Home / Romansa / Sayang, Ini Hanya Kontrak / Undangan Tak Terduga

Share

Undangan Tak Terduga

Author: Rachel Bee
last update publish date: 2026-08-06 19:32:24

Kehadiran Pak Bram rupanya membuat divisi editorial seperti kejatuhan bom. Aura mengintimidasi dari sosok pria paruh baya itu berhasil membuat seluruh ruangan mendadak sangat sibuk. Mata mereka berpura-pura terpaku pada layar monitor padahal telinga mereka berdiri tegang.

Olivia melangkah maju. Dadanya naik turun menahan marah. Tangannya menunjuk ke arah Rhea yang masih berdiri kaku di samping Adrian.

"Pasti dia yang maksa kamu kan, Mas?" suaranya melengking tinggi membuat seisi ruangan hening mencekam. "Apa kurangnya aku? Aku lebih cantik, kaya, anak pemilik perusahaan pula. Dia itu siapa dibanding aku?"

Rhea menarik napas panjang. Ujung kuku Rhea menusuk telapak tangannya sendiri. Selama dua tahun bekerja, baru kali ini dirinya dipermalukan di depan divisi seperti ini.

Tanpa berkata apapun, Adrian melangkah satu garis di depan Rhea, memasang tubuh tingginya untuk melindungi wanita itu dari jangkauan Olivia. Ini baru pertama kalinya Adrian bertindak refleks seperti itu dan Olivia makin tampak panas melihatnya.

"Jaga sikap kamu, Olivia," tegur Pak Bram. Kini tatapannya beralih pada sosok Adrian yang berdiri kaku di depan Rhea. "Saya butuh penjelasan kamu, Adrian. Saya juga tidak mencampuri urusan pribadi bawahan. Tapi saya tidak menoleransi hubungan yang mengganggu profesionalisme. Bisa kamu jamin itu tidak terjadi?"

Ruangan divisi editorial kembali membeku. Dari balik kaca jendela yang mengarah ke koridor, para karyawan berlalu-lalang tanpa henti mulai melambatkan langkah, mereka penasaran dengan suasana di dalam ruangan.

Adrian melepas sejenak genggaman tangannya pada Rhea. Rahang tegas Adrian terlihat menegang, tapi anehnya pria itu masih tetap tenang saat bos besar masih menatapnya tajam menunggu jawaban.

"Pak Bram, profesionalisme saya masih tetap sama. Saya bisa menjaminnya. Hubungan kami tidak akan mempengaruhi keputusan maupun pekerjaan," ujar Adrian dengan suara tegas dan mantap.

"Tapi aku tidak terima! Bukannya Mas Adrian tidak mau pacaran sama teman kantor?" tolak Olivia histeris yang tak terima melihat pujaan hatinya memiliki kekasih.

"Itu hanya untuk menghindari rumor yang tidak enak didengar sebelumnya. Tapi sekarang situasinya berbeda," jawab Adrian tenang.

Jawaban itu sukses membuat mata Rhea terbelalak dari punggung Adrian. Akting yang keren, batin Rhea.

"Tapi dia dekat sama Mas Adrian hanya untuk cari perhatian. Sok cantik pula!" suara histeris Olivia terdengar hingga ke luar ruangan.

Rhea mengepalkan tangannya di balik punggung Adrian. Hatinya terasa sakit oleh ucapan kasar anak bos. Menurutnya, selama ini kinerjanya cukup bagus. Wajahnya pun cantik dan pandai merawat diri serta cara bergaulnya tidak menyimpang.

'Apa yang salahku? Kenapa semua orang selalu menilaiku hanya dari gosip?' batin Rhea. Tanpa sadar, ia mengusap rasa panas di pipinya dengan tangannya.

Mengira Rhea menangis diam-diam, Adrian menarik tangannya lalu menggenggamnya erat. Mata Rhea berkedip polos seperti anak kecil.

