MasukKantor sangat ramai.
Atau mungkin aku yang mulai kembali ke habitat setelah sebelumnya berhibernasi bersama Salsa. Sehingga keramaian ini membuatku agak panik.Masuk ke lobi, dan menuju lantai staf, jantungku tidak berhenti berdebar. Dan ketika sampai di sana, tanganku dingin. Aku bergegas berjalan ke meja, mencoba mengabaikan sekitar.Bukan kepedean, atau berlebihan. Aku hanya tidak ingin semakin insecure jika berkontak mata dengan yang lain.“Mba.”Aku menggeliat melepaskan diri, namun Nata justru semakin merengkuh pinggangku dan memeluk ketat.“Maaf.” Dia kembali menggumam, mengusap belakang kepalaku. Sial, pertahanan diriku lemah.Nata tetap diam, dan akhirnya aku berhenti melawan, merasa capek juga kalau harus menggunakan fisik.“Kamu bisa bilang sama aku kalau aku nggak layak Nata. Mungkin aku akan sedih selama beberapa hari, tapi itu jauh lebih bisa aku terima daripada aku harus ngadepin mulut ceplas-ceplos orang lain,” kataku teredam di bahunya.“Iya, aku salah soal ini.”Sebuah kemajuan besar seorang Nata mau mengakui kesalahannya. Dan aku sangat menghargai kejujuran itu. Tapi melelahkan sekali, selama bertahun -tahun aku menunggu momen ini.Dia membuatku kuwalahan.“Aku nggak mau kamu susah.”“Tapi sekarang kamu malah bikin aku tambah susah, kamu sadar nggak?”Nata mengangguk lugu di pundakku.Pria ini, apakah dia sedang
Hai my wife?Entah bagaimana, aku ingin membanting ponsel. Ketika di kantor aku berkutat dengan gosip yang tidak masuk akal. Nata sepertinya justru menikmati perannya sebagai Bapak rumah.“Jangan becanda, Nata.”Dia terdengar terkekeh santai. “Calista ngomong apa sama kamu?”“Hah?”“Dia ganggu kamu?”Astaga.Jadi, Calista baru saja mengadu?Hidungku kembang kempis. “Memangnya ada orang kantor yang nggak ganggu aku sekarang?” Ini berlebihan, tapi aku geregetan, tampaknya Nata menikmati hidupnya sementara aku harus terbebani dengan omongan yang tidak masuk akal.Nata meringis. “Touche. Kamu di mana? Sudah selesai? Mau aku jemput?”“Aku udah di depan.”Suara pontang-panting terdengar. Nata seperti bergegas melakukan sesuatu, mungkin dia menggunakan sendal. Lalu pintu di hadapanku terbuka, mempertontonkan Nata yang melotot sambil menempelkan ponsel di telinga.“Kenapa ng
(Nata’s Pov)“Mama di mana Pa?”“Kerja.”“Papa nggak kerja?”“Papa akan nemenin Salsa.”“Mending Papa kerja aja supaya Salsa bisa beli buku sama mainan.”What the fvck.Baru kali ini gue nggak tersinggung meskipun sudah diusir.Gue membungkuk, mengecup ujung hidungnya dengan gemas. “Kamu itu di otaknya cuma mainan.” Gue menyentil dahi Salsa yang nggak terluka.Anak gue meringis seraya mengusap keningnya. “Ih, sakit loh, Papa. Salsa lebih suka Papa cari uang yang banyak, biar Mama nggak usah kerja.”Papa juga maunya begitu, Sal.Laki-laki dianggap sukses kalau berhasil memberikan nafkah tanpa kekurangan apapun. Dia nggak tahu aja kalau keinginan gue untuk nge-provide Lula sangat besar. Gue pengin Lula seperti dulu yang cuma duduk manis di rumah menunggu gue pulang dengan dandanan super cantik dan lingerie.Tapi Lula akan menganggap gue nggak mendukung dia buat berkembang.
“Aku juga nggak tau kalau kamu di sini karena Nata yang meminta.”Dengan segala hormat, setelah melihatnya berada dalam pelukan Nata beberapa hari lalu, kurasa Calista punya keberanian diri yang tidak terbendung.Dia masih seperti Calista yang kukenal, cantik, semampai, stunning.Pakaiannya mencolok dengan setelan blazer serta rok yang semuanya serba biru dengan perpaduan kemeja putih gading. Kelihatan chic, formal dan menunjukkan kedewasaan. Tapi kalimatnya justru begitu menusuk.Kami berada di kafe dekat kantor, memilih berbasa-basi dengan ‘sarapan’ meski sebenarnya kami sama-sama tahu ini bukan sarapan biasa.Calista melanjutkan. “Kemarin aku ke rumah sakit, Nata nggak ngebolehin aku masuk karena takut terjadi sesuatu sama Salsa. Dia bilang bahwa mungkin ada yang sengaja mencelakai putrinya. Jujur awalnya aku tersinggung karena itu sama aja kayak dia nggak percaya sama aku.” Calista meraih kopi dan menyesapnya dengan lambat-lambat. “Ta
Kantor sangat ramai.Atau mungkin aku yang mulai kembali ke habitat setelah sebelumnya berhibernasi bersama Salsa. Sehingga keramaian ini membuatku agak panik.Masuk ke lobi, dan menuju lantai staf, jantungku tidak berhenti berdebar. Dan ketika sampai di sana, tanganku dingin. Aku bergegas berjalan ke meja, mencoba mengabaikan sekitar.Bukan kepedean, atau berlebihan. Aku hanya tidak ingin semakin insecure jika berkontak mata dengan yang lain.“Mba.”Tapi tentu saja Adisty tidak akan membiarkanku terlewat, bukan?“Ya?” balasku berusaha tetap santai.“Ya ampun!” Dia mendelik, berjalan ke kubikelku, membuat beberapa pasang mata sontak melirik penasaran. “Gimana anak Mba, udah mendingan?”Aku cerita padanya melalui pesan singkat sebab dia bertanya kenapa aku mengajukan cuti. Dan Adisty cukup prihatin dengan musibah yang terjadi.“Alhamdulillah,” jawabku meringis kaku. “Udah bisa pulang hari ini.”
Pemulihan Salsa berjalan cukup cepat, sayangnya Saras hanya menerima cuti selama tiga hari. Sisanya aku harus kembali bekerja. Dan tiba hari H, Salsa akan pulang, aku kebingungan.“Lo juga punya anak.” Aku mendengar suara Nata membentak dari sambungan telepon di balik pintu kamar. “Gimana kalau kejadian kayak gini terjadi sama anak lo? Masih bisa mikirin kerja? Lula cuma minta seminggu. Seminggu itu juga dia alihkan ke tahun baru. Dia rela nggak liburan yang penting sekarang ada untuk menjaga anaknya!”Sial, kenapa aku ingin nangis ya?Nata jarang marah-marah sampai benar-benar murka. Dan dia tipikal pria yang silent treatment kalau kecewa dengan sesuatu, namun sepertinya enam bulan masa perpisahan kami sudah membuatnya banyak berubah.Salah satunya, Nata mulai bisa menunjukkan kemarahannya. Tapi di sisi lain, dia pun membela hakku.Aku mengigit bibir cemas.“Tiga hari itu waktu yang cukup, Andrew ini bukan tempat amal, tapi peru







