เข้าสู่ระบบNata membolak-balik dokumen berisi profilku di hadapannya sementara aku berusaha meredakan debar jantung yang perlahan kehilangan ritme.
Aku bukannya tidak tahu bahwa Nata bekerja di sini, tetapi dia adalah manajer pemasaran yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan divisi desain yang sekarang sedang kulamar. Jadi kuyakin harusnya kami tidak bersinggungan sekalipun berada di perusahaan yang sama. Tapi sepertinya aku telah salah membuat keputusan. Setelah mengedarkan pandangan pada ruangan itu, barulah aku menyadari namanya terpampang di atas meja. Andrew Natalegawa. Creative Director. Perutku terasa dipilin. "Duduk," perintahnya saat aku masih diam saja membeku di tempat. "Salsa?" tanyaku, entah bagaimana saat melihatnya aku langsung khawatir dengan nasib putri kecil kami. Ia mengangkat pandangan, kemudian mendengkus samar. "Hanya itu yang kamu pedulikan?" tanyanya dingin. Wajahku merona, dan buru-buru menunduk sambil duduk, tidak tahan dengan tatapannya yang menohok. Ini adalah hal yang sulit aku toleransi darinya saat kami masih berstatus suami istri, dia jarang menatapku tapi setiap melakukannya Nata selalu punya cara yang aneh, matanya akan menyipit, seolah aku telah mengganggunya. "Dia aku tinggalkan sama Sus Dara, kamu tau biasanya juga Salsa kalau sama aku selalu diurus dia, kan?" Akhirnya Nata menjawab tegas. Benar, salah satu faktor kenapa hak asuh bisa jatuh ke tanganku dengan mudah karena Nata sangat sibuk. Dia dituntut untuk selalu sigap di kantor. Dan waktu bersama Salsa berkurang drastis. Sepertinya hanya aku yang selalu mendorong Nata untuk bisa menyempatkan mengasuh Salsa. Dan kalau bukan karena terpaksa, aku juga tidak akan menitipkan anak kami padanya sebelum waktu kunjung. "Bisa kita mulai?" tanyanya setelah memastikan aku bisa berkomunikasi. Aku mengangguk kaku. "Portofolio kamu cukup bagus," katanya cepat. "Untuk ukuran orang yang sudah lama nggak terjun dalam dunia desain perhiasan, beberapa desain yang kamu lampirkan masih relevan untuk dipertimbangkan. Aku nggak tau kalau kamu ternyata berbakat." Hatiku mencelos. Tentu saja, bagaimana dia bisa tahu kalau selama ini dia tidak pernah menaruh perhatian pada istrinya? "Tapi kadang sekadar bagus saja nggak cukup, Lula." Lula, namaku berdengung kasar di bibirnya. Dan saat mengatakan itu ada jeda sebentar yang Nata tinggalkan. "Kandidat untuk posisi ini cukup banyak," tambahnya. Pandangan Nata terangkat lalu melanjutkan lambat- lambat. "Kira-kira, selain yang tertera di sini, kelebihan apa yang bisa kamu tawarkan untuk perusahaan kami?" Mendadak semua jawaban yang sudah kulatih sejak semalam buyar. Kepalaku kosong dan tidak bisa berfungsi normal. "Aku–" "Kamu sudah menikah atau sedang menjalin hubungan?" potongnya. Mataku mendelik, dia kan sudah tahu kalau sekarang aku janda akut! "Itu–" "Nggak ada?" sambarnya lagi. "Punya rencana menikah dalam waktu dekat?" Apa-apaan? Kenapa status menjadi sangat penting dalam pekerjaan ini? Nata segera menjelaskan. "Bekerja di sini membutuhkan mental yang tangguh, bukan sekadar di bawah tekanan, saya nggak bisa menghire karyawan yang akan segera menikah, karena kami harus memberikan cuti dan sebagainya." Untuk pertama kalinya aku mendengar Nata berbicara panjang lebar. Ini semakin meyakinkan bahwa sikap dinginnya selama ini karena dia memang tidak berminat denganku. Bukan karena bawaan orok. "Halo?" Karena