LOGIN
Bukk…!
Tubuh Radin Shah terjengkang ke lantai dingin. Punggungnya menghantam sudut ranjang. Rasa sakit di fisiknya tak seberapa, namun rasa hina yang mengoyak dada jauh lebih menyiksa. Di depan matanya, harga dirinya sebagai seorang suami runtuh, diinjak-injak oleh kaki istrinya sendiri.
“Dasar laki-laki mokondo! Sudah pengangguran, di ranjang letoy, payah! Disuruh kerja enak malah menolak!” semprot Safitri, sang istri, sembari menunjuk wajah Radin dengan penuh jijik.
Padahal, wajah suaminya tidaklah jelek, tampan dan tinggi malah, tapi badan Radin ringkih dan kurus, seolah kurang gizi.
Radin hanya bisa menghela napas panjang. Dia bangkit perlahan, membenarkan letak sarung dan kaus lusuhnya yang tampak menyedihkan.
Di titik ini, dia terlalu lelah untuk membantah, muak dengan pertengkaran yang terus berulang setiap hari, seolh rutinitas yang justru makin membuatnya tertekan.
Pria bertubuh kurus namun berwajah ganteng itupun melangkah keluar kamar dengan pikiran suntuk. Radin duduk termangu di kursi plastik ruang tamu yang reyot. Tangannya yang gemetar meraih sekotak rokok murahan di atas meja.
Tinggal tersisa tiga batang.
Asap mengepul ke langit-langit rumah kontrakan mereka yang sempit. Bersamaan dengan itu, makian tertahan lolos dari sela giginya. Nahas, niat menolong nyawa justru menjerumuskannya ke dalam neraka rumah tangga.
Dulu, ia menikahi Safitri karena wanita itu nyaris jadi bulan-bulanan massa akibat merebut suami, seorang juragan kampung sebelah. Namun sekarang, hidup miskin membuat tabiat asli istrinya kembali membusuk.
Padahal...dia tahu siapa latar belakang Safitri ini, seorang mantan LC! Di sebuah karaoke di Jakarta Selatan ini, yang kadang tak ragu jajakan tubuh moleknya, demi uang!
Brak!
Pintu kamar mendadak terbuka kasar. Safitri keluar dengan gaun ketatnya yang mini, menatap Radin dengan pandangan merendahkan yang sama persis seperti dua hari lalu, saat pekerjaan ‘gila’ itu ditawarkan padanya.
“Pikirkan lagi, Radin!" bentak Safitri, melipat tangan di dada. "Utang kita di warung dan rentenir sudah menumpuk, juga di pinjol. Aku malu ditagih terus tiap hari dan yang mengerikan debt collektor sudah main ancam!”
Radin menatap tajam istrinya. Penolakan kerasnya tempo hari berujung pada pertengkaran hebat, dan malam ini punggungnya masih berdenyut nyeri akibat tendangan Safitri.
"Tapi kan yang ngutang kamu, yang habisin uangnya juga kamu!" sahut Radin lemah.
"Sudahlah, biar aku cari kerja tambahan. Kuli bangunan pun aku mau, asal bukan melacurkan diri!" balas Radin, suaranya serak namun tegas.
“Tante Lin itu posisinya di ujung tanduk!" Safitri mengabaikan ucapan Radin, terus melontarkan kata-kata tajam. "Kalau tahun ini dia tidak bisa kasih ahli waris, suaminya bakal serahkan semua harta ke anak-anak adiknya. Kamu pikir kenalanku zaman LC dulu itu bakal pelit? Satu miliar, Radin! Cuma suruh tidur seminggu, bodoh banget sih kamu menolaknya!”
Radin bangkit dari kursi plastik reyotnya. Dadanya naik-turun menahan amarah. "Aku ini suamimu, Fit! Bukan suami sewaan!"
Safitri mendengus kasar, membalas tatapan Radin tanpa gentar. "Wajahmu tampan, asetmu juga nggak bikin malu, gede dan kekar Radin. Tante Lin pasti langsung kepincut! Daripada kamu sok suci tapi kita mati kelaparan!"
Tanpa mempedulikan urat leher Radin yang menegang, Safitri merogoh tas kecilnya dan menarik keluar ponsel. "Masih mau menolak? Biar aku yang paksa."
Ia menekan layar ponsel, merekam pesan suara. "Tante, besok malam umpan tampannya meluncur ke Kamar Apartemen 404. Aku sudah atur semuanya. Tapi aku butuh DP seratus juta ditransfer sekarang juga..."
