Share

Bab 2

Author: Gheri
Seluruh tubuhku bergetar.

Apa di mata ayah dan ibu, aku memang serendah itu?

Adikku berdiri di samping sambil menikmati penderitaanku.

“Kak, dari kecil sampai sekarang kerjamu cuma malas-malasan. Sudah malas, masih banyak maunya lagi. Lihat, sekarang Mama akhirnya kasih kamu pelajaran, ‘kan?”

Kakakku mengambil selembar uang seratus ribu dari tumpukan uang tunai yang tebal, lalu menyelipkannya ke tanganku.

“Ayah sama Mama sudah susah payah membesarkan kita. Sekarang cari kerja juga susah. Jangan pilih-pilih pekerjaan lagi. Kamu harus belajar bersyukur. Nih, Kakak kasih seratus ribu. Pakai buat makan enak.”

Melihat uang seratus ribu itu, rasanya seperti ditampar keras di depan banyak orang.

Selama ini aku bekerja mati-matian tanpa pernah mengeluh.

Apa pada akhirnya aku hanya dianggap pengemis yang diberi seratus ribu?

“Nggak perlu!”

Aku langsung melempar uang itu.

Mereka jelas tak menyangka aku akan bersikap seperti itu.

Ibu langsung menggebrak meja dengan marah.

“Gladis! Apa-apaan sikapmu ini!”

“Ayah sama Mama sudah membiayai semua kebutuhanmu. Makanan, pakaian, tempat tinggal sampai pekerjaan. Tapi apa balasannya? Yang kami besarkan justru musuh dalam selimut?”

“Asal kamu tahu! Cukup dengan empat juta, Mama bisa merekrut lulusan S1 untuk menggantikanmu!”

“Kerjaanmu cuma receh, tapi maumu setinggi langit! Apa kamu baru puas kalau seluruh pabrik diserahkan ke kamu, sementara ayah, Mama, kakak dan adikmu harus hidup sengsara?”

Adikku memungut kembali uang seratus ribu yang terjatuh ke lantai sambil menyeringai.

“Jadi benalu saja nggak becus! Ma, nggak usah pedulikan dia lagi. Orang yang kemampuannya pas-pasan tapi maunya setinggi langit, cepat atau lambat pasti akan dihajar kenyataan. Nanti dia juga tahu betapa nyamannya tinggal di rumah ini.”

Aku tak lagi menggubris mereka.

Aku berbalik dan langsung meninggalkan pabrik.

Suhu hampir mencapai empat puluh derajat.

Ponsel yang sudah kupakai hampir sepuluh tahun kepanasan hingga mati total.

Ironisnya…

Sekarang bahkan ponsel jadul seharga beberapa ratus ribu pun aku tak sanggup membelinya.

Kalau kukatakan bahwa di rumah itu bahkan bernapas pun harus membayar, rasanya sama sekali bukan berlebihan.

Siapa pun pasti akan terkejut saat mengetahui bahwa selama sepuluh tahun bekerja, aku tak memiliki tabungan sepeser pun.

Yang kurasakan hanya hidup yang begitu menyedihkan dan penuh kepahitan.

Air mataku pun jatuh tanpa bisa kutahan.

Aku mempercepat langkah menuju sebuah bank.

Setelah berhasil mengisi daya sebentar, ponselku akhirnya menyala kembali.

Aku segera menghubungi nomor yang sebelumnya pernah menawariku pekerjaan.

“Oh, Mbak Gladis? Syukurlah akhirnya Mbak mengubungi kami. Perkenalkan, Saya HRD dari High Techno. Kami sangat terkesan dengan pengalaman kerja Mbak. Kalau Mbak bersedia bergabung dengan perusahaan kami, kami siap memberikan gaji pokok enam puluh juta per bulan, ditambah komisi sepuluh persen! Bagaimana?”

Mendengar angka itu, aku langsung tercengang.

“Apa aku benar-benar bernilai sebesar itu?”

HRD itu lantas tertawa.

“Tentu saja. Kami dengar Mbak Gladis baru saja berhasil mendapatkan kontrak senilai enam puluh miliar. Komisi dari kontrak itu saja harusnya lebih dari enam ratus juta, ‘kan?”

Aku benar-benar malu mengakui bahwa gaji pokokku selama ini hanya enam juta.

Jadi, setelah mengatakan akan mempertimbangkannya, aku langsung menutup telepon.

Sepanjang perjalanan pulang, semakin kupikirkan, semakin bersemangat aku dibuatnya.

Namun, bersamaan dengan itu, aku juga semakin meragukan diri sendiri.

Apa orang biasa sepertiku…

Yang tak terlalu pintar dan juga tak berpenampilan menarik…

Benar-benar bisa menghasilkan nilai sebesar itu?

Tanpa sadar, aku sudah tiba di rumah.

