Share

Bab 4

Author: Gheri
Aku menatap wajah ayah yang menghitam karena amarah dengan tidak percaya.

Lalu, kudengar bentakannya menggema.

“Dasar anak nggak tahu diri! Coba keluar sana dan tanya orang-orang! Orang tua mana yang sebaik kami? Kami sudah memberimu pekerjaan supaya kamu punya pengalaman, sekaligus menggajimu.”

“Bukannya tahu berterima kasih, sekarang malah menuduh kami berhati hitam? Kalau kami benar-benar berhati hitam, waktu kamu lahir dulu, pasti sudah kami buang ke septic tank sampai mati!”

Kalimat itu…

Sebenarnya sudah lama tersimpan di dalam hatiku.

Hanya saja, baru hari ini semuanya benar-benar terungkap.

Aku hanyalah anak yang lahir di tengah keinginan ayah dan ibu untuk memiliki anak laki-laki.

Mungkin sejak awal...

Aku memang seharusnya tak pernah ada.

Kini semuanya masuk akal.

Tak heran, selama ini aku mati-matian membuktikan nilai diriku demi mendapatkan pengakuan.

Namun, mereka selalu berpura-pura tak melihatnya.

Hal yang seharusnya kusadari sejak usia dua belas tahun…

Baru benar-benar kupahami ketika usiaku menginjak dua puluh lima.

Untungnya...

Masih belum terlambat.

Mulai hari ini, aku tak lagi membutuhkan pengakuan dari mereka.

Aku bangkit berdiri.

Kumasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas, lalu menyampirkannya ke bahu.

Saat pintu kubuka, terdengar suara teriakan ibu dari belakang.

“Kalau kamu berani keluar dari rumah ini, jangan pernah kembali lagi!”

Adikku segera menahan ibu, lalu mendengus dingin.

“Biarkan saja dia pergi, Ma. Orang kayak dia memang baru sadar setelah dihajar kenyataan. Sampah sepertinya, jadi tukang bersih-bersih toilet saja belum tentu diterima karena terlalu bodoh.”

“Nanti kalau hidupnya sudah hancur, dia pasti pulang sambil mohon-mohon supaya kita mau menerimanya lagi.”

Aku sama sekali tak memedulikannya.

Aku melangkah keluar dari rumah yang bagiku tak lebih dari sekadar penginapan itu.

Begitu tiba di gerbang kompleks, aku langsung menghubungi HRD itu.

Begitu mendengar aku bersedia bergabung, dia segera datang menjemputku.

Dia membantuku mengurus asrama, administrasi masuk kerja hingga berbagai keperluan lainnya.

Setelah mengetahui keadaanku, dia bahkan membantu mengajukan uang muka gaji sebesar sepuluh juta kepada perusahaan.

Aku menatap angka yang muncul di layar Whatsapp.

Untuk sesaat, aku terdiam.

Dulu…

Untuk mendapatkan uang sebanyak itu, aku harus bekerja lebih dari sepuluh jam setiap hari selama berbulan-bulan.

Aku sampai kelelahan, bahkan sering kali tak sempat makan.

Baru setelah bekerja mati-matian, aku bisa mengumpulkan uang sebanyak itu.

Namun sekarang...

Hanya karena perusahaan ini mengakui kemampuanku.

Bahkan sebelum aku bekerja satu hari pun, mereka sudah bersedia memberiku uang muka sebesar sepuluh juta.

Baru setelah keluar dari “payung” keluargaku…

Aku sadar.

Ternyata di luar sana sama sekali tidak sedang hujan.

Dunia ini tak semenakutkan yang dibayangkan.

Saat itulah ponselku berdering.

Panggilan dari Pak Heru.

Klien yang sebelumnya menandatangani kontrak enam puluh miliar denganku.

“Mbak Gladis, akhir-akhir ini bisnis kami lagi luar biasa ramai. Persediaan bahan baku hampir habis. Aku mau tambah pesanan lagi senilai seratus miliar!”

Aku buru-buru menjawab.

“Pak Heru, sebelumnya saya minta maaf. Sekarang saya sudah pindah kerja. Saya masih belum familier dengan produk perusahaan baru saya. Jadi kalau misalnya—”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Pak Heru sudah memotong ucapanku.

“Nggak perlu. Pesanan kali ini tetap pakai produk perusahaan barumu.”

“Namanya juga bahan baku. Kualitas tiap perusahaan kurang lebih sama saja. Yang paling penting, aku percaya sama kamu!”

“Senin depan datang ke kantorku untuk menandatangani kontraknya!”

Begitu telepon ditutup, aku hampir melompat kegirangan.

Di hari pertama bekerja…

Aku sudah berhasil mendapatkan pesanan senilai seratus miliar.

Begitu mendengar kabar itu, atasanku langsung memberiku bonus satu miliar.

Komisinya dihitung terpisah.

Dengan hati yang dipenuhi kegembiraan, aku tiba di gedung perusahaan Pak Heru dua jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan.

Namun…

Yang kulihat justru ayah, ibu, kakak dan adikku.

Ibu berkata dengan wajah berseri-seri.

“Dasar Gladis anak nggak tahu diuntung! Resign tapi serah terima pekerjaannya aja nggak beres.”

“Pak Heru ternyata mau menandatangani kontrak seratus miliar dengan perusahaan kita, tapi kita sama sekali nggak tahu.”

“Untung aku sempat lihat unggahannya di story.”

“Waktu terakhir kali Pak Heru datang, dia bilang anak kita mirip sekali dengan anaknya.”

“Sudah kubilang, putra kita memang disukai semua orang.”

“Kontrak kali ini pasti diperpanjang karena anak kita.”

Satu keluarga itu tersenyum puas sambil bersiap masuk ke dalam gedung.

Namun…

Saat melihat pantulan sosokku di kaca pintu, senyum mereka langsung menghilang.

Sorot mata ibu dipenuhi rasa jemawa.

“Eh, siapa ini? Bukannya Mbak Gladis, marketing andalan keluarga kita?”

“Kenapa? Baru beberapa hari di luar sudah nggak sanggup bertahan?”

“Begitu dengar adikmu baru saja mendapatkan kontrak besar senilai seratus miliar, langsung buru-buru datang minta kami menghidupimu lagi?”

“Benar-benar nggak tahu malu.”

Ayah memandangku dengan wajah dingin.

Sorot matanya seolah sedang melihat tumpukan sampah.

“Dasar anak nggak tahu malu.”

“Berani datang ke sini mempermalukan keluarga di acara sepenting ini.”

“Cepat pulang. Berlutut di depan rumah dan renungkan kesalahanmu.”

Aku hanya melirik mereka sekilas dari sudut mata.

Lalu langsung melangkah masuk.

“Aku datang untuk menandatangani kontrak.”

“Aku nggak punya waktu meladeni kalian.”

Adikku langsung naik pitam.

Dia mencengkeram bajuku sambil membentak.

“Kontrak apa yang mau kamu tanda tangani di sini?”

“Kontrak jadi tenaga buat bersihin toilet?”

Melihatku tetap mengabaikannya, dia langsung mengangkat tinjunya.

“Dasar jalang! Sepertinya aku sudah terlalu baik padamu!”

Tepat saat dia hendak menyerangku…

Pintu gedung terbuka. Sekretaris Pak Heru berjalan keluar.

“Nona Suherman, Pak Heru sudah senggang.”

“Kita bisa mulai menandatangani kontraknya sekarang.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 9

    Di seberang telepon terdengar suara ibu yang langsung tersentak kaget.“Apa? Nggak mungkin! Sebanyak itu?”Aku mendengus dingin. Baru saja hendak menutup telepon, ibu buru-buru berkata, “Meski mereka memberimu gaji setinggi apa pun, kami tetap keluargamu! Apa kamu nggak bisa melepaskan mereka dan memilih kami? Bukankah itu memang kewajibanmu sebagai seorang anak?”Aku hampir tertawa terbahak-bahak.Dari mana mereka punya muka untuk mengatakan hal seperti itu?Aku sudah tak punya kesabaran sedikit pun untuk mendengarkan pembelaan mereka.Tanpa ragu, kututup telepon itu, lalu langsung memblokir nomornya.Sejak saat itu, aku benar-benar memutuskan semua hubungan dengan keluarga yang selama ini hanya tahu “mengisap darahku”.Karena tak bisa lagi menghubungiku, mereka justru mengajukan gugatan ke pengadilan.Mereka menuntut agar aku memberikan nafkah kepada orang tua sebesar seratus juta setiap bulan.Bukan hanya itu, mereka juga menuntut agar aku kembali mengambil alih pabrik keluarga seka

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 8

    Keberhasilanku mendapatkan kontrak senilai seratus miliar dari Pak Heru menjadi titik balik yang mengubah seluruh hidupku.Selama dua tahun berikutnya, aku mencurahkan seluruh tenaga dan pikiranku untuk membangun karier di perusahaan baru.Berbekal pengalaman yang kukumpulkan selama bertahun-tahun, ditambah kemampuan profesional yang terus terasah, pencapaianku melesat dengan cepat.Hanya dalam waktu dua tahun, aku berhasil mengamankan satu kontrak raksasa bernilai triliunan, lima kontrak bernilai miliaran, serta sembilan belas kontrak bernilai ratusan juta.Setiap kerja sama berjalan mulus. Setiap klien yang kutangani selalu memberikan penilaian terbaik.Posisiku sebagai sales nomor satu di perusahaan pun semakin kokoh.Tak seorang pun mampu menggoyahkannya.Gaji dan komisi terus meningkat.Dalam waktu dua tahun saja, tabunganku telah menembus angka sepuluh miliar.Kalau semua ini terjadi dulu, bahkan aku tak akan berani membayangkannya.Sementara itu…Kondisi pabrik milik kedua oran