Deg!
Kagetnya Radin dengan kelancangan istrinya. "Berhenti, Safitri!" Radin maju, mencoba merebut ponsel itu.
Namun, Safitri dengan sigap menepis tangannya mundur. Tak sampai semenit, ponsel di tangan wanita itu bergetar.
Senyum serakah langsung mengembang di bibir merah menyalanya. Wanita itu langsung menyodorkan layar ponselnya tepat ke depan wajah Radin, membuat pria itu terpaku seketika.
Angka Rp100.000.000 terpampang jelas di layar mutasi rekening.
"Lihat? Uangnya sudah masuk." Safitri melempar gantungan kunci apartemen itu hingga mendarat keras di dada Radin, lalu jatuh bergemerincing ke lantai. "Besok malam Tante Lin menunggumu. Datang ke Kamar 404, atau kita cerai dan kamu membusuk di penjara karena semua pinjol itu pakai data KTP-mu!"
Radin membeku. Skakmat. Jika Safitri kabur, ia yang akan dikejar rentenir dan polisi.
Tanpa menunggu jawaban, Safitri berbalik pergi. Langkah sandal tingginya menghentak tajam, disusul suara bantingan pintu luar yang menggetarkan dinding kontrakan.
“Sialan! Punya suami kok bodohnya kayak keledai!” sungut Safitri sambil pergi meninggalkan Radin yang hanya bisa terdiam seribu bahasa...!!!
**
Hanya saja, ada satu ganjalan kecil yang diungkapkan oleh sang dosen pembimbing di sela-sela obrolan mereka."Kamu itu otaknya pintar, Balang. Rencana penelitian skripsi kamu ini bagus banget. Harusnya kamu sudah bisa ikut wisuda tahun lalu, kamu cukup 4 tahun kurang 2 bulan kuliah!" kata dosen pembimbing itu sambil melepas kacamata bacanya, menatap Radin dengan senyum maklum."Kok..bisa aku jadi telat wisuda, kenapa pa dosen?" tanya Radin spontan, untung saja si dosen ini nggak ngeh atau curiga, Radin memang belum 100 persen bisa berlakon bak Balang sesungguhnya. "Kamu emang sempat kendala nggak punya duit buat bayar administrasi semester akhir. Tapi kamu harus bersyukur, berkat mantan kekasih kamu yang cantik itu, seluruh biaya bayaran skripsi kamu tahun ini akhirnya bisa dilunasi. Kan kamu cuma dapat beasiswa UKT yang nggak mengkaver biaya perpanjangan."Radin sempat tersentak di tempat duduknya. Jantungnya berdesir kencang mendengarkan penuturan itu."Mantan kekasih saya... maksu
Dua minggu kemudian, di parkiran kampus Universitas Indonesia...Suara deru mesin motor sport baru milik Radin akhirnya mereda di bawah rindangnya pohon peneduh parkiran.Tepat setelah Radin melepas helm full-face mahal yang dikenakannya, ia sempat dibuat tertegun.Seorang mahasiswi berparas sangat cantik menatapnya lekat-lekat dari kejauhan, lalu melangkah lebar menghampirinya dengan raut wajah penuh kecemasan."Balang! Aku dengar dua mingguan kamu habis kecelakaan hebat banget, ya? Kamu tak apa-apa kan?" tegur si mahasiswi cantik itu begitu berdiri di depan motor Radin.Sorot matanya bergerak gelisah, memeriksa sekujur tubuh Radin dari atas sampai bawah. "Gimana kondisi kamu sekarang? Kamu beneran udah nggak apa-apa?"Radin mengernyitkan dahi. Ia menatap datar wajah perempuan asing di depannya, sama sekali tidak menemukan satu pun memori tentang wanita ini di dalam benaknya."Sorry... lo siapa ya?" tanya Radin dengan nada suara yang sangat tenang dan dingin.Perempuan itu seketika m
