Share

Di Beli 1 Milyar

Author: Xavier Alatas
last update Last Updated: 2025-12-12 20:19:05

Suara dentuman dari luar mansion membuat Ara tersentak. Jantungnya hampir berhenti. Arcel berdiri tepat di depannya, tubuh laki laki itu menjadi tameng hidup yang tak tergoyahkan.

“Jangan bergerak,” bisik Arcel pelan, namun nadanya berubah menjadi baja.

Ara menggenggam bagian belakang baju Arcel tanpa sadar. Tangannya gemetar. “Arcel itu apa?!”

“Musuhku,” jawab Arcel singkat. “Dan sekarang musuh itu juga datang untukmu.”

Sebelum Ara sempat bertanya lebih jauh, dua bodyguard berlari masuk.

“Tuan! Ada dua orang di gerbang utama. Mereka mengaku orangtua Ara.”

Dunia Ara seolah berhenti. “Apa?” Ara memekik. “Mama? Papa?! Mereka di sini?”

Arcel menoleh, tatapannya menajam. “Kamu yakin mereka datang untuk kamu atau mereka datang karena alasan lain?”

Ara memalingkan wajah. Tenggorokannya tercekat. “Aku… aku gak tahu. Kenapa mereka bisa tau kalau aku di sini?”

Arcel menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk kepada bodyguard. “Bawa mereka masuk ke ruang pertemuan.”

“Jangan!” Ara berdiri cepat. “Arcel, jangan bawa mereka ke sini! Biar aku keluar!”

“Aku tidak bilang kamu boleh keluar.” Arcel menatapnya tajam. “Kamu tetap di kamar.”

Ara menatapnya seolah terbakar. “Arcel, itu orangtuaku!”

“Dan musuhku juga tahu itu orangtuamu.” Arcel menunduk sedikit, menatap mata Ara tanpa berkedip. “Kamu pikir aku akan membiarkan mereka membawa kamu keluar saat aku tahu ada ancaman di luar yang menyebut namamu?”

Ara meremas roknya, bingung, takut, dan marah dalam satu waktu. “Lepasin aku! Aku mau ketemu mereka!” Ara mencoba mendorong dada Arcel, namun tangan laki itu menangkap pergelangan tangannya dengan mudah.

“Ara.” Hanya satu kata, tapi cukup membuat tubuh Ara berhenti bergerak.

“Aku akan bawa kamu ke sana. Tapi kamu tetap di belakang aku. Satu langkah pun kamu menjauh, aku gendong kamu kembali ke kamar. Mengerti?”

Ara menggigit bibir. Jengkel tapi ia tahu Arcel tidak main-main. “Oke.”

Arcel melepas tangannya pelan, namun tetap meninggalkan sentuhan kepemilikan yang terasa jelas di kulit Ara.

Ruang Pertemuan

Pintu besar dari kayu mahal terbuka. Ara melihat kedua orangtuanya berdiri canggung di tengah ruangan, tampak kaget dengan kemewahan mansion Arcel.

“Mama…” suara Ara pecah.

Mamanya langsung meneteskan air mata. “Ara! Kamu di mana saja?! Mama hampir gila nyariin kamu!”

Papanya menunjuk Ara dengan telunjuk gemetar. “Kamu ikut kami sekarang juga! Kamu bikin masalah banyak! Orang-orang itu nyari kamu sampai depan rumah!”

Ara menunduk. “Aku… aku gak bisa pulang.”

“APA?!” Kedua orangtuanya berseru bersamaan.

Papanya maju, tapi Arcel menghalanginya sebelum tangan pria itu menyentuh Ara.

“Cukup dekatnya.”

Papa Ara memelototkan mata. “Kamu siapa?!”

Arcel tersenyum tipis. “Yang menyelamatkan nyawa putri anda tadi.”

Mama Ara tampak gemetar melihat tatapan dingin Arcel. Aura bahaya Arcel terlalu kuat untuk ditutupi.

“Pah… Mah…” Ara menarik napas panjang. “Aku gak bisa pulang karena kalian mau jodohin aku sama pria tua itu!”

Mama Ara menunduk. Papanya mengepalkan tangan. “Ara, kami gak punya pilihan. Hutang kita banyak dan cuma kamu yang bisa lunasin semua ini.”