"Ada banyak hal yang berbeda dari Rhea. Hanya saya yang tahu," ujar Adrian datar, menatap mata Rhea tanpa ragu.

Rhea melirik dari ujung matanya lalu berkata dalam hati, "Tatapan itu terlalu meyakinkan."

Sesaat Rhea sendiri hampir lupa kalau hubungan mereka hanyalah sandiwara.

Karena tak ingin dianggap sebagai orang yang selalu 'cari perhatian', Rhea melangkah keluar dari punggung Adrian, berdiri sejajar dengan pria itu. Ia menatap Olivia dan Pak Bram dengan kepala tegak dan senyum manisnya.

"Kinerja saya di divisi editorial cukup memuaskan. Walaupun ini ranah pribadi, saya bisa memastikan hubungan kami berdua tidak akan mengganggu profesionalisme kerja di kedua divisi," ujar Rhea dengan suara yang tak kalah tegas dengan Adrian.

Pak Bram menyipitkan matanya, dahinya berkerut tak nyaman. Ia mengamati Rhea dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. "Bagus kalau begitu," kata Pak Bram dingin. Matanya kini beralih pada Adrian kembali. "Kalau begitu, saya undang kalian berdua untuk ikut gala dinner ulang tahun perusahaan. Kalian saya undang sebagai tamu kehormatan. Bagaimana?"

Mata bulat Rhea terbelalak, begitu pula dengan Adrian. Keduanya saling beradu pandang, masing-masing mengirimkan sinyal tanda bahaya.

"Maaf Pak Bram, apa tidak terlalu mencolok nantinya. Kan biasanya kalau ulang tahun perusahaan, yang menghadiri adalah para atasan. Tapi kami—"

"Tidak masalah," potong Pak Bram. "Saya akan rekomendasikan kalian sebagai tamu khusus." Pak Bram tersenyum tipis, senyum yang sarat akan jebakan.

"Pa, tapi Mas Adrian—"

Pak Bram memberi kode pada Olivia untuk tetap diam. "Kalau begitu, saya ingin lihat sendiri hubungan kalian. Semoga kalian tidak akan mengecewakan saya."

"Pak Bram ini kejam. Apa nanti akan terjadi sesuatu di sana?" batin Rhea dalam hati.

Baru saja Rhea menarik napas untuk bicara, Adrian lebih dulu menjawab instruksi Pak Bram. "Baik, Pak. Kami akan datang."

"Saya tunggu kalian berdua."

Pak Bram berbalik pergi meninggalkan ruangan divisi editorial, auranya masih menyisakan ketegangan layaknya perang dunia. Olivia terlihat kesal, ia terus menghentakkan kakinya mengikuti ayahnya lalu menghilang di belokan koridor.

Begitu pintu tertutup, helaan napas lega terdengar memenuhi ruangan.

Rhea menoleh perlahan pada Adrian, raut wajahnya meminta penjelasan atas jawabannya tadi. Wajah pria itu kembali kaku, menatap datar pada Rhea.

Adrian menunduk lalu berbisik pelan di telinga Rhea agar tidak terdengar oleh karyawan lain. "Kita harus datang. Ini keputusan antara hidup dan mati."

"Menurut kamu, kali ini kita bisa selamat?" bisik Rhea.

"Semua tergantung akting kita berdua," jawab Adrian dingin.

"Lalu?"

"Gala dinner selalu dihadiri keluarga besar Pak Bram." Adrian terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya. "Setahu aku, mereka sangat suka menjodohkan orang."

Begitu Pak Bram dipastikan bayangannya telah menghilang, tiba-tiba Maya menjerit sambil memukul mejanya. "Pak Adrian ternyata sudah punya pacar!"

Siska langsung menyeret kursinya mendekati Rhea yang tersenyum malu, lalu bertanya padanya, "Kalian sejak kapan pacaran? Siapa yang nembak duluan?"

