LOGIN“Bude nggak paham kenapa kamu mau kembali sama istrimu yang menopause, memangnya di dunia ini nggak ada perempuan lain? Maaf kalau kata-kata Bude nyakitin tapi kamu ngabisin waktu loh Mas, kamu ngabisin masa muda yang harusnya bisa senang-senang dan malah berakhir stuck sama satu perempuan yang bikin kamu ribet.”
“Aku juga sudah tua Bude, masa muda apa yang Bude maksud? Aku sudah puas main-main, sekarang waktunya aku hidup tenang. Kalau aku bilang begini, nyuruh Bagas ninggalin“Mama bahkan nggak tau soal ini loh, Lula. Waktu Bude Sri nanya, Mama nggak tau harus jawab apa. Tapi Mama dan Papa ngerti bahwa ini urusan kalian, kami nggak berhak ikut campur.” Sambil meremas tangan di pangkuan, aku memandang Mama mertua, menjelaskan masalah Bude Sri karena setelah kedatangan beliau kemarin ke Joyday, grup WA keluarga jadi ribut. Mama menatap Queen yang tampak bermain di kolam bersama Salsa dan Papa. “Yah, Mama udah duga ini sih. Kamu waktu Mama ngomongin Queen, muka kamu langsung beda. Mama udah curiga kamu punya arah ke sini.” “Mama, maaf.” “Ya kenapa minta maaf sama Mama? Kalau kalian udah memutuskan artinya kalian tahu resikonya. Terlebih Nata ini sulit banget kalau soal Ibnu, kan? Selama ini dia selalu belain kamu, dan selalu di sisi kamu, selagi dia berada di pihak kamu berarti sebagai istri kamu patut merasa aman. Omongan yang lain nggak perlu didengarkan, La.” Ucapan Mama sedikit banyak sesuai dengan yang dikatakan Nata kemarin. Mertuaku nih, memang
(Nata’s Pov)“Lo ada hubungan apa sama Jenny?”“Gue yang harusnya nanya, lo ada hubungan apa sama karyawan gue?”“Kalau gue sih, nggak ada, kecuali kalau pulang bareng bisa lo disebut hubungan.”“Terserah kalian mau gimana, tapi jangan bikin ribut di restoran.”“Dia maunya sama lo.”“Gue nggak mau sama dia.”“Makanya gue kasih dia alternatif daripada gangguin suami orang.”Gue tertawa tanpa humor. “Thank you so much, jadi sekarang gue harusnya berterima kasih sama lo karena lo udah mau berkorban demi teman lo ini?”Alis Steven terangkat, mengeluarkan rokok dari saku, menjepit sebatang dan mengopernya satu ke gue. Gue mendengus sambil menyambarnya. “Ada aja alasan lo buat nidurin cewek.”“Dia-nya mau.”“Ya mau kalau dibujuk,” jawab gue menyelipkan nikotin itu ke bibir sebelum membakarnya. Ini kalau Lula lihat gue bakal diomelin, pasti. “Suka, nggak suka kalau dibujuk gitu, manusia bisa aja berpaling, dia masih kecil btw.”“Kalau Lula tau, gimana?”“Gimana apanya?”“Lo ngasih dia baju,
Malam jatuh sangat lambat. Aku kesulitan untuk tidur, bolak-balik mengganti posisi ke kanan dan kiri. Lalu telentang, memandang langit-langit kamar yang remang-remang sambil mendekap erat selimut di dada. Insomnia ini sangat menyiksa. Terlebih, Nata pun tidak ada di kamar, dia sibuk di ruang kerjanya karena harus mengurus administrasi restoran. Dan aku, di sini, di kasur sendirian, justru tidak bisa berhenti memikirkannya. Ucapan Bude Sri tentang suamiku bergaung di telinga. Mungkin beliau memang benar, selama ini Nata tidak pernah mau menceritakan masalah keuangan padaku, kalaupun dia cerita itu hanya masalah sepele seperti listrik, tagihan air, tagihan sampah, dan lain-lain yang sudah menjadi urusannya. Hampir semua kebutuhan rumah tangga Nata yang mengatur, dan saat dia memberikan nafkah. Itu sudah bersih untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk shopping dan hiburan. Bisa s
“Bude nggak paham kenapa kamu mau kembali sama istrimu yang menopause, memangnya di dunia ini nggak ada perempuan lain? Maaf kalau kata-kata Bude nyakitin tapi kamu ngabisin waktu loh Mas, kamu ngabisin masa muda yang harusnya bisa senang-senang dan malah berakhir stuck sama satu perempuan yang bikin kamu ribet.” “Aku juga sudah tua Bude, masa muda apa yang Bude maksud? Aku sudah puas main-main, sekarang waktunya aku hidup tenang. Kalau aku bilang begini, nyuruh Bagas ninggalin Kemala karena Bagas masih muda dan gagah apa Bude sebagai orang tua akan terima?” Bude terdiam. “Itu juga yang dirasakan istri aku,” sahut Nata blak-blakan, aku tidak bisa menatap wajahnya karena posisi Nata yang membelakangiku, tapi dari nada suaranya yang keras, aku tahu suamiku murka. “Bude beruntung orang tua Lula sudah nggak ada. Kalau mereka masih hidup apa Bude nggak malu ngomong begini di depan aku, di depan keluarga? Bayangkan gimana perasaan orang tua Lu
“Anak dari sepupu kamu yang dipenjara? Wah, wah...” Mata Bude Sri sampai menjeling ketika aku mengenalkan Queen dan menjawab beberapa pertanyaannya yang menohok. “Malaikat sekali kamu mau mengurus dia. Adik? Kakak? Paman atau Bude-bude kamu yang lain ke mana? Nggak ada?” “Papa aku cuma punya satu saudara, Mama anak tunggal, Bude.” Aku menjawab sopan, mempertahankan sikap tenang dan santai sembari mengawasi anak-anak makan. Beliau datang ke Joyday untuk lunch, sekalian melihat restoran. Dan Bude tidak sendirian, dia bersama putrinya Mba Kemala beserta suami, yaitu Mas Bagas dan anak mereka yang paling kecil berumur tujuh tahun, Devan. Dan karena aku diminta menemani, alhasil anak-anak disuruh makan lagi, hanya camilan ringan. Kami memilih meja VIP di lantai dua yang tertutup. “Seumuran sama Salsa ya, La?” tanya Mba Kemala basa-basi, sopan.
“Memangnya Ibu nggak takut kalau Bapak betah main sendiri, dan akhirnya lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat padel daripada di rumah?”Aku justru tertawa dengan pendapat Jenny. “Mana mungkin ada yang lebih betah di lapangan daripada di rumah. Yah, mungkin Nata sekarang lagi hobi olahraga, tapi ada perbedaan besar antara tempat olahraga sama di rumah. Di lapangan boleh ramai orang, banyak teman dan memacu adrenalin. Tapi di rumah ada kenyamanan, ada aku istrinya dan ada anak-anak juga.”Jenny manggut-manggut sambil memperhatikan dua bocil yang kini sedang mewarnai di sudut pantry. “Ibu selalu percaya diri kayak gini ya?”“Harus, aku pernah gagal sama suamiku Jenny, jadi aku banyak belajar supaya kali ini hubungan kami berhasil.”“Oh, cerai dan rujuk ya, Bu?” sahutnya. “Berarti gosip yang bilang Ibu nggak bisa punya baby lagi itu bener dong?”Jemariku yang sedang menggulir layar ipad, memantau media sosial Joyday mendadak berhenti.







