INICIAR SESIÓNAku jatuh di sampingnya, tangan Nata yang besar menggenggam ringan. Ibu jarinya terasa mengusap punggung tanganku, dia menarik beberapa lembar tisu dan membersihkan tanganku.
Aku mengernyit dengan perlakuannya, namun Nata diam saja. Dia membalik tanganku dan mengusap telapaknya dengan hati-hati. Begitu terus seakan sedang membersihkan sesuatu.“Nata...?”“Satu-satunya yang patut kita syukuri dari kejadian ini adalah lokasi rumah sakit yang dekat dari tempat kamu tiMalam jatuh sangat lambat. Aku kesulitan untuk tidur, bolak-balik mengganti posisi ke kanan dan kiri. Lalu telentang, memandang langit-langit kamar yang remang-remang sambil mendekap erat selimut di dada. Insomnia ini sangat menyiksa. Terlebih, Nata pun tidak ada di kamar, dia sibuk di ruang kerjanya karena harus mengurus administrasi restoran. Dan aku, di sini, di kasur sendirian, justru tidak bisa berhenti memikirkannya. Ucapan Bude Sri tentang suamiku bergaung di telinga. Mungkin beliau memang benar, selama ini Nata tidak pernah mau menceritakan masalah keuangan padaku, kalaupun dia cerita itu hanya masalah sepele seperti listrik, tagihan air, tagihan sampah, dan lain-lain yang sudah menjadi urusannya. Hampir semua kebutuhan rumah tangga Nata yang mengatur, dan saat dia memberikan nafkah. Itu sudah bersih untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk shopping dan hiburan. Bisa s
“Bude nggak paham kenapa kamu mau kembali sama istrimu yang menopause, memangnya di dunia ini nggak ada perempuan lain? Maaf kalau kata-kata Bude nyakitin tapi kamu ngabisin waktu loh Mas, kamu ngabisin masa muda yang harusnya bisa senang-senang dan malah berakhir stuck sama satu perempuan yang bikin kamu ribet.” “Aku juga sudah tua Bude, masa muda apa yang Bude maksud? Aku sudah puas main-main, sekarang waktunya aku hidup tenang. Kalau aku bilang begini, nyuruh Bagas ninggalin Kemala karena Bagas masih muda dan gagah apa Bude sebagai orang tua akan terima?” Bude terdiam. “Itu juga yang dirasakan istri aku,” sahut Nata blak-blakan, aku tidak bisa menatap wajahnya karena posisi Nata yang membelakangiku, tapi dari nada suaranya yang keras, aku tahu suamiku murka. “Bude beruntung orang tua Lula sudah nggak ada. Kalau mereka masih hidup apa Bude nggak malu ngomong begini di depan aku, di depan keluarga? Bayangkan gimana perasaan orang tua Lu
“Anak dari sepupu kamu yang dipenjara? Wah, wah...” Mata Bude Sri sampai menjeling ketika aku mengenalkan Queen dan menjawab beberapa pertanyaannya yang menohok. “Malaikat sekali kamu mau mengurus dia. Adik? Kakak? Paman atau Bude-bude kamu yang lain ke mana? Nggak ada?” “Papa aku cuma punya satu saudara, Mama anak tunggal, Bude.” Aku menjawab sopan, mempertahankan sikap tenang dan santai sembari mengawasi anak-anak makan. Beliau datang ke Joyday untuk lunch, sekalian melihat restoran. Dan Bude tidak sendirian, dia bersama putrinya Mba Kemala beserta suami, yaitu Mas Bagas dan anak mereka yang paling kecil berumur tujuh tahun, Devan. Dan karena aku diminta menemani, alhasil anak-anak disuruh makan lagi, hanya camilan ringan. Kami memilih meja VIP di lantai dua yang tertutup. “Seumuran sama Salsa ya, La?” tanya Mba Kemala basa-basi, sopan.
“Memangnya Ibu nggak takut kalau Bapak betah main sendiri, dan akhirnya lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat padel daripada di rumah?”Aku justru tertawa dengan pendapat Jenny. “Mana mungkin ada yang lebih betah di lapangan daripada di rumah. Yah, mungkin Nata sekarang lagi hobi olahraga, tapi ada perbedaan besar antara tempat olahraga sama di rumah. Di lapangan boleh ramai orang, banyak teman dan memacu adrenalin. Tapi di rumah ada kenyamanan, ada aku istrinya dan ada anak-anak juga.”Jenny manggut-manggut sambil memperhatikan dua bocil yang kini sedang mewarnai di sudut pantry. “Ibu selalu percaya diri kayak gini ya?”“Harus, aku pernah gagal sama suamiku Jenny, jadi aku banyak belajar supaya kali ini hubungan kami berhasil.”“Oh, cerai dan rujuk ya, Bu?” sahutnya. “Berarti gosip yang bilang Ibu nggak bisa punya baby lagi itu bener dong?”Jemariku yang sedang menggulir layar ipad, memantau media sosial Joyday mendadak berhenti.
“Ka-kamu mau apa?”“Menurut kamu mau apa?”“Anak-anak di luar banget loh, Nat.”“Terserah kamu mau di atas atau di bawah yang penting jangan berisik.”Astaga.Suamiku memang tidak ada malunya!Aku menginginkannya tapi tidak begini juga, gimana caranya aku bisa turn on kalau Salsa dan Queen berada tepat di balik tembok dan suara mereka yang sedang bermain terdengar jelas?“Sini.” Nata justru duduk di tepi kasur, lalu menarikku ke pangkuannya.Aku nurut saja seperti kerbau yang dicucuk hidung. Kalau Nata lemah, entah apa sebutan yang cocok untukku karena baru disentuh pun, aku tidak memiliki daya untuk menolak.Jatuh di pangkuan Nata, aku segera merangkul lehernya, membuka pahaku lebar-lebar untuk menjepit pinggangnya. Nata segera menyatukan bibir kami.Tanpa basa-basi. Ya ampun, suamiku tidak pakai bujuk-bujuk kalau sudah turn on, dia akan langsung memulai!Suamiku tidak bercanda, dia b
Menyambut Nata pulang adalah hal yang paling menyenangkan.Aku sudah mencoba caranya Tria yang meminta menggunakan pancingan agar pertahanan diri suamiku runtuh.“Anjir, nggak kebayang gimana ekspresi Mas Andrew yang shock banget pas tiba-tiba Mba bilang mau pakai toys. Pasti langsung salting brutal.”“Aku nggak kepikiran awalnya, Ya. Tapi mukanya biasa aja tuh.”Tria berdecak remeh. “Makanya aku ada di sini buat kasih masukan. Jadi, gimana sekarang, Mba punya dua anak?”“Untungnya Queen penurut.”“Ya tau sih, dulu aku sering lihat dia main sendiri di halaman kalau nggak ada Salsa, anak itu emang apa yaa, kayak hidup di bublenya sendiri, khas anak-anak banget lah. Tau sendiri gimana Mba Meira itu sibuk terus sama lakinya kan? Kadang-kadang aku ngerasa Mba Meira itu lebih ngebelain lakinya daripada anaknya. Maksud aku, kalau lakinya mau makan, diambilin, lakinya mau mandi disiapin, bahkan nyari gunting kuku aja Mba Meira yang haru