Di sisi lain ruangan, Adrian berjalan cepat menuju meja kerjanya seolah tak mendengarkan keributan apa pun.

Dalam hati ia bergumam, "Aku lebih baik memperbaiki server yang rusak daripada meladeni pertanyaan para pencari gosip itu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Gosip Baru

    "Rhea!" panggil Nathan dari meja kerjanya. "Kesini sebentar."Rhea baru saja berniat ingin pulang, tiba-tiba saja Nathan memanggilnya. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?'"Tawaran tempo hari masih berlaku. Kamu enggak mau jadi sekretaris saya?" tanya Nathan ramah. Seketika Rhea teringat dengan perbincangan di depan lift minggu lalu. Rhea diam, mencari jawabannya di dalam kepala. "Saya lagi sibuk. Selain urus proyek, ada pekerjaan lain yang mengharuskan saya memiliki sekretaris.""Maaf Pak, saya menolak. Sesuai dengan jawaban saya saat itu," jawab Rhea tegas. Nathan menghela napas kasar. Ia sudah yakin kalau Rhea pasti menolaknya. Wanita ini memang tegas dengan tindakannya. "Rhea, kamu tidak mau jenjang karir lebih tinggi? Kamu selamanya mau jadi editor di sini?" Nathan sengaja memojokkan Rhea. Ingin tahu reaksi wanita itu. Dalam hati diam-diam ia merasa salut. Jarang sekali ada staf yang menolak dipindahkan lewat jalur pribadi seperti ini. "Saya sangat ingin jenjang karir yang lebih b

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Rencana Jahat Dimulai

    Di tempat terpisah, Andini yang dihubungi oleh Anna mendadak tegang saat wanita itu mengeluarkan amplop tebal. Ia tiba-tiba menegakkan punggungnya, lalu sebuah ide licik melintas di kepalanya. "Saya mau kamu buat Rhea dicurigai oleh Adrian dan timnya yang lain," ujar Anna yang disambut seringai tipis dari Andini. "Tapi Pak Adrian terlalu sulit didekati, Rhea pun sama. Bagaimana caranya menjatuhkan wanita itu?" tanya Andini yang masih bingung dengan permintaan Anna. Ia memang memiliki sejuta ide licik, tapi terlihat sulit untuk dilakukan. Anna menepuk amplop yang dibawa olehnya. "Di sini ada lima juta. Saya mau kamu menjebak Rhea, bagaimana pun caranya. Yang paling cepat sih, kamu bisa fitnah dia melakukan kesalahan fatal."Mata Andini berbinar. Ia mengangguk paham dengan maksud wanita yang duduk di hadapannya kini. "Saya mengerti."Anna merendahkan kepalanya, berbisik dengan suara pelan. "Buat seolah-olah Rhea adalah seorang pengkhianat. Perlihatkan kejahatan dia yang ingin menjual

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Membahas Kerja Sama

    Di dalam mobil yang sedang melaju menuju apartemennya selepas mengantar Rhea kembali ke rumah kostnya, ponsel Adrian bergetar. Adrian melirik nama Evelyn yang tertera di layar sebelum mengangkatnya. "Ada apa, Evelyn?" tanya Adrian santai sambil tetap fokus mengemudi. "Adrian, kamu hati-hati dengan Anna," suara Evelyn terdengar serius dari seberang telpon. "Baru saja Anna dari sini, dia mengamuk dan mengungkit masa lalu aku dan sempat mengancam hubunganmu dengan Rhea. Dia sepertinya akan bertindak nekat kali ini." Adrian menyipitkan matanya tajam, cengkeramannya pada kemudi mendadak mengencang. "Dia mengancam Rhea?" "Dari kata-katanya, aku tahu dia akan mengancam hubungan kalian. Kamu tahu kan kalau dia itu sering mengancam dan berbuat nekat? Kalau bukan karena bantuan kakek, kamu dan dia—" "Evelyn, itu masa lalu. Kita berempat sudah saling berdamai dan melupakannya. Kalau dia sampai nekat lagi kali ini, jangan salahkan aku yang tidak akan mentoleransi perbuatanya," tegas Adrian d