aku diam saja masih terpaku menatapnya, Nata menjentikkan jari di depan wajahku, aku mengedip. "Kamu dengar omongan saya?" Sambil duduk dengan punggung lebih tegak, aku mengangguk mengerti. "Paham Nat, eh, maksud saya Pak." "Baru beberapa menit tapi kamu sudah nggak fokus," sebutnya menggeleng, lalu mencoret sesuatu di lembar CV-ku. Apa maksudnya itu? Apa aku akan langsung ditolak? "Kalau nggak ada yang bisa kamu jawab, wawancaranya saya cukupkan sampai di sini." Dia merapikan berkas di map kemudian menutupnya, aku mulai panik. "Kami akan umumkan hasilnya dalam satu atau dua hari ke depan." Aku berdiri saat Nata bangkit dan akan meninggalkan ruangan, tanganku refleks mencengkeram lengan jasnya. "Tolong," sahutku, menurunkan semua harga diri. "Aku butuh kerjaan ini." Alis Nata terangkat, tatapannya turun pada tanganku yang mencengkeram jasnya. Aku segera melepaskan diri. "Ini bukan saatnya kamu bisa berharap dengan orang dalam," jawabnya tajam. "Lagipula kita nggak ada hubungan, jadi berhenti mengandalkan orang lain." Aku tercenung. Kutatap langkah-langkah panjang mantan suamiku dengan pandangan sabar ketika meninggalkan ruangan. Kenapa kesialan selalu menimpaku?! *** "Halo, Salsa udah makan?" tanyaku ketika layar di ponsel mulai menampilkan wajah Salsa. "Udah Mama." Putriku menjawab antusias dengan tertawa kecil. "Makan apa?" "Sup timlo!" "Oh, enak dong, siapa yang buat?" "Tante!" Salsa menjerit kemudian menggoyangkan agar-agar bergambar bear di mangkuk kecil. "Tante juga bikin ini Mama, enak banget, Salsa suka, manis dan bisa pakai susu." Sebentar. Aku merasa ada yang janggal dalam percakapan kami. Bukankah sudah kuperingatkan pada Nata bahwa Salsa harus mengurangi gula? Dan siapa yang dimaksud dengan Tante? "Salsa," sebutku, menyandarkan ponsel di westafel dan merapikan masker yang sedang kukenakan. "Mama kan, udah bilang jangan makan gula-gula terus. Kalau mau ager harus bebas gula." "Tapi ini enak Mama, Tante udah susah-susah bikin untuk aku, kata Papa harus dimakan untuk menghargai, nggak boleh dibuang nanti mubadzir." Astaga, itu benar. Tetapi jelas tidak tepat dengan aturan yang telah kubuat. Lagipula ibu mana yang tidak mendidih saat tahu kalau Bapaknya tidak bisa diajak kerja sama? "Nanti Mama juga bisa cobain, aku minta Tante bikin untuk Mama juga," jawab Salsa ceriwis seraya menyuap makanannya dengan semangat. Aku berdecak. "Taruh nggak?" "Mama!" Dia berdecak protes. "Itu kalau manis berarti gulanya banyak, nanti kamu nggak bisa tidur. Kamu mau nyusahin Papa di sana?" "Mama ini cuma dikit..." Dia mulai merengek dan akan menangis. "Enggak, enggak, dikit pun nggak boleh, mending ganti dengan snack sehat." Aku kekeuh sambil menggelengkan telunjuk. "Tante nggak kayak Mama, Mama banyak aturan! Aku mending tinggal sama Papa dan Tante aja!" bentaknya. Aku tercengang, siapa sih, Tante yang disebut-sebut Salsa ini? "Kamu ngomong apa? Salsa, jangan drama, biasanya juga kamu–" "Tante..." Salsa menangis, tampak merosot turun dari kursi dan berlari ke arah yang tidak bisa kulihat. Lalu kudengar suaranya yang mengadu. "Tante aku dimarahin Mama, aku nggak dibolehin makan ager-agernya. Kapan Tante menikah sama Papa? Aku mau tinggal di sini aja sama Tante." Darah seperti surut dari wajahku. Menikah? Nata akan menikah? Lalu ponsel itu bergoyang, kemudian sebuah wajah wanita tampak di layar. "Halo, maaf ya saya ambil. Salsanya nangis, dia