“Mah, itu bukan alasan jual aku!” Ara menahan air mata amarah. “Pria itu umurnya dua kali lipat dari Papa!”

Papa Ara memekik frustasi. “Kami diancam! Kalau kita gak setuju, rumah kita disita! Kamu mau kita hidup di jalan?!”

Ara menutup wajah dengan kedua tangan. “Aku… aku bukan barang… Aku bukan solusi hutang!”

Ruangan hening. Arcel menatap keluarga itu lama. Sangat lama. Lalu ia berbicara tanpa ekspresi. “Berapa hutang kalian?”

Papa Ara menatapnya waspada. “Apa urusanmu?”

Arcel memasukkan satu tangan ke saku celana. “Urusanku adalah Ara tidak akan menikah dengan pria tua mana pun. Dan kalian tidak akan menyentuh dia tanpa izin dariku.”

Mama Ara gemetar. “Tapi… hutangnya…”

“Berapa?” ulang Arcel.

Papa Ara akhirnya bergumam lirih. “S….sekitar satu M…milyar…”

Tanpa ragu, Arcel mengeluarkan ponsel.

“Transfer satu milyar ke keluarga ini sekarang.”

Para bodyguard langsung bergerak. Dalam waktu kurang dari dua menit, bunyi “transfer berhasil” terdengar.

Mata Papa Ara melebar. “Tuan… ini… terlalu banyak…”

Arcel menatapnya dingin tanpa sisa empati.

“Itu bukan sedekah. Itu pembayaran.”

Ara mengerutkan kening. “Pembayaran apa?”

Arcel berjalan mendekatinya, menunduk, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Ara.

“Kamu.”

Ara tersentak. “Arcel!”

Ia berdiri tegak, lalu menoleh ke orangtuanya.

“Satu milyar dan Ara tidak akan kalian bawa pergi dari mansion ini.” Suaranya dalam, berbahaya.

“Mulai hari ini, Ara… bersamaku.”

Papa Ara memucat. “Apa maksudmu? Ara bukan barang!”

“Benar,” kata Arcel tenang. “Makanya aku bayar bukan untuk membeli dia tapi untuk menghapus beban yang membuat kalian memaksanya menikah dengan pria lain.”

Arcel memutar kepala sedikit, tatapannya menusuk.

“Sekarang, tidak ada alasan bagi kalian mengambil Ara dari sini.”

Mamanya memeluk tasnya erat. “Tapi Ara anak kami.”

Arcel mengangguk pelan. “Dan aku yang menjaganya. Lebih baik daripada pria mana pun yang kalian pilihkan.”

Ara menatap Arcel tajam. “Aku gak pernah bilang mau tinggal sama kamu!”

Arcel mendekat, suaranya rendah seperti ancaman yang dibungkus kelembutan. “Kamu gak mau pulang, kan? Kamu bilang sendiri tadi.”

Ara terdiam. Ia memang bilang begitu. Karena ia takut dijual oleh orangtuanya.

Arcel menatap kedua orangtua Ara. “Saya hormat pada kalian sebagai orangtuana, tapi Ara tetap tinggal di sini.”

Papa Ara melangkah maju. “Dan kalau kami menolak?”

Arcel tersenyum tipis. “Tuan, Anda sudah menerima uang saya.”

Papa Ara tercekat. Nafasnya tersengal.

“Dan saya tidak meminta kembali.”

Mama Ara mulai menangis.

Arcel memegang bahu Ara, menariknya sedikit ke belakang tubuhnya. Seolah menegaskan kepemilikannya pada seluruh ruangan.

“Ara milikku,” katanya tegas. “Dan kalian sudah tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.”

Mamanya berbisik pelan sambil menangis. “Ara tetap hati-hati dan maafin kami nak.”

Ara memejam, hatinya terasa remuk. “Mama…”

Papanya menatapnya dengan sendu yang lelah. “Kalau kamu bahagia Papa gak akan paksa kamu pulang nak. Yang penting hutang kita lunas dan Papa gak di kejar kejar merek lagi.”

Sejak kapan semuanya jadi serumit ini?

