Masuk(Nata’s Pov)
“Nata, boleh nggak aku pakai toys?”“Toys?”“Mainan buat main.”“Maksud kamu—”“Vibrator, dildo, terus tongkat bulu-bulu.”Gue tertawa, setengah berpikir Lula bercanda, wajahnya tampak bersemu malu-malu saat mengatakan itu, tapi matanya tampak berbinar terang.Istri gue nakal.“Soalnya kamu nggak mau... so, aku harus mulai cari alternatif lain...”Alis gue terangkat.“Pokoknya kalau kamu ma“Ka-kamu mau apa?”“Menurut kamu mau apa?”“Anak-anak di luar banget loh, Nat.”“Terserah kamu mau di atas atau di bawah yang penting jangan berisik.”Astaga.Suamiku memang tidak ada malunya!Aku menginginkannya tapi tidak begini juga, gimana caranya aku bisa turn on kalau Salsa dan Queen berada tepat di balik tembok dan suara mereka yang sedang bermain terdengar jelas?“Sini.” Nata justru duduk di tepi kasur, lalu menarikku ke pangkuannya.Aku nurut saja seperti kerbau yang dicucuk hidung. Kalau Nata lemah, entah apa sebutan yang cocok untukku karena baru disentuh pun, aku tidak memiliki daya untuk menolak.Jatuh di pangkuan Nata, aku segera merangkul lehernya, membuka pahaku lebar-lebar untuk menjepit pinggangnya. Nata segera menyatukan bibir kami.Tanpa basa-basi. Ya ampun, suamiku tidak pakai bujuk-bujuk kalau sudah turn on, dia akan langsung memulai!Suamiku tidak bercanda, dia b
Menyambut Nata pulang adalah hal yang paling menyenangkan.Aku sudah mencoba caranya Tria yang meminta menggunakan pancingan agar pertahanan diri suamiku runtuh.“Anjir, nggak kebayang gimana ekspresi Mas Andrew yang shock banget pas tiba-tiba Mba bilang mau pakai toys. Pasti langsung salting brutal.”“Aku nggak kepikiran awalnya, Ya. Tapi mukanya biasa aja tuh.”Tria berdecak remeh. “Makanya aku ada di sini buat kasih masukan. Jadi, gimana sekarang, Mba punya dua anak?”“Untungnya Queen penurut.”“Ya tau sih, dulu aku sering lihat dia main sendiri di halaman kalau nggak ada Salsa, anak itu emang apa yaa, kayak hidup di bublenya sendiri, khas anak-anak banget lah. Tau sendiri gimana Mba Meira itu sibuk terus sama lakinya kan? Kadang-kadang aku ngerasa Mba Meira itu lebih ngebelain lakinya daripada anaknya. Maksud aku, kalau lakinya mau makan, diambilin, lakinya mau mandi disiapin, bahkan nyari gunting kuku aja Mba Meira yang haru
Obrolan Lula tentang toys berhasil.Gue jadi ikut berpikir, menimbang, dan akhirnya merasa berdebar sendiri.Gue nggak tahu bahwa Lula punya fantasi seperti itu. Dia memang centil, manja banget kalau udah di kasur.Pikiran gue malah nggak tenang selama main padel. Keringat dingin membasahi seluruh kaus olahraga gue. Suara pantulan bola padel yang membentur dinding kaca dan derit sepatu di atas lapangan synthetik turf masih bergema di telinga. Set ketiga baru selesai, tapi paru-paru gue rasanya mau pecah.Beberapa kali gue nggak fokus dan malah membuang-buang bola sampai menjadi bahan ejekan Steven.“Dengkul kopong!” cemoohnya tertawa. “Berdiri yang bener dong, di mana jiwa-jiwa kompetitif lo kemarin?”Gue kangen Lula.Tapi gue nggak mau bikin Lula takut kalau mendadak bersikap posesif. Dia bakal marah kalau gue cemburu buta, dan gue nggak mau istri gue makin jengkel saat gue bertingkah berlebihan.“Istirahat dul
(Nata’s Pov)“Nata, boleh nggak aku pakai toys?”“Toys?”“Mainan buat main.” “Maksud kamu—”“Vibrator, dildo, terus tongkat bulu-bulu.”Gue tertawa, setengah berpikir Lula bercanda, wajahnya tampak bersemu malu-malu saat mengatakan itu, tapi matanya tampak berbinar terang.Istri gue nakal.“Soalnya kamu nggak mau... so, aku harus mulai cari alternatif lain...”Alis gue terangkat.“Pokoknya kalau kamu masih nggak mau, aku bakal pakai toys aja.”“Kamu ngancem?”“A-aku juga punya kebutuhan ya!”“Kayaknya belum seminggu Lula.”“Udah dua minggu Nata.”“Kamu nungguin?”“Aku ngitungin, hei... Nata kamu juga harus tau kalau itu kewajiban kamu dan hak aku buat dapat nafkah lahir dan batin, memangnya ada istri yang diem aja kalau nggak dikasih nafkah batin?”“Nggak tau, istri aku cuma satu.“Lengan gue dicubit kecil banget, sumpah s
Queen tampak lebih happy ketika sudah bertemu dengan Mamanya.Sepertinya dia tidak begitu cemas tentang Ibnu, atau mungkin merasa bertemu Ibunya saja sudah cukup.Lagipula kalau dia mendadak meminta bertemu dengan Bapaknya, jelas kami tidak bisa memenuhi keinginannya itu. Suamiku pasti akan mengamuk lagi, dan lebih parah memberiku hukuman!Gzz, hukuman yang sebelumnya saja belum berakhir. Lantas bagaimana kalau mendadak ditambah hukuman lain?Tapiii aku tidak henti-hentinya berterima kasih dengan suamiku, dia yang memiliki ide ini, dia pula yang merealisasikan, aku tahu ini tidak mudah untuk Nata, tapi dia rela melakukannya semata-mata supaya aku happy.“Sekarang kita bisa honeymoon.” Dia menggumam, tangan sibuk menggulir layar ipad sementara aku berada di atas tubuhnya dengan punggung yang menempel di dada bidangnya.“Queen dibawa?”“Enggak dibawa Lula, ditinggal di dalam koper terus kita masukkan ke bagasi.”“
Lambat, sulit, lelah.Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perjalanan kami bertemu Meira, birokrasi yang sulit dan bertele-tele cukup memakan waktu seharian. Ironisnya meski sudah menggunakan orang dalam, kami masih diputar-putar oleh oknum polisi dari satu lapas ke lapas lain sampai akhirnya bisa bertemu dengan sepupuku itu.“Brengsek,” maki Nata begitu kami menyebutkan nama Meira dan ternyata sepupuku ditempatkan di lapas pertama sementara kami sudah singgah di tiga lapas yang berbeda. “Harusnya kalian bilang dari awal, kalian pikir saya nggak punya pekerjaan? Kalian ini dibayar dengan uang pajak saya, jadi nggak usah kurang ajar sama majikan!”Aku mengatupkan bibir rapat-rapat, tidak ikut campur selagi Nata memaki.Biarlah, biar oknum-oknum seperti mereka ini tidak tuman dan kebiasaan.Belum ditambah ada yang meminta uang kunjungan saat kami mengatakan akan bertemu dengan Meira.Astaga.Radit sampai gele







