LOGINSafitri merapikan kerah kemeja suaminya dengan senyum puas yang tertahan. Hari ini, sesuai janjinya kepada Tante Lin—yang sudah mentransfer uang muka sebesar seratus juta rupiah—Safitri membawa Radin Shah ke sebuah apartemen mewah di pinggiran kota Jakarta.
Wangi lobi yang mewah dan pencahayaan temaram lorong apartemen terasa begitu asing bagi guru honorer miskin seperti Radin, yang baru kali ini injakan kaki di apartemen ini, biasanya kalau ada acara, paling banter hotel bintang 2 atau 3.
Langkah Safitri terhenti sejenak di lorong yang sepi. Wanita itu merogoh tas kecilnya, mengeluarkan sebutir kapsul, lalu menyodorkannya pada Radin.
"Minum ini. Vitamin," perintah Safitri mutlak. "Biar kamu nggak loyo di dalam sana."
Radin membuang muka, malas berdebat. Ia menelan kapsul itu mentah-mentah, tanpa sedikit pun curiga pada niat busuk sang istri.
“Ingat, di depan Tante Lin, kamu sebut aku ini sepupumu, bukan istrimu,” bisik Safitri tajam, mengingatkan rencana liciknya sesaat sebelum mereka tiba di depan pintu kamar.
Radin Shah hanya diam. Tatapan matanya dingin menatap nomor kamar apartemen yang tertera di daun pintu.
Hatinya bergemuruh antara rasa muak dan terhina kepada wanita yang berstatus istrinya itu.
Ting tong…!
Safitri menekan bel kamar. Tak butuh waktu lama, terdengar langkah kaki anggun dari dalam yang mendekat ke arah pintu.
Cklek.
Begitu pintu terbuka, seraut wajah jelita dengan gurat oriental dan senyum manis langsung menyambut mereka.
Radin sempat tertegun sekilas. Wanita di hadapannya ini mengenakan gaun tidur berbahan sutra yang sangat tipis, memperlihatkan siluet tubuhnya yang masih kencang dan aduhai di balik terpaan lampu kamar mewah apartemen ini.
Tante Lin langsung mengarahkan pandangan matanya, menilai tubuh tinggi kurus Radin Shah dari bawah hingga ke atas.
‘Ganteng… Sayangnya sepupu si Safitri ini terlalu kurus. Coba kalau tubuhnya sedikit berisi dan dibentuk kekar, dia pasti tidak kalah tampan dari artis Rezky Aditya,’ batin Tante Lin, merasa cukup puas dengan modal awal pria yang akan menghamilinya ini.
Di sisi lain, jantung Radin sempat berdesir halus. ‘Gila… Cantik sekali!’ puji Radin dalam hati.
Walaupun dia bukan seorang pria flamboyan yang suka menggoda wanita, mau tidak mau Radin harus mengakui bahwa Tante Lin memiliki pesona matang yang luar biasa.
Wanita inilah yang akan bersamanya selama satu minggu ke depan, demi uang satu miliar.
“Masuk, Safitri. Jadi, ini sepupu yang kamu ceritakan itu? Radin Shah?” sapa Tante Lin dengan nada suara yang ramah dan anggun, berbasa-basi sembari memberikan senyuman manisnya.
“Hehehe, iya, Tante. Jangan lihat kurusnya ya,” sahut Safitri tanpa tedeng aling-aling, langsung mempromosikan suaminya layaknya barang dagangan.
“Sepupu aku ini steril, sehat, dan yang paling utama… dia bukan gigolo loh, Tante. Jadi Tante tidak usah ragu atau takut tertular penyakit. Aku yang jamin kualitasnya!”
Mendengar ucapan istrinya yang begitu murah dan tidak punya harga diri, Radin Shah mengepalkan tangannya di dalam saku celana.
Dia merutuk habis-habisan dalam hati. Rasanya ingin sekali dia menampar mulut Safitri saat itu juga, namun dia menahannya.
‘Nikmati saja uang haram itu sekarang, Safitri,’ batin Radin, memendam amarah yang sedalam lautan, tapi dia benar-benar tak berdaya, seperti keledai bodoh yang mau saja di bawa kemanapun.
“Oke… Aku akan mentransfer sisa uangnya paling lambat tiga hari lagi, setelah kelak aku benaran hamil. Aku ingin melihat dulu, apakah Radin Shah mampu memuaskan hasratku. Dan yang paling utama, semoga dia bisa membuatku hamil, Safitri,” cetus Tante Lin. Nada suaranya terdengar layaknya perintah mutlak yang tidak bisa dibantah.
“Beres, Tante! Radin, ingat ya, layani Tante Lin bak seorang ratu. Selamat tinggal!” sahut Safitri dengan senyum manis penuh kemenangan.
