Share

Part 2: Menikah Lagi?

Penulis: Titi Chu
last update Tanggal publikasi: 2026-07-13 08:09:05

Nata membolak-balik dokumen berisi profilku di hadapannya sementara aku berusaha meredakan debar jantung yang perlahan kehilangan ritme.

Aku bukannya tidak tahu bahwa Nata bekerja di sini, tetapi dia adalah manajer pemasaran yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan divisi desain yang sekarang sedang kulamar.

Jadi kuyakin harusnya kami tidak bersinggungan sekalipun berada di perusahaan yang sama. Tapi sepertinya aku telah salah membuat keputusan. Setelah mengedarkan pandangan pada ruangan itu, barulah aku menyadari namanya terpampang di atas meja.

Andrew Natalegawa. Creative Director.

Perutku terasa dipilin.

"Duduk," perintahnya saat aku masih diam saja membeku di tempat.

"Salsa?" tanyaku, entah bagaimana saat melihatnya aku langsung khawatir dengan nasib putri kecil kami.

Ia mengangkat pandangan, kemudian mendengkus samar. "Hanya itu yang kamu pedulikan?" tanyanya dingin.

Wajahku merona, dan buru-buru menunduk sambil duduk, tidak tahan dengan tatapannya yang menohok.

Ini adalah hal yang sulit aku toleransi darinya saat kami masih berstatus suami istri, dia jarang menatapku tapi setiap melakukannya Nata selalu punya cara yang aneh, matanya akan menyipit, seolah aku telah mengganggunya.

"Dia aku tinggalkan sama Sus Dara, kamu tau biasanya juga Salsa kalau sama aku selalu diurus dia, kan?" Akhirnya Nata menjawab tegas.

Benar, salah satu faktor kenapa hak asuh bisa jatuh ke tanganku dengan mudah karena Nata sangat sibuk.

Dia dituntut untuk selalu sigap di kantor. Dan waktu bersama Salsa berkurang drastis. Sepertinya hanya aku yang selalu mendorong Nata untuk bisa menyempatkan mengasuh Salsa.

Dan kalau bukan karena terpaksa, aku juga tidak akan menitipkan anak kami padanya sebelum waktu kunjung.

"Bisa kita mulai?" tanyanya setelah memastikan aku bisa berkomunikasi.

Aku mengangguk kaku.

"Portofolio kamu cukup bagus," katanya cepat. "Untuk ukuran orang yang sudah lama nggak terjun dalam dunia desain perhiasan, beberapa desain yang kamu lampirkan masih relevan untuk dipertimbangkan. Aku nggak tau kalau kamu ternyata berbakat."

Hatiku mencelos.

Tentu saja, bagaimana dia bisa tahu kalau selama ini dia tidak pernah menaruh perhatian pada istrinya?

"Tapi kadang sekadar bagus saja nggak cukup, Lula."

Lula, namaku berdengung kasar di bibirnya. Dan saat mengatakan itu ada jeda sebentar yang Nata tinggalkan.

"Kandidat untuk posisi ini cukup banyak," tambahnya. Pandangan Nata terangkat lalu melanjutkan lambat- lambat. "Kira-kira, selain yang tertera di sini, kelebihan apa yang bisa kamu tawarkan untuk perusahaan kami?"

Mendadak semua jawaban yang sudah kulatih sejak semalam buyar. Kepalaku kosong dan tidak bisa berfungsi normal.

"Aku–"

"Kamu sudah menikah atau sedang menjalin hubungan?" potongnya.

Mataku mendelik, dia kan sudah tahu kalau sekarang aku janda akut!

"Itu–"

"Nggak ada?" sambarnya lagi. "Punya rencana menikah dalam waktu dekat?"

Apa-apaan? Kenapa status menjadi sangat penting dalam pekerjaan ini?

Nata segera menjelaskan. "Bekerja di sini membutuhkan mental yang tangguh, bukan sekadar di bawah tekanan, saya nggak bisa menghire karyawan yang akan segera menikah, karena kami harus memberikan cuti dan sebagainya."

Untuk pertama kalinya aku mendengar Nata berbicara panjang lebar.

Ini semakin meyakinkan bahwa sikap dinginnya selama ini karena dia memang tidak berminat denganku. Bukan karena bawaan orok.

"Halo?" Karena aku diam saja masih terpaku menatapnya, Nata menjentikkan jari di depan wajahku, aku mengedip. "Kamu dengar omongan saya?"

Sambil duduk dengan punggung lebih tegak, aku mengangguk mengerti. "Paham Nat, eh, maksud saya Pak."

"Baru beberapa menit tapi kamu sudah nggak fokus," sebutnya menggeleng, lalu mencoret sesuatu di lembar CV-ku.

Apa maksudnya itu?

Apa aku akan langsung ditolak?

"Kalau nggak ada yang bisa kamu jawab, wawancaranya saya cukupkan sampai di sini." Dia merapikan berkas di map kemudian menutupnya, aku mulai panik. "Kami akan umumkan hasilnya dalam satu atau dua hari ke depan."

Aku berdiri saat Nata bangkit dan akan meninggalkan ruangan, tanganku refleks mencengkeram lengan jasnya.

"Tolong," sahutku, menurunkan semua harga diri. "Aku butuh kerjaan ini."

Alis Nata terangkat, tatapannya turun pada tanganku yang mencengkeram jasnya. Aku segera melepaskan diri.

"Ini bukan saatnya kamu bisa berharap dengan orang dalam," jawabnya tajam. "Lagipula kita nggak ada hubungan, jadi berhenti mengandalkan orang lain."

Aku tercenung.

Kutatap langkah-langkah panjang mantan suamiku dengan pandangan sabar ketika meninggalkan ruangan.

Kenapa kesialan selalu menimpaku?!

***

"Halo, Salsa udah makan?" tanyaku ketika layar di ponsel mulai menampilkan wajah Salsa.

"Udah Mama." Putriku menjawab antusias dengan tertawa kecil.

"Makan apa?"

"Sup timlo!"

"Oh, enak dong, siapa yang buat?"

"Tante!" Salsa menjerit kemudian menggoyangkan agar-agar bergambar bear di mangkuk kecil. "Tante juga bikin ini Mama, enak banget, Salsa suka, manis dan bisa pakai susu."

Sebentar.

Aku merasa ada yang janggal dalam percakapan kami. Bukankah sudah kuperingatkan pada Nata bahwa Salsa harus mengurangi gula? Dan siapa yang dimaksud dengan Tante?

"Salsa," sebutku, menyandarkan ponsel di westafel dan merapikan masker yang sedang kukenakan. "Mama kan, udah bilang jangan makan gula-gula terus. Kalau mau ager harus bebas gula."

"Tapi ini enak Mama, Tante udah susah-susah bikin untuk aku, kata Papa harus dimakan untuk menghargai, nggak boleh dibuang nanti mubadzir."

Astaga, itu benar.

Tetapi jelas tidak tepat dengan aturan yang telah kubuat. Lagipula ibu mana yang tidak mendidih saat tahu kalau Bapaknya tidak bisa diajak kerja sama?

"Nanti Mama juga bisa cobain, aku minta Tante bikin untuk Mama juga," jawab Salsa ceriwis seraya menyuap makanannya dengan semangat.

Aku berdecak. "Taruh nggak?"

"Mama!" Dia berdecak protes.

"Itu kalau manis berarti gulanya banyak, nanti kamu nggak bisa tidur. Kamu mau nyusahin Papa di sana?"

"Mama ini cuma dikit..." Dia mulai merengek dan akan menangis.

"Enggak, enggak, dikit pun nggak boleh, mending ganti dengan snack sehat." Aku kekeuh sambil menggelengkan telunjuk.

"Tante nggak kayak Mama, Mama banyak aturan! Aku mending tinggal sama Papa dan Tante aja!" bentaknya.

Aku tercengang, siapa sih, Tante yang disebut-sebut Salsa ini?

"Kamu ngomong apa? Salsa, jangan drama, biasanya juga kamu–"

"Tante..." Salsa menangis, tampak merosot turun dari kursi dan berlari ke arah yang tidak bisa kulihat. Lalu kudengar suaranya yang mengadu. "Tante aku dimarahin Mama, aku nggak dibolehin makan ager-agernya. Kapan Tante menikah sama Papa? Aku mau tinggal di sini aja sama Tante."

Darah seperti surut dari wajahku.

Menikah? Nata akan menikah?

Lalu ponsel itu bergoyang, kemudian sebuah wajah wanita tampak di layar. "Halo, maaf ya saya ambil. Salsanya nangis, dia butuh ditenangin dulu."