Arcel mencondongkan tubuh, berbisik di telinga Ara. “Sekarang kamu hanya punya satu rumah, Ara.”

Ara menggertakkan rahang. “Rumah? Ini penjara Ar!”

Arcel tersenyum. “Kalau penjara ini membuatmu aman aku tidak keberatan sayang.”

Ara ingin membentaknya, tetapi Arcel sudah terlebih dulu menutup ucapan terakhirnya.

“Aku bilang sejak awal… kamu gak akan bisa lepas dari aku Ara sayang.”

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Ara sadar. Arcel tidak hanya menyelamatkannya. Arcel sedang mencoba memilikinya lewat masalah ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Milyar Untuk Semalam   Selena Hamil Anak Arcel?!

    Pagi datang tanpa kelembutan. Bukan karena matahari enggan terbit, melainkan karena udara di mansion terasa berubah lebih tegang, lebih waspada, seperti napas yang ditahan terlalu lama. Ara merasakannya sejak membuka mata. Ada firasat yang tidak bisa dijelaskan, menggantung di dada seperti bayangan yang belum menemukan bentuk.Ia turun ke ruang tengah dengan langkah tenang. Wajahnya tetap datar, bahunya tegak. Tidak ada sisa malam tadi di rautnya tidak ada ketakutan, tidak ada kelelahan. Hanya kewaspadaan yang sudah menjadi bagian dari dirinya.Arcel sudah di sana. Berdiri dekat jendela besar, jas hitam rapi, sikapnya tenang seperti biasa. Namun Ara tahu. Ada sesuatu yang menunggu.Belum sempat Ara membuka mulut, suara itu datang. Tangisan tertahan. Patah. Sengaja dibuat terdengar rapuh.Ara menoleh ke arah pintu utama. Seorang perempuan berdiri di sana, ditahan dua anggota pengamanan. Rambutnya kusut tapi sengaja, riasan wajahnya sedikit luntur dengan cara yang terlalu pas untuk dise

  • Satu Milyar Untuk Semalam   Cinta Yang Semakin Dalam

    Malam tidak pernah benar-benar netral. Ia hanya berpihak pada siapa yang siap menyambutnya. Langkah Arcel berhenti tepat di ambang teras batu. Udara dingin menyentuh kulitnya, membawa aroma logam yang samar bau yang tidak pernah salah ia kenali. Ancaman. Ara berdiri di sampingnya, punggung tegak, bahu lurus. Gaun sederhana yang ia kenakan bergerak pelan tertiup angin malam, tapi tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang tampak ragu.Bayangan bergerak di antara pepohonan. Bukan satu. Bukan dua. Banyak. Arcel mengangkat tangannya sedikit bukan untuk menahan Ara, melainkan memberi isyarat pada tim yang tersembunyi. Tidak ada teriakan. Tidak ada alarm. Malam ini bukan soal peringatan. Ini soal eksekusi terukur.“Jarak mereka terlalu percaya diri,” gumam Ara.Arcel mengangguk. “Karena mereka pikir aku akan menahan diri.”Ara menoleh. “Dan kau?”Arcel menatap lurus ke depan. “Aku sudah terlalu lama menahan.”Tembakan pertama meletus tanpa aba-aba.Arcel bergerak.Tubuhnya meluncur ke dep

  • Satu Milyar Untuk Semalam   Badai Baru

    Mansion itu akhirnya bernapas lagi, tapi bukan napas lega. Melainkan napas panjang sebelum lari. Ara menyadarinya sejak langkah pertamanya menuruni tangga utama pagi itu. Tidak ada yang berubah secara kasatmata. Karpet tetap bersih. Lampu gantung tetap berkilau. Para staf tetap bekerja seperti biasa. Namun ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaan seperti arus laut yang tenang di atas, tapi menyimpan pusaran di bawahnya.Dan Arcel…Arcel berubah. Bukan pada wajahnya. Bukan pada suaranya. Melainkan pada caranya berdiri.Ia tidak lagi bersandar pada apa pun. Tidak pada meja. Tidak pada dinding. Seolah tubuhnya sendiri sudah menjadi penyangga penuh, siap menerima apa pun yang datang. Tegak. Diam. Mematikan.Ara menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. “Sejak kapan kau berdiri seperti itu?” tanyanya.Arcel menoleh. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada senyum. Tapi ada sesuatu yang lebih dalam dari itu pengakuan tanpa kata. “Sejak aku yakin mereka tidak akan berhenti mengamati,” ja

