LOGIN“Aku juga nggak tau kalau kamu di sini karena Nata yang meminta.”
Dengan segala hormat, setelah melihatnya berada dalam pelukan Nata beberapa hari lalu, kurasa Calista punya keberanian diri yang tidak terbendung.Dia masih seperti Calista yang kukenal, cantik, semampai, stunning.Pakaiannya mencolok dengan setelan blazer serta rok yang semuanya serba biru dengan perpaduan kemeja putih gading. Kelihatan chic, formal dan menunjukkan kedewasaan. Tapi kalimatnya justru“Anak dari sepupu kamu yang dipenjara? Wah, wah...” Mata Bude Sri sampai menjeling ketika aku mengenalkan Queen dan menjawab beberapa pertanyaannya yang menohok. “Malaikat sekali kamu mau mengurus dia. Adik? Kakak? Paman atau Bude-bude kamu yang lain ke mana? Nggak ada?” “Papa aku cuma punya satu saudara, Mama anak tunggal, Bude.” Aku menjawab sopan, mempertahankan sikap tenang dan santai sembari mengawasi anak-anak makan. Beliau datang ke Joyday untuk lunch, sekalian melihat restoran. Dan Bude tidak sendirian, dia bersama putrinya Mba Kemala beserta suami, yaitu Mas Bagas dan anak mereka yang paling kecil berumur tujuh tahun, Devan. Dan karena aku diminta menemani, alhasil anak-anak disuruh makan lagi, hanya camilan ringan. Kami memilih meja VIP di lantai dua yang tertutup. “Seumuran sama Salsa ya, La?” tanya Mba Kemala basa-basi, sopan.
“Memangnya Ibu nggak takut kalau Bapak betah main sendiri, dan akhirnya lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat padel daripada di rumah?”Aku justru tertawa dengan pendapat Jenny. “Mana mungkin ada yang lebih betah di lapangan daripada di rumah. Yah, mungkin Nata sekarang lagi hobi olahraga, tapi ada perbedaan besar antara tempat olahraga sama di rumah. Di lapangan boleh ramai orang, banyak teman dan memacu adrenalin. Tapi di rumah ada kenyamanan, ada aku istrinya dan ada anak-anak juga.”Jenny manggut-manggut sambil memperhatikan dua bocil yang kini sedang mewarnai di sudut pantry. “Ibu selalu percaya diri kayak gini ya?”“Harus, aku pernah gagal sama suamiku Jenny, jadi aku banyak belajar supaya kali ini hubungan kami berhasil.”“Oh, cerai dan rujuk ya, Bu?” sahutnya. “Berarti gosip yang bilang Ibu nggak bisa punya baby lagi itu bener dong?”Jemariku yang sedang menggulir layar ipad, memantau media sosial Joyday mendadak berhenti.
“Ka-kamu mau apa?”“Menurut kamu mau apa?”“Anak-anak di luar banget loh, Nat.”“Terserah kamu mau di atas atau di bawah yang penting jangan berisik.”Astaga.Suamiku memang tidak ada malunya!Aku menginginkannya tapi tidak begini juga, gimana caranya aku bisa turn on kalau Salsa dan Queen berada tepat di balik tembok dan suara mereka yang sedang bermain terdengar jelas?“Sini.” Nata justru duduk di tepi kasur, lalu menarikku ke pangkuannya.Aku nurut saja seperti kerbau yang dicucuk hidung. Kalau Nata lemah, entah apa sebutan yang cocok untukku karena baru disentuh pun, aku tidak memiliki daya untuk menolak.Jatuh di pangkuan Nata, aku segera merangkul lehernya, membuka pahaku lebar-lebar untuk menjepit pinggangnya. Nata segera menyatukan bibir kami.Tanpa basa-basi. Ya ampun, suamiku tidak pakai bujuk-bujuk kalau sudah turn on, dia akan langsung memulai!Suamiku tidak bercanda, dia b
Menyambut Nata pulang adalah hal yang paling menyenangkan.Aku sudah mencoba caranya Tria yang meminta menggunakan pancingan agar pertahanan diri suamiku runtuh.“Anjir, nggak kebayang gimana ekspresi Mas Andrew yang shock banget pas tiba-tiba Mba bilang mau pakai toys. Pasti langsung salting brutal.”“Aku nggak kepikiran awalnya, Ya. Tapi mukanya biasa aja tuh.”Tria berdecak remeh. “Makanya aku ada di sini buat kasih masukan. Jadi, gimana sekarang, Mba punya dua anak?”“Untungnya Queen penurut.”“Ya tau sih, dulu aku sering lihat dia main sendiri di halaman kalau nggak ada Salsa, anak itu emang apa yaa, kayak hidup di bublenya sendiri, khas anak-anak banget lah. Tau sendiri gimana Mba Meira itu sibuk terus sama lakinya kan? Kadang-kadang aku ngerasa Mba Meira itu lebih ngebelain lakinya daripada anaknya. Maksud aku, kalau lakinya mau makan, diambilin, lakinya mau mandi disiapin, bahkan nyari gunting kuku aja Mba Meira yang haru
Obrolan Lula tentang toys berhasil.Gue jadi ikut berpikir, menimbang, dan akhirnya merasa berdebar sendiri.Gue nggak tahu bahwa Lula punya fantasi seperti itu. Dia memang centil, manja banget kalau udah di kasur.Pikiran gue malah nggak tenang selama main padel. Keringat dingin membasahi seluruh kaus olahraga gue. Suara pantulan bola padel yang membentur dinding kaca dan derit sepatu di atas lapangan synthetik turf masih bergema di telinga. Set ketiga baru selesai, tapi paru-paru gue rasanya mau pecah.Beberapa kali gue nggak fokus dan malah membuang-buang bola sampai menjadi bahan ejekan Steven.“Dengkul kopong!” cemoohnya tertawa. “Berdiri yang bener dong, di mana jiwa-jiwa kompetitif lo kemarin?”Gue kangen Lula.Tapi gue nggak mau bikin Lula takut kalau mendadak bersikap posesif. Dia bakal marah kalau gue cemburu buta, dan gue nggak mau istri gue makin jengkel saat gue bertingkah berlebihan.“Istirahat dul
(Nata’s Pov)“Nata, boleh nggak aku pakai toys?”“Toys?”“Mainan buat main.” “Maksud kamu—”“Vibrator, dildo, terus tongkat bulu-bulu.”Gue tertawa, setengah berpikir Lula bercanda, wajahnya tampak bersemu malu-malu saat mengatakan itu, tapi matanya tampak berbinar terang.Istri gue nakal.“Soalnya kamu nggak mau... so, aku harus mulai cari alternatif lain...”Alis gue terangkat.“Pokoknya kalau kamu masih nggak mau, aku bakal pakai toys aja.”“Kamu ngancem?”“A-aku juga punya kebutuhan ya!”“Kayaknya belum seminggu Lula.”“Udah dua minggu Nata.”“Kamu nungguin?”“Aku ngitungin, hei... Nata kamu juga harus tau kalau itu kewajiban kamu dan hak aku buat dapat nafkah lahir dan batin, memangnya ada istri yang diem aja kalau nggak dikasih nafkah batin?”“Nggak tau, istri aku cuma satu.“Lengan gue dicubit kecil banget, sumpah s







