Home / Romansa / Move On! Kita Sudah Bercerai / Part 84: Kedatangan Tidak Terduga

Share

Part 84: Kedatangan Tidak Terduga

Author: Titi Chu
last update publish date: 2026-09-05 18:08:58

“Belum ke kantor? Kapan pulang dari Bandung?” Suara itu kembali mengudara terdengar sangat dekat.

Mama?

Kenapa Mama bisa di sini?!

Aku tidak mungkin kelihatan di tempat Nata dalam keadaan seperti ini, atau kalau tidak, beliau pasti akan mendesak kami untuk segera rujuk.

Aku seperti orang kesetanan, kakiku menendang Nata tidak anggun, dia mendelik, tetapi aku langsung melompat turun dari meja island, kemudian menyambar piyamaku di lantai.

Tepat saat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Kia
cutiii cutiii ya kak wkwk
goodnovel comment avatar
Bonita
sepertinya iya
goodnovel comment avatar
Culuu Culkeng
kayaknya nata kasih tau mamanya kalau lula ada dikamarnya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 188: Yang Paling Mengalah

    Selama empat hari aku pontang-panting mengurus Queen. Anak itu ternyata sangat rewel saat sakit, dia banyak menangis, merengek, dan mengigau memanggil-manggil Mamanya.Hatiku ikut sesak.Rasa rindu pastilah mempengaruhi kesehatannya, sementara saat ini, yang Queen mau hanyalah pelukan Ibunya. Selembut dan seperhatian apapun aku mengurus anak itu, bagi Queen, Mamanya tetaplah yang utama.Bahkan ada di satu momen, ia merengek tengah malam karena demam, lalu aku mendekapnya agar ia tenang. Queen langsung memelukku dan memanggilku Mama, dan saat dia sadar aku bukan Meira, wajahnya tampak menderita.Aku tidak kuat dengan keadaan yang harus anak malang ini hadapi.“Dia belum sembuh?” Nata bertanya saat pagi-pagi aku masih menggunakan daster, rambut dicepol berantakan, belum mandi, dan wangi obat.Sementara suamiku sudah rapi dengan t-shirt polo dan celana semi jeans.“Kamu mau padel?” tanyaku. Nata jarang di rumah ak

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 187: Sang Penggoda

    (Nata’s Pov) “Ada yang ngikutin Lula.” “Ya?” “Avanza hitam, platnya...” Gue pun menyebutkan plat nomor mencurigakan kendaraan tersebut. Gio menggumam tampak mencatat di tablet kemudian menghubungi orang-orangnya Radit. “Cari tau siapa dan kenapa dia sampai harus ngikutin istri gue ke mana-mana.” “Sejak kapan lo liat ini mobil, Pak?” Gue berpikir sejenak. “Kemarin, pas gue nganter Lula pulang sama Salsa dan Queen. Tapi bisa aja mobil itu udah ngikutin Lula dari sebelumnya.” “Ada yang lo curigain?” Gue mengetukkan jemari di meja, melirik Jenny yang meletakkan gelas untuk kami. Hanya perasaan gue aja seragam pelayan yang digunakan perempuan itu semakin lama semakin sempit? “Sexy as fvck.” Gue bahkan bisa mendengar Steven bergumam, dan walaupun matanya memandang ke arah lain, gue tau dia sedang membicarakan Jenny. Kalau sampai terjadi sesuatu sama mereka, jujur gue ngg

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 186: Lebih Keras Dari Batu

    “Demamnya belum turun, kayaknya dia nggak bisa dibawa ke mana-mana. Aku khawatir dia makin sakit.” Frederika mempersilakan aku ke kamar Queen. Tempat itu sempit tapi bersih dan rapi.Queen tampak setengah tertidur di ranjang tertutup selimut, ia membuka mata saat melihatku datang.“Udah dibawa ke rumah sakit?” “Belum sempat.”Aku meraba-raba kening Queen, dan mendapati tubuhnya sangat panas. Segera menyingkap selimut, aku mencoba menggendong anak itu.Queen merengek. “Aunty...”“Kita ke rumah sakit sebentar biar dapat obat, jadi kamu cepat sembuh ya?”“Hati-hati.” Frederika mengusapi punggung anak itu, tampak cemas.“Kamu bisa bantu aku simpan bajunya ke tas? Aku perlu buat dibawa.”“Bisa, kamu mau bawa Queen?”Jelas, aku tidak akan membiarkan Queen melewati demamnya sendirian. Dan Frederika bisa tetap fokus pada kedua anak sekaligus suaminya.Kami bergegas menuju mobil, Frederika men

