LOGINSudah tiga hari aku tidak pergi mengunjungi Queen.
Gelisah? Tentu saja ada.Aku terus memikirkan, apakah dia sudah makan? Apakah selimutnya cukup tebal untuk tidur? Apakah uang yang kuberikan cukup? Apakah dia bahkan bisa mengurus dirinya sendiri?Lima tahun, for God’s sake.Salsa bahkan masih rewel dan mencari aku saat bangun tidur, ketika aku tidak kunjung berada di jangkauan matanya dia akan menangis keras. Saat makan pun, aku masih harus membujuknya supObrolan Lula tentang toys berhasil.Gue jadi ikut berpikir, menimbang, dan akhirnya merasa berdebar sendiri.Gue nggak tahu bahwa Lula punya fantasi seperti itu. Dia memang centil, manja banget kalau udah di kasur.Pikiran gue malah nggak tenang selama main padel. Keringat dingin membasahi seluruh kaus olahraga gue. Suara pantulan bola padel yang membentur dinding kaca dan derit sepatu di atas lapangan synthetik turf masih bergema di telinga. Set ketiga baru selesai, tapi paru-paru gue rasanya mau pecah.Beberapa kali gue nggak fokus dan malah membuang-buang bola sampai menjadi bahan ejekan Steven.“Dengkul kopong!” cemoohnya tertawa. “Berdiri yang bener dong, di mana jiwa-jiwa kompetitif lo kemarin?”Gue kangen Lula.Tapi gue nggak mau bikin Lula takut kalau mendadak bersikap posesif. Dia bakal marah kalau gue cemburu buta, dan gue nggak mau istri gue makin jengkel saat gue bertingkah berlebihan.“Istirahat dul
(Nata’s Pov)“Nata, boleh nggak aku pakai toys?”“Toys?”“Mainan buat main.” “Maksud kamu—”“Vibrator, dildo, terus tongkat bulu-bulu.”Gue tertawa, setengah berpikir Lula bercanda, wajahnya tampak bersemu malu-malu saat mengatakan itu, tapi matanya tampak berbinar terang.Istri gue nakal.“Soalnya kamu nggak mau... so, aku harus mulai cari alternatif lain...”Alis gue terangkat.“Pokoknya kalau kamu masih nggak mau, aku bakal pakai toys aja.”“Kamu ngancem?”“A-aku juga punya kebutuhan ya!”“Kayaknya belum seminggu Lula.”“Udah dua minggu Nata.”“Kamu nungguin?”“Aku ngitungin, hei... Nata kamu juga harus tau kalau itu kewajiban kamu dan hak aku buat dapat nafkah lahir dan batin, memangnya ada istri yang diem aja kalau nggak dikasih nafkah batin?”“Nggak tau, istri aku cuma satu.“Lengan gue dicubit kecil banget, sumpah s
Queen tampak lebih happy ketika sudah bertemu dengan Mamanya.Sepertinya dia tidak begitu cemas tentang Ibnu, atau mungkin merasa bertemu Ibunya saja sudah cukup.Lagipula kalau dia mendadak meminta bertemu dengan Bapaknya, jelas kami tidak bisa memenuhi keinginannya itu. Suamiku pasti akan mengamuk lagi, dan lebih parah memberiku hukuman!Gzz, hukuman yang sebelumnya saja belum berakhir. Lantas bagaimana kalau mendadak ditambah hukuman lain?Tapiii aku tidak henti-hentinya berterima kasih dengan suamiku, dia yang memiliki ide ini, dia pula yang merealisasikan, aku tahu ini tidak mudah untuk Nata, tapi dia rela melakukannya semata-mata supaya aku happy.“Sekarang kita bisa honeymoon.” Dia menggumam, tangan sibuk menggulir layar ipad sementara aku berada di atas tubuhnya dengan punggung yang menempel di dada bidangnya.“Queen dibawa?”“Enggak dibawa Lula, ditinggal di dalam koper terus kita masukkan ke bagasi.”“
Lambat, sulit, lelah.Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perjalanan kami bertemu Meira, birokrasi yang sulit dan bertele-tele cukup memakan waktu seharian. Ironisnya meski sudah menggunakan orang dalam, kami masih diputar-putar oleh oknum polisi dari satu lapas ke lapas lain sampai akhirnya bisa bertemu dengan sepupuku itu.“Brengsek,” maki Nata begitu kami menyebutkan nama Meira dan ternyata sepupuku ditempatkan di lapas pertama sementara kami sudah singgah di tiga lapas yang berbeda. “Harusnya kalian bilang dari awal, kalian pikir saya nggak punya pekerjaan? Kalian ini dibayar dengan uang pajak saya, jadi nggak usah kurang ajar sama majikan!”Aku mengatupkan bibir rapat-rapat, tidak ikut campur selagi Nata memaki.Biarlah, biar oknum-oknum seperti mereka ini tidak tuman dan kebiasaan.Belum ditambah ada yang meminta uang kunjungan saat kami mengatakan akan bertemu dengan Meira.Astaga.Radit sampai gele
“Nggak pa-pa Aunty di sini, sayang.” Aku menggumam, memeluk Queen yang mendadak menangis tengah malam.Awalnya suara itu tidak terdengar karena Queen menangis sangat lirih, saat aku menyadari bahwa itu dirinya, aku langsung bangkit menuju kamar tamu.Aku duduk di tepi ranjang, mendekap tubuhnya dalam posisi V, kemudian mengusap punggungnya. Sementara Queen mengigau sambil merengek.“Mama...”“Coba buka matanya, Queen.”“Mama...”“Queen, kamu mimpi ya? Buka matanya dulu, coba lihat Aunty.”“Mama...”Ia mengucek-ngucek mata, kemudian mendongak, mengerjap lambat.“Nah, lihat kan, siapa ini.”Queen segera menunduk dan kembali menyandarkan kepalanya di dadaku.“Nggak pa-pa, itu cuma mimpi...” Aku menghiburnya dengan mengusap rambutnya. Memastikan dia merasa aman. “Queen nggak perlu nangis.”Sudah berlalu seminggu lebih setelah Queen sakit, berat badannya turun drastis, baru beberap
Selama empat hari aku pontang-panting mengurus Queen. Anak itu ternyata sangat rewel saat sakit, dia banyak menangis, merengek, dan mengigau memanggil-manggil Mamanya.Hatiku ikut sesak.Rasa rindu pastilah mempengaruhi kesehatannya, sementara saat ini, yang Queen mau hanyalah pelukan Ibunya. Selembut dan seperhatian apapun aku mengurus anak itu, bagi Queen, Mamanya tetaplah yang utama.Bahkan ada di satu momen, ia merengek tengah malam karena demam, lalu aku mendekapnya agar ia tenang. Queen langsung memelukku dan memanggilku Mama, dan saat dia sadar aku bukan Meira, wajahnya tampak menderita.Aku tidak kuat dengan keadaan yang harus anak malang ini hadapi.“Dia belum sembuh?” Nata bertanya saat pagi-pagi aku masih menggunakan daster, rambut dicepol berantakan, belum mandi, dan wangi obat.Sementara suamiku sudah rapi dengan t-shirt polo dan celana semi jeans.“Kamu mau padel?” tanyaku. Nata jarang di rumah ak