"Gila ya lo, Bos! Kalau kelakuan lo jor-joran kayak gitu, yang ada penyamaran lo malah bisa kebongkar. Bisa geger itu asrama, kalau tahu Balang di masukin roh pa Bos..?!" seru Samsi dari seberang telepon.Suaranya terdengar panik bercampur heran saat Radin menceritakan kalau dia baru saja menggelontorkan uang miliaran rupiah untuk merenovasi Asrama Borneo dan memanjakan Soraya."Tapi lo harus hati-hati juga, Bos. Jangan sampai si Soraya malah hamidun duluan. Bisa ngamuk si Balang yang asli pas bangun nanti, tahu kalau asetnya udah dipakai duluan! Hahaha," olok Samsi lagi sambil terkekeh jahil, setelah Radin dengan blak-blakan mengaku kalau dia sudah menghajar si cantik mirip Raline Shah itu sampai lemas semalaman.Radin hanya mendengus pelan, menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil. "Tenang aja, semua masih dalam kendali gue. Sekarang gimana perkembangan tubuh asli gue yang diisi roh si Balang?" Radin balik bertanya, mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih krusial."Sampai
Sebuah notifikasi m-banking masuk. Ketika Soraya membuka pesan tersebut, sepasang mata indahnya seketika membelalak sempurna.Jantungnya nyaris copot dan kakinya mendadak lemas sampai harus berpegangan kuat pada pundak Radin.Di layar ponselnya tertera nominal transferan masuk sebesar satu miliar rupiah dari rekening Radin.Angka dengan deretan nol yang sangat panjang itu sukses membuat Soraya hampir pingsan saking syok dan senangnya.Hari ini, Radin benar-benar telah mengunci mati seluruh jiwa dan raga kekasih si Balang ini agar tidak akan pernah bisa berpaling ke pria lain.Tapi, setelahnya Soraya mendesah-desah di ruang tamu rumah mewah ini, Radin kembali minta...jatah, akaii.“Dueeh kamu kesambet apa sih sayang, kok minta lagi...tapi tak apa deeeh, ntar kalau jadi baby, kita nikah yaaa?” bisik Soraya.“Pasti dong sayaang, kamu akan jadi istriku selamanya,” bisik Radin, menahan tawa, sekaligus kelak akan bingung si Balang, kenapa jadi begini...? Sebab Balang yang asli, sebenarnya m
Mereka berdua sama sekali tidak peduli—atau mungkin terlalu larut dalam gairah untuk menyadari—bahwa dinding kamar asrama itu sangat tipis.Di lantai bawah, anak-anak mahasiswa yang sedang begadang sambil main gim atau mengerjakan tugas mendadak saling tatap.Keheningan malam asrama pecah oleh gema suara desahan manja Soraya yang berulang kali lolos dari lantai atas, beradu dengan derit ritmis ranjang besi yang bergoyang hebat."Amboi... Mbak Soraya bener-bener dihajar habis-habisan sama Bang Balang malam ini, coooy. Hahaha," bisik Sandi sambil menyenggol lengan temannya, menahan tawa geli agar tidak bersuara."Gila ya, si Balang baru sembuh kecelakaan tapi staminanya malah makin badak," timpal mahasiswa lain sambil geleng-geleng kepala, tapi sesekali menahan kuping dengarkan desahan Soraya.Meskipun penasaran setengah mati, tidak ada satu pun dari sepuluh mahasiswa di sana yang berani melangkah naik, apalagi sampai nekat mengintip.Mereka tahu betul, kalau sampai ketahuan mengganggu
Soraya merem-melek, tubuhnya menggeliat tak berdaya di atas ranjang. Biasanya setelah dia mengulum batang kokoh Balang sampai letoy, pria itu akan cepat lemas dan minta diganti.Tapi malam ini… beda total. Radin yang merasuki tubuh Balang justru membuatnya jadi monster bercinta yang lapar.Lidah Radin bergerak liar di antara paha terbuka Soraya. Ia tidak sekadar menjilat. Ia menyerang. Lidahnya panjang, kasar, dan penuh teknik, menekan klitoris yang sudah bengkak, lalu menyeret ke bawah, menusuk-nusuk liang basah yang terus-menerus mengeluarkan cairan yang makin banyak ajeeeh.“Aduhaaaiii… enak banget Balang, kamu belajar di mana siiihhh—”Kata-kata Soraya terputus saat Radin tiba-tiba menghisap kuat klit-nya sambil memasukkan dua jari tebal sekaligus.Suara basah “schlurp… schlurp…” memenuhi kamar. Jari-jari itu menekuk ke dalam, mencari titik manisnya dengan tepat, mengucek dengan cepat dan kasar.“Ngghhh—! Pelan… pelan dikit—ahhh sialan!” Soraya memekik, pinggangnya terangkat tingg