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 185: Yang Ditangisi

    Nata tersentak kaget karena aku berputar dan berteriak di depan wajahnya. Aku mengentak tanganku ke meja dan mencondongkan tubuh ke arahnya, mataku menyengat panas.“Kenapa kamu nggak mau mengakui kalau kamu juga peduli sama Queen?”“Aku nggak peduli, Lula.” Jawabannya begitu santai, tenang, raut wajahnya tidak berubah, kembali tanpa ekspresi. Semua ketenangan Nata ini membuat kemarahanku terasa berlebihan. “Apapun yang terjadi sama anak itu, mau dia sakit atau sedih, aku nggak peduli.”“Kalau gitu, izinin aku peduli!” jeritku frustrasi. “Atau terserah, aku nggak akan ngomong sama kamu lagi soal Queen, aku akan tetap bawa anak itu ke rumah dengan atau tanpa persetujuan kamu.”Aku menyambar tasku di mejanya dan berputar serta berderap ke pintu. Namun, belum sempat langkahku keluar. Nata mendadak menggumam. “Aku sudah hubungi saudara Ibnu, mereka bersedia menjaga anak itu.”“Apa?”“Ibnu punya adik laki-laki, saat nanti Ne

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 184: Keras Kepala

    “Bu, bisa minta tolong nggak?”“Saya minta maaf banget, Bu.”“Tolong bantu saya ya, Bu.”“Bu?”“Ibu?”“Bu Lula!”Aku tersentak kaget saat tiba-tiba meja di depanku digebrak pelan. Mataku mengerjap memerhatikan Jenny yang tampak merah padam di hadapanku.“Ada apa?”“Ibu ngelamun terus sih, Bu.”“Saya lagi mikirin—kenapa? Kamu mau ngomong apa Jenny?”Wajah Jenny berubah mesam-mesem, dan tertunduk malu-malu. “Begini Bu, saya sebenarnya nggak pengen ngomong ini sama Ibu, tapi saya benar- benar terpaksa Bu, saya nggak tau mau minta tolong sama siapa lagi.”Aku menyimak dengan tenang.Jenny melipat kedua tangannya di depan perut, menarik embuskan napas panjang seakan berusaha menguatkan diri. “Saya mau kasbon, Bu.”“Ada masalah apa?”“Itu... Ibu saya masuk rumah sakit, kemarin kecelakaan pas naik motor, dan kakinya agak terkilir. Jadi, saya butuh uang untuk bayar r

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 183: Rasa Trauma

    Aku mengerjap-ngerjapkan mata mencium aroma gosong di kamar.Aku tahu ini ulah siapa, kenapa, dan bagaimana, tapi aku memilih untuk tetap memejamkan mata, menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang polos.Yah, walaupun semalam gagal, aku masih berusaha, masih mencoba menggoda, lama-lama aku seperti jablay di depan suamiku sendiri. Sampai akhirnya menyerah dan tertidur.Sementara di luar, suara Salsa mengomel. “Papa harusnya masukin butternya dulu Papa! Kalau Papa langsung masukin rotinya ke sana jadinya kering dan lengket loh!”“Papa juga tahu Salsa, ini Papa lihat caranya di TubeYou. Kamu mending duduk aja dan tunggu hasilnya.”“Aku yang motong timunnya.”“Kamu nggak bisa.”“Bisa, Mama udah ajarin.““Dikupas dulu kulitnya kalau gitu.”“Nggak perlu dikupas, Salsa lebih suka yang ada kulitnya kayak gini. Kalau Queen suka yang kayak gimana?”Tidak terdengar sahutan apapun dari Queen. Pilihannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status