Share

Bab 6

Penulis: Almiftiafay
last update Tanggal publikasi: 2026-07-15 01:48:18

‘Di mana aku?’ tanya Kaira saat membuka mata dan menjumpai langit-langit yang asing mengapung di atasnya, kepalanya sedikit pusing saat ia memaksa dirinya untuk bangun.

Ini adalah sebuah kamar hotel yang mewah. Menelaah sejenak ke belakang, Kaira ingat ia tadi pingsan dan menimpa Kaisar.

Pria itu ada di sana, duduk di sofa yang ada di seberang ranjang, menatap Kaira dengan sepasang iris gelapnya.

“M-maaf, Mas,” katanya seraya menelan rasa malu. “Terima kasih udah nolongin.”

“Istirahatlah dulu, dan pulang denganku setelah ini.”

Kaira menggeleng, “Aku harus balik ke kantor, ada kerjaan yang harus aku selesaikan.”

Ia turun dari ranjang, mengenakan kembali sepatunya.

“Aku udah minta staf lain buat handle kerjaanmu hari ini.”

Kalimat itu membuat tangan Kaira yang sedang menggapai tas dari atas meja mendadak kebas.

“Kerjaan apa yang kamu bicarakan, Kaira? Punya Mahesa?”

Kaira menoleh pada Kaisar yang bersandar dengan tenang di tempatnya duduk.

“Mas Kaisar tolong nggak usah ikut campur lagi urusanku,” balasnya. “Jangan membelaku juga mulai sekarang. Aku bisa mengatasinya sendiri.”

“Mengatasinya sendiri?” ulang Kaisar dengan tawa lirih yang terdengar tenang. “Kamu baru aja pingsan di bawah tadi. Kalau aku nggak ikut campur, kamu jadi tontonan orang dan nggak akan ada di sini, Kaira. Tapi baiklah, aku hargai keputusanmu.”

Kaira menggigit bibirnya, merasa tidak enak hati padahal Kaisar sudah bersikap baik dan membantunya tetapi ia justru memintanya menjaga jarak.

Tapi, mungkin ini yang terbaik. Ia hanya … tidak ingin semakin dibenci oleh keluarga besarnya.

Kaira menundukkan kepala, berjalan melewati Kaisar meninggalkan tempat itu. Ia bergegas menuju ke kantor, melawan rasa lelahnya.

Kaisar benar soal dirinya yang mengerjakan tugas Mahesa. Banyak sekali laporan suaminya yang perlu ia selesaikan. Melihat semua ini, ia yakin pasti akan terlambat pulang nanti.

Ia meraih ponselnya, mengirim pesan pada Mahesa yang dibalas dengan cepat oleh pria itu.

[Jangan pulang sebelum laporanku beres. Biar aku bilang ke Mama kalau kamu lembur.]

Kaira berkutat dengan semua file itu, diselesaikannya dan dibawanya pulang saat hari telah berubah gelap.

Sekitar pukul delapan malam saat ia memasuki rumah. Di ruang keluarga, hampir semua orang berkumpul. Dari kakak ipar sampai keponakan Kaira yang masih bayi. Ternyata karena ada ayah Mahesa yang baru datang dari luar kota.

Langkah Kaira mendadak berat, terlebih saat satu demi satu dari mereka menoleh pada kedatangannya.

“Baru pulang, Mbak?” sapa Zia yang sedang duduk di samping Sasmita.

“Iya.”

“Tumben lembur? Bukannya kerjaan Mbak Kaira nggak begitu banyak ya? Mama khawatir loh … sampai berulang kali tanya ke Mas Hesa ke mana Mbak Kaira.”

Kaira menoleh pada Mahesa yang tak menanggapinya, padahal ia tadi sudah janji akan mengatakan pada ibunya kalau Kaira terlambat pulang.

Kalimat Zia barusan membuat Sasmita mendengus kasar, kembali cemoohannya terdengar.

“Paling juga sengaja telat pulang biar nggak perlu nyiapin makan malam.”

Zia dengan lembut menyentuh lengan ibu mertua, “Mbak Kaira nggak mungkin punya pikiran gitu, Ma. Pasti—”

“Kamu nggak usah ikut campur atau ngerasa tahu apa yang aku lakukan, Zi,” potong Kaira sebelum adik iparnya itu membuatnya kembali tersudut dan dicela Sasmita habis-habisan.

Zia terdiam, begitu pula semua orang yang duduk di ruang keluarga. Seakan mereka tidak menyangka Kaira akan berani menjawab seperti itu.