Wanita itu berambut panjang, wajahnya cerah dalam balutan makeup tipis, senyumnya terlihat teduh.

Aku baru sadar kalau wajahku yang mengenakan masker hijau pasti tampak seperti Shrek di matanya. Penampilan kami yang kontras sontak membuatku meringis malu. "Oh, halo...?"

"Saya Calista, temannya Nata. Kebetulan lagi berkunjung karena tau Salsa di sini," cetusnya memperkenalkan diri. "Tadi saya dengar Mba nggak suka Salsa makan gula ya? Tenang aja manisnya ini dari buah-buahan kok, jadi aman dikonsumsi anak-anak."

"Oh ya?" Sangking tidak siapnya aku bertemu 'teman' Nata, aku sampai kehilangan kata-kata. "Syukur deh, bukannya aku nggak ngebolehin tapi Salsa udah terlalu banyak makan manis, efeknya nanti macam-macam."

"Iya saya paham, saya dan Nata akan lebih berhati-hati lagi sama Salsa," jawabnya seakan dia dan Nata itu satu tim. Lalu Calista memanggil putriku dengan suara lembut. "Salsa, mau ngomong sama Mama lagi nggak?"

"Enggak!" Salsa menjerit di layar.

Calista meringis. "Mohon maaf Mba, sepertinya harus saya tutup dulu."

Aku bahkan belum sempat bertanya lebih jauh saat panggilan diakhiri.

Bagaimana dalam satu hari Salsa mendadak bisa berubah, dan di mana Sus Dara? Bukankah Nata bilang bahwa selama ini Salsa diasuh olehnya?

Apakah Nata berbohong?

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
kasian lula..lakinya selingkuh kayaknya sblm cerai..makanya ga da rasa lg ke istri
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 141: Makan Kamu

    Aku bakal marah banget sih, kalau Nata tiba-tiba menghilang untuk bekerja seperti yang sering ia lakukan setiap kali kami selesai melakukan itu.Bibirku sudah memberengut mendapati kasur yang kosong dan terasa dingin.Dengan gerakan panik, morat-marit menarik kardigan di lemari, aku bergegas keluar, dan mendapati suamiku sedang melakukan video call di ruang tamu. Kepalaku langsung berasap, siap mengomel saat menyadari kalau yang berada di layar adalah Salsa.Oh.Langkahku seketika melambat. Sementara Nata berkonsentrasi mendengarkan ocehan putri kami.“Aku cuma kagetin sekali loh, Papa. Bener, tapi tiba-tiba hamsternya mati, badannya udah kaku nggak bergerak.” Anakku kemudian menangis dengan nada yang ditahan-tahan. “Kasian, Salsa nggak kuat nguburinnya, Papa.”“Iya itu berarti Salsa belum bisa punya hewan peliharaan.” Suara Mama terdengar menyambung dari balik video call. Meskipun wajahnya tidak terlihat. “Nggak pa-pa

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 140: Still You

    (Warning 21+)Lelah. Tapi aku suka sekali dengan lengannya yang kokoh mengurungku posesif.Aku jadi teringat dengan malam pertama kami sebagai pengantin baru hampir lebih dari sepuluh tahun lalu.Waktu itu aku sangat gemetar, meskipun lebih banyak antuasias. Kurasa aku memang sudah mencintai Nata.Aku tidak tahu bagaimana dengan suamiku, dan kalau ditelisik dari omongan Mama mertua yang mengatakan Andrew pernah rebel. Mungkin saja aku bukan yang pertama untuknya, dengan circel pergaulannya yang hobi clubbing dan staycation sampai liburan ke luar negeri berhari-hari. Mungkin saja gaya pacarannya pun sangat bebas.Itu bisa dilihat dari malam pertama kami, di mana Nata seperti tahu apa yang harus dilakukan. Dia tahu bagaimana cara untuk membuatku nyaman, menaruh bantal di bawah pinggangku, berhati-hati, kemudian memberi stimulasi agar aku rileks.Aku tidak pernah bertanya padanya tentang masa lalunya itu. Selain

