Masuk
"Maaf ya Nat, aku ngerepotin kamu, makasih juga karena mau jaga Salsa."
Sambil memasukkan travel bag berisi pakaian Salsa ke bagasi, aku mencoba membuka obrolan. Di sampingku Nata tetap datar, seakan tidak mendengar, dia sibuk memasukkan tas lain yang berisi mainan serta buku pelajaran Salsa. Aku memberanikan diri kembali bicara. "Kemarin itu waktu sama kamu, Salsa kebanyakan makan gula ya, dia jadi aktif banget, tapi pas malam malah susah tidur, rewel. Kalau bisa dikurangin ya, aku udah list makanan apa aja yang boleh dan nggak boleh untuk Salsa." Kami serempak mundur dari bagasi setelah semua barang dimasukkan. Aku berusaha untuk tidak berjengit ketika pintunya langsung ditutup keras, suara itu tidak kencang tetapi berhasil membuat harapanku berguguran. Bicara dengan Nata tidak pernah mudah, jangankan untuk membalas sekadar menyahut atau menyadari aku di sisinya pun tidak. Ia hanya fokus pada Salsa, putri kami yang baru berusia lima tahun, kemudian menggendongnya. Salsa menjerit semangat. Saat tahu bahwa aku akan mengirimnya untuk bersama sang Papa, dia langsung menyiapkan gaun terbaik, berdandan cantik, dan memintaku untuk menguncir rambutnya dengan pita-pita. "Papa, cantik tak?" tanyanya dengan comel, menggoyangkan rambutnya di hadapan Nata. Respon Nata tidak pernah serius, dia hanya mengerling kemudian mengangguk kaku. "Cantik." "Mama yang bikin." Tapi Salsa tetap saja Salsa. Anakku adalah titisanku yang bawel, ekstrovert, dan mudah akrab, walaupun Papanya hanya menjawab singkat, dia tetap menempel bahkan tanpa perlu dirayu atau dibujuk-bujuk. "Salsa mau beli kayak gini lagi yang banyak, Papa bisa temenin, kan?" "Boleh." "Mama ikut?" tanyanya berbinar. Nata melirikku. "Enggak." Jawaban itu dingin dan menusuk, wajah Salsa seketika berubah keruh. Aku buru-buru menghiburnya. "Salsa sama Papa dulu. Kan, Mama udah bilang semalam, Mama harus kerja, jadi Salsa belanjanya sama Papa. Oke?" "Kenapa nggak sama Mama juga?" Karena itu sama sekali tidak mungkin, aku dan Nata sudah resmi bercerai setelah sepuluh tahun menikah. Alasannya? Tidak ada, tidak ada perselingkuhan, tidak ada kekerasan, tidak ada kekurangan nafkah. Semua murni karena kami sudah tidak cocok satu sama lain dalam segala hal. Nata menganggap aku berantakan, berisik, dan sulit diatur. Sementara aku menganggap Nata terlalu dingin, dan sama sekali tidak memiliki empati. Dia bahkan lebih memilih rawat inap di RS karena tidak percaya aku mampu merawatnya saat sakit. Dia lebih memilih catering meskipun tahu aku bisa memasak, dia juga tidak suka diganggu ketika menyetir, menonton, atau melakukan apapun di rumah. Aku malu sebagai istri, malu di hadapan keluarganya karena dianggap tidak becus mengurus Nata, sifat dingin dan tidak peka Nata ini mempersulit aku untuk berbakti padanya. Dan terkadang tidak perlu pertengkaran besar untuk membuat hubungan ambruk. Mulai dari jarang berkomunikasi, sampai akhirnya benar-benar berhenti. Di satu titik itu, aku dan Nata sepakat untuk berpisah. Dan karena Salsa masih di bawah umur, hak asuh jatuh ke tanganku, Nata pun tidak berniat untuk mengambilnya. Kini, hubungan kami hanya sebatas menjalani co parenting, bergantian mengasuh putri kecil kami. "Kalau gitu kapan kita liburan bertiga? Aku kangen kita tidur