tangannya terasa perih tergores permukaan batu yang kasar.Matanya y
Alexandria menggeram tertahan. Harga dirinya terkoyak habis. Menyadari bahwa ia tidak akan bisa memenangkan perdebatan ini tanpa merusak citranya sendiri di depan publik, ia akhirnya menyerah.Dengan napas memburu dan kaki yang dihentakkan keras ke tanah berbatu, Alexandria berbalik arah."Kita kem







