Share

Bab 113

Penulis: Almiftiafay
last update Tanggal publikasi: 2026-09-17 18:33:18
Pandangan Kaisar menggelap, rahang tegasnya mengetat.

Ketenangan yang semula ditunjukkannya seolah lenyap dan membuat semua orang yang ada di ruang makan menahan napas.

Sedetik kemudian Kaisar berlalu, suara langkahnya menjauh seiring punggungnya yang menghilang di kejauhan.

Ia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, menuruni undakan tangga teras dan hendak membuka pintu mobilnya sebelum panggilan Davina terdengar dari belakang.

“Mas Kaisar!”

Ia tak menghiraukannya, tapi Davina bergerak
Almiftiafay

1 bab lagi dalam setengah menit 😁🔥 jangan lupa like komen vote rating bintang lima di depan 🤭🤭

| 15
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Ika Sulistyowati
haaaah sungguh naya hamillll apa itu tespak nya kaira ya yg jatuh itu .....
goodnovel comment avatar
Zendayaa
INI PASTI AKAL-AKALAN DAVINA SI JIN DASEEEMMM CUIHHH
goodnovel comment avatar
Christy Lino
Palingan jg itu di ancam sama dadidaw biar si neon chat bersedia utk tes DNA tpi aslinya mah ketar ketir takyuuuuuttt
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 128

    Napas Mahesa memburu, egonya yang sejak kemarin telah diinjak-injak oleh banyak orang di kantor kini benar-benar terkoyak.“Apa cuma gara-gara kejadian di parkiran kemarin kamu langsung minta cerai? Jangan kekanakan kamu! Kemarin itu kamu cuma nggak hati-hati terus jatuh sendiri, ‘kan?!”Kaira menatap Mahesa tanpa ada kedipan.Jika dulu ia akan nelangsa mendengar hardikan dan bentakan seperti ini, tapi kali ini lain.Hatinya telah mati rasa.Ia menghela dalam napasnya, menepis tangan Mahesa saat menjawab, “Surat panggilan dari pengadilan itu nggak bisa diproses hanya dalam waktu sehari, Mas.”Mahesa tersentak, rahangnya mengeras.“Jadi kamu udah merencanakan ini dari lama?!”“Menurutmu?” tanya balik Kaira dengan senyum yang merekah di bibirnya.“Sialan!” Mahesa memekik melengking, suaranya menggema memenuhi langit-langit ruangan. “Salah apa aku selama ini sampai kamu punya keberanian buat menggugat cerai aku, hah?!”Keributan yang tersulut begitu besar itu seketika memicu kedatangan S

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 127

    Kesekian kalinya Kaira terperangkap dalam gelombang kenikmatan yang mengaliri inti wanitanya. Setiap gerakan Kaisar di atasnya terasa sangat manis, dan candu.Sekujur tubuh Kaira kembali kebas, ujung jemarinya mendingin saat kepalanya mendadak dikosongkan oleh kenikmatan yang memuncak.Di bawah temaram lampu kamar, pergumulan sensual itu kian memanas. Kaisar mempercepat temponya di detik-detik terakhir, membawa Kaira melingkari lehernya dengan pasrah saat kehangatan yang pekat itu menyembur penuh di dalam dirinya.Seperti itu api yang membakar mereka kemudian padam.Mereka sama-sama mengatur napas. Menatap langit-langit tanpa ada yang bicara hingga Kaisar mengintip mata Kaira.Rupanya ia telah terlelap.‘Selamat malam,’ bisiknya seraya mempererat pelukannya, membiarkan Kaira menenggelamkan wajah di dadanya.Drrt ….Getar ponsel milik pria itu terdengar dari atas meja dan segera digapainya.Ada sebuah pesan masuk dari pengacaranya—Roy—yang membuat salah satu alis Kaisar terangkat penuh