bareng," cetusnya polos. Wajahku seketika merah padam diingatkan hal tersebut, sementara Nata? Tetap lempeng dan tak acuh. Dia memasukkan Salsa di jok penumpang dan mendudukkannya di car seat. Lalu memasangkan sabuk pengaman. "Boleh ya, Pa tidur bertiga?" tanya Salsa lagi dengan wajah berharap. "Nggak bisa Sal, Mama sama Papa hukumnya haram bersentuhan." Astaga. Nada suara Nata kalau bicara hampir tidak ada intonasi tetapi sangat tajam. Lagipula, Salsa itu masih kecil, mana paham dia soal halal dan haram? Apakah kalau bicara lebih lembut mulutnya akan bernanah? Mata Salsa seketika berembun, bibirnya melengkung ke bawah siap menangis. "Kan, bisa tidurnya di pinggir, Salsa di tengah, jadi nggak sentuhan." "Tetap nggak boleh." "Papa–" "Mau dibuka sepatunya?" Nata mengalihkan pembicaraan, jelas dia tidak ingin rengekan Salsa berlanjut. Gadis kecil itu menatapku seakan meminta bantuan lalu mengangguk. "Iya Papa tolong, makasih." Nata pun melepaskan sepatu pink barbie Salsa dan membiarkannya hanya mengenakan kaos kaki serupa. "Mama, Salsa mau peluk," pinta putri kami merentangkan tangan padaku. "Sini." Aku segera menyambut, membungkuk untuk mendekapnya. Lalu membombardir pipinya dengan ciuman. "Baik-baik sama Papa ya, nurut sama aturan Papa, makan tepat waktu, dan jangan lupa selalu bilang apa?" "Maaf, tolong, dan terima kasih." "Good job anak Mama." Aku mengusap pipinya dan memberinya kecupan terakhir di kening sebagai balasan. Saat mundur dan menutup pintu, kulihat Nata sudah menunggu di balik kemudi. Tidak ada basa-basi darinya, bahkan sekadar memandang pun tidak. Aku menghela nafas panjang, kemudian berusaha tersenyum lebar pada Salsa yang melambai ceria. "Bye Mama," pamitnya. "Hati-hati Salsa," balasku melambai. "Selamat tinggal, Mama." Dia seperti akan berdiri tetapi terhalang dengan sabuk pengaman. "Jangan nakal ya." "Dah Mama." "Dadah Salsa." Aku menunjuknya agar berhenti melongokkan kepala di jendela. Tetapi Salsa tetap seperti itu sampai mobil mantan suamiku menghilang dari gang tempat kosanku berada. Ada yang menghimpit dada setiap kali aku mengirim Salsa untuk diurus Nata sebelum jadwal asuhnya. Tapi aku tidak punya pilihan, semenjak resmi bercerai enam bulan yang lalu, otomatis aku bukan hanya kehilangan suami, tetapi juga tempat tinggal dan penghasilan. Yang awalnya hanya ibu rumah tangga kini aku dituntut harus berjuang dari nol lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sayangnya banyak perusahaan menganggap umurku yang sudah menginjak 33 tahun ini sebagai jompo, sudah tidak produktif bekerja hingga membuatku sulit diterima. Jadi ketika tawaran interview datang, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Aku memacu mobilku sendiri menuju ke perusahaan tempatku dipanggil. Perusahaan itu bergerak di bidang fashion yang menyuplai perhiasan mewah ke luar negeri. Tetapi karena minim pengalaman, aku hanya mampu melamar jabatan yang paling rendah sesuai kualifikasi yaitu asisten desiner. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh saat aku tiba, aku segera mencari tempat parkir, terburu-buru saat memasuki gedung, lalu menuju ke ruangan interviewnya berada. Seorang pria berjas hitam rapi menyambutku di depan pintu. "Mba Kalula Samahita?" tanyanya. "Benar Pak." "Oke, silakan masuk, mohon ditunggu sebentar, atasan kami sedang dalam perjalanan ke sini," tambahnya sopan. Aku mengangguk, menahan nafas saat memasuki ruangan itu yang ternyata sangat besar dengan pemandangan mengintimidasi gedung pencakar langit Jakarta. Untuk ukuran interview jabatan yang remeh menurutku ini sangat niat dan menghargai para kandidat. Aku masih berdiri saat mendengar suara langkah sepatu mendekat. Punggungku menegak, kurapikan kemeja putih dan rok hitam yang kukenakan. Sementara suara berat dari belakang punggungku menyapa. "Duduk." Keningku berkerut. Meski hanya satu kata, suara itu terlalu mudah dikenali untuk telingaku yang sensitif. Aku segera menoleh dan pria yang kutemukan membuat dengkulku lemas. Nata berdiri di sana mengenakan jas hitam kinclong, berbeda dari yang ia kenakan saat menjemput Salsa sebelumnya. Rambutnya tersisir rapi, dan untuk pertama kalinya hari ini dia menatapku, benar-benar menatapku lurus dengan wajah tanpa emosi. Dan tanpa mengalihkan pandangan, dia berkata tegas. "Kamu terburu-buru meminta aku untuk menjaga Salsa hanya untuk bertemu aku lagi?" Memang sebuah malapetaka! ***Tidak ada desakan dari Damian siang itu agar aku langsung membalas kalimatnya. Apakah aku setuju atau tidak, semuanya terserah padaku. Damian justru meminta agar aku mengambil jeda dan memikirkannya baik-baik sebelum memutuskan. “Akan sangat lucu kalau kamu langsung menolak saya,” katanya saat kami di lift dan akan berpisah ke ruangan masing- masing. “Karena kamu yang awalnya menawarkan banyak pilihan. Dan kalau semua pilihan itu mau kamu tolak. Harusnya kamu nggak bertanya kan?” “Ternyata Bapak manipulatif juga.” Dia kembali tergelak. “Andrew orang yang seperti itu ya? Bagus, jangan samakan dia dengan saya. Kualitas kami jelas berbeda.” Lalu dia mengedipkan sebelah mata sebelum turun di ruangannya lantai 20. Aku mendelik. Dasar narsis. Kenapa aku tidak pernah berurusan dengan pria yang waras? Namun bibirku perlahan m
“Kenapa kamu diem aja?” tanya beliau selagi kami kembali ke kantor. “Pak ...” Aku berbisik pelan, lalu menoleh dengan perasaan campur aduk, takut, degdegkan, bingung. “Aneh banget nggak kalau saya langsung menodong Bapak dengan pertanyaan: kita ini apa, padahal baru pertama lunch bareng?” Damian tertawa. Sikapnya yang santai benar-benar membuatku merasa berlebihan. Aku meringis. “Maaf...” “Nope,” katanya mencoba meredakan perasaan geli. “Nggak pa-pa Lula, saya mengerti maksud kamu ... It’s okay.” “Iya soalnya kita udah tua.” “Saya nggak setua itu,” protesnya. “Yah, oke. Kita udah dewasa,” Aku meralat. “Saya nggak mau menimbulkan salah paham. Kalau Bapak punya pacar, saya nggak mau dituduh macam-macam, apalagi kalau pacar Bapak ada di kantor. Malu saya Pak. Kedua, saya ini janda Pak. Semua orang kantor juga tau itu. K
[] “Makanan kamu nggak sehat, kebiasaan waktu gadis pasti jorok. Nggak pernah olahraga, pola tidur berantakan, ditambah ada penyakit keturunan. Ya sudah wassalam, sampai kapan pun kamu nggak akan bisa punya anak.” Malam itu bulan Juni, musim panas hampir tiba, setelah mengadakan acara arisan keluarga. Aku sedang membantu Mama membersihkan meja di dapur. Merapikan snack dan kue-kue yang masih sisa untuk dibawa pulang keluarga agar tidak mubadzir. Namun perkataan Kaka Ipar Mama, alias Bude Sri langsung menohok sampai aliran darahku seperti membeku. “Semua pasti bisa diusahakan, tapi kalau udah dua kali keguguran. Kemungkinan untuk bisa punya anak lagi, kecil. Bahkan mustahil. Kasihan Indri yang berharap bisa punya cucu malah nggak bisa ngerasain punya cucu.” Beliau mengusap bahu Mama mertuaku seraya mendesah berat. “Dosa apa kamu Indri sampai dikasih cobaan menantu yang nggak bisa hamil.” Mama meringis. Nata memiliki keluarga besar. Papanya enam bersaudara, dan Papa adalah an
“Kenapa kamu berpikir aku melakukan sesuatu pada Salsa? Dia sudah besar, dia bahkan tau apa bedanya teman, apa itu pelayan dan babysitter. Jadi tanpa perlu dijelaskan, Salsa pasti mengerti kalau Damian itu ‘teman’ kamu.” Nata memaparkan dengan tenang, ketika di parkiran aku menghadang jalannya.Pria ini benar-benar licik.“Tapi kenyataannya,” balasku mengeram rendah dari balik gigi yang terkatup rapat. “Dia memperlakukan Damian nggak seperti dia memperlakukan teman-teman aku yang lain. Dia bertingkah nggak sopan, dan itu nggak seperti Salsa yang aku kenal.”“Jadi kamu mau bilang kalau aku mencuci otaknya? Terus menipu dia dengan mengatakan kalau kalian sebenarnya sedang berkencan, gitu?”Aku menatapnya berang.Nata mendengkus. “Kalau itu nggak benar, kamu harusnya nggak perlu takut, Lula. Kalian tinggal buktikan saja kalau ini memang lunch biasa.”“Ini memang lunch biasa!”“Oh ya? Di restoran sepi?”“Namanya jug
“Sebentar, aku benar-benar nggak paham apa yang terjadi di sini.” Damian belum mempercayai penglihatannya.Aku merasa kasihan padanya, dia tampak clueless, wajahnya kosong dan jelas terkejut. Lalu tiba-tiba aku malu karena tidak pernah cerita. Tapi apa urgensinya aku menceritakan tentang kehidupan pribadiku pada Damian?Sial, rasanya serba salah.Nata mendekat, menggandeng Salsa yang langsung menggelayut manja. Wajahnya tampak bangga seolah Papanya adalah selebriti terkenal.“Kebetulan kita bertemu di sini.” Nata menyapa dengan suara datar.Kebetulan?!Lucu sekali manusia yang terbuat dari bongkahan es ini, dia pikir aku akan mempercayai omong kosongnya itu?“Seandainya saya tau kalau restoran yang kalian maksud itu di sini, harusnya kita bisa berangkat bersama.”Oh, itu tidak mungkin terjadi!“Salsa? Di mana Sus Dara?” tanyaku dari balik gigi yang terkatup rapat, masih berusaha mempertahankan senyum. D
“Makasih ajakannya Pak, tapi—”“Kalau kamu menolak, saya kecewa sekali Lula,” sela Damian lembut. Bibirnya seperti menari-nari dalam senyuman. “Kamu sudah pernah menolak saya, kalau sekali lagi ditolak, harga diri saya bisa terluka loh.”Aku meringis, tidak menyangka dengan manuvernya. “Saya usahakan, Pak.”“Saya jemput jam dua belas, ya?”“Kalau kerjaan saya udah lega, Pak. Soalnya seperti yang saya bilang, hari ini saya ada meeting sama Pak Andrew.” Aku pringas-pringis, tidak ingin memberikan harapan palsu. “Takutnya jam segitu belum selesai, Pak.”“Oke, kalau gitu nanti saya yang bilang Andrew townhall bisa dilanjutkan after makan siang,” balasnya enteng. Mataku mendelik, bukan seperti ini jawaban yang kuharapkan! “Coba kita tanya langsung saja sama orangnya ya? Andrew...”Aku benar-benar ingin menyembunyikan diri di kolong meja saat Nata yang baru saja tiba dipanggil oleh Damian.Tubuhku langsung







