Se connecterAluna kesal dengan satu kalimat yang dilontarkan Bara untuknya. Merasa tidak terima dengan apa yang dituduhkan Bara pada dirinya. "Apa maksudmu, Bar?""Kau lihat sendiri!" kata Bara setengah tertawa. "Kenapa harus priamu itu yang lebih berhak ada di sini daripada aku, suamimu sendiri, hah?" jelas Bara. "Istri macam apa yang melempar suaminya ke wanita lain? Atau kau melakukan itu supaya kau bisa mengurus laki-laki lain?"Aluna diam saja. Ia tidak ingin berdebat dan juga tidak bisa mendebatkannya."Aku masih terima jika kau hanya mengibuliku," kata Bara menunjuk dirinya sendiri. "Tapi aku jadi muak tiap kali ingat bagaimana sayangnya mamaku padamu. Dia membangga-banggakanmu di depan teman-temannya, sedangkan kau aslinya hanya penipu licik yang gila harta.""Jaga bicaramu, Bara!" kata Aluna pelan.Bara tertawa pelan menyadari jika ia sudah membuat istrinya itu marah walau masih terlihat sangat tenang. Walau suaranya tenang tanpa geraman, ta
Bara menolak untuk dibawa ke unit rumah Monika, akan tetapi Aluna tetap bersikeras ingin mengantarkan Bara ke sana. "Bar, aku sedang menunggu orang dan aku tidak ingin ia melihatmu ada di sini. Apalagi dengan kondisimu yang mabuk seperti ini," kata Aluna tenang. Bara menoleh menatap Aluna, "Menunggu siapa, hah?" Bara mendekatkan wajahnya dan menatap Aluna dengan mata merahnya yang tidak fokus. "Menunggu selingkuhanmu itu?" Aluna mendorong tubuh Bara pelan. Jujur Aluna sungguh muak dengan bau alkohol itu. "Kau pasti sedang menunggu si El itu?" lanjut Bara. "Iya. Jadi ada baiknya aku mengantarkanmu ke rumah Monika sebelum ia sampai ke sini," jawab Aluna. Bara tertawa keras. "Jadi, selingkuhanmu itu yang lebih berhak ada di sini daripada suamimu sendiri?" tanya Bara tidak habis pikir. Aluna tampak diam ragu, ia tidak ingin menanggapi dan tidak ingin menyanggah juga karena Bara juga ada benarnya juga. "Jika begitu, biar aku di sini," Bara menghempaskan diri di sofa ruang tamu dan
Gelas kristal kedua di hadapan Bara kini sudah menyisakan separuh. Di bawah temaramnya lampu bar yang bergerak lambat mengikuti ketukan musik jazz, kesadaran pria itu perlahan mulai terombang-ambing oleh pengaruh alkohol yang kian pekat. Namun, alih-alih mendapatkan ketenangan yang ia cari sejak sore tadi, cairan amber yang membakar kerongkongannya itu justru memantik reaksi sebaliknya. Alkohol sialan itu malah memperkuat ilusi kepemilikan yang mendarah daging di dalam benaknya. Seolah-olah Aluna masihlah wanita yang bisa ia kendalikan sepenuhnya, bukan sosok dingin yang mengusirnya tadi siang. Pikiran itu terus berputar, membakar habis sisa akal sehat di kepalanya. Dalam kondisi setengah mabuk dengan tatapan mata yang mulai menyayu, fokus Bara mendadak terusik. Seorang wanita asing dengan gaun malam berpotongan rendah melangkah mendekat, lalu tanpa permisi menduduki kursi kosong tepat di sebelah kanannya. Aroma parfum berbau manis menyengat seketika menyerbu indera penciuman Bara,
Langkah kaki Maya yang berbalut sepatu flat terdengar berketuk pelan saat ia menuruni anak tangga kayu menuju lantai bawah. Niat awalnya adalah mengambil berkas rekapitulasi kain, namun atmosfer di area ruang produksi seketika terasa ganjil di inderanya. Suara deru mesin jahit yang biasanya mendominasi, kini kalah saing oleh dengung suara orang yang berkerumun rendah, saling melempar kalimat dengan gestur tubuh yang mencurigakan.Begitu menginjakkan kaki di lantai satu, indera pendengaran Maya menangkap dengan jelas sisa-sisa obrolan para karyawan mengenai prahara rumah tangga Aluna dan Bara Mahendra. Topik yang seharusnya menjadi privasi penuh sang atasan kini tengah jadi bahan gosip habis-habisan di balik tumpukan bahan brokat. Sebagai asisten kepercayaan yang paham betul bagaimana perjuangan Aluna bangkit dari keterpurukan emosional, dada Maya seketika bergemuruh oleh rasa tidak nyaman sekaligus amarah yang tertahan. Kasak-kusuk seperti ini jelas akan merusak kondusifitas kerja ji