Aku mengulurkan tangan untuk memindai sidik jariku.

Namun, kunci pintar itu justru mengeluarkan suara notifikasi.

[Akses ditolak. Pengguna tidak dikenali.]

Tak lama kemudian, bel video di pintu berbunyi.

“Bayar dulu uang sewa bulan ini, baru pintunya Mama buka.”

Aku hanya bisa tersenyum pahit.

Di rumah ini…

Semua hal memiliki harga.

Bahkan tempat tidur pun tak terkecuali.

Tak punya pilihan lain, aku pun mentransfer tiga juta kepada ibu.

Pintu akhirnya terbuka.

Namun, baru saja hendak masuk, ibu malah menghalangiku di depan pintu.

“Sekarang kita sudah pindah ke rumah baru. Mulai sekarang uang sewanya naik jadi enam juta sebulan.”

“Bulan ini Mama kasih potongan empat ratus ribu. Transfer lagi sisanya, baru kamu boleh masuk.”

Aku membelalak tak percaya.

“Gajiku sebulan cuma enam juta. Kalau semuanya habis buat bayar uang sewa, aku makan pakai apa?”

Ibu mendengus dingin.

“Memangnya kamu nggak bisa kerja sambilan? Antar makanan atau cuci piring, gitu? Malas sekali seperti babi. Umurmu sudah dua puluh lima tahun, masih numpang hidup sama orang tua. Memangnya kamu nggak malu?”

“Semua yang Mama lakukan ini demi melatihmu hidup mandiri. Biar nanti kamu nggak tumbuh jadi sampah masyarakat yang nggak berguna.”

“Suatu hari nanti, kamu pasti akan berterima kasih sama Mama.”

Aku benar-benar sudah kehabisan tenaga untuk memperdebatkan alasan-alasan itu.

Aku langsung mentransfer sisanya, lalu masuk ke dalam rumah.

Baru saja hendak masuk ke kamar kecil di bagian dalam, tapi adikku menarik lenganku.

“Kak, ini ruang komputerku.”

“Tempat tidurmu di sana.”

Sambil berkata begitu, dia menunjuk ke arah balkon.

Terlihat sebuah ranjang lipat militer diletakkan di sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 9

    Di seberang telepon terdengar suara ibu yang langsung tersentak kaget.“Apa? Nggak mungkin! Sebanyak itu?”Aku mendengus dingin. Baru saja hendak menutup telepon, ibu buru-buru berkata, “Meski mereka memberimu gaji setinggi apa pun, kami tetap keluargamu! Apa kamu nggak bisa melepaskan mereka dan memilih kami? Bukankah itu memang kewajibanmu sebagai seorang anak?”Aku hampir tertawa terbahak-bahak.Dari mana mereka punya muka untuk mengatakan hal seperti itu?Aku sudah tak punya kesabaran sedikit pun untuk mendengarkan pembelaan mereka.Tanpa ragu, kututup telepon itu, lalu langsung memblokir nomornya.Sejak saat itu, aku benar-benar memutuskan semua hubungan dengan keluarga yang selama ini hanya tahu “mengisap darahku”.Karena tak bisa lagi menghubungiku, mereka justru mengajukan gugatan ke pengadilan.Mereka menuntut agar aku memberikan nafkah kepada orang tua sebesar seratus juta setiap bulan.Bukan hanya itu, mereka juga menuntut agar aku kembali mengambil alih pabrik keluarga seka

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 8

    Keberhasilanku mendapatkan kontrak senilai seratus miliar dari Pak Heru menjadi titik balik yang mengubah seluruh hidupku.Selama dua tahun berikutnya, aku mencurahkan seluruh tenaga dan pikiranku untuk membangun karier di perusahaan baru.Berbekal pengalaman yang kukumpulkan selama bertahun-tahun, ditambah kemampuan profesional yang terus terasah, pencapaianku melesat dengan cepat.Hanya dalam waktu dua tahun, aku berhasil mengamankan satu kontrak raksasa bernilai triliunan, lima kontrak bernilai miliaran, serta sembilan belas kontrak bernilai ratusan juta.Setiap kerja sama berjalan mulus. Setiap klien yang kutangani selalu memberikan penilaian terbaik.Posisiku sebagai sales nomor satu di perusahaan pun semakin kokoh.Tak seorang pun mampu menggoyahkannya.Gaji dan komisi terus meningkat.Dalam waktu dua tahun saja, tabunganku telah menembus angka sepuluh miliar.Kalau semua ini terjadi dulu, bahkan aku tak akan berani membayangkannya.Sementara itu…Kondisi pabrik milik kedua oran