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Masa Lalu Terungkit Lagi

    Hari itu, cuaca cerah menyelimuti Jakarta yang masih riuh dengan kendaraan berlalu lalang di jalan raya. Dengan emosi kuat dan amarah yang sebentar lagi meluap, Anna memacu mobilnya menuju apartemen Evelyn. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk dan meluapkan seluruh kekesalannya tanpa basa-basi. "Kak Evelyn! Apa kamu tahu tentang hubungan Adrian dengan wanita bernama Rhea?" seru Anna sambil melempar tas mewahnya ke sofa. "Dia bahkan membawa wanita itu ke sebuah restoran mewah hanya untuk merayakan ulang tahunnya. Dia belum pernah melakukan hal itu padaku dulu."Tanpa sadar Anna berteriak, Nana yang tengah menonton film kesukaannya langsung menyingkir dan masuk ke kamarnya karena ketakutan.Evelyn yang sedang menyesap teh hangat di meja makan hanya mendengarkan dengan tenang. Ia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah terkejut atau kepanikan yang diharapkan Anna. Dengan santai, Evelyn meletakkan cangkirnya. "Dari mana kamu tahu? Lalu masalahny

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Ulang Tahun Bersama Adrian

    Malam minggu pun tiba. Adrian menjemput Rhea dengan setelan jas rapi tanpa dasi, tampak sangat menawan. Rhea sendiri tampil anggun mengenakan gaun simpel berwarna hitam yang mempertegas kesan elegan. Sepanjang jalan menuju restoran, Rhea tampak sangat bersemangat. Bibirnya terus bersenandung pelan, persis seperti gadis kecil yang baru pertama kali melihat pemandangan jalan. "Susah enggak dapat mejanya?" Adrian menggelengkan kepalanya. "Kamu punya koneksi orang dalam? Kok bisa, dapat tempat di akhir pekan?"Adrian hanya terkekeh pelan, matanya fokus mengamati jalan. "Itu rahasia. Yang penting malam ini kamu bisa makan dengan nyaman di sana."Saat tiba di lokasi, suasana di sekitar restoran cukup ramai pelanggan. Seorang petugas parkir menghampiri Adrian dan menyapanya tanpa perlu bertanya. Di depan pintu masuk, manajer restoran datang menyambut mereka dengan gestur yang sangat formal."Selamat malam Pak Adrian. Area rooftop sudah disiapkan sesuai dengan pesanan anda," ujar manajer sam

  • Sayang, Ini Hanya Kontrak    Rencana Yang Gagal

    Anna masih terlalu bangga dengan pencapaiannya yang bisa membuat keadaan internal Kyama Group sedikit kacau beberapa hari ke belakang. Dengan bantuan Olivia, ia berhasil membuat manajer divisi editorial mengubah draf rancangan naskah yang akan diunggah ke dalam aplikasi. Namun, kebanggaan itu tak berlangsung lama. Setelah kemarin mendapat kabar ada rapat internal tim utama, hari ini divisi marketing Kyama Group menyampaikan surat penawaran kontrak kerja sama dengan format dan draf baru yang telah direvisi. Wajah Anna yang kemarin penuh dengan senyuman, kini berubah datar. Tampak awan gemuruh di atas kepalanya yang siap menyemburkan petir hujan ke sekitarnya. "Apa maksudnya ini?" Anna murka. Meja kerja dibanting kasar hingga suaranya terdengar ke ruangan sebelah. Para staf yang kebetulan lewat di depan ruangannya seketika menoleh lalu pergi terburu-buru, takut terkena imbasnya. Tak lama kemudian, asisten pribadi Anna masuk memberikan dokumen ce

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status