FAZER LOGIN‘Di mana aku?’ tanya Kaira saat membuka mata dan menjumpai langit-langit yang asing mengapung di atasnya, kepalanya sedikit pusing saat ia memaksa dirinya untuk bangun.
Ini adalah sebuah kamar hotel yang mewah. Menelaah sejenak ke belakang, Kaira ingat ia tadi pingsan dan menimpa Kaisar. Pria itu ada di sana, duduk di sofa yang ada di seberang ranjang, menatap Kaira dengan sepasang iris gelapnya. “M-maaf, Mas,” katanya seraya menelan rasa malu. “Terima kasih udah nolongin.” “Istirahatlah dulu, dan pulang denganku setelah ini.” Kaira menggeleng, “Aku harus balik ke kantor, ada kerjaan yang harus aku selesaikan.” Ia turun dari ranjang, mengenakan kembali sepatunya. “Aku udah minta staf lain buat handle kerjaanmu hari ini.” Kalimat itu membuat tangan Kaira yang sedang menggapai tas dari atas meja mendadak kebas. “Kerjaan apa yang kamu bicarakan, Kaira? Punya Mahesa?” Kaira menoleh pada Kaisar yang bersandar dengan tenang di tempatnya duduk. “Mas Kaisar tolong nggak usah ikut campur lagi urusanku,” balasnya. “Jangan membelaku juga mulai sekarang. Aku bisa mengatasinya sendiri.” “Mengatasinya sendiri?” ulang Kaisar dengan tawa lirih yang terdengar tenang. “Kamu baru aja pingsan di bawah tadi. Kalau aku nggak ikut campur, kamu jadi tontonan orang dan nggak akan ada di sini, Kaira. Tapi baiklah, aku hargai keputusanmu.” Kaira menggigit bibirnya, merasa tidak enak hati padahal Kaisar sudah bersikap baik dan membantunya tetapi ia justru memintanya menjaga jarak. Tapi, mungkin ini yang terbaik. Ia hanya … tidak ingin semakin dibenci oleh keluarga besarnya. Kaira menundukkan kepala, berjalan melewati Kaisar meninggalkan tempat itu. Ia bergegas menuju ke kantor, melawan rasa lelahnya. Kaisar benar soal dirinya yang mengerjakan tugas Mahesa. Banyak sekali laporan suaminya yang perlu ia selesaikan. Melihat semua ini, ia yakin pasti akan terlambat pulang nanti. Ia meraih ponselnya, mengirim pesan pada Mahesa yang dibalas dengan cepat oleh pria itu. [Jangan pulang sebelum laporanku beres. Biar aku bilang ke Mama kalau kamu lembur.] Kaira berkutat dengan semua file itu, diselesaikannya dan dibawanya pulang saat hari telah berubah gelap. Sekitar pukul delapan malam saat ia memasuki rumah. Di ruang keluarga, hampir semua orang berkumpul. Dari kakak ipar sampai keponakan Kaira yang masih bayi. Ternyata karena ada ayah Mahesa yang baru datang dari luar kota. Langkah Kaira mendadak berat, terlebih saat satu demi satu dari mereka menoleh pada kedatangannya. “Baru pulang, Mbak?” sapa Zia yang sedang duduk di samping Sasmita. “Iya.” “Tumben lembur? Bukannya kerjaan Mbak Kaira nggak begitu banyak ya? Mama khawatir loh … sampai berulang kali tanya ke Mas Hesa ke mana Mbak Kaira.” Kaira menoleh pada Mahesa yang tak menanggapinya, padahal ia tadi sudah janji akan mengatakan pada ibunya kalau Kaira terlambat pulang. Kalimat Zia barusan membuat Sasmita mendengus kasar, kembali cemoohannya terdengar. “Paling juga sengaja telat pulang biar nggak perlu nyiapin makan malam.” Zia dengan lembut menyentuh lengan ibu mertua, “Mbak Kaira nggak mungkin punya pikiran gitu, Ma. Pasti—” “Kamu nggak usah ikut campur atau ngerasa tahu apa yang aku lakukan, Zi,” potong Kaira sebelum adik iparnya itu membuatnya kembali tersudut dan dicela Sasmita habis-habisan. Zia terdiam, begitu pula semua orang yang duduk di ruang keluarga. Seakan mereka tidak menyangka Kaira akan