Share

Part 157: Kesayangan

Author: Titi Chu
last update publish date: 2026-10-14 18:10:38

Kapok, Lula sepertinya sadar bahwa betapa cantik dan menarik dirinya.

Sejujurnya dulu saat pertama kali mengenalnya pun, gue langsung suka Lula dalam pandangan pertama. Itulah kenapa gue nurut aja waktu Mama menasehati untuk jangan lama-lama kenalan dan segera nikahin aja.

Gue nggak mau kehilangan lagi. Dan walaupun belum ada cinta, nggak jadi masalah. Karena gue udah punya modal rasa ketertarikan itu. Gue percaya bahwa cinta wanita itu bertumbuh, sedangkan laki-laki harus '
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 160: Tidak Ingin Lepas

    “Biar saja, itu bukan urusan kita.” Begitulah pendapat Nata ketika aku membuka obrolan tentang Queen. “Ada neneknya, dia pasti baik-baik aja.” Tapi aku khawatir dan ingin sekali melihat keadaan anak itu. Nata sudah tidak peduli, dia bahkan menyibukkan diri di restoran. Dua hari kemudian Tria memberondong masuk ke Joyday. Napasnya memburu, hidungnya kembang kempis, dan dia langsung berseru heboh. Membuat Salsa yang sedang melukis terkejut. “Aduh maaf ya, sayang. Aunty lagi semangat banget, maaf-maaf, gambar kamu jadi ketumpahan cat air ya?” “Nggak pa-pa Aunty, nanti Papa bantu Salsa benerin lukisannya. Papa Salsa pintar melukis dan membuat desain.” Ya ampun, Sal. Wajah putriku malah sombong, dia mengerling ke arah Nata yang seketika mengerutkan dahi karena lagi-lagi menjadi pelayan pribadi putri kami. Yah, Salsa memang tidak salah. Cuma Nata sedang sibuk di depan l

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 159: Tupai Jatuh

    “Dia kedapatan membawa sabu, lo tahu gongnya, mereka sama sekali nggak nyangka kalau pemakai mereka itu polisi, jadi ini emang jebakan dan ternyata dia udah diincer dari lama.” “Sekarang orangnya di mana?” “Polsek lah, Pak. Masuk akal kalau ternyata dia yang nabrak Salsa. Orang ini problematik parah. Gue udah duga dia pasti bakal keselandung sendiri. Bayangin, jual mobil istri lo, nipu uang bisnis temannya dan kabar terbaru dia juga diam-diam menggunakan sertifikat rumah mertuanya untuk ngambil pinjaman di bank. Dan dengan uang sebanyak itu pun masih kurang. Bener-bener manusia serakah.” Aku harus memberikan big applause pada Gio sebab punya insting yang tajam. Selain loyal pada suamiku, Gio lah yang dulu meminta kami untuk sabar karena tidak memiliki bukti apapun untuk menyeret Ibnu ke penjara. Dan sekarang istilah sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga, berlaku untuk manusia jahanam itu. Walaupun Ibnu harus di

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 158: Cinta Yang Setara

    Katanya, mereka cuma mau menyusun puzzle tapi sampai di apartemen dua bocah ini justru sibuk main PS 5. Aku tidak tahu di mana Nata mendapatkan game itu, mungkin ia meminjamnya dari Steven. Dan hingga waktu makan malam tiba, suamiku bersama Salsa masih sibuk di depan layar asik saling sikut-sikutan. Sampai aku harus ngereog supaya mereka berhenti dan akhirnya makan.“PR-nya tadi gimana Sal?” tanyaku berusaha santai, padahal sebenarnya kepalaku sudah berasap melihat suamiku yang mulai hilang kendali.“Enak Mama.”“Hah? Mama nggak nanya makan malamnya loh, Mama tanya PR kamu tadi siang gimana?” ulangku sabar.Salsa menjerit. “Besok lagi dikerjain. Argkh Papa, kenapa mobil Salsa ditabrak, Papa minggir dong!”Astaga.Aku memijat pelipis.Rumah berantakan karena kami sibuk di restoran. Aku belum sempat ngepel dan hanya mengandalkan mesin vacum. Ditambah Nata dan Salsa yang main sambil ngemil keripik kentang. Remah-r

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 157: Kesayangan

    Kapok, Lula sepertinya sadar bahwa betapa cantik dan menarik dirinya.Sejujurnya dulu saat pertama kali mengenalnya pun, gue langsung suka Lula dalam pandangan pertama. Itulah kenapa gue nurut aja waktu Mama menasehati untuk jangan lama-lama kenalan dan segera nikahin aja.Gue nggak mau kehilangan lagi. Dan walaupun belum ada cinta, nggak jadi masalah. Karena gue udah punya modal rasa ketertarikan itu. Gue percaya bahwa cinta wanita itu bertumbuh, sedangkan laki-laki harus 'klik' di awal untuk membuat hubungan berhasil.Tentu gue nggak munafik, fisiknya yang pertama kali gue lihat. Lula kalau senyum kelihatan manis, matanya sampai hilang, giginya rapi, wajahnya bersih. Tinggi standar nggak kecil tapi juga nggak jangkung. Cocok banget kalau kami berdiri berdampingan.Yah, yah, pokoknya semua tentang Lula itu menarik. Dan gue makin suka setelah tahu kepribadiannya yang ceria.Sekarang, Lula makin mempesona, dalam artian wajahnya makin bersi

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 156: Secure

    (Nata’s Pov) 18+ “Memangnya kamu mau aku kembali ke perusahaan itu? Kalau aku kerja di sana, aku akan sibuk banget Lula,” tanya gue mendongak, meremas pinggulnya saat Lula merangkak naik ke pangkuan gue di sofa ruang kerja yang tertutup rapat. Gue meringis saat Lula perlahan turun menyatukan tubuh kami dengan pas. Lula mengerutkan alis. “Menurut kamu,” katanya terengah-engah. “Sekarang kamu nggak sibuk? Sama aja, kan? Malah aku pikir kamu lebih sibuk dibandingkan di kantor dulu.” Oh ya? Gue pikir justru sekarang banyak banget waktu luang yang dulu nggak bisa gue dapatkan untuk anak istri. Atau karena gue kerja sambil ditemenin Lula jadinya kesibukan gue nggak kerasa? “Iya kan?” tanyanya manja lalu pinggulnya menyentak, milik gue di bawah terasa dijepit kuat. “Kenapa kamu ngelihatin aku kayak gitu? Tolong, pikirin dulu Nat, kalau kamu masih ragu, coba ingat-ingat lagi soal uang yang bisa kamu da

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 155: Milik Siapa?

    Aku menatap dua pria yang berada di hadapanku dengan cemas.Damian berada di depan kami, sementara Nata di sampingku. Dan meskipun pertemuan ini tidak hanya dihadiri kami bertiga, namun, tatapan keduanya terpancang satu sama lain.Aku mengerjap kemudian berdiri, membantu Jenny meletakkan nampan berisi minuman bersama pelayan lain dan mengopernya ke atas meja.“Silakan Pak,” sapaku ramah, memecah keheningan di antara mereka.Pak Heru berdeham, menerima minuman yang kami sajikan, lalu mencobanya perlahan. Wajah beliau kelihatan sangat menghargai minuman itu meskipun tampak pula bahwa ekspresinya hanya basa-basi. “Jadi,” cetusnya memulai. “Joyday ini baru buka kemarin? Wah, jadi kami datang di waktu yang tepat ya?”Aku mengangguk-angguk. “Benar Pak, sebenarnya belum sepenuhnya buka. Di atas masih close dan belum bisa dipakai. Untuk saat ini kami masih membutuhkan karyawan tambahan.”Pak Heru manggut-manggut mengerti, menye

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status