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 126

    “Nggak bisa tidur,” jawab Kaisar setelah pria itu menarik wajahnya dan menunjukkan senyumnya yang tampak ‘licik’ pada Kaira.“Eunghh ….” Kaira menggigit bibirnya, meremas rambut hitam Kaisar kala pria itu kembali tak terlihat.Sentuhan lidahnya di gugusan saraf Kaira menimbulkan sensasi yang membuat seluruh tubuhnya meremang.Punggung Kaira melengkung menjauhi ranjang saat Kaisar menjamahnya semakin dalam.Sejak kapan gaunnya sudah tersingkap seperti ini?Dan hilang ke mana panties yang tadi ia kenakan?Ketika Kaira melirik ke arah jam yang ada di atas meja, sudah lebih dari pukul dua belas malam. Dan alih-alih tidur, Kaisar justru di sana?“Udah malam,” lirih Kaira. “Besok aja, Mas ….”Kaisar kembali menunjukkan wajahnya, menyeka sudut bibirnya yang basah dan menggeleng penuh goda.“Mau ketemu bayiku sekarang,” bisiknya setelah wajah pria itu teramat dekat di atas Kaira, menguncinya dengan menghimpit pinggul Kaira menggunakan kedua lututnya.Sementara bibirnya menjelajah di telinga d

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 125

    ‘Apa Naya kabur?’ batin Davina. Ia melangkah melewati Sari, membuka lemari dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa ucapan wanita paruh baya itu benar.Kosong, tak ada satu barang pun yang tertinggal di sana. Baik itu pakaian atau pun koper kusam yang beberapa waktu lalu dilihatnya.Lacinya pun juga. Semuanya raib tak berjejak.Davina mengembuskan napasnya dengan berat, menoleh pada Sari seraya bertanya, “Sejak kapan Naya nggak kelihatan, Bi?”“Saya juga kurang tahu, Non Davina,” jawab Sari. “Tapi sejak kemarin Bi Nani udah nggak antar makanan ke kamar ini.”“Kenapa nggak bilang ke aku, Bi?!” sentak Davina, suaranya meninggi sementara Sari menunduk, memilih untuk tidak memperburuk suasana hati Davina yang mengusap wajahnya dengan kasar. Ia pikir, dengan tidak adanya semua barang Naya yang tertinggal, sudah jelas ia melarikan diri darinya.“Kurang ajar!” umpatnya.Ia meninggalkan kamar itu dengan langkah cepat, kembali ke kamar utama di sayap kanan dan mengambil ponselnya yan

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 124

    Mahesa memasuki rumah dengan langkah yang terseret. Sejak meninggalkan kantor tadi, hanya satu hal yang ingin ia lakukan: menemui Kaira dan membuat perhitungan dengan istrinya itu. Kaira tak dijumpainya sejak ia kembali ke ruangannya yang ada di divisi pemasaran, beberapa staf mengatakan bahwa Kaisar membawanya ke klinik. Mahesa tidak menemuinya di sana, ia tidak memiliki cukup keberanian. Mengingat mata nyalang Kaisar yang akan menerkamnya hidup-hidup membuatnya mengurungkan diri. Ia tahu betul bahwa sekalipun pamannya itu dikenal berhati dingin, tapi Kaisar tidak suka melihat ketidakadilan. Dan yang ia lakukan pada Kaira tadi pasti membuatnya marah. ‘Kaira tuh emang suka cari muka ke Mas Kaisar,’ geramnya seraya terus berjalan. Tapi, saat ia tiba di kamar belakang yang ditinggali oleh Kaira, gadis itu tidak ditemukan. “Ke mana dia?!” geram Mahesa seraya menutup pintu. Saat itu, ia melihat sang Ibu yang datang dari arah berlawanan, melangkah cepat dan dengan berbisik berujar, “

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 123

    Seolah tak mempedulikan akan bagaimana orang lain melihat mereka, Kaisar terus berlalu, sementara Kaira hanya terus menyembunyikan wajah di dada pria itu. Ia tidak berani mendongak, karena dari jarak sedekat ini, gema bisikan dari satu tim karyawan yang mereka lewati sudah terdengar mulai saling bersahutan, berbagai tanya melayang di udara. Begitu memasuki pintu yang menghubungkan basement dan gedung utama, semakin banyak pasang mata yang menyaksikan mereka. “Mas,” panggil Kaira sekali lagi. Memperingatkan Kaisar bahwa ini akan bisa menjadi gosip besar. “Aku bisa jalan sendiri.” “Dengan kaki yang terkilir begitu?” balas Kaisar. “Tapi orang-orang—” “Banyak saksi yang lihat, Kaira,” selanya. “Mereka akan paham kenapa aku membawamu seperti ini.” Kaira melihat rahang tegasnya yang tampak menggertak dari bawah sini, padahal biasanya … Kaisar selalu lembut. Melihat pria itu tak ingin dibantah, Kaira berhenti memprotes. Ia menutup mulut, membiarkan Kaisar membawanya ke klinik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status