LOGIN(Nata’s Pov)
“Nat, memang kalau aku kayak gini, kamu langsung mupeng?” Gue selalu mupeng gimana pun bentuk Lula, sekalipun dia cuma diem. Mungkin orang lain akan mengatakan gue berlebihan, tapi Lula itu tipe ideal gue, mau di luar atau di atas ranjang. Badannya luwes, nggak terlalu kurus ataupun nggak terlalu gemuk juga pas. Menurut gue, dia selalu cantik. “Hm.” Gue menjawab singkat. “Masa? Tapi ini kan ketutup semua.Mataku terbuka saat mendengar suara ponsel yang berdering di nakas. Aku perlahan menggeliat bangkit, mendongak dari dada bidang suamiku, lalu perlahan menoleh sambil memanjangkan lengan, meraba-raba nakas. Mataku sontak menyipit melihat mama Frederika terpampang sebagai caller id. Aku menggeser tombol hijau selagi beringsut duduk, memungut bathrobe yang teronggok di lantai. “Halo?” “Hai Lula, ini Frederika.” “Ya?” “Aku mau kasih informasi kalau Queen udah aku daftarin di TK ya.” “Oh?” Aku bergegas menggunakan bathrobe itu dan mengikatnya erat di pinggang, kemudian keluar kamar. “Minggu depan paling lambat dia udah mulai sekolah lagi, tempatnya dekat dari rumah, jadi gampang antar jemput.” “Makasih banyak Frederika.” “Yah, bukan masalah, aku udah anggap Queen sebagai anakku juga. Udah itu aja sih, soal pembayaran nanti aku kirim rinciannya by WA ya? A
(Warning 21+)Nata memang tidak pandai mengendalikan diri ketika tubuhku sudah terpapar. Tapi malam ini ia sangat sabar. Nata benar-benar memandikanku. Membersihkan seluruh tubuhku.Paling ia hanya akan mencuri satu atau dua ciuman di bibir, namun sisanya Nata sangat telaten membantuku mandi seakan aku mendadak jadi bocah.“Nata geli...” Dan sepertinya dia memang senang sekali bermain-main, atau Nata sedang ingin bermanja-manja.Beberapa kali ia kedapatan memelukku dari belakang seperti gemas. Dan ketika kami sudah selesai mandi, dengan aku yang mengenakan bathrobe, dan Nata yang mengenakan handuk di pinggul. Ia kembali mendekap pinggangku erat. Kemudian menyurukkan ujung hidungnya yang mancung itu untuk digesek-gesekkan di cuping telingaku.Aku menggeliat, menatapnya dari pantulan cermin kamar mandi yang berembun. “Kamu kesambet apa deh...”Padahal kemarin dia masih judes, matanya dingin dan sulit dijangkau.Aku sudah m
Aku juga sangat merindukannya.Merindukan kami.Tapi kami tidak mungkin pelukan di sini. Tubuhku menegang, leherku memanjang memastikan Salsa tidak tiba-tiba nongol. Atau mungkin Mama... atau Papa.“Sorry.” Ia kembali menggumam.Sementara tanganku yang kaku berada di samping tubuh sepertinya disalah artikan oleh Nata sebagai penolakan karena pelukannya mengerat.“Nata...” Aku tidak bisa napas.Kurasakan bibirnya menempel di ceruk leherku, dingin, lalu ia menggumam di kulitku tanpa melepas pelukan.“Sudah dimakan cokelatnya?”Tengkukku seketika meremang, aku menahan diri untuk tidak gemetar dan mengalihkan percakapan kami ke nada yang lebih ringan. “Belum, memangnya kamu kasih apa di dalam cokelatnya? Ada peletnya atau racun, Nata?”Tubuh Nata seperti melemas, ia menerima upayaku untuk mencarikan suasana tegang di antara kami selama beberapa hari terakhir ini. Lalu kurasakan bibirnya mengecup lembut.
Cokelat? Memangnya aku anak-anak yang dikasih cokelat jadi gembira? Tidak menangis lagi? Tidak sedih lagi?Aku tidak mengerti jalan pikiran Nata. Namun, aku tetap menerimanya.Itu cokelet yang zaman pengantin baru dulu sering kami beli, bukan cokelat mahal dan brand ternama, hanya cokelat yang biasanya dijual di walmart.Ketika aku mendongak Mama tampak mesam-mesem. “Lucu banget Nata, mungkin dianggapnya kamu masih kecil, bisa dihibur pakai cokelat. Dia memang manis gitu kalau sama kamu ya.”Nata memang selalu manis, tapi kalau dia tidak mau mengajakku berbicara. Dia tampak menakutkan, aku merasa serba salah dan mendadak kesepian.“Dulu waktu kecil, Nata juga gitu, sering tiba-tiba ngasih Mama cokelat, bunga, permen. Biasanya kalau begitu, berarti tandanya dia mau minta maaf setelah ngelakuin kesalahan atau kenakalan di luar biar nggak dimarahin,” terangnya.Aku sontak terkekeh.“Nata abis bikin salah apa sama kamu?”
“Lula, kenapa repot-repot? Mama kan, udah bilang kalau ke sini nggak usah bawa apa-apa cukup bawa badan. Anak Mama jauh lebih penting dari buah tangan.”Aku meringis. “Nggak repot sama sekali Ma. Halo Salsa, lagi ngapain?”“Mama, Salsa lagi mau mancing sama Opa, ini pancingan Salsa kecil.” Lantas anak itu cekikikan, memamerkan alat pancingnya yang mini, yang sepertinya sudah disesuaikan oleh Papa.“Ah, itu mau mancing di belakang La, di kolam. Papa nggak berani kalau ngajak Salsa ke pemancingan. Bapak-Bapak gitulah, banyak alasan. Takut Salsa jatuh lah, takut kepleset lah, takut ikannya dicekik lah. Bilang aja sebenarnya Papa pengen senang-sendiri sama teman- temannya,” sahut Mama julid.Aku tertawa.“Tapi pinter juga Papa ada akal buat bikin kolam pemancingan sendiri.”Salsa bahkan menggunakan vest dan topi bundar, seolah dia benar-benar akan memancing di tengah laut.Menggemaskan.“Sini La,” ajak Mama ke dapur
Tubuhku seperti rontok.Aku tidak tahu berapa lama tepatnya ketiduran di kamar Salsa. Namun, saat terbangun hari sudah terang benderang.Kurasa aku melewatkan banyak hal.Begitu akan bangkit pandanganku berkunang-kunang, dan aku kesulitan untuk menstabilkan tubuh. Saat berdiri aku langsung sempoyongan.Aku berpegangan erat di nakas, sebisa mungkin tidak ambruk dan akhirnya kembali jatuh di atas tempat tidur.Suhu tubuhku sangat panas, aku merasa menggigil sekalipun ini masih pagi.Tenggorokanku tercekat saat akan memanggil suamiku. “Nat...”Hanya sunyi yang menjawab.Sepertinya dia tidak ada di rumah, keadaan sangat hening, saat aku meraba-raba tas di samping tempat tidur lalu membuka ponsel, di jadwal hari ini ada meeting untuk penentuan opening Joyday di lantai dua.Oke, Nata pasti sangat sibuk.Sambil berusaha untuk kembali memejamkan mata, aku teringat dengan pertengkaran kemarin. Wajah Nat