butuh ditenangin dulu." Wanita itu berambut panjang, wajahnya cerah dalam balutan makeup tipis, senyumnya terlihat teduh. Aku baru sadar kalau wajahku yang mengenakan masker hijau pasti tampak seperti Shrek di matanya. Penampilan kami yang kontras sontak membuatku meringis malu. "Oh, halo...?" "Saya Calista, temannya Nata. Kebetulan lagi berkunjung karena tau Salsa di sini," cetusnya memperkenalkan diri. "Tadi saya dengar Mba nggak suka Salsa makan gula ya? Tenang aja manisnya ini dari buah-buahan kok, jadi aman dikonsumsi anak-anak." "Oh ya?" Sangking tidak siapnya aku bertemu 'teman' Nata, aku sampai kehilangan kata-kata. "Syukur deh, bukannya aku nggak ngebolehin tapi Salsa udah terlalu banyak makan manis, efeknya nanti macam-macam." "Iya saya paham, saya dan Nata akan lebih berhati-hati lagi sama Salsa," jawabnya seakan dia dan Nata itu satu tim. Lalu Calista memanggil putriku dengan suara lembut. "Salsa, mau ngomong sama Mama lagi nggak?" "Enggak!" Salsa menjerit di layar. Calista meringis. "Mohon maaf Mba, sepertinya harus saya tutup dulu." Aku bahkan belum sempat bertanya lebih jauh saat panggilan diakhiri. Bagaimana dalam satu hari Salsa mendadak bisa berubah, dan di mana Sus Dara? Bukankah Nata bilang bahwa selama ini Salsa diasuh olehnya? Apakah Nata berbohong? ***Aku tersentak. “Kamu baik-baik aja?” tanyaku segera bangkit dan berjalan menghampirinya. “Kamu nggak tidur?”Nata hanya bergeming.“Oke, sebentar.”Buru-buru aku mengambil mug di rak kitchen, lalu menjerang air panas. Selagi menyiapkan teh hangat, aku pun mengeluarkan roti sisa semalam dan mengoleskannya dengan butter.Aku juga mengambil jeruk, mengupasnya lalu meletakkannya di piring kecil, supaya Nata bisa langsung memakannya. Setelah itu aku menaruhnya di nampan dan membawanya pada Nata.Dia kembali menyandarkan punggung di sofa, matanya terpejam. Desau nafasnya yang lemah menandakan bahwa Nata benar-benar kelelahan.Aku meringis. “Sarapan dulu.”Kuletakkan makanan itu di meja, kemudian duduk di sampingnya. Kasihan sekali, baru kali ini kulihat Nata drop, biasanya dia selalu bugar. Bahkan saat sakit masih bisa mengendarai mobil sendiri ke rumah sakit.Aku terbiasa memberikan penghiburan atau sekadar
“Mama juga nggak mengerti apa yang ada di pikiran Nata, Mama sudah nasehatin dia kalau jangan terburu-buru menikah lagi. Salsa masih kecil, masih butuh perhatiannya. Tapi kayaknya nasihat Mama cuma jadi angin lalu.” Suara Mama mengudara pagi itu ketika aku merapikan tas sekolah Salsa.Nata tidak pulang semalam, dan sempat mengabariku kalau dia akan menginap di RS. Dan aku tidak keberatan.Sementara putriku sibuk bernyanyi di meja makan, bersenandung dengan lirik yang sepertinya dia ciptakan sendiri.“Mama ada dua... Papa ada dua...” Dengan nada lagu Mama Bolo-bolo.Aku meringis sangsi. “Nata pasti punya pertimbangan sendiri. Dia pria yang sehat dan punya hasrat, menurut aku wajar kalau dia mau menikah lagi.”“Tapi ini terlalu cepat, Mama bahkan belum siap waktu dikenalin sama Calista. Ditambah sekarang dengar kabar dia kecelakaan. Mama langsung kepikiran kamu, takut banget soalnya kamu juga sekarang nyetir sendiri.” Mama terdengar panik d