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 7

    Adikku benar-benar terpaku.Wajahnya dipenuhi keterkejutan sekaligus rasa malu.Pak Heru bahkan tak lagi melirik ke arahnya.Beliau mengulurkan tangan ke arah lift, lalu dengana sopan mempersilahkanku masuk.Namun, adikku rupanya masih belum mau menyerah. Dengan keras kepala, dia memberanikan diri menatap langsung ke arah Pak Heru dan bertanya lantang.“Pak Heru! Sungguh, saya benar-benar nggak mengerti!”“Gladis itu biasa saja. Penampilannya biasa, nggak pandai berbicara, juga nggak terlalu pintar. Orang yang nggak punya kelebihan seperti dia, kenapa justru bisa mendapat perhatian dan kepercayaan Bapak?”Pertanyaan itu ternyata juga mewakili kebingungan terbesar yang selama ini dipendam ayah, ibu dan kakakku.Dalam pemahaman mereka yang sempit, modal untuk meraih kesuksesan di dunia kerja hanyalah wajah yang menarik, kepiawaian berbicara dan kecerdasan.Mendengar pertanyaan itu, Pak Heru tak langsung menjawab.Sebaliknya, dia mengajukan sebuah pertanyaan profesional.“Kamu sudah beker

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 6

    Ucapan sekretaris itu membuat mereka semua terpaku di tempat.Suasana sempat diliputi keheningan.Namun, sesaat kemudian, adikku kembali memecahnya dengan bantahan keras kepala.“Sekarang aku tahu! Dia pasti aktor yang sudah kamu bayar dari awal, ‘kan?”“Kak, mau sampai kapan kamu terus begini? Sudah bodoh, akal-akalanmu juga lucu sekali. Sebegitu inginnya kamu pamer di depan kami? Apa kamu nggak takut nanti saat sekretaris yang asli datang? Kamu bakal ditampar habis-habisan di depan semua orang, loh?”Bahkan sampai detik ini, dia masih memilih membohongi dirinya sendiri.Sekretaris itu menghela napas panjang.Jangankan marah, dia bahkan sudah terlalu malas untuk menanggapi tingkah adikku.Dengan tenang, dia sedikit memiringkan tubuh, lalu mengulurkan tangan ke arahku.“Silakan lewat sini, Nona Gladis.”Dia langsung mengantarku menuju lift khusus di sisi lain gedung.Lift yang menuju lantai paling atas gedung perkantoran ini hanya diperuntukkan bagi jajaran eksekutif dan para mitra per

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 5

    “Baiklah! Kontraknya sudah kusiapkan dari dini!”Adikku langsung melangkah maju dengan penuh semangat.Namun, begitu melihat raut bingung di wajah sekretaris itu, dia baru menyadari sesuatu.Orang yang tadi dipanggil adalah Nona Suherman, bukan Mas Suherman.Dalam sekejap, mereka semua langsung mengerti.Orang yang ingin ditemui Pak Heru bukanlah adik, melainkan kakak.Ibu bereaksi paling cepat.Dia langsung mengubah ucapannya.“Oh, begitu rupanya! Berarti yang dicari pasti putri sulung kami!”Ibu mendorong kakakku yang berdiri di samping maju ke depan.Tatapannya dipenuhi kebanggaan dan kepuasan.“Putri sulungku memang orang yang tenang, teliti dan bisa diandalkan. Selama sepuluh tahun terakhir, dia yang mengurus pembukuan perusahaan.”“Pak Heru pasti melihat dia sebagai orang yang jujur, stabil dan cakap, makanya mau menjalin kerja sama sebesar ini.”Ayah pun segera menimpali.“Betul. Kudengar istri Pak Heru sudah lama meninggal dan sekarang beliau hidup sendirian.”“Putriku anggun,

  • Satu Slip Gaji, Satu Keputusan   Bab 4

    Aku menatap wajah ayah yang menghitam karena amarah dengan tidak percaya.Lalu, kudengar bentakannya menggema.“Dasar anak nggak tahu diri! Coba keluar sana dan tanya orang-orang! Orang tua mana yang sebaik kami? Kami sudah memberimu pekerjaan supaya kamu punya pengalaman, sekaligus menggajimu.”“Bukannya tahu berterima kasih, sekarang malah menuduh kami berhati hitam? Kalau kami benar-benar berhati hitam, waktu kamu lahir dulu, pasti sudah kami buang ke septic tank sampai mati!”Kalimat itu…Sebenarnya sudah lama tersimpan di dalam hatiku.Hanya saja, baru hari ini semuanya benar-benar terungkap.Aku hanyalah anak yang lahir di tengah keinginan ayah dan ibu untuk memiliki anak laki-laki.Mungkin sejak awal...Aku memang seharusnya tak pernah ada.Kini semuanya masuk akal.Tak heran, selama ini aku mati-matian membuktikan nilai diriku demi mendapatkan pengakuan.Namun, mereka selalu berpura-pura tak melihatnya.Hal yang seharusnya kusadari sejak usia dua belas tahun…Baru benar-benar k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status