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 7

    Adikku benar-benar terpaku.Wajahnya dipenuhi keterkejutan sekaligus rasa malu.Pak Heru bahkan tak lagi melirik ke arahnya.Beliau mengulurkan tangan ke arah lift, lalu dengana sopan mempersilahkanku masuk.Namun, adikku rupanya masih belum mau menyerah. Dengan keras kepala, dia memberanikan diri menatap langsung ke arah Pak Heru dan bertanya lantang.“Pak Heru! Sungguh, saya benar-benar nggak mengerti!”“Gladis itu biasa saja. Penampilannya biasa, nggak pandai berbicara, juga nggak terlalu pintar. Orang yang nggak punya kelebihan seperti dia, kenapa justru bisa mendapat perhatian dan kepercayaan Bapak?”Pertanyaan itu ternyata juga mewakili kebingungan terbesar yang selama ini dipendam ayah, ibu dan kakakku.Dalam pemahaman mereka yang sempit, modal untuk meraih kesuksesan di dunia kerja hanyalah wajah yang menarik, kepiawaian berbicara dan kecerdasan.Mendengar pertanyaan itu, Pak Heru tak langsung menjawab.Sebaliknya, dia mengajukan sebuah pertanyaan profesional.“Kamu sudah beker

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 6

    Ucapan sekretaris itu membuat mereka semua terpaku di tempat.Suasana sempat diliputi keheningan.Namun, sesaat kemudian, adikku kembali memecahnya dengan bantahan keras kepala.“Sekarang aku tahu! Dia pasti aktor yang sudah kamu bayar dari awal, ‘kan?”“Kak, mau sampai kapan kamu terus begini? Sudah bodoh, akal-akalanmu juga lucu sekali. Sebegitu inginnya kamu pamer di depan kami? Apa kamu nggak takut nanti saat sekretaris yang asli datang? Kamu bakal ditampar habis-habisan di depan semua orang, loh?”Bahkan sampai detik ini, dia masih memilih membohongi dirinya sendiri.Sekretaris itu menghela napas panjang.Jangankan marah, dia bahkan sudah terlalu malas untuk menanggapi tingkah adikku.Dengan tenang, dia sedikit memiringkan tubuh, lalu mengulurkan tangan ke arahku.“Silakan lewat sini, Nona Gladis.”Dia langsung mengantarku menuju lift khusus di sisi lain gedung.Lift yang menuju lantai paling atas gedung perkantoran ini hanya diperuntukkan bagi jajaran eksekutif dan para mitra per

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 5

    “Baiklah! Kontraknya sudah kusiapkan dari dini!”Adikku langsung melangkah maju dengan penuh semangat.Namun, begitu melihat raut bingung di wajah sekretaris itu, dia baru menyadari sesuatu.Orang yang tadi dipanggil adalah Nona Suherman, bukan Mas Suherman.Dalam sekejap, mereka semua langsung mengerti.Orang yang ingin ditemui Pak Heru bukanlah adik, melainkan kakak.Ibu bereaksi paling cepat.Dia langsung mengubah ucapannya.“Oh, begitu rupanya! Berarti yang dicari pasti putri sulung kami!”Ibu mendorong kakakku yang berdiri di samping maju ke depan.Tatapannya dipenuhi kebanggaan dan kepuasan.“Putri sulungku memang orang yang tenang, teliti dan bisa diandalkan. Selama sepuluh tahun terakhir, dia yang mengurus pembukuan perusahaan.”“Pak Heru pasti melihat dia sebagai orang yang jujur, stabil dan cakap, makanya mau menjalin kerja sama sebesar ini.”Ayah pun segera menimpali.“Betul. Kudengar istri Pak Heru sudah lama meninggal dan sekarang beliau hidup sendirian.”“Putriku anggun,

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 4

    Aku menatap wajah ayah yang menghitam karena amarah dengan tidak percaya.Lalu, kudengar bentakannya menggema.“Dasar anak nggak tahu diri! Coba keluar sana dan tanya orang-orang! Orang tua mana yang sebaik kami? Kami sudah memberimu pekerjaan supaya kamu punya pengalaman, sekaligus menggajimu.”“Bukannya tahu berterima kasih, sekarang malah menuduh kami berhati hitam? Kalau kami benar-benar berhati hitam, waktu kamu lahir dulu, pasti sudah kami buang ke septic tank sampai mati!”Kalimat itu…Sebenarnya sudah lama tersimpan di dalam hatiku.Hanya saja, baru hari ini semuanya benar-benar terungkap.Aku hanyalah anak yang lahir di tengah keinginan ayah dan ibu untuk memiliki anak laki-laki.Mungkin sejak awal...Aku memang seharusnya tak pernah ada.Kini semuanya masuk akal.Tak heran, selama ini aku mati-matian membuktikan nilai diriku demi mendapatkan pengakuan.Namun, mereka selalu berpura-pura tak melihatnya.Hal yang seharusnya kusadari sejak usia dua belas tahun…Baru benar-benar k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status