Share

Bab 3

Penulis: Gheri
Melihat tatapanku yang terpaku, adikku segera menjelaskan.

“Kalau mau pakai kamar ini, harus bayar uang jaminan enam puluh juta. Tapi aku tahu Kakak pasti nggak sanggup bayar. Jadi mulai sekarang kamar ini jadi punyaku. Barang-barang Kakak ada di sana.”

Aku menoleh ke arah ranjang lipat di sudut ruangan.

Beberapa potong pakaian lamaku tergeletak berantakan di lantai.

Kakakku yang baru selesai mandi menginjak kaus putihku begitu saja, lalu menggunakannya seperti kain pel untuk mengusap genangan air di lantai.

Sama sepertiku.

Di rumah ini, keberadaanku memang tak pernah lebih berharga daripada sehelai kain lap.

Dalam diam, aku memungut pakaian-pakaian itu satu per satu, melipatnya dengan rapi, lalu meletakkannya di atas ranjang lipat yang keras.

Saat itulah ibu keluar dari dapur sambil membawa beberapa hidangan.

“Ayo makan, anak-anak! Buat merayakan keberhasilan kita mendapatkan kontrak besar, hari ini semua masakan Mama diskon besar-besaran!”

“Lobster Boston enam ratus ribu seekor! Abalon seratus ribu satu buah! Ayam kampung tiga ratus ribu setengah ekor!”

Mata kakak dan adikku langsung berbinar.

Tanpa ragu, mereka menghabiskan bonus yang baru saja diterima untuk membeli semua hidangan itu.

Di atas meja makan bahkan tak ada sepiring sayur pun.

Harga satu hidangan saja sudah cukup membuatku bangkrut.

Melihat wajahku yang muram, ibu melemparkan sepiring nasi ke hadapanku, seolah sedang memberi makan seorang pengemis.

“Nasi enam ribu sepiring, boleh tambah sepuasnya! Sudah hidup dua puluh lima tahun masih saja begini. Memangnya kamu nggak malu?”

Sambil menyumpal mulutnya dengan daging lobster, adikku terkekeh mengejek.

“Wajah Kakak ‘kan lebih tebal daripada kulit babi. Mana mungkin dia tahu malu?”

“Kalau masih punya harga diri, dari dulu dia pasti sudah berusaha keras. Mana mungkin sebulan cuma bisa menghasilkan enam juta.”

Kakak mengambil sepotong abalon, lalu mengayunkannya di depan hidungku sambil bersiul menirukan suara memanggil anjing.

“Ck... ck... ck...”

Melihatku tak menggubrisnya, wajahnya langsung berubah masam.

“Huh, adikku yang satu ini gengsinya memang tinggi banget. Katanya pekerjaan seperti itu nggak pantas buat dia. Maunya kerjaan yang gajinya besar, santai, nggak lihat ijazah, nggak lihat kemampuan, lengkap sama jaminan sosial dan tabungan rumah.”

“Aku rasa memang ada satu pekerjaan yang cocok buatmu.”

“Jadi simpanan bos kaya.”

Seketika, tawa pecah di meja makan.

Wajahku langsung memanas.

Agar air mata yang hampir jatuh tak terlihat, aku hanya bisa menundukkan kepala, menatap sepiring nasi di depanku.

Membiarkan air mata menetes membasahi butiran nasi.

Aroma lobster dan abalon memenuhi hidungku.

Aku terus menyuapkan nasi ke mulut layaknya sebuah mesin.

Nasinya terasa asin.

Namun, tetap tak seasin perasaanku.

Ibu mengusap air mata yang keluar karena terlalu banyak tertawa.

Saat kembali menatapku, sorot matanya dipenuhi rasa jijik.

“Dia? Jadi simpanan bos kaya? Memangnya ada yang mau meliriknya?”

“Nggak pintar, wajah juga biasa saja, mulutnya pun nggak manis.”

“Kalau suatu hari nanti dia benar-benar bisa menikah, Mama rela sujud syukur berhari-hari.”

“Sudahlah. Mau gimana lagi? Dia memang begitu. Selamanya nggak akan berubah.”

Tiba-tiba aku membanting sendok ke atas meja.

Prang!

Suaranya membuat semua orang terkejut.

