LOGINBersambung...
“Selamat malam, can... eh, Rahma,” sambut Balang dengan suara yang agak terbata-bata, sebuah sapaan yang spontan membuat Radin dan Samsi saling berpandangan dengan dahi berkerut cemas dari sudut ruangan.Meskipun jiwanya adalah seorang mahasiswa, malam ini Balang yang dibalut setelan jas rapi rancangan desainer ternama memang terlihat sangat gagah dan tentu saja sangat tampan dan pastinya berkelas.“Gue terpaksa bawa ni anak ke desainer, sebab semua pakaian kamu ku larang dia pakai,” bisik Samsi, hingga Radin senyum kecil dan mengangguk.Ia perlahan berdiri dari kursinya, mencoba bersikap jantan untuk menyambut kedatangan Rahma yang berjalan dengan langkah anggun mendekati meja makan restoran yang harganya selangit ini...Acara makan malam di restoran mewah itu pada awalnya berlangsung dengan sangat hangat.Radin yang duduk dalam raga gondrong milik Balang sempat mengembuskan napas lega di dalam hati.Di luar dugaannya, Balang yang malam itu mengenakan tubuh asli Radin Shah ternyata ma
Di rumah semegah itu, hanya ada jasad membusuk milik Braman Wijaya. Tidak ada orang lain, tidak ada dokumen penting, dan yang paling membuat dada Radin sesak—tidak ada tanda-tanda keberadaan bayi di sana.Radin dan Samsi hanya bisa berdiri diam di bawah temaram lampu jalanan, menatap seluruh proses evakuasi dari kejauhan.Mereka sengaja menarik diri ke luar pagar, membiarkan Agen Anthony yang menangani komunikasi formal dengan pihak berwajib hingga garis polisi (police line) berwarna kuning cerah selesai dipasang melintang di depan pintu rumah mewah tersebut.Tak lama kemudian, setelah menyelesaikan urusannya dengan komandan lapangan kepolisian, Agen Anthony melangkah mendekat.Dengan isyarat mata yang samar, ia mengajak Radin dan Samsi untuk segera meninggalkan tempat itu agar tidak memicu kecurigaan warga sekitar.Beberapa saat kemudian, ketiganya sudah duduk bersantai di sebuah sudut kafe yang sepi di pinggiran kota. Secangkir kopi hitam pekat yang dipesan Radin bahkan sama sekali b
Malam telah larut ketika tiga bayangan bergerak senyap membelah kegelapan halaman. Rumah mewah di hadapan mereka tampak berdiri angkuh namun mati. Sepi, gelap, dan sama sekali tidak terlihat ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.Radin, Samsi, dan Agen Anthony saling melemparkan isyarat tangan, bergerak taktis mendekati area teras samping agar tidak memicu alarm atau perhatian dari luar.Di antara tim kecil ini, Anthony adalah orang kedua setelah Samsi yang mengetahui rahasia paling gila abad ini—bahwa sosok yang bersemayam di dalam tubuh mahasiswa berambut gondrong bernama Balang itu adalah Radin Shah, sang miliarder pemilik Shah Group.Di luar dugaan Radin dan Samsi saat pertama kali rahasia ini terbongkar, Anthony sama sekali tidak histeris atau menganggap mereka gila.Agen intelijen itu justru terkekeh santai. Ia bilang, fenomena metafisika yang menimpa Radin ini mirip sekali dengan apa yang pernah terjadi di dalam dinamika Keluarga Langit... keluarga besar Akbar Razak.Itulah meng
Pintu jati besar itu akhirnya tertutup rapat setelah Rahma Yosef melangkah keluar dengan keanggunan yang menyisakan keheningan di dalam ruangan.Begitu sosok wanita itu menghilang di balik lorong lantai tujuh, Samsi yang sejak tadi berjaga langsung melangkah mendekat.Di tangannya, ia membawa sebuah jas formal eksklusif yang tampak mewah, yang langsung dia letakan di meja kerja Radin. Radin hanya melirik, tidak ada niat ganti baju saat ini... Sebab bukan itu yang jadi fokusnya saat ini.“Pak Bos, pakai ini dong. Jangan pakai jaket kulit terus. Biar kelihatan seperti big boss betulan,” desaknya Samsi sambil berseloroh.Samsi sambil menyodorkan jas tersebut dengan cengiran khasnya. Ia merasa penampilan luar Radin saat ini yang berambut gondrong khas mahasiswa Prodi Hukum masih terlalu santai untuk memimpin sebuah perusahaan otomotif.Radin tidak langsung menyambut jas itu. Ia malah menghela napas panjang, bersandar pada meja kerjanya sambil melipat kedua tangan di dada.Pikirannya masih
Matanya kemudian melirik ke arah pintu, memberikan kode rahasia kepada Samsi. Sang pengawal pribadi langsung tanggap, yakni segera keluar dari ruangan ini....Samsi mengangguk pelan, bersiap keluar untuk terus memantau proses eksekusi pemecatan jajaran direksi tadi agar tidak ada aset atau data perusahaan yang disabotase oleh keluarga Yosef yang dendam, karena perusahaan mereka sudah berpindah tangan itu.Sebagai utusan khusus Radin Shah sang CEO Shah Group, Samsi sangat di hormati di sini, apalagi si pengawal ini mempunyai tatapan tajam dan dingin...nggak beda jauh dengan Radin Shah asli, yang kini rohnya di Balang Ardiansyah.Pintu ruangan tertutup rapat. Kini, menyisakan Radin dalam tubuh Balang dan Rahma Yosef yang wajahnya begitu menyerupai Tante Lin.Setelah berbasa-basi menjabarkan visi taktis serta strategi makro perusahaan untuk memulihkan kerugian, Radin kini melayangkan pandangannya.Ia sengaja memperlambat tempo bicaranya, lalu menatap lekat-lekat wajah cantik Rahma Yosef y
“Tuan Balang, apakah boleh kami tetap bekerja sebagai pegawai di perusahaan ini?” Sigit Yosef menghiba tanpa tahu malu di depan Radin, tak peduli tatapan keluarga lainnya, juga ada beberap karyawan lain, yang hanya melihat tanap berani ikut campur....Bukannya merasa iba, Radin—yang kini berada di dalam tubuh Balang—malah merasa muak, ia paling anti dengan sifat menjilat. Radin terdiam sejenak.Sorot matanya yang tajam menyapu satu per satu anggota keluarga Yosef yang berdiri di hadapannya.Rata-rata dari mereka melemparkan tatapan sinis dan merendahkan. Pemandangan itu membuat ego Radin bergejolak, terutama saat melihat wajah Yosef Jr, pria muda yang dulu menginjak-injak harga dirinya semasa di kampus di depan Masayu. Sungguh sebuah ironi yang manis.“Saya belum mengadakan rapat direksi, dan hari ini adalah hari pertama saya masuk kerja. Jadi maaf, saya tidak bisa menjamin apakah jajaran direksi lama akan dipertahankan atau tidak. Kita lihat saja nanti,” sahut Radin dengan nada diplom







