Home / Romansa / Move On! Kita Sudah Bercerai / Part 113: Hampir Menyerah

Share

Part 113: Hampir Menyerah

Author: Titi Chu
last update publish date: 2026-09-19 18:10:37

Aku menggeliat melepaskan diri, namun Nata justru semakin merengkuh pinggangku dan memeluk ketat.

“Maaf.” Dia kembali menggumam, mengusap belakang kepalaku.

Sial, pertahanan diriku lemah.

Nata tetap diam, dan akhirnya aku berhenti melawan, merasa capek juga kalau harus menggunakan fisik.

“Kamu bisa bilang sama aku kalau aku nggak layak Nata. Mungkin aku akan sedih selama beberapa hari, tapi itu jauh lebih bisa aku terima daripada aku harus ngadepin mulut c
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
SamaraGandhi
wuaaahhhh brengcek betul bibi mi Lula...
goodnovel comment avatar
Bonita
ada ya model orang kayak gitu, menjual barang punya orang lain tanpa ijin ...... saking blangsak kali yaaaa
goodnovel comment avatar
Mei
Astagaaaaaa…keluarga Lula ini sudahlah toksik…parasit pulaaaaak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 170: Tak Mampu Menghindar

    Kemarahan Nata membuatku lemas.Dengan bahu terkulai aku membuka pintu kamar. Menemukan Queen masih di posisi yang sama sejak kutinggalkan. Ia menggenggam toples cookies erat seakan itu adalah sekoci penyelamat.Aku mendekatinya, lalu berjongkok mensejajarkan tinggi tubuh kami. “Queen maaf ya, kamu nggak bisa tinggal di sini. Aunty akan kembaliin kamu ke rumah Frederika, nanti Aunty akan bantu kamu sekolah lagi, biar kamu tetap ada kegiatan. Ya?”“Aunty...” Pupil anak itu mengecil cemas, dan dia menolak saat kuajak berdiri.“Maaf Queen, Aunty nggak bisa... Nanti Aunty akan rutin jenguk kamu kok.” Aku mengusap pipiku kasar, berusaha keras menghapus air mataku yang mengalir. “Aunty juga punya keluarga Queen... Tolong ngertiin posisi Aunty ya.”Karena dibandingkan dengan dirinya, jelas aku akan memilih suamiku, anakku, dan rumahku. Lagipula benar kata Nata, aku tidak bisa menjadi pahlawan. Biarlah Queen tinggal bersama orang- orang yang deka

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 169: Terlalu Lembek

    Nata mundur memberi ruang untukku agar membuka pintu.Sementara aku melepas seatbelt, menghela napas panjang, kemudian turun menghadapi suamiku.Aku segera menutup pintu mobil di belakang punggungku ketika keluar. Tatapan Nata sontak memicing curiga.“Siapa yang kamu sembunyikan di dalam?“ tanyanya tajam.Jantungku berdentam keras. “Bukan siapa-siapa Nat, ayo kita bicara.”“Kamu selingkuh Lula?”Aku mendelik. “Itu nggak benar!”“Terus kenapa seminggu terakhir ini kamu sembunyi-sembunyi?”Mataku mengerling saat Gio keluar dari mobil yang ditumpangi Nata.Ah, sial.Jadi ini atas laporan dari Gio? Jadi, dia bisa sampai di sini, bahkan membuntuti aku karena bisikan dari asistennya?Oke, aku kerap memuji loyalitas Gio yang luar biasa, tapi sangking patuhnya dia pada Nata, sampai-sampai sebagai istri Nata pun aku kena imbasnya!Tolong, kalau dalam situasi normal dan bukan aku yang t

