Home / Romansa / Move On! Kita Sudah Bercerai / Part 186: Lebih Keras Dari Batu

Share

Part 186: Lebih Keras Dari Batu

Author: Titi Chu
last update publish date: 2026-10-31 18:00:14

“Demamnya belum turun, kayaknya dia nggak bisa dibawa ke mana-mana. Aku khawatir dia makin sakit.” Frederika mempersilakan aku ke kamar Queen. Tempat itu sempit tapi bersih dan rapi.

Queen tampak setengah tertidur di ranjang tertutup selimut, ia membuka mata saat melihatku datang.

“Udah dibawa ke rumah sakit?”

“Belum sempat.”

Aku meraba-raba kening Queen, dan mendapati tubuhnya sangat panas. Segera menyingkap selimut, aku mencoba menggendong anak itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 187: Sang Penggoda

    (Nata’s Pov) “Ada yang ngikutin Lula.” “Ya?” “Avanza hitam, platnya...” Gue pun menyebutkan plat nomor mencurigakan kendaraan tersebut. Gio menggumam tampak mencatat di tablet kemudian menghubungi orang-orangnya Radit. “Cari tau siapa dan kenapa dia sampai harus ngikutin istri gue ke mana-mana.” “Sejak kapan lo liat ini mobil, Pak?” Gue berpikir sejenak. “Kemarin, pas gue nganter Lula pulang sama Salsa dan Queen. Tapi bisa aja mobil itu udah ngikutin Lula dari sebelumnya.” “Ada yang lo curigain?” Gue mengetukkan jemari di meja, melirik Jenny yang meletakkan gelas untuk kami. Hanya perasaan gue aja seragam pelayan yang digunakan perempuan itu semakin lama semakin sempit? “Sexy as fvck.” Gue bahkan bisa mendengar Steven bergumam, dan walaupun matanya memandang ke arah lain, gue tau dia sedang membicarakan Jenny. Kalau sampai terjadi sesuatu sama mereka, jujur gue ngg

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 186: Lebih Keras Dari Batu

    “Demamnya belum turun, kayaknya dia nggak bisa dibawa ke mana-mana. Aku khawatir dia makin sakit.” Frederika mempersilakan aku ke kamar Queen. Tempat itu sempit tapi bersih dan rapi.Queen tampak setengah tertidur di ranjang tertutup selimut, ia membuka mata saat melihatku datang.“Udah dibawa ke rumah sakit?” “Belum sempat.”Aku meraba-raba kening Queen, dan mendapati tubuhnya sangat panas. Segera menyingkap selimut, aku mencoba menggendong anak itu.Queen merengek. “Aunty...”“Kita ke rumah sakit sebentar biar dapat obat, jadi kamu cepat sembuh ya?”“Hati-hati.” Frederika mengusapi punggung anak itu, tampak cemas.“Kamu bisa bantu aku simpan bajunya ke tas? Aku perlu buat dibawa.”“Bisa, kamu mau bawa Queen?”Jelas, aku tidak akan membiarkan Queen melewati demamnya sendirian. Dan Frederika bisa tetap fokus pada kedua anak sekaligus suaminya.Kami bergegas menuju mobil, Frederika men

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 185: Yang Ditangisi

    Nata tersentak kaget karena aku berputar dan berteriak di depan wajahnya. Aku mengentak tanganku ke meja dan mencondongkan tubuh ke arahnya, mataku menyengat panas.“Kenapa kamu nggak mau mengakui kalau kamu juga peduli sama Queen?”“Aku nggak peduli, Lula.” Jawabannya begitu santai, tenang, raut wajahnya tidak berubah, kembali tanpa ekspresi. Semua ketenangan Nata ini membuat kemarahanku terasa berlebihan. “Apapun yang terjadi sama anak itu, mau dia sakit atau sedih, aku nggak peduli.”“Kalau gitu, izinin aku peduli!” jeritku frustrasi. “Atau terserah, aku nggak akan ngomong sama kamu lagi soal Queen, aku akan tetap bawa anak itu ke rumah dengan atau tanpa persetujuan kamu.”Aku menyambar tasku di mejanya dan berputar serta berderap ke pintu. Namun, belum sempat langkahku keluar. Nata mendadak menggumam. “Aku sudah hubungi saudara Ibnu, mereka bersedia menjaga anak itu.”“Apa?”“Ibnu punya adik laki-laki, saat nanti Ne

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 184: Keras Kepala

    “Bu, bisa minta tolong nggak?”“Saya minta maaf banget, Bu.”“Tolong bantu saya ya, Bu.”“Bu?”“Ibu?”“Bu Lula!”Aku tersentak kaget saat tiba-tiba meja di depanku digebrak pelan. Mataku mengerjap memerhatikan Jenny yang tampak merah padam di hadapanku.“Ada apa?”“Ibu ngelamun terus sih, Bu.”“Saya lagi mikirin—kenapa? Kamu mau ngomong apa Jenny?”Wajah Jenny berubah mesam-mesem, dan tertunduk malu-malu. “Begini Bu, saya sebenarnya nggak pengen ngomong ini sama Ibu, tapi saya benar- benar terpaksa Bu, saya nggak tau mau minta tolong sama siapa lagi.”Aku menyimak dengan tenang.Jenny melipat kedua tangannya di depan perut, menarik embuskan napas panjang seakan berusaha menguatkan diri. “Saya mau kasbon, Bu.”“Ada masalah apa?”“Itu... Ibu saya masuk rumah sakit, kemarin kecelakaan pas naik motor, dan kakinya agak terkilir. Jadi, saya butuh uang untuk bayar r

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 183: Rasa Trauma

    Aku mengerjap-ngerjapkan mata mencium aroma gosong di kamar.Aku tahu ini ulah siapa, kenapa, dan bagaimana, tapi aku memilih untuk tetap memejamkan mata, menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang polos.Yah, walaupun semalam gagal, aku masih berusaha, masih mencoba menggoda, lama-lama aku seperti jablay di depan suamiku sendiri. Sampai akhirnya menyerah dan tertidur.Sementara di luar, suara Salsa mengomel. “Papa harusnya masukin butternya dulu Papa! Kalau Papa langsung masukin rotinya ke sana jadinya kering dan lengket loh!”“Papa juga tahu Salsa, ini Papa lihat caranya di TubeYou. Kamu mending duduk aja dan tunggu hasilnya.”“Aku yang motong timunnya.”“Kamu nggak bisa.”“Bisa, Mama udah ajarin.““Dikupas dulu kulitnya kalau gitu.”“Nggak perlu dikupas, Salsa lebih suka yang ada kulitnya kayak gini. Kalau Queen suka yang kayak gimana?”Tidak terdengar sahutan apapun dari Queen. Pilihannya

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 182: Ditinggal Kentang

    (Warning 21+) please be wise! “Sakit?” “Enggak, tapi pelan aja.” Dan Nata melakukannya. Pahaku dibuka lebar-lebar supaya dia bisa menyelipkan diri. Gerakannya sangat lambat, sampai-sampai aku mulai gelisah dan berkeringat. “Oke,” bisiknya di telingaku, dan Nata menunduk, mencium bibirku lagi. Aku seperti kehilangan diriku jika sudah berada dalam genggamannya. Yang bisa kurasakan cuma dia dan kejantanannya yang perlahan mendorong masuk. Pekikan lemah lolos dari bibirku begitu saja, ciuman kami terlepas. “Awh...” Kenapa dia begitu besar, ketat dan kuat? Kendati sudah sering melakukannya. Aku tetap saja perlu beradaptasi. Nata mencengkeram kedua pinggulku menahan pahaku terbuka, agar dia bisa semakin melesakkan dirinya. Sebuah erangan kecil terdengar dari bibirnya saat tenggelam penuh. Matanya kelihatan membara.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status