“Baru dikatain sedikit saja sudah nggak terima? Memangnya ada yang salah dengan ucapan Mama?” bentak ibu.

Aku menarik napas dalam-dalam.

Lalu menelan habis semua rasa sakit, ketidakrelaan dan kemarahan yang telah kupendam selama bertahun-tahun.

“Aku mau resign.”

Semua orang tercengang sesaat.

Lalu tawa mereka meledak lebih keras daripada sebelumnya.

“Resign? Terus mau kerja apa? Jadi kurir makanan? Fitur jaminan tepat waktu di aplikasiku nggak pernah bercanda!”

Kakakku tertawa sampai hampir jatuh dari kursinya.

“Asal bukan di perusahaan berhati hitam yang suka memotong gajiku, itu sudah cukup.”

Begitu kata-kata itu keluar, semua orang langsung menatapku dengan wajah terkejut.

Ayah, yang sejak tadi tak mengucapkan sepatah kata pun, tiba-tiba berdiri.

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipiku.

Aku langsung terjatuh ke lantai bersama kursi yang kududuki.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 9

    Di seberang telepon terdengar suara ibu yang langsung tersentak kaget.“Apa? Nggak mungkin! Sebanyak itu?”Aku mendengus dingin. Baru saja hendak menutup telepon, ibu buru-buru berkata, “Meski mereka memberimu gaji setinggi apa pun, kami tetap keluargamu! Apa kamu nggak bisa melepaskan mereka dan memilih kami? Bukankah itu memang kewajibanmu sebagai seorang anak?”Aku hampir tertawa terbahak-bahak.Dari mana mereka punya muka untuk mengatakan hal seperti itu?Aku sudah tak punya kesabaran sedikit pun untuk mendengarkan pembelaan mereka.Tanpa ragu, kututup telepon itu, lalu langsung memblokir nomornya.Sejak saat itu, aku benar-benar memutuskan semua hubungan dengan keluarga yang selama ini hanya tahu “mengisap darahku”.Karena tak bisa lagi menghubungiku, mereka justru mengajukan gugatan ke pengadilan.Mereka menuntut agar aku memberikan nafkah kepada orang tua sebesar seratus juta setiap bulan.Bukan hanya itu, mereka juga menuntut agar aku kembali mengambil alih pabrik keluarga seka

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 8

    Keberhasilanku mendapatkan kontrak senilai seratus miliar dari Pak Heru menjadi titik balik yang mengubah seluruh hidupku.Selama dua tahun berikutnya, aku mencurahkan seluruh tenaga dan pikiranku untuk membangun karier di perusahaan baru.Berbekal pengalaman yang kukumpulkan selama bertahun-tahun, ditambah kemampuan profesional yang terus terasah, pencapaianku melesat dengan cepat.Hanya dalam waktu dua tahun, aku berhasil mengamankan satu kontrak raksasa bernilai triliunan, lima kontrak bernilai miliaran, serta sembilan belas kontrak bernilai ratusan juta.Setiap kerja sama berjalan mulus. Setiap klien yang kutangani selalu memberikan penilaian terbaik.Posisiku sebagai sales nomor satu di perusahaan pun semakin kokoh.Tak seorang pun mampu menggoyahkannya.Gaji dan komisi terus meningkat.Dalam waktu dua tahun saja, tabunganku telah menembus angka sepuluh miliar.Kalau semua ini terjadi dulu, bahkan aku tak akan berani membayangkannya.Sementara itu…Kondisi pabrik milik kedua oran

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 7

    Adikku benar-benar terpaku.Wajahnya dipenuhi keterkejutan sekaligus rasa malu.Pak Heru bahkan tak lagi melirik ke arahnya.Beliau mengulurkan tangan ke arah lift, lalu dengana sopan mempersilahkanku masuk.Namun, adikku rupanya masih belum mau menyerah. Dengan keras kepala, dia memberanikan diri menatap langsung ke arah Pak Heru dan bertanya lantang.“Pak Heru! Sungguh, saya benar-benar nggak mengerti!”“Gladis itu biasa saja. Penampilannya biasa, nggak pandai berbicara, juga nggak terlalu pintar. Orang yang nggak punya kelebihan seperti dia, kenapa justru bisa mendapat perhatian dan kepercayaan Bapak?”Pertanyaan itu ternyata juga mewakili kebingungan terbesar yang selama ini dipendam ayah, ibu dan kakakku.Dalam pemahaman mereka yang sempit, modal untuk meraih kesuksesan di dunia kerja hanyalah wajah yang menarik, kepiawaian berbicara dan kecerdasan.Mendengar pertanyaan itu, Pak Heru tak langsung menjawab.Sebaliknya, dia mengajukan sebuah pertanyaan profesional.“Kamu sudah beker

