LOGINLambat, sulit, lelah.
Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perjalanan kami bertemu Meira, birokrasi yang sulit dan bertele-tele cukup memakan waktu seharian. Ironisnya meski sudah menggunakan orang dalam, kami masih diputar-putar oleh oknum polisi dari satu lapas ke lapas lain sampai akhirnya bisa bertemu dengan sepupuku itu.“Brengsek,” maki Nata begitu kami menyebutkan nama Meira dan ternyata sepupuku ditempatkan di lapas pertama sementara kami sudah singgahLambat, sulit, lelah.Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perjalanan kami bertemu Meira, birokrasi yang sulit dan bertele-tele cukup memakan waktu seharian. Ironisnya meski sudah menggunakan orang dalam, kami masih diputar-putar oleh oknum polisi dari satu lapas ke lapas lain sampai akhirnya bisa bertemu dengan sepupuku itu.“Brengsek,” maki Nata begitu kami menyebutkan nama Meira dan ternyata sepupuku ditempatkan di lapas pertama sementara kami sudah singgah di tiga lapas yang berbeda. “Harusnya kalian bilang dari awal, kalian pikir saya nggak punya pekerjaan? Kalian ini dibayar dengan uang pajak saya, jadi nggak usah kurang ajar sama majikan!”Aku mengatupkan bibir rapat-rapat, tidak ikut campur selagi Nata memaki.Biarlah, biar oknum-oknum seperti mereka ini tidak tuman dan kebiasaan.Belum ditambah ada yang meminta uang kunjungan saat kami mengatakan akan bertemu dengan Meira.Astaga.Radit sampai gele
“Nggak pa-pa Aunty di sini, sayang.” Aku menggumam, memeluk Queen yang mendadak menangis tengah malam.Awalnya suara itu tidak terdengar karena Queen menangis sangat lirih, saat aku menyadari bahwa itu dirinya, aku langsung bangkit menuju kamar tamu.Aku duduk di tepi ranjang, mendekap tubuhnya dalam posisi V, kemudian mengusap punggungnya. Sementara Queen mengigau sambil merengek.“Mama...”“Coba buka matanya, Queen.”“Mama...”“Queen, kamu mimpi ya? Buka matanya dulu, coba lihat Aunty.”“Mama...”Ia mengucek-ngucek mata, kemudian mendongak, mengerjap lambat.“Nah, lihat kan, siapa ini.”Queen segera menunduk dan kembali menyandarkan kepalanya di dadaku.“Nggak pa-pa, itu cuma mimpi...” Aku menghiburnya dengan mengusap rambutnya. Memastikan dia merasa aman. “Queen nggak perlu nangis.”Sudah berlalu seminggu lebih setelah Queen sakit, berat badannya turun drastis, baru beberap
Selama empat hari aku pontang-panting mengurus Queen. Anak itu ternyata sangat rewel saat sakit, dia banyak menangis, merengek, dan mengigau memanggil-manggil Mamanya.Hatiku ikut sesak.Rasa rindu pastilah mempengaruhi kesehatannya, sementara saat ini, yang Queen mau hanyalah pelukan Ibunya. Selembut dan seperhatian apapun aku mengurus anak itu, bagi Queen, Mamanya tetaplah yang utama.Bahkan ada di satu momen, ia merengek tengah malam karena demam, lalu aku mendekapnya agar ia tenang. Queen langsung memelukku dan memanggilku Mama, dan saat dia sadar aku bukan Meira, wajahnya tampak menderita.Aku tidak kuat dengan keadaan yang harus anak malang ini hadapi.“Dia belum sembuh?” Nata bertanya saat pagi-pagi aku masih menggunakan daster, rambut dicepol berantakan, belum mandi, dan wangi obat.Sementara suamiku sudah rapi dengan t-shirt polo dan celana semi jeans.“Kamu mau padel?” tanyaku. Nata jarang di rumah ak
(Nata’s Pov) “Ada yang ngikutin Lula.” “Ya?” “Avanza hitam, platnya...” Gue pun menyebutkan plat nomor mencurigakan kendaraan tersebut. Gio menggumam tampak mencatat di tablet kemudian menghubungi orang-orangnya Radit. “Cari tau siapa dan kenapa dia sampai harus ngikutin istri gue ke mana-mana.” “Sejak kapan lo liat ini mobil, Pak?” Gue berpikir sejenak. “Kemarin, pas gue nganter Lula pulang sama Salsa dan Queen. Tapi bisa aja mobil itu udah ngikutin Lula dari sebelumnya.” “Ada yang lo curigain?” Gue mengetukkan jemari di meja, melirik Jenny yang meletakkan gelas untuk kami. Hanya perasaan gue aja seragam pelayan yang digunakan perempuan itu semakin lama semakin sempit? “Sexy as fvck.” Gue bahkan bisa mendengar Steven bergumam, dan walaupun matanya memandang ke arah lain, gue tau dia sedang membicarakan Jenny. Kalau sampai terjadi sesuatu sama mereka, jujur gue ngg
“Demamnya belum turun, kayaknya dia nggak bisa dibawa ke mana-mana. Aku khawatir dia makin sakit.” Frederika mempersilakan aku ke kamar Queen. Tempat itu sempit tapi bersih dan rapi.Queen tampak setengah tertidur di ranjang tertutup selimut, ia membuka mata saat melihatku datang.“Udah dibawa ke rumah sakit?” “Belum sempat.”Aku meraba-raba kening Queen, dan mendapati tubuhnya sangat panas. Segera menyingkap selimut, aku mencoba menggendong anak itu.Queen merengek. “Aunty...”“Kita ke rumah sakit sebentar biar dapat obat, jadi kamu cepat sembuh ya?”“Hati-hati.” Frederika mengusapi punggung anak itu, tampak cemas.“Kamu bisa bantu aku simpan bajunya ke tas? Aku perlu buat dibawa.”“Bisa, kamu mau bawa Queen?”Jelas, aku tidak akan membiarkan Queen melewati demamnya sendirian. Dan Frederika bisa tetap fokus pada kedua anak sekaligus suaminya.Kami bergegas menuju mobil, Frederika men
Nata tersentak kaget karena aku berputar dan berteriak di depan wajahnya. Aku mengentak tanganku ke meja dan mencondongkan tubuh ke arahnya, mataku menyengat panas.“Kenapa kamu nggak mau mengakui kalau kamu juga peduli sama Queen?”“Aku nggak peduli, Lula.” Jawabannya begitu santai, tenang, raut wajahnya tidak berubah, kembali tanpa ekspresi. Semua ketenangan Nata ini membuat kemarahanku terasa berlebihan. “Apapun yang terjadi sama anak itu, mau dia sakit atau sedih, aku nggak peduli.”“Kalau gitu, izinin aku peduli!” jeritku frustrasi. “Atau terserah, aku nggak akan ngomong sama kamu lagi soal Queen, aku akan tetap bawa anak itu ke rumah dengan atau tanpa persetujuan kamu.”Aku menyambar tasku di mejanya dan berputar serta berderap ke pintu. Namun, belum sempat langkahku keluar. Nata mendadak menggumam. “Aku sudah hubungi saudara Ibnu, mereka bersedia menjaga anak itu.”“Apa?”“Ibnu punya adik laki-laki, saat nanti Ne