Sementara itu, desas-desus pasca kepergian Bara tidak serta-merta mereda begitu saja di area lantai satu butik. Kabar mengenai status hubungan sang atasan yang selama ini tertutup rapat kini mulai bocor ke permukaan. Bisik-bisik mulai terdengar samar di antara deru mesin jahit dan gantungan baju. Beberapa karyawan yang baru saja menyadari kenyataan tersebut tampak saling mendekat, memasang raut terkejut saat tahu jika Aluna ternyata sudah bercerai dengan suaminya, Bara Mahendra."Eh, ini serius kalau Bu Aluna sudah cerai dengan Pak Bara?" tanya seorang penjahit wanita dengan suara setengah berbisik, matanya melirik waspada ke arah tangga. "Padahal Pak Bara itu pengusaha sukses. Sudah tampan, duit banyak, usahanya ada di mana-mana. Tapi kenapa Bu Aluna malah cerai dan lebih memilih sibuk mengelola butik ini?"Teman di sebelahnya yang sedang merapikan lipatan kain ikut mengangguk setuju, menyayangkan keputusan yang diambil oleh sang bos. "Iya, betul. Kalau aku jadi Bu Aluna, aku cukup
Di bawah terik matahari pagi yang mulai memanaskan aspal di depan butik, ketegangan mendadak timbul di ruang depan butik. Bara menoleh, menatap seorang wanita yang sedang melangkah mendekat ke arahnya dengan keanggunan yang selalu berhasil mengusik ketenangannya. Aluna menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan mantan suaminya, lalu menatap Bara. Kedua pasang mata itu saling bersitatap, memancarkan gejolak emosi yang bertolak belakang. Yang satu dilingkupi amarah posesif, sementara yang lain berdiri dengan ketegasan yang dingin."Ada yang bisa aku bantu, Pak Bara?" tanya Aluna, suaranya terdengar begitu formal, sengaja menciptakan jarak yang lebar di antara mereka."Di mana dia?" kata Bara tanpa basa-basi, mengabaikan keramahan palsu yang dilontarkan wanita itu. Mata elangnya menyipit tajam, mencoba mencari celah kebohongan dari ekspresi wajah di hadapannya.Aluna mengerutkan kedua alisnya. "Dia?" Ia diam menatap Bara selama beberapa saat, mencoba mencerna tuduhan yang d
Angel melirik Bara yang sudah setengah sadar dipengaruhi oleh minuman keras yang baru ka tenggak beberapa kali. Namun, Bara masih bisa mengontrol kesadarannya. Saat Angel mulai meraba nakal dadanya. Bara meraih tangan itu. "Bagaimana dengan tawaranku? Kau mau atau tidak?" Bar
Bara tersenyum saat mendapatkan perlakuan intim dari wanita itu. Namun, tiba-tiba menjadi gusar karena mengingat apa yang terjai saat bersama dengan Monika. Hanya tinggal sejengkal pelepasan, justru bayangan Aluna yang mendongak dengan wajah yang berkeringat di bawah kekuasaannya yang tiba-tiba m
Monika mengantarkan Bara pintu depan dan Monika memperhatikan Bara yang masih memikirkan hal lainnya. Pun Monika memberanikan diri untuk bertanya pada Bara."Bar, pulang dari sana. Kau mau kembali ke sini?" tanya Monika."Hm...jika tidak terlalu malam, aku akan ke sini. Aku tidak ingin kau kecapean
Dalam benak Bara sedang bergulat untuk menuntaskan hasrat yang sedang menggebu-gebu. Reflek Bara langsung menghentikan aktivitasnya di atas ranjang saat bayangan wajah orang itu mengganggu konsentrasinya. "Ke-kenapa, sayang?" tanya Monika cemas karena melihat Bara tiba-tiba gusar dan gelisah.Bara







