FAZER LOGINSiang itu, setelah makan siang selesai, rapat kembali dimulai untuk meresmikan hubungan kerja sama Kyama group dengan Sienna advertising yang akan dimulai pada hari ini. Semua draf desain dan kontrak perjanjian ditanda tangani oleh Nathan dan Anna bersama salah tim legal dari masing-masing perusahaan.
"Mulai hari ini, kami mempercayakan proyek penyediaan iklan dan sponsor kepada Sienna advertising. Selanjutnya, bisa berkoordinasi dengan tim marketing dari pihak kami. Untuk rapat selMalam itu, setelah mengantar Rhea pulang, Adrian kembali duduk merenung di depan balkon apartemennya. Dengan segelas minuman hangat di tangannya, ia menatap pemandangan malam di kota Jakarta yang sungguh mengagumkan. Lampu-lampu kota terlihat jelas hingga ke ujung jauh di sana. Sesuatu yang tak bisa dijangkaunya, tapi terlihat di depan matanya. Sama seperti kisah cintanya dengan Rhea. Bukan, bukan kisah cinta tapi kisah pengakuan cinta yang belum terlaksana. Adrian meletakkan gelas minumannya. Tangannya meraih ponsel di atas meja lalu mengetik sesuatu pada seseorang. Setelah itu, ia kembali memegang gelas dan meneguk isinya setengah. Ting!Ponselnya berbunyi. Ada notifikasi pesan dari seseorang. [Kalau tuan muda ingin kembali, mungkin tuan besar akan mempertimbangkan. Tapi, tuan muda harus setuju dengan persyaratannya.]Adrian mendengus dingin. Setelah membaca pesan itu, ia langsung membuang ponselnya ke atas sofa. "Ingin men
Saat jam kantor berakhir, Nathan beranjak dari ruangannya menuju meja kerja Rhea yang berada di ruang sebelah. Ia ingin mengajak wanita itu pulang sekaligus mendiskusikan draf yang baru. Namun, baru saja ia melangkah masuk ke dalam ruangan, Adrian tengah berdiri di samping Rhea, menunggu kekasihnya itu membereskan meja. "Kalian pulang bersama?" tanya Nathan sambil menunjuk keduanya dengan mata terperangah. Adrian tak menjawab pertanyaan Nathan, ia mendengus lalu menggandeng tangan Rhea, berjalan di depan Nathan dengan wajah angkuh. "Adrian!" panggil Nathan. Ia berlari mengejar keduanya hingga ke arah pintu lift. Rhea menoleh ke belakang, merasa tak enak, ia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan. "Aku dan Rhea akan pulang bersama." Rhea mendelik. Saat Adrian menoleh ke arahnya, ia menggelengkan kepala tanda tak tahu menahu apa yang dikatakan Nathan tadi. Adrian melirik sinis, Nathan hanya membalasnya dengan senyuman tipis yang li
Dalam waktu setengah hari, rumor itu beredar luas di seluruh divisi lantai lima. Diperkuat dengan foto dan video yang menunjukkan kedekatan Rhea dan Nathan, foto saat Rhea keluar dari dalam lift eksekutif. Saat menuju pantri, suara desas desus itu semakin terdengar jelas. Rhea yang berdiri di ambang pintu tak sengaja mendengarnya. Tangannya yang tengah memegang cangkir teh tiba-tiba mengerat, sedikit gemetar menahan kesal. "Menurut aku, Rhea itu centil. Kasihan banget Pak Adrian, pacaran sama perempuan enggak bener," ucap Vira, si penggemar gosip saingan Maya. Rhea sangat mengenalnya, dia pernah jadi saingan saat baru masuk kantor pertama kali. "Iya ih. Kok Pak Adrian mau sih? Kalau soal cantik sih, masih lebih baik Bu Olivia kemana-mana," sahut temannya yang juga sama-sama penggemar gosip. Rhea menghela napas berat. Niatnya yang ingin mengambil minuman hangat terpaksa diurungkan. Ia berbalik arah, kembali ke ruangan barunya. Di sudut ruangan
Keesokan harinya, Rhea masuk kerja seperti biasa. Hari ini Adrian tak menjemputnya karena izin cuti setengah hari untuk memantau pembuatan aplikasi di sebuah perusahaan startup. Rhea yang terbiasa dijemput, merasa aneh jika harus berangkat sendiri ke kantor. "Rhea!" teriak Maya yang terdengar dari kejauhan. Rhea menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang. Sahabatnya itu melambaikan tangan ke arahnya. "Rhea, kamu sendiri?" "Adrian ke kantor startup Max. Katanya kembali ke kantor setelah makan siang. Kamu, sekarang sendirian?" Rhea melirik ke samping kanan dan kiri Maya. Sahabatnya itu hanya mendengus pelan lalu menarik lengan Rhea menuju lift. "Sejak kamu pindah, suasana ruangan editorial terasa aneh," bisik Maya serius. Rhea mengerutkan dahinya, lalu bertanya dengan wajah penasaran. "Aneh bagaimana?" "Siska membelot. Dia sering jalan sama temennya Andini. Sekarang dia sering nyindir kamu di kantor. Terus, Andini juga pernah ngamuk
Sikap Rhea terhadap Adrian sedikit berbeda setelah mendengar kata-kata ambigu dari Nathan tadi sore. Meskipun saat ini dirinya hanyalah pacar kontrak pria itu, tapi rasa canggung tiba-tiba menyeruak. Apa benar, ada konspirasi tersirat yang melibatkan dirinya dan Adrian?"Kenapa diam saja?" tanya Adrian yang sejak tadi fokus di depan setir mobil. Rhea menoleh ke arahnya, lalu memalingkan wajahnya menatap jendela mobil. "Ada yang lagi kamu pikirkan?""Adrian, apa mungkin ada konspirasi antara Pak Baskoro dan seseorang yang ingin mengacaukan proyek ini?" Rhea mengusap ujung hidungnya, tampak berpikir keras mencari jawaban pertanyaannya sendiri. "Kamu mencurigai ada orang yang dengan sengaja membuat kamu terlihat tidak kompeten?" Rhea mengangguk. "Mungkin. Tapi ini hanya dugaan," sahut Rhea, menaikkan bahunya. "Apa ada yang mencurigakan? Nanti aku coba cari tahu."Rhea tak bisa menunjuk orang yang menurutnya mencurigakan, ia tak b
Menjelang pukul empat sore, Rhea dan Adrian tiba di kantor setelah menghabiskan hampir satu jam lebih duduk berbagi cerita di dalam mobil sambil menghabiskan lima bungkus roti dan dua gelas botol kopi dingin. Adrian dengan wajah tak bersalahnya, berjalan angkuh di sepanjang koridor lantai lima memamerkan genggaman tangannya di tangan mungil Rhea. Semua mata memandang, termasuk Andini yang menatapnya dengan tatapan sinis. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan milik Nathan untuk membicarakan hasil pertemuan tadi pagi. Baru dua langkah Adrian menginjakkan kaki di dalam ruangan Nathan, sebuah sindiran halus menyambutnya. "Tanggung, satu jam lagi pulang," sindir Nathan. Rhea yang berdiri di belakang Adrian terlihat canggung, wajahnya memerah menahan malu. Hanya saja, ini semua murni bukan kesalahannya. Adrian yang terus menunda kepulangan mereka ke kantor. Alasannya, malas bertemu dengan Nathan dan Pak Bram. "Tadinya memang mau langsung pu