“Kamu bilang apa barusan?” Sasmita bangun dan hendak mendekat pada Kaira tetapi menantu bungsunya mencegah dan menenangkan, “Biarin Mbak Kaira masuk, Ma ….”

“Dia baru kurang ajar ke kamu, Zia.”

“Udah, Ma. Nggak apa-apa.”

Kaira menunduk sopan, pergi meninggalkan mata melotot Monica dan Algara serta ayah mertuanya. Sementara Mahesa hanya memijit keningnya, seolah sudah menduga hal seperti ini akan terjadi lagi.

Ia menuju ke kamar, membasuh dirinya dan turun ke dapur. Perjamuannya sudah selesai, salah seorang pelayan mengatakan kalau semua orang berkumpul menyambut ayah mertuanya tadi, termasuk Kaisar dan Davina yang pergi setelahnya dan tidak ikut berkumpul di ruang keluarga.

Kaira berpikir apa ini keberuntungan? Mengerjakan tugas Mahesa sampai malam membuatnya terhindar dari tekanan ruang makan yang pasti berkali lipat.

“Non Kaira belum makan, ‘kan?” tanya Bi Sari yang datang dari luar.

“Aku bikin mie aja, Bi.”

“Bibi udah sisihkan makanan buat Non Kaira.” Wanita itu membuka lemari di dekat kompor, mengeluarkan satu piring makanan yang lalu diberikan padanya dengan tulus.

“Makan dulu, Non.”

“Makasih, Bi.”

Kaira membawanya ke ruang makan, di ujung meja, ia seorang diri menyuap kudapan yang disisihkan oleh Bi Sari. Barangkali … satu-satunya orang yang tulus padanya di rumah ini hanyalah wanita itu.

Kaira menoleh ke layar ponselnya yang menyala. Sebuah panggilan masuk terlihat dari perawat ibunya.

“Ya, Sus?”

Apa yang dikatakan oleh suster membuat kerongkongan Kaira menyempit, ia tak bisa menelan makanannya.

“Keadaan Ibu memburuk, Non. Operasinya dimajukan.”

Kaira mengusap tengkuknya dengan gelisah, “Buruk gimana, Sus? Bukannya sebelumnya keadaan Ibu baik-baik aja?”

“Sebenernya Ibu minta saya buat bohong, Non,” aku suster. “Ibu cuma nggak mau Non Kaira khawatir. Ibu itu udah komplikasi, baru ketahuan pas habis observasi. Dokter udah nyaranin buat operasi secepatnya, tapi saya nggak nyangka kalau mendadak begini.”

Detak jantung Kaira seperti berhenti untuk sesaat. Lalu ia menyadari, alasan mengapa wajah ibunya tampak pucat dan tangannya terasa dingin saat menyentuh pipinya tadi. Beliau memang dalam keadaan yang tidak baik sama sekali.

“Sekarang gimana, Non? Ada kendala di rumah sakit,” imbuh suster.

“Kendala apa, Sus?”

“Biaya operasi buat Ibu belum ada kejelasan. Beliau sekarang ada di ICU, tagihannya pasti membengkak. Rumah sakit udah kasih peringatan kalau fasilitas dari keluarga Maharendra itu … dicabut.”

Tubuh Kaira menegang, rasa panik dan ketakutan menyerang hingga ke ujung kaki.

Ia meminta suster agar tenang dan tetap di sana untuk Ibu sebelum ia mematikan panggilan.

Kaira meninggalkan piring makannya dan masuk ke dalam kamar. Menghampiri Mahesa yang sedang duduk di depan meja, jemarinya sibuk menari di atas keyboard, tenggelam dalam game.

“Mas,” panggil Kaira seraya mengguncang lengan Mahesa. “Tolong balikin fasilitas pengobatannya Ibu, suster bilang itu dicabut, ibu perlu operasi, Mas.”

“Apa sih, Ra?” Mahesa menepis tangannya, sekilas menoleh dengan kesal.

“Lakukan sesuatu, Mas. Ibu—”

“Aku tahu apa emangnya?” sela Mahesa. “Aku ‘kan nggak pernah ngurus itu. Tanyalah ke Mama sana. Jangan ganggu! Orang baru main juga.”

Mahesa mengabaikannya, pria itu memilih berinteraksi dengan teman-temannya di dalam game alih-alih peduli pada ibu Kaira yang sedang sekarat.

Kaira meremas jemarinya, memutuskan untuk pergi menemui Sasmita. Wanita itu ada di dalam kamar, duduk menyilangkan kaki di sofa besar saat Kaira masuk dan memberanikan diri mengatakan, “Ma, saya mohon bantu kembalikan fasilitas buat Ibu. Beliau harus dioperasi karena udah komplikasi.”