“Aku nggak mikirin apapun.” Akhirnya aku menjawab, suaraku serak.Kepala Nata meneleng. “Oh ya?”Kenapa dia harus sedekat ini?Pinggulku terdesak di sink, bagian belakang celanaku terasa basah. Namun Nata sayangnya berdiri tepat di hadapanku, dia menunduk. Dan aku semakin melotot ketika bibirnya mendekat bahkan nyaris menyentuh keningku. Apakah pria ini sudah gila?!“Ka-kamu mau apa?” tanyaku gugup.Lengan panjang Nata terulur, mataku sontak terpejam rapat. Kuyakin sekali dia mau menciumku, pria ini punya pengendalian diri yang payah.Jadi, aku sudah mengambil ancang- ancang, tapi begitu aku memiringkan kepala, keningku terasa ditepok pelan.Aku langsung membeliak.“Apa yang kamu harapkan?” tudingnya mencemooh. Menekankan handuk kecil ke dahiku. “Bersihkan itu, di jidat kamu ada noda saus.”Oh. OH?!Bodoh sekali Kalula Samahita.Aku sampai mendekap handuk itu yang nyaris mero
Entah apa yang ada di pikiran Nata.Kurasa dia sendiri tidak sadar kalau perlakuannya barusan membuatku berdebar dan sulit berfungsi normal.Setiap kali dia bergerak, aku akan langsung salah fokus. Dan mimpi erotis semalam kembali hadir di kepalaku, membayang di depan mata bagaikan video yang diputar ulang dengan jelas.Mataku tertahan pada kedua tangannya yang memegang burger. Urat-urat halus di punggung tangan dan lengan bawahnya mencuat tegas di bawah gulungan lengan kemeja yang dia kenakan, lengan yang sama yang pernah begitu posesif mengurungku.Lalu dengan gerakan lambat Nata menyesap gigitan pertamanya. Dia mengunyah santai, sementara ujung lidahnya terjulur tipis, menyapu sisa saus yang tertinggal di sudut bibir. Ibu jarinya kemudian terangkat, mengusap jejak basah itu dengan perlahan.Semua hal yang sebenarnya biasa saja, mendadak kelihatan sensual.Aku sampai harus mengerjap berkali-kali, berusaha keras mengenyahkan bay
“Intinya dia mau nemenin calon istrinya di rumah sakit, makanya dia nggak mau diantar pakai mobil kantor. Karena Nata di sana pasti bakalan lama.”Aku mengomel sendiri selagi memotong-motong bawang bombai. Lalu menggesernya ke dalam mangkuk. “Bahkan sampai aku pulang, dia belum balik lagi ke kantor. Hampir seharian nemenin Calista, padahal jam besuk biasanya cuma sampai sore aja.” Kulirik jam dinding yang kini menunjukkan pukul tujuh malam. Aku meringis. “Harusnya aku nggak boleh julid, Calista memang butuh ditemenin sekarang, dia butuh banyak dukungan moral dari orang-orang terdekatnya supaya cepat sembuh.” “Ma...”“Tapi masa dia ninggalin kerjaannya gitu aja dan diurusin sama Pak Gio?”“Mama.”“Itu namanya nggak bertanggung jawab!”“Mama!”“Kalau ngomongin orang lain bisa, tapi diri sendiri ternyata korupsi waktu.”“Mama! Rotinya gosong!”Aku melotot, menunduk ke arah pa
"Kenapa aku harus tinggal di tempat kamu?" tanyaku gelagapan.Itu ide yang sangat buruk. Tentu saja aku tidak mau. Justru kami sepakat untuk bercerai karena aku sudah tidak ingin tinggal bersamanya. Dan Nata juga tidak sanggup lagi jika harus mendengar semua ocehanku yang berisik."Kamu mau bikin Salsa berharap? Dia akan berpikir kita satu rumah lagi." Nata sama sekali tidak berkedip ataupun memalingkan muka. Dia mengangkat bahu tenang. "Demi Salsa, bukannya kamu akan melakukan apapun supaya dia merasa senang?"Yah, tapi tidak begini caranya!"Ada unit yang kosong di atas lantai unit kami, kamu bisa menyewanya di sana. Kita nggak perlu tinggal serumah tapi Salsa bisa tetap main sama kamu."Hidungku kembang kempis, mudah sekali dia membicarakan masalah sewa sementara yang selalu menjadi kendalaku selama ini adalah uang."Masalah asuh kita juga jadi lebih mudah, Salsa nggak perlu dioper ke sana kemari. Dia bisa memilih di