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 168: Kelumpuhan Sementara

    Bibi terjatuh di kamar mandi.Pagi sebelum musibah itu terjadi, ia sempat mengeluh pada Queen kalau kepalanya sakit dan meminta anak itu membelikan minyak kayu putih di warung. Tapi karena tidak kuat, tubuh Bibi lumbang dan akhirnya ambruk.Begitulah informasi yang berhasil kukorek dari Queen, dengan segala kerja keras tentu saja sebab dia sulit sekali bicara panjang. Queen kesulitan mencari kata yang tepat untuk menunjukkan bagaimana situasinya saat itu.“Terus kamu kepikiran Aunty?” tanyaku, mengeratkan sweater di tubuh anak itu. Dia tampak habis menangis, mungkin histeris karena Neneknya pingsan.Queen mengangguk. “Aunty bilang harus hubungin kalau butuh sesuatu.”“Bagus.” Kutepuk-tepuk kepalanya sebagai apresiasi. “Berapa lama Nenek pingsan di toiletnya, lama?”Dia mengangguk.Sepertinya kepala Bibi terbentur kuat di lantai hingga menyebabkan luka dalam dan membuatnya hilang kesadaran. Tapi kami masih menunggu analis

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 167: Silent Treatment

    Nata tidak pernah meninggikan suara. Kalau pun marah, ia tidak akan membentak, dan lebih senang melakukan silent treatment.Tapi Nata yang kali ini kulihat jelas berbeda dari keduanya. Aku setengah menduga dia tahu apa yang sebenarnya kulakukan di luar kalau melihat tatapannya itu. Di sisi lain, aku percaya, bahwa Nata hanya kecewa karena aku tidak mengangkat telepon darinya.Aku menunduk, meskipun kebohonganku masih tersimpan rapi. Namun, tetap saja aku tidak berani berkontak mata. “Kamu ngapain...”Kurasakan Nata berdiri, tubuhnya yang menjulang menaungiku. Aku menahan napas saat dia mendekat, praktis memblok pandanganku dari satu- satunya cahaya di living room dari sebuah stand lamp di pojok ruangan.Mendadak semuanya gelap.“Mau alasan apa?” tanyanya, tahu betul bahwa aku selalu mencari celah.“Macet,” jawabku, lebih seperti mencicit. “Aku udah berusaha lebih cepat Nat, tapi aku benar-benar nggak bisa.”“Kalau gitu k

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 166: Tidak Tertolong

    “Emangnya Bibi nggak kasihan cucu Bibi sendirian, terluntang-lantung di sini?” “Dipenjara nggak boleh bawa anak kecil, kalau Bibi bawa juga percuma.” “Paling enggak, buka aja kuncinya, biarin Queen keluar masuk. Dia pasti pengen kencing, pengen berak, pengen tidur.” “Bahaya, kalau ada orang masuk emangnya kamu mau tanggung jawab?” “Oh, Bibi lebih khawatir sama harta benda Bibi yang nggak seberapa itu dibandingkan cucu Bibi sendiri? Bibi takut harta Bibi dimaling, tapi Bibi nggak takut kalau cucu Bibi diculik, gitu?” “Siapa yang ngomong begitu?” “Ya terus ini apa?” Aku meraung. Kesal setengah mati. Bodo amat tetangga mau dengar. Menurutku ini sudah keterlaluan. Oke kalau memang dia sibuk, atau dia tidak ingin Queen trauma melihat orang tuanya dipenjara. Tapi kan, Bibi bisa membawa Queen ke day care. Itu justru lebih baik daripada membiarkan anak kecil

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 165: Wanita Gila

    Sudah tiga hari aku tidak pergi mengunjungi Queen.Gelisah? Tentu saja ada.Aku terus memikirkan, apakah dia sudah makan? Apakah selimutnya cukup tebal untuk tidur? Apakah uang yang kuberikan cukup? Apakah dia bahkan bisa mengurus dirinya sendiri?Lima tahun, for God’s sake.Salsa bahkan masih rewel dan mencari aku saat bangun tidur, ketika aku tidak kunjung berada di jangkauan matanya dia akan menangis keras. Saat makan pun, aku masih harus membujuknya supaya dia mau makan sayur, supaya nasinya dihabiskan. Itu belum dengan bagaimana dia selalu mencari aku tiap melakukan sesuatu yang sepele.Misalnya melukis, meminta dicarikan potongan puzzle, meminta ditemani ke toilet. Meminta dipeluk dan ditepuk- tepuk bokongnya saat mau tidur.Sementara Queen, apakah Bibi bisa menggantikan peran Ibunya?Ini weekend, namun Salsa tetap bergantung padaku untuk dipakaikan kaos kaki. Sepanjang kami jalan-jalan ke Zoo, sepanjang itu pula a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status