berani menjawab seperti itu. “Kamu bilang apa barusan?” Sasmita bangun dan hendak mendekat pada Kaira tetapi menantu bungsunya mencegah dan menenangkan, “Biarin Mbak Kaira masuk, Ma ….” “Dia baru kurang ajar ke kamu, Zia.” “Udah, Ma. Nggak apa-apa.” Kaira menunduk sopan, pergi meninggalkan mata melotot Monica dan Algara serta ayah mertuanya. Sementara Mahesa hanya memijit keningnya, seolah sudah menduga hal seperti ini akan terjadi lagi. Ia menuju ke kamar, membasuh dirinya dan turun ke dapur. Perjamuannya sudah selesai, salah seorang pelayan mengatakan kalau semua orang berkumpul menyambut ayah mertuanya tadi, termasuk Kaisar dan Davina yang pergi setelahnya dan tidak ikut berkumpul di ruang keluarga. Kaira berpikir apa ini keberuntungan? Mengerjakan tugas Mahesa sampai malam membuatnya terhindar dari tekanan ruang makan yang pasti berkali lipat. “Non Kaira belum makan, ‘kan?” tanya Bi Sari yang datang dari luar. “Aku bikin mie aja, Bi.” “Bibi udah sisihkan makanan buat Non Kaira.” Wanita itu membuka lemari di dekat kompor, mengeluarkan satu piring makanan yang lalu diberikan padanya dengan tulus. “Makan dulu, Non.” “Makasih, Bi.” Kaira membawanya ke ruang makan, di ujung meja, ia seorang diri menyuap kudapan yang disisihkan oleh Bi Sari. Barangkali … satu-satunya orang yang tulus padanya di rumah ini hanyalah wanita itu. Kaira menoleh ke layar ponselnya yang menyala. Sebuah panggilan masuk terlihat dari perawat ibunya. “Ya, Sus?” Apa yang dikatakan oleh suster membuat kerongkongan Kaira menyempit, ia tak bisa menelan makanannya. “Keadaan Ibu memburuk, Non. Operasinya dimajukan.” Kaira mengusap tengkuknya dengan gelisah, “Buruk gimana, Sus? Bukannya sebelumnya keadaan Ibu baik-baik aja?” “Sebenernya Ibu minta saya buat bohong, Non,” aku suster. “Ibu cuma nggak mau Non Kaira khawatir. Ibu itu udah komplikasi, baru ketahuan pas habis observasi. Dokter udah nyaranin buat operasi secepatnya, tapi saya nggak nyangka kalau mendadak begini.” Detak jantung Kaira seperti berhenti untuk sesaat. Lalu ia menyadari, alasan mengapa wajah ibunya tampak pucat dan tangannya terasa dingin saat menyentuh pipinya tadi. Beliau memang dalam keadaan yang tidak baik sama sekali. “Sekarang gimana, Non? Ada kendala di rumah sakit,” imbuh suster. “Kendala apa, Sus?” “Biaya operasi buat Ibu belum ada kejelasan. Beliau sekarang ada di ICU, tagihannya pasti membengkak. Rumah sakit udah kasih peringatan kalau fasilitas dari keluarga Maharendra itu … dicabut.” Tubuh Kaira menegang, rasa panik dan ketakutan menyerang hingga ke ujung kaki. Ia meminta suster agar tenang dan tetap di sana untuk Ibu sebelum ia mematikan panggilan. Kaira meninggalkan piring makannya dan masuk ke dalam kamar. Menghampiri Mahesa yang sedang duduk di depan meja, jemarinya sibuk menari di atas keyboard, tenggelam dalam game. “Mas,” panggil Kaira seraya mengguncang lengan Mahesa. “Tolong balikin fasilitas pengobatannya Ibu, suster bilang itu dicabut, ibu perlu operasi, Mas.” “Apa sih, Ra?” Mahesa menepis tangannya, sekilas menoleh dengan kesal. “Lakukan sesuatu, Mas. Ibu—” “Aku tahu apa emangnya?” sela Mahesa. “Aku ‘kan nggak pernah ngurus itu. Tanyalah ke Mama sana. Jangan ganggu! Orang baru main juga.” Mahesa mengabaikannya, pria itu memilih berinteraksi dengan teman-temannya di dalam game alih-alih peduli pada ibu Kaira yang sedang sekarat. Kaira meremas jemarinya, memutuskan untuk