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 139: Newlyweds

    (Warning 21+)Jam digital menunjukkan pukul dua belas malam. Konser sudah selesai beberapa jam lalu, tapi kendaraan kami baru bisa keluar karena macet.Di luar hujan. Musim dingin sepertinya akan tiba, aku memandang keluar jendela. Setelah keramaian konser, sepinya mobil membuat suasana entah bagaimana terasa canggung.Nata sebenarnya memintaku untuk tidur, tetapi anehnya mataku justru terang, sama sekali tidak mengantuk. Nata berkonsentrasi menyetir, ketika aku meliriknya, Nata pun sedang melirikku, lalu aku buru-buru menunduk. Menatap layar ponsel, berpura-pura mengecek sesuatu untuk mengatasi gugup.Jantungku berdentum keras.Aku menarik botol minum di dasbor, di saat yang sama, Nata pun menariknya. Tangan kami bersentuhan, aku segera menarik jemariku, seakan sentuhan singkat itu membuat kulitku terbakar.Nata tetap mengambilnya, membuka tutupnya kemudian dioper padaku. Kenapa aku bertingkah layaknya anak r

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 138: Janji Suci

    Pernikahan kami baru saja dilaksanakan sesuai jadwal. Di awal bulan Oktober setelah semua dokumen lengkap.Aku menggunakan gaun sederhana dengan potongan mermaid yang terbuat dari kain silk, sementara Nata menggunakan jas cokelat rapi.Ijab kabul begitu khidmat dihadiri oleh keluarga besar kami. Ada Mama, Papa, Salsa, Sus Dara, serta Tria dari pihakku, aku pun mengundang Bibi Elsi meskipun dia tidak hadir. Lalu Nata juga mengundang dua orang koleganya sebagai saksi. Total hanya ada sekitar sepuluh orang yang menyaksikan akad. Sudah termasuk saksi dan wali nikah.Setelah prosesi singkat yang khidmat itu, kami melanjutkan acara makan- makan di sebuah restoran. Kali ini, kami mengundang tamu lebih banyak. Kurang lebih ada sekitar lima puluh orang. Semuanya hanya keluarga inti, teman, dan sahabat yang benar-benar dekat.“Jangan tanya yang nggak ada,” cetus Nata ketika aku memanjangkan leher dan kedapatan mencari seseorang. Aku mendengkus kecil. “Aku s

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 137: Calon Istri

    Lula terjatuh dan mendesah.Sementara gue menempelkan tubuh kami, memastikan dia tahu seberapa besar gue menginginkannya saat ini.“Nata,” sebutnya mengerang, menyentuh kedua rahang gue, menahan gue supaya tidak menunduk dan melahapnya.“Sebentar Nata, Salsa di luar.”Pelipis gue berkedut.“Sus Dara juga nunggu kita,” bisiknya parau dengan napas terengah.Gue memandang Lula yang kini di bawah kurungan tubuh gue. Melihat bagaimana pakaiannya yang sudah tersingkap, memamerkan kulitnya yang pucat, BH-nya terlepas dan payudaranya tampak terpapar dengan puncaknya yang kemerah-merahan dan mencuat.Sementara itu, bibir Lula tampak membengkak akibat ulah gue, dan lipstiknya sudah berantakan.Lula menggigit bibir. “Aku... mau...” Dia mengakui dengan malu-malu. Namun tangannya perlahan mengaitkan kembali BH-nya kemudian menarik blusnya turun, menutup dirinya sendiri. Lula beringsut duduk, memaksa gue akhirnya untuk bangki

  • Satu Malam Lagi, Mantan Suami!   Part 136: Mau Kamu

    (Nata’s Pov)Istri gue cantik banget.Dia sedang dandan di meja rias ketika gue keluar dari kamar mandi. Aromanya harum sekali, menguar di udara, mengelilingi indera penciuman gue.Sambil berjalan mendekat, gue kemudian menunduk, mengendus-endus kepalanya, sebelum tenggelam di lehernya dan mengecupnya di sana.Brengsek, gue tegang.“Mau ke mana?” tanya gue serak.“Nganter Salsa sekolah,” jawabnya santai, menggeliat sedikit karena geli. Namun dia mengusap rahang gue sejenak sebelum menyimpan bedaknya ke dalam laci dan mengambil lipstik.Gue mendongak, wajah gue langsung defensif. “Kamu mau apa, La?” "Loh, kok mau apa sih, Nata?” sahutnya dramatis, memandang gue dari pantulan cermin. “Aku mau nganter Salsa masa nggak boleh? Kegiatan aku biasanya kalau di kosan juga gini.”Tapi gue tau ini bukan cuma sekadar dia ingin mengantar Salsa, melainkan tentang pembicaraan kami kemarin.Disadari atau engg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status