“Bukannya masih lama?” balas Sasmita, melempar senyum masam seraya menggeser layar tabletnya. “Fasilitasnya dicabut karena uangnya digunain buat hal lain dulu. Dan biaya sebesar itu perlu dibicarakan sama anggota keluarga yang lain, Kaira. Nggak bisa langsung diputusin gitu aja. Ibumu nggak bisa bertahan dulu emangnya?”

Air mata Kaira tergenang membayangkan ibunya yang sedang bertarung dengan maut.

Kaira menekuk kakinya, menelan rasa malu. Karena atas kuasa Ibu mertuanya lah semua berjalan. Ia berlutut di depan Sasmita, berharap pintu hatinya terketuk.

“Saya mohon, Ma ….”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Eva
Itu si Mahesa tiap hari kerjaannya cuma main game ya? Apa main perempuan juga dia
goodnovel comment avatar
Leah von herhardt
P info fungsi mahesa selain nyepet-nyepetin mata ......
goodnovel comment avatar
Zendayaa
bubuk kedelai di ketan mangga lebih berguna drpada si Mahesa
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 95

    “Kaira sama cowok lain?” ulang Monica dengan sinis.“I-iya, Mbak Monica,” jawab Zia gugup, beralih melirik Sasmita. “Waktu itu aku baru ketemu klienku, terus nggak sengaja lihat Mbak Kaira sama laki-laki itu dan … mereka kelihatan deket banget.”Sasmita mendengus kasar, tatapannya menghujam Kaira dengan begitu tajam. “Benar begitu, Kaira? Hari Minggu kemarin kamu emang pergi seharian, ‘kan? Jadi ini alasan kamu kelayapan?”Semua orang di ruangan itu mulai bergejolak. Monica bersedekap dada sambil melemparkan senyum mengejek, sementara Algara hanya memperhatikan dengan pandangan menilai yang penuh cemoohan.Mereka semua mempercayai ucapan Zia tanpa ragu sedikit pun.Kaira membeku. Ia tidak bisa berkutik dan terdesak begitu hebat di posisinya saat ini.Mau membantah pun suaranya seolah lenyap di pangkal tenggorokan. Pikirannya carut-marut menyusun kata yang tepat karena apa yang diucapkan Zia memang benar terjadi.Ia dan Kaisar memang pernah pergi ke sana.Melihat diamnya Kaira, Mahesa

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 94

    Kaira beberapa langkah menjauhi meja Kaisar saat pria itu menghela dalam napasnya dan dengan ketenangan yang terkendali seperti biasanya bertanya, “Apa yang kamu lakukan di sini, Dav?”“Kamu nggak pulang—”“Bukannya aku udah bilang kalau kamu mau datang ke sini harus bikin janji dulu denganku?” sela Kaisar.“Gimana caranya bikin janji sama kamu kalau kamu nggak mau jawab teleponku, Mas?!” balas Davina dengan nada meninggi.Kaira mencoba mencari celah untuk bicara, “Pak Kaisar maaf—”“Tunggu di sini sebentar, Kaira,” kata Kaisar. Pria itu seperti sedang mengisyaratkan bahwa urusan dengan Davina tak akan lama.Dan itu membuat Davina menoleh pada Kaira, menatapnya selama beberapa detik sebelum bersedekap.“Terpaksa aku lakuin, Mas. Coba aja kamu nggak bersikap begini! Jangan egois dong!”Kaisar tampak memperdengarkan tawa lirihnya saat mengulangi, “Egois?”“Emang begitu, ‘kan?”Pria itu mengangguk pelan, “Terserah. Jadi kamu mau apa?”“Nanti di Gala Tahunan aku mau Naya kamu masukin ke d

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 93

    Kaira keluar dari kamar belakang setelah bersiap pagi ini, dan menuju ke dapur. Mengambil minuman dingin dari dalam kulkas lalu menerima sekotak buah potong yang telah dikemas oleh Sari.Baru saja mengatakan terima kasih pada wanita paruh baya itu, Zia datang untuk meletakkan botol susu Zia ke wastafel.“Udah mau berangkat, Mbak?” tanya Zia, menahan langkah Kaira yang sudah hendak pergi.“Iya,” jawab Kaira singkat, tak ingin memperpanjangnya.“Mbak nggak bareng Mas Hesa, ‘kan? Soalnya aku yang mau bareng sama dia.”Kaira menoleh, memasang senyumnya sebagai balasan wajah lugu Zia.“Aku bareng Mas Hesa, Zi,” katanya.“Loh? Bukannya Mbak Kaira biasanya naik taksi?”Nada bicara Zia sedikit meninggi meski wajahnya masih sama polosnya.Beberapa pelayan yang ada di sekitar mereka perlahan menjauh, atau yang sebagian bertahan di sana berpura-pura untuk tidak mendengar percakapan keduanya.“Kamu ‘kan ada sopir? Lagian kalau bareng Mas Hesa bukannya kamu nggak searah ya?”“Dimintain tolong gitu

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 92

    “A-aku cuma mau ambil mainannya Starla aja kok,” jawab Zia dengan cepat. Nada bicaranya terdengar panik. “Oh ….” Kaira mengangguk. “Kenapa mainannya Starla ada di sini?” “Mas Hesa kemarin ngajak Starla ke sini, dan mainannya lupa nggak aku ambil, Mbak!” “Aku ‘kan cuma tanya, Zi ….” tanggap Kaira. “Kenapa kamu marah?” Zia membenarkan raut wajahnya, memaksa agar senyum itu terkembang di sudut bibir. Pintu kamar di dekat Kaira terbuka, Mahesa muncul dan menatap mereka bergantian. “Kamu mau ambil bajumu sekarang, Ra?” tanya Mahesa. “Iya, Mas.” “Tadi ribut kenapa?” “Nggak kok,” jawab Kaira. “Tadi penasaran aja kenapa Zia ke sini, katanya mau ambil mainannya Starla.” Saat Kaira menoleh pada Zia, wajah adik iparnya itu terlihat gusar dan menatap Mahesa cukup lama sebelum ia pergi tanpa mengatakan apapun. “Masuklah,” kata Mahesa seraya membuka lebar pintu. Begitu Kaira melangkah ke dalam kamar, Mahesa yang tadinya tampak bingung lalu turut pergi setelah mengatakan, “Aku

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 91

    “Lakuin aja,” balas Kaira seraya menoleh. “Aku juga mau tahu apa yang akan dilakuin Mas Kaisar buat menyelesaikan ini.” Stiletto yang dikenakan Kaira nyaris kembali menggema di ruangan luas itu sebelum Kaisar meraih pergelangan tangannya. Suaranya begitu memohon kala pria itu memanggil, “Kaira?” “Aku harus pulang sekarang, Mas. Maaf ….” Kaira menimpakan tangannya ke punggung tangan Kaisar, memaksa pria itu agar melepasnya. Kedua bahu Kaisar merosot saat Kaira berbalik dan menghilang di balik pintu lift. Melihat raut frustrasinya, sepertinya jarak yang dibuat oleh Kaira ini berhasil. ‘Aku ingin tahu perasaan Mas Kaisar,’ batinnya, menatap pantulan dirinya yang ada di pintu lift. Kaira ingin memastikan, setelah yang mereka lakukan selama ini … apakah semuanya akan berakhir hanya sebagai pelampiasan nafsu saja, atau karena Kaisar memang … mencintainya? …. Dengan menaiki taksi yang melaju di bawah muramnya langit sore ini, Kaira akhirnya sampai di rumah. Menjejakkan k

  • Satu Malam Lagi, Paman!   Bab 90

    “Mas?” sapa Mahesa seraya selangkah maju dan berdiri di samping Kaisar. “Ada apa?” Kaisar tak menjawab. Sepasang iris gelap pria itu terarah pada leher Kaira, sebelum berpindah turun ke arah jari manisnya yang kosong padahal seharusnya cincin dari Kaisar melingkar di sana seperti semalam. Kaisar mendengus lirih, sepasang telinganya memerah saat ia menatap Mahesa dan mengembalikan tanya, “Apa yang kalian lakukan?” Mahesa mengangkat sekilas kedua bahunya, “Bukan apa-apa kok. Cuma mau kasih sesuatu aja ke Kaira.” “Lain kali jangan di kantor!” tegurnya dingin. “Iya ….” Mahesa hampir enggan menjawabnya. “Baru kali ini juga, Mas. Masa langsung dimarahin sih?” “Sekali dua kali, lama-kelamaan ada yang lihat dan ditiru sama yang lain.” “Iya maaf.” Mahesa lalu mengisyaratkan pada Kaira agar terus berjalan. Kaira mengangguk lirih, maniknya bertemu dengan iris gelap Kaisar sebelum mengikuti Mahesa yang melangkah memasuki ruang meeting setelah menundukkan kepalanya dengan sopan. Sembari b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status