pergi menemui Sasmita. Wanita itu ada di dalam kamar, duduk menyilangkan kaki di sofa besar saat Kaira masuk dan memberanikan diri mengatakan, “Ma, saya mohon bantu kembalikan fasilitas buat Ibu. Beliau harus dioperasi karena udah komplikasi.” “Bukannya masih lama?” balas Sasmita, melempar senyum masam seraya menggeser layar tabletnya. “Fasilitasnya dicabut karena uangnya digunain buat hal lain dulu. Dan biaya sebesar itu perlu dibicarakan sama anggota keluarga yang lain, Kaira. Nggak bisa langsung diputusin gitu aja. Ibumu nggak bisa bertahan dulu emangnya?” Air mata Kaira tergenang membayangkan ibunya yang sedang bertarung dengan maut. Kaira menekuk kakinya, menelan rasa malu. Karena atas kuasa Ibu mertuanya lah semua berjalan. Ia berlutut di depan Sasmita, berharap pintu hatinya terketuk. “Saya mohon, Ma ….”‘Di mana aku?’ tanya Kaira saat membuka mata dan menjumpai langit-langit yang asing mengapung di atasnya, kepalanya sedikit pusing saat ia memaksa dirinya untuk bangun. Ini adalah sebuah kamar hotel yang mewah. Menelaah sejenak ke belakang, Kaira ingat ia tadi pingsan dan menimpa Kaisar. Pria itu ada di sana, duduk di sofa yang ada di seberang ranjang, menatap Kaira dengan sepasang iris gelapnya. “M-maaf, Mas,” katanya seraya menelan rasa malu. “Terima kasih udah nolongin.” “Istirahatlah dulu, dan pulang denganku setelah ini.” Kaira menggeleng, “Aku harus balik ke kantor, ada kerjaan yang harus aku selesaikan.” Ia turun dari ranjang, mengenakan kembali sepatunya. “Aku udah minta staf lain buat handle kerjaanmu hari ini.” Kalimat itu membuat tangan Kaira yang sedang menggapai tas dari atas meja mendadak kebas. “Kerjaan apa yang kamu bicarakan, Kaira? Punya Mahesa?” Kaira menoleh pada Kaisar yang bersandar dengan tenang di tempatnya duduk. “Mas Kaisar tolong nggak usah ikut
Sekalipun tidak ada yang bicara, Kaira bisa merasakan seluruh pasang mata yang ada di sana menatapnya dengan penuh kebencian. Ia beranjak dengan kaku, melepas celemek dan menyimpannya di pangkuan. Suara kursi di samping Kaira berderak, Mahesa menyelesaikan makannya dan pergi dari sana tanpa menoleh. “Mulai hari ini jangan ribut lagi di depan makanan,” kata Kaisar tanpa ada yang menjawabnya. Sasmita tampak bergegas bangun dari duduknya padahal makanan di piringnya masih utuh. Disusul yang lain dan menyisakan Kaira serta Kaisar saja. Kaira bergerak tidak nyaman, merasa sungkan karena semua orang tak jadi makan sebab ada dirinya. Ia urung menyuap, diliriknya Kaisar yang tak terbebani dengan segala hal yang terjadi di sekitarnya. “Makanlah,” ucap pria itu, sepertinya sadar Kaira sedang mencuri pandang padanya. “I-iya.” “Kamu bukan pembantu, Kaira. Udah ada orang yang dibayar buat melakukan semua tugas itu. Jadi kamu nggak perlu sekeras itu ke dirimu sendiri.” Kaisar meraih gelas
Meski pertemuan semalam membuat Kaira merasa malu sebab Kaisar tahu bagaimana ia diperlakukan di rumah itu, tapi mereka bersikap profesional saat ada di kantor. Di dalam ruang kerja Kaisar, Kaira kembali mewakili Mahesa menghadapnya. Kali ini untuk menyerahkan laporan analisis hambatan penjualan produk. Setelah mendengar semua yang disampaikannya, Kaisar tertawa lirih. “Laporannya nggak bertele-tele kayak yang terakhir dibuat Mahesa di depanku. Ini kamu yang bikin, Kaira?” tanya Kaisar, membalik beberapa lembar laporan yang seketika membuat suara Kaira tercekat. “B-bukan, Pak.” “Kamu pikir aku nggak bisa nilai atau bedain setiap orang yang kerja denganku?” “Saya cuma bantu Pak Mahesa mengumpulkan datanya.” “Berusaha melindunginya karena dia suamimu?” Kaira menggigit bibirnya, memilih diam daripada salah berucap. Ia lalu menerima satu map lain dari Kaisar yang kembali berujar, “Ibumu kelihatan lebih baik, sakitnya udah sembuh?” Kaira mendengus, tak dapat membendung rasa kesal