Tanpa beban sedikit pun, wanita itu berbalik dan melangkah pergi, tega meninggalkan suaminya berduaan dengan wanita lain di dalam kamar apartemen mewah itu.
Mendengar pintu kamar tertutup rapat, jantung Radin berdegup kencang.
Dia duduk dengan kaku dan tegang di atas sofa kulit yang empuk. Di hadapannya, Tante Lin berdiri tegak.
Sebagai wanita berkelas, Tante Lin tidak langsung mengajak Radin melompat ke atas ranjang. Dia tahu cara menikmati permainan.
Gaun sutra merah malam itu membungkus ketat tubuh semampainya, sengaja dirancang untuk memamerkan setiap lekuk.
Potongan dada rendahnya memperlihatkan bukit kembarnya yang penuh dan padat, seolah nyaris tumpah dari balik kain tiap kali ia bernapas.
Saat ia berbalik, gaun itu mencetak jelas lekuk bagian tubuh bawahnya yang matang dan terangkat sempurna, memberikan pemandangan yang membuat dada Radin makin sesak.
Tante Lin melangkah anggun menuju kulkas minibar. Dia mengambil sebuah botol wine berkelas, lalu menuangkan isinya ke dalam dua gelas kaca berkaki tinggi.
Wanita itu berjalan mendekat, aroma parfum mewahnya mendahului langkahnya, lalu menyodorkan satu gelas kepada Radin.
“Minum dulu, untuk menghangatkan badanmu,” ujar Tante Lin lembut.
Radin yang merasa tenggorokannya mendadak kering langsung menerima gelas itu. Karena mengira itu hanya minuman soda biasa, dia langsung meneggaknya dengan cepat.
Uhuk! Uhuk!
Radin hampir terbatuk. Rasa hangat yang membakar langsung menjalar dari tenggorokan menuju dadanya.
“Hehehe… Jangan langsung ditenggak seperti itu. Pelan-pelan saja, kadar alkoholnya ringan, kok,” ceplos Tante Lin terkekeh geli melihat kepolosan pria di depannya.
**
Hanya saja, ada satu ganjalan kecil yang diungkapkan oleh sang dosen pembimbing di sela-sela obrolan mereka."Kamu itu otaknya pintar, Balang. Rencana penelitian skripsi kamu ini bagus banget. Harusnya kamu sudah bisa ikut wisuda tahun lalu, kamu cukup 4 tahun kurang 2 bulan kuliah!" kata dosen pembimbing itu sambil melepas kacamata bacanya, menatap Radin dengan senyum maklum."Kok..bisa aku jadi telat wisuda, kenapa pa dosen?" tanya Radin spontan, untung saja si dosen ini nggak ngeh atau curiga, Radin memang belum 100 persen bisa berlakon bak Balang sesungguhnya. "Kamu emang sempat kendala nggak punya duit buat bayar administrasi semester akhir. Tapi kamu harus bersyukur, berkat mantan kekasih kamu yang cantik itu, seluruh biaya bayaran skripsi kamu tahun ini akhirnya bisa dilunasi. Kan kamu cuma dapat beasiswa UKT yang nggak mengkaver biaya perpanjangan."Radin sempat tersentak di tempat duduknya. Jantungnya berdesir kencang mendengarkan penuturan itu."Mantan kekasih saya... maksu
Dua minggu kemudian, di parkiran kampus Universitas Indonesia...Suara deru mesin motor sport baru milik Radin akhirnya mereda di bawah rindangnya pohon peneduh parkiran.Tepat setelah Radin melepas helm full-face mahal yang dikenakannya, ia sempat dibuat tertegun.Seorang mahasiswi berparas sangat cantik menatapnya lekat-lekat dari kejauhan, lalu melangkah lebar menghampirinya dengan raut wajah penuh kecemasan."Balang! Aku dengar dua mingguan kamu habis kecelakaan hebat banget, ya? Kamu tak apa-apa kan?" tegur si mahasiswi cantik itu begitu berdiri di depan motor Radin.Sorot matanya bergerak gelisah, memeriksa sekujur tubuh Radin dari atas sampai bawah. "Gimana kondisi kamu sekarang? Kamu beneran udah nggak apa-apa?"Radin mengernyitkan dahi. Ia menatap datar wajah perempuan asing di depannya, sama sekali tidak menemukan satu pun memori tentang wanita ini di dalam benaknya."Sorry... lo siapa ya?" tanya Radin dengan nada suara yang sangat tenang dan dingin.Perempuan itu seketika m