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 6

    Ucapan sekretaris itu membuat mereka semua terpaku di tempat.Suasana sempat diliputi keheningan.Namun, sesaat kemudian, adikku kembali memecahnya dengan bantahan keras kepala.“Sekarang aku tahu! Dia pasti aktor yang sudah kamu bayar dari awal, ‘kan?”“Kak, mau sampai kapan kamu terus begini? Sudah bodoh, akal-akalanmu juga lucu sekali. Sebegitu inginnya kamu pamer di depan kami? Apa kamu nggak takut nanti saat sekretaris yang asli datang? Kamu bakal ditampar habis-habisan di depan semua orang, loh?”Bahkan sampai detik ini, dia masih memilih membohongi dirinya sendiri.Sekretaris itu menghela napas panjang.Jangankan marah, dia bahkan sudah terlalu malas untuk menanggapi tingkah adikku.Dengan tenang, dia sedikit memiringkan tubuh, lalu mengulurkan tangan ke arahku.“Silakan lewat sini, Nona Gladis.”Dia langsung mengantarku menuju lift khusus di sisi lain gedung.Lift yang menuju lantai paling atas gedung perkantoran ini hanya diperuntukkan bagi jajaran eksekutif dan para mitra per

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 5

    “Baiklah! Kontraknya sudah kusiapkan dari dini!”Adikku langsung melangkah maju dengan penuh semangat.Namun, begitu melihat raut bingung di wajah sekretaris itu, dia baru menyadari sesuatu.Orang yang tadi dipanggil adalah Nona Suherman, bukan Mas Suherman.Dalam sekejap, mereka semua langsung mengerti.Orang yang ingin ditemui Pak Heru bukanlah adik, melainkan kakak.Ibu bereaksi paling cepat.Dia langsung mengubah ucapannya.“Oh, begitu rupanya! Berarti yang dicari pasti putri sulung kami!”Ibu mendorong kakakku yang berdiri di samping maju ke depan.Tatapannya dipenuhi kebanggaan dan kepuasan.“Putri sulungku memang orang yang tenang, teliti dan bisa diandalkan. Selama sepuluh tahun terakhir, dia yang mengurus pembukuan perusahaan.”“Pak Heru pasti melihat dia sebagai orang yang jujur, stabil dan cakap, makanya mau menjalin kerja sama sebesar ini.”Ayah pun segera menimpali.“Betul. Kudengar istri Pak Heru sudah lama meninggal dan sekarang beliau hidup sendirian.”“Putriku anggun,

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 4

    Aku menatap wajah ayah yang menghitam karena amarah dengan tidak percaya.Lalu, kudengar bentakannya menggema.“Dasar anak nggak tahu diri! Coba keluar sana dan tanya orang-orang! Orang tua mana yang sebaik kami? Kami sudah memberimu pekerjaan supaya kamu punya pengalaman, sekaligus menggajimu.”“Bukannya tahu berterima kasih, sekarang malah menuduh kami berhati hitam? Kalau kami benar-benar berhati hitam, waktu kamu lahir dulu, pasti sudah kami buang ke septic tank sampai mati!”Kalimat itu…Sebenarnya sudah lama tersimpan di dalam hatiku.Hanya saja, baru hari ini semuanya benar-benar terungkap.Aku hanyalah anak yang lahir di tengah keinginan ayah dan ibu untuk memiliki anak laki-laki.Mungkin sejak awal...Aku memang seharusnya tak pernah ada.Kini semuanya masuk akal.Tak heran, selama ini aku mati-matian membuktikan nilai diriku demi mendapatkan pengakuan.Namun, mereka selalu berpura-pura tak melihatnya.Hal yang seharusnya kusadari sejak usia dua belas tahun…Baru benar-benar k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status