LOGINSejak ancaman Pak Bram tadi pagi, Rhea tak berhasil memejamkan matanya setelah pulang ke apartemen. Ia tak mungkin menghancurkan karir yang telah dibangunnya dalam sekejap mata hanya karena tindakan bodoh dirinya yang mengajak Adrian bekerja sama.
Kalau saja Olivia tidak datang pagi tadi, semuanya tak akan serumit ini. Maka dari itu, demi mempertahankan reputasi serta posisinya di kantor, Rhea nekat bertemu dengan Adrian di sebuah kafe setelah pulang kerja. Semua ini demi masa depan karirnya, kalau tidak, buat apa ia rela duduk bermanis-manis di depan pria muka datar itu. "Pak Adrian, selanjutnya punya rencana apa?" tanya Rhea sembari menyeruput minumannya. Adrian melirik dari sudut kacamatanya, mengembuskan napasnya sedikit kesal. "Jangan panggil pak," potong Adrian. Mata Rhea berkedip-kedip. "Kenapa memangnya?" Sambil menyerahkan lembaran dokumen berisi draf kontrak terbaru, Adrian menjawabnya dengan tenang. "Pasangan tidak memanggil Pak." "Oh, begitu? Baik, Adrian," sahut Rhea dengan senyuman tipis sambil menerima lembaran draf itu lalu membacanya satu persatu. Ia mengerucutkan bibirnya lalu mengangguk. "Menurut kamu, apa mungkin Pak Bram akan mengikuti kita?" tanya Rhea yang kini sudah tak memanggil 'Pak' lagi pada Adrian. "Tak ada yang bisa luput dari matanya. Lebih baik berjaga-jaga. Terutama dari mata Olivia," jawab Adrian yang penuh analisis tajam. Ia juga menjelaskan langkah-langkah yang harus diambil jika mengalami kejadian darurat di pesta itu. "Untuk itu, kita harus fokus pada detail-detail kecil. Misalkan gestur, mata dan juga—" Rhea tersenyum menjeda kalimatnya. Adrian mengerutkan dahinya lalu bertanya, "Sebutkan detailnya." "Gaun dan jas yang akan kita pakai. Kita harus sesuaikan detail bajunya seperti apa," ujar Rhea sambil memperlihatkan gaