로그인Sepertinya kacamata hitam yang kutenggerkan di pangkal hidung ini sama sekali tidak membantu.
Benda itu gagal menyembunyikan fakta bahwa kedua kelopak mataku bengkak dan mataku memerah akibat tidak bisa tidur hingga fajar menyingsing.Kupikir setelah beberapa lama, dan mengenakan makeup, semua akan terlihat lebih baik, tapi ternyata tidak karena sekarang hampir pukul satu siang, dan aku sangat mengantuk!Dan penyebab dari semua keadaanku yang berantakan ini sedang“Jangan ditarik dari air. Salsa cuma boleh usap pelan-pelan pakai dua jari seperti ini.” Aku bisa mendengar suara Nata mengudara memberi instruksi. Pria itu berlutut di samping kolam dangkal, memegang punggung Salsa agar putri kami tidak terpeleset di lantai licin.“Mama, coba pegang yang ini! Halus banget!” Salsa malah memekik comel sambil memegang tangan kananku dan mengarahkannya ke seekor penyu kecil yang sedang berenang pelan.“Iya sebentar...” Aku bergegas memasukkan ponsel ke tas, tetapi Nata lebih dulu menarik sling bagku. Agar aku bisa fokus mengikuti keinginan Salsa dan berlutut di sampingnya.“Geli kan, Mama?” Salsa cekikian.“Lucu.” Aku mengangguk sepakat.Nata tampak menoleh, dia mengenakan kacamata hitam yang sama, sehingga aku tidak bisa melihat matanya. Tapi aku tahu bahwa dia memperhatikan intens. Tatapannya seperti bisa menembus langsung ke dalam diriku. Seakan aku buku yang terbuka.Aku berdeham. “Sal
Sepertinya kacamata hitam yang kutenggerkan di pangkal hidung ini sama sekali tidak membantu. Benda itu gagal menyembunyikan fakta bahwa kedua kelopak mataku bengkak dan mataku memerah akibat tidak bisa tidur hingga fajar menyingsing.Kupikir setelah beberapa lama, dan mengenakan makeup, semua akan terlihat lebih baik, tapi ternyata tidak karena sekarang hampir pukul satu siang, dan aku sangat mengantuk!Dan penyebab dari semua keadaanku yang berantakan ini sedang berjalan santai dua langkah di depanku.Nata tampil luar biasa kasual hari ini. Pria itu hanya mengenakan kaus polos berwarna off white yang mencetak jelas bahu tegapnya, dipadukan dengan celana pendek kain warna krem dan sepatu sneakers putih. Sederhana, tapi aura kaku dan mahalnya tetap terpancar tajam. Dia menggandeng tangan mungil Salsa, sementara tangan kirinya membawa tas punggung kecil berisi bekal dan botol minum putri kami.Sedangkan aku?Yah, aku terpaksa men
Dia meraba-raba leherku, mencengkerammya, lalu perlahan tangan itu turun ke pinggangku, menarik kaos yang kukenakan ke atas dan— “Mama...” Sebuah suara kecil, melengking, dan amat sangat datar bergaung tiba-tiba dari sudut kegelapan di dekat pintu. Ciuman kami terputus seketika. Pasokan udara seperti ditarik paksa dari paru-paruku. Aku dan Nata membeku dalam posisi yang masih sangat intim. “Papa?” sebut Salsa, bergantian. Dalam keremangan cahaya, tampak sosok mungil dengan gaun tidur merah muda berdiri tegak sambil mengucek mata. Nata menegang kaku di atasku, nafasnya masih memburu di depan wajahku, sementara mataku membelalak lebar menatap putri kami yang mendadak terbangun. Salsa tampak meneleng. “Papa udah pulang?” pekiknya tiba-tiba antusias. “Oh bagus, aku baru aja mimpi ketemu paus.” Lalu dia menguap lebar. Nata menghela dirinya bangkit dari
“Kamu tau nggak gimana berharapnya Salsa hari ini?” pekikku tertahan. “Tapi kenapa kamu malah nggak jemput? Apa ngeluangin waktu lima menit untuk angkat telepon aku pun susah?!”Dadaku naik turun karena emosi, nafasku sampai terengah-engah karena seharian ini berusaha berpikir positif, tapi dia ternyata tidak layak untuk mendapatkan rasa hormatku!Nata bergeming, wajahnya menunduk menatapku tapi dia tidak meringis, beraksi atau terganggu dengan kemarahan yang kulontarkan.“Salsa nggak pernah minta apapun, dia cuma butuh waktu kamu!” Aku menunjuk wajahnya. “Tapi buat ngasih sehari aja kamu nggak mampu!”Aku mundur dengan marah, tanganku masih terkepal kuat. “Kalau kamu memang nggak bisa hari ini, jangan bikin Salsa berharap, jangan janji! Jangan ngerusak kepercayaan Salsa!”Sejujurnya menyakitkan kalau melihat bagaimana wajah Salsa yang berbinar- binar sejak pagi tadi menceritakan apa yang ingin dia lihat di Sea World. Lalu mendapatkan per
Tria sampai kualahan membantuku untuk menenangkan Salsa.Dia pasti sudah dijanjikan banyak hal oleh Nata tentang hari ini sehingga Salsa berekspektasi sangat tinggi.Mau tidak mau, dibantu Tria kami turun ke bawah, aku pun membawa Salsa ke apartemen Nata dan meminta mantan suamiku menjemput di sana saja.“Aku di apartemen kamu Nat, Salsa nggak sabar mau pergi ke Sea World. Kamu baik-baik aja kan? Kalau terjadi sesuatu tolong kabarin aku ya.” Begitulah voice note yang kukurim ke nomor Nata. Pesan itu ceklis dua tapi belum terbaca. Dan ketika aku menghubunginya untuk menyampaikan bahwa aku sudah berada di tempatnya, ponsel Nata mendadak tidak aktif.Sial.Di mana dia?Bukankah kemarin dia sendiri yang memutuskan agar kami jalan-jalan? Dan karena weekend plus kami selalu sepakat kalau setiap momen penting Salsa harus dilaksanakan berdua. Aku setuju saja dengan ajakannya itu.Tapi kalau begini, semuanya kacau.
“Bagus nggak sih? Kok aku nggak percaya diri ya? Perut aku ini loh. Berasa lemaknya semakin tumpah-tumpah. Kayaknya aku gendutan, Ya.” Aku memutar tubuh di depan cermin besar memerhatikan penampilanku. Sementara Tria yang duduk di pinggir kasur tepat di belakangku, tampak berdecak remeh. “Kalau segitu aja udah dibilang gendut tumpah-tumpah, gimana badan aku? Mba itu udah turun mesin, tapi kelihatannya masih kayak gadis. Kalau aku malah kebalikannya.” “Lebay Tria.” “Lah, beneran. Nggak lihat gimana mukanya Mas Andrew kemarin pas dia dateng ke sini? Dia kayak nggak butuh lampu, matanya udah terang menyala setiap ngelihatin Mba! Ihh... kalau aku jadi Mba sih, aku bakal salting brutal.” Ck, aku terkekeh kecil. Padahal Nata memang begitu kalau memperhatikan lawan bicaranya. Dia itu matanya selalu seperti orang kurang tidur, sayu, tapi tidak kelihatan kusam. Itu memang bawaan lahir, jadi bukan karena dia benar-bena