Dengan tangan yang kebas, Kaira menerima kertas itu. Ia menegakkan tubuhnya dan terbata mengucap, “T-terima kasih.” Kaisar berlalu seolah tak melihat apapun, diikuti oleh seorang pemuda yang merupakan sekretarisnya. Kaira menghela dalam napasnya, bergegas ke meja kerjanya untuk mengambil beberapa berkas dan pergi ke ruang pertemuan. Ia menggantikan Mahesa untuk melakukan presentasi dan menyerahkan laporan. Semua berjalan lancar hingga orang-orang membubarkan diri, menyisakan dirinya yang merapikan file dan Kaisar di kursi kepala. “Prosedur steril tadi … punyamu?” Suara Kaisar memecah kebisuan yang terjadi di antara mereka. Kaira tidak langsung menjawab, sudut matanya mengarah pada Kaisar yang duduk menumpuk kaki, menunggunya. “I-iya, Pak,” jawabnya. “Mahesa yang nyuruh?” Diam yang diberikan Kaira sepertinya adalah jawaban yang cukup bagi Kaisar. “Keputusan bersama?” tanya pria itu lagi. Kaira mengangkat wajah, menatap Kaisar yang biasanya tidak peduli pada urusan bawahan, a
Hampir tak ada makanan yang tersisa saat makan malam itu usai dengan Kaira yang tak menyuap sesendok pun. Kaira menumpuk piring-piring kotor dengan tangan yang terasa kebas.Bersama pelayan lain, ia menyelesaikan sisa pekerjaannya sebelum masuk ke dalam kamar seraya membawa amplop dari ibu mertua.Di dalam, Mahesa sedang duduk di sofa. Dari posisi ponselnya saat ini, bisa dipastikan suaminya itu sedang bermain game.Kaira berjalan melewatinya, menelan keraguan saat bertanya, “Mas Hesa besok juga akan ikut ke dokter kandungan?”“Nggak, kamu aja yang pergi,” jawabnya tanpa menatap Kaira. “Mama minta aku buat antar belanja. Oh ya—”Mahesa mengangkat wajah, menoleh pada Kaira, “Besok Mas Kaisar udah balik dari luar kota. Laporan target penjualan dan promosi punyaku udah selesai, ‘kan?”Kaira mengangguk, “Udah.”“Habis dari rumah sakit, kamu aja yang presentasi.”Kaira menghela napas, tak menjawab selain hanya menggigit bibirnya. Melihatnya yang tak merespon, Mahesa bangkit dan mendekat ke
“Kamu steril aja, Mama nggak sudi punya cucu darimu!”Mendengar kalimat yang dikatakan oleh ibu mertuanya membuat Kaira mematung. Rasa lelah sepulang bekerja dan menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makan malam kian bertumpuk, memberatkan bahunya.Diliriknya sang suami—Mahesa—yang sedang duduk tenang menatap layar ponsel di samping ibunya, seolah tidak terbebani dengan permintaan itu.Kaira meremas celemek kusut yang melindungi pakaiannya, dengan gugup berujar, “S-steril itu artinya saya nggak akan bisa punya anak, Ma.”“Ya memang itu tujuannya! Kamu pikir aku bodoh?!” sahut ibu mertuanya, Sasmita, disertai dengusan sinis. “Adik iparmu bilang tadi pagi kamu muntah-muntah. Kamu nggak sedang hamil, ‘kan?”“Nggak, Ma. Tadi pagi perut saya memang kurang enak.”“Bagus. Sebelum hamil sebaiknya kamu cepat steril. Ini—” Sasmita menjeda kalimatnya sejenak, dilemparkannya sebuah amplop cokelat pada Kaira yang tak sempat menangkapnya sehingga amplop tersebut jatuh di kakinya.“Formulir pen







