LOGINLangkah kaki Maya yang berbalut sepatu flat terdengar berketuk pelan saat ia menuruni anak tangga kayu menuju lantai bawah. Niat awalnya adalah mengambil berkas rekapitulasi kain, namun atmosfer di area ruang produksi seketika terasa ganjil di inderanya. Suara deru mesin jahit yang biasanya mendominasi, kini kalah saing oleh dengung suara orang yang berkerumun rendah, saling melempar kalimat dengan gestur tubuh yang mencurigakan.Begitu menginjakkan kaki di lantai satu, indera pendengaran Maya menangkap dengan jelas sisa-sisa obrolan para karyawan mengenai prahara rumah tangga Aluna dan Bara Mahendra. Topik yang seharusnya menjadi privasi penuh sang atasan kini tengah jadi bahan gosip habis-habisan di balik tumpukan bahan brokat. Sebagai asisten kepercayaan yang paham betul bagaimana perjuangan Aluna bangkit dari keterpurukan emosional, dada Maya seketika bergemuruh oleh rasa tidak nyaman sekaligus amarah yang tertahan. Kasak-kusuk seperti ini jelas akan merusak kondusifitas kerja ji
Sementara itu, desas-desus pasca kepergian Bara tidak serta-merta mereda begitu saja di area lantai satu butik. Kabar mengenai status hubungan sang atasan yang selama ini tertutup rapat kini mulai bocor ke permukaan. Bisik-bisik mulai terdengar samar di antara deru mesin jahit dan gantungan baju. Beberapa karyawan yang baru saja menyadari kenyataan tersebut tampak saling mendekat, memasang raut terkejut saat tahu jika Aluna ternyata sudah bercerai dengan suaminya, Bara Mahendra."Eh, ini serius kalau Bu Aluna sudah cerai dengan Pak Bara?" tanya seorang penjahit wanita dengan suara setengah berbisik, matanya melirik waspada ke arah tangga. "Padahal Pak Bara itu pengusaha sukses. Sudah tampan, duit banyak, usahanya ada di mana-mana. Tapi kenapa Bu Aluna malah cerai dan lebih memilih sibuk mengelola butik ini?"Teman di sebelahnya yang sedang merapikan lipatan kain ikut mengangguk setuju, menyayangkan keputusan yang diambil oleh sang bos. "Iya, betul. Kalau aku jadi Bu Aluna, aku cukup
Di bawah terik matahari pagi yang mulai memanaskan aspal di depan butik, ketegangan mendadak timbul di ruang depan butik. Bara menoleh, menatap seorang wanita yang sedang melangkah mendekat ke arahnya dengan keanggunan yang selalu berhasil mengusik ketenangannya. Aluna menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan mantan suaminya, lalu menatap Bara. Kedua pasang mata itu saling bersitatap, memancarkan gejolak emosi yang bertolak belakang. Yang satu dilingkupi amarah posesif, sementara yang lain berdiri dengan ketegasan yang dingin."Ada yang bisa aku bantu, Pak Bara?" tanya Aluna, suaranya terdengar begitu formal, sengaja menciptakan jarak yang lebar di antara mereka."Di mana dia?" kata Bara tanpa basa-basi, mengabaikan keramahan palsu yang dilontarkan wanita itu. Mata elangnya menyipit tajam, mencoba mencari celah kebohongan dari ekspresi wajah di hadapannya.Aluna mengerutkan kedua alisnya. "Dia?" Ia diam menatap Bara selama beberapa saat, mencoba mencerna tuduhan yang d
Bara memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Sempat ia melirik butik yang sudah sepi dan gelap. Pikiran Bara saat itu sedikit kacau. "Bagus sekali. Tutup lebih awal," gerutu Bara. Meremas kuat stir mobilnya.Merasa tidak ada hal berguna yang bisa ia temukan di sana, pria itu akhirnya memutuskan untuk melajukan kembali mobilnya pergi dari sana. Bara sama sekali tidak tahu jika dua orang yang paling dicarinya saat itu sebenarnya berada di dalam sana, bersembunyi di balik dinding-dinding kokoh yang menipu pandangan luar.Butik milik Aluna memang memiliki satu ruangan khusus berupa kamar istirahat tersembunyi yang berada di lantai atas, tepatnya bersebelahan dengan ruang kerja Aluna. Dari luar, tempat itu hanya terlihat seperti bagian dari bangunan komersial biasa, sehingga tidak ada orang yang menyangka fungsinya termasuk Bara yang baru saja melenggang pergi dengan kepatuhan keliru.Di dalam ruangan yang hangat itu, aroma bawang goreng mulai tercium samar. Elrumi yang sedang membantu me