"Gila ya lo, Bos! Kalau kelakuan lo jor-joran kayak gitu, yang ada penyamaran lo malah bisa kebongkar. Bisa geger itu asrama, kalau tahu Balang di masukin roh pa Bos..?!" seru Samsi dari seberang telepon.Suaranya terdengar panik bercampur heran saat Radin menceritakan kalau dia baru saja menggelontorkan uang miliaran rupiah untuk merenovasi Asrama Borneo dan memanjakan Soraya."Tapi lo harus hati-hati juga, Bos. Jangan sampai si Soraya malah hamidun duluan. Bisa ngamuk si Balang yang asli pas bangun nanti, tahu kalau asetnya udah dipakai duluan! Hahaha," olok Samsi lagi sambil terkekeh jahil, setelah Radin dengan blak-blakan mengaku kalau dia sudah menghajar si cantik mirip Raline Shah itu sampai lemas semalaman.Radin hanya mendengus pelan, menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil. "Tenang aja, semua masih dalam kendali gue. Sekarang gimana perkembangan tubuh asli gue yang diisi roh si Balang?" Radin balik bertanya, mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih krusial."Sampai
Sebuah notifikasi m-banking masuk. Ketika Soraya membuka pesan tersebut, sepasang mata indahnya seketika membelalak sempurna.Jantungnya nyaris copot dan kakinya mendadak lemas sampai harus berpegangan kuat pada pundak Radin.Di layar ponselnya tertera nominal transferan masuk sebesar satu miliar rupiah dari rekening Radin.Angka dengan deretan nol yang sangat panjang itu sukses membuat Soraya hampir pingsan saking syok dan senangnya.Hari ini, Radin benar-benar telah mengunci mati seluruh jiwa dan raga kekasih si Balang ini agar tidak akan pernah bisa berpaling ke pria lain.Tapi, setelahnya Soraya mendesah-desah di ruang tamu rumah mewah ini, Radin kembali minta...jatah, akaii.“Dueeh kamu kesambet apa sih sayang, kok minta lagi...tapi tak apa deeeh, ntar kalau jadi baby, kita nikah yaaa?” bisik Soraya.“Pasti dong sayaang, kamu akan jadi istriku selamanya,” bisik Radin, menahan tawa, sekaligus kelak akan bingung si Balang, kenapa jadi begini...? Sebab Balang yang asli, sebenarnya m
Mereka berdua sama sekali tidak peduli—atau mungkin terlalu larut dalam gairah untuk menyadari—bahwa dinding kamar asrama itu sangat tipis.Di lantai bawah, anak-anak mahasiswa yang sedang begadang sambil main gim atau mengerjakan tugas mendadak saling tatap.Keheningan malam asrama pecah oleh gema suara desahan manja Soraya yang berulang kali lolos dari lantai atas, beradu dengan derit ritmis ranjang besi yang bergoyang hebat."Amboi... Mbak Soraya bener-bener dihajar habis-habisan sama Bang Balang malam ini, coooy. Hahaha," bisik Sandi sambil menyenggol lengan temannya, menahan tawa geli agar tidak bersuara."Gila ya, si Balang baru sembuh kecelakaan tapi staminanya malah makin badak," timpal mahasiswa lain sambil geleng-geleng kepala, tapi sesekali menahan kuping dengarkan desahan Soraya.Meskipun penasaran setengah mati, tidak ada satu pun dari sepuluh mahasiswa di sana yang berani melangkah naik, apalagi sampai nekat mengintip.Mereka tahu betul, kalau sampai ketahuan mengganggu
Soraya merem-melek, tubuhnya menggeliat tak berdaya di atas ranjang. Biasanya setelah dia mengulum batang kokoh Balang sampai letoy, pria itu akan cepat lemas dan minta diganti.Tapi malam ini… beda total. Radin yang merasuki tubuh Balang justru membuatnya jadi monster bercinta yang lapar.Lidah Radin bergerak liar di antara paha terbuka Soraya. Ia tidak sekadar menjilat. Ia menyerang. Lidahnya panjang, kasar, dan penuh teknik, menekan klitoris yang sudah bengkak, lalu menyeret ke bawah, menusuk-nusuk liang basah yang terus-menerus mengeluarkan cairan yang makin banyak ajeeeh.“Aduhaaaiii… enak banget Balang, kamu belajar di mana siiihhh—”Kata-kata Soraya terputus saat Radin tiba-tiba menghisap kuat klit-nya sambil memasukkan dua jari tebal sekaligus.Suara basah “schlurp… schlurp…” memenuhi kamar. Jari-jari itu menekuk ke dalam, mencari titik manisnya dengan tepat, mengucek dengan cepat dan kasar.“Ngghhh—! Pelan… pelan dikit—ahhh sialan!” Soraya memekik, pinggangnya terangkat tingg