  • Satu Milyar Untuk Semalam   Ancaman Baru

    Mansion itu tidak pernah benar-benar sunyi setelah malam itu. Ada sesuatu yang berubah. Bukan pada penjagaan. Bukan pada ritme kerja. Tapi pada udara lebih berat, lebih waspada, seolah dinding-dindingnya tahu bahwa sesuatu sedang mengintai dari balik gelap.Ara merasakannya sejak bangun pagi. Ia berdiri di depan jendela kamar, masih mengenakan pakaian rumah sederhana, rambut tergerai tanpa usaha apa pun. Matahari pagi memantul di kaca, menyinari halaman luas yang tampak tenang. Terlalu tenang.Arcel berdiri di belakangnya, diam. Ia tidak menyentuh Ara. Tidak juga berbicara. Tapi kehadirannya terasa seperti lapisan pelindung kedua.“Kamu tidak tidur nyenyak,” kata Arcel akhirnya.Ara tidak menoleh. “Aku tidur. Tapi pikiranku tidak.”Arcel mendekat, berdiri tepat di belakang Ara. Tangannya bertumpu di sisi jendela, mengurung tanpa menekan. “Kamu memikirkan mereka.”“Bukan mereka,” jawab Ara pelan. “Aku memikirkan caramu menatap tadi malam.”Arcel mengernyit. “Caraku?”“Seperti seseorang

  • Satu Milyar Untuk Semalam   Arcel Makin Posesif

    Malam itu tidak berakhir dengan sunyi. Ara bersandar di dada Arcel, selimut menutup mereka berdua, sementara napas yang sempat tak beraturan perlahan menemukan ritmenya. Lampu kamar diredupkan, menyisakan cahaya hangat yang membuat garis wajah Arcel tampak lebih tegas, dan kecantikan Ara hampir terasa tidak nyata. Bukan hanya cantik ia bercahaya, seperti sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki dunia sembarangan.Arcel menatapnya lama, seolah ingin menghafal setiap detail. Cara Ara mengerjap pelan, bibirnya yang masih kemerahan, dan ketenangan yang hanya muncul saat ia merasa aman.“Apa?” tanya Ara lirih, menangkap tatapannya.Arcel tersenyum tipis. “Aku cuma lagi mikir dunia ini kejam karena bisa melihatmu.”Ara mengernyit kecil. “Itu pujian atau peringatan?”“Keduanya,” jawab Arcel jujur. Tangannya mengusap punggung Ara, gerakannya pelindung, posesif, tapi penuh kendali. “Kalau orang lain melihatmu seperti aku melihatmu mereka akan iri. Dan orang yang iri, biasanya berubah jadi berba

  • Satu Milyar Untuk Semalam   Lepas, Gak Muat Ar!

    Ara menutup mata, napasnya masih tersengal, tubuhnya menempel sempurna di dada Arcel. Sementara itu, Arcel menahan dirinya sekuat tenaga agar tidak kehilangan kontrol. Malam ini bukan tentang terburu-buru, tapi tentang mengenal setiap detik, setiap napas, setiap getaran yang ada antara mereka.“Baby girl…” bisik Arcel, suaranya serak, hampir pecah, “kau tahu aku nggak bisa berhenti menatapmu.”Ara membuka mata, menatapnya, mata mereka bertemu dalam intensitas yang membuat dunia di luar hilang. “Aku nggak ingin kau berhenti,” jawabnya lembut tapi penuh tantangan, “aku ingin kau tetap di sini, di sampingku, sekarang dan selamanya.”Arcel menarik Ara lebih dekat, menundukkan kepala hingga dahi mereka bersentuhan. Tangan Ara bergerak menelusuri punggungnya, merasakan setiap otot yang menegang karena menahan gairah. “Setiap kali aku memegangmu…” suara Arcel rendah, “rasanya aku ingin kau tetap di sisiku selamanya. Tapi aku juga ingin kau tahu, aku bukan orang yang mudah dikalahkan, baby.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status