Deru napas Bara Mahendra yang memburu perlahan mulai teratur, menyisakan keheningan yang sarat akan sisa gairah di dalam kamar apartemen Monika. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, membiarkan tubuh tegapnya terekspos di bawah temaram lampu tidur yang temaram. Sudut matanya melirik sekilas ke arah jam digital di nakas. Pikirannya yang sempat mati rasa akibat kepuasan fisik kini perlahan mulai ditarik kembali pada kenyataan. Pada kekosongan unit di sebelah dan rasa frustrasinya yang belum tuntas.Bara menggerakkan tubuhnya, bersiap untuk turun dari ranjang tebal itu. Ia tidak berniat menghabiskan malam di sini. Bagi Bara, Monika murni sebatas pelampiasan ego dan amarah yang salah sasaran malam ini.Namun, pergerakan Bara seketika tertahan saat sepasang lengan mulus Monika melingkar mesra dari belakang, memeluk pinggangnya dengan erat. Monika merapatkan dadanya ke punggung bidang Bara, menyalurkan kehangatan kulitnya yang sengaja memancing gairah yang baru. Monika t
Sadar posisinya mulai berada di tengah-tengah urusan pribadi sang atasan, Maya pelan-pelan melangkah mundur. Jemarinya kembali menyambar nampan kosong dengan gerakan sehalus mungkin, tidak ingin memotong kehangatan suasana yang baru saja tercipta. Walaupun lubuk hatinya didera rasa penasaran yang teramat besar mengenai siapa sebenarnya sosok pria rupawan yang baru datang itu, Maya buru-buru menepis rasa penasarannya. Ia sangat menghargai privasi Aluna, wanita yang sudah menganggapnya lebih dari sekadar asisten."Mbak Aluna, kalau begitu saya permisi kembali ke bawah untuk mengecek rekap harian," pamit Maya dengan senyum sopan yang mengembang tulus."Oh, iya, May. Terima kasih tehnya, ya," balas Aluna hangat, mengangguk sekilas mengizinkan.Setelah pintu kayu itu tertutup rapat dan menyisakan keheningan di dalam ruangan kerja, pria jangkung itu menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi sketsa gaun elegan, lalu beralih me
Aluna meletakkan cangkir tehnya yang mulai mendingin, mencoba menguasai gemuruh di dadanya agar suaranya terdengar senatural mungkin. Tatapannya beralih dari pulpen Mahendra Group itu menuju wajah Maya yang masih asyik mengunyah bika ambon."May," panggil Aluna lembut, menyunggingkan s
Aluna mematikan mesin mobil, membiarkan wiper berhenti bergerak setelah menyapu rintik gerimis terakhir di kaca depan. Rumah bernuansa abu-abu milik Maya tampak begitu tenang dan asri dengan deretan pot tanaman gantung yang tertata rapi di terasnya. "Mbak Aluna, mampir sebentar, yuk? Kebetulan Ib
"Loh, motormu ke mana, May?" tanya Aluna saat melihat Maya masih berada di halte sekitar dekat dengan butiknya."Hm... anu, Mba... itu dipinjam sama pacarku," sahut Maya dengan ekspresi malu-malu.Aluna tersenyum. "Ayo, masuk. Biar aku antarkan pulang," tawar Aluna."Ah, tidak perlu, Mbak. Saya bis
Aluna menarik napas kasar setelah menaruh barang belanjaannya di atas meja yang ada di dapur. Ia tidak menyangka jika akan bertemu dengan Bara dan ternyata oh ternyata... jadi selama ini... ah, sudahlah.Wanita itu memasukkan beberapa belanjaan ke dalam kulkas. Setelahnya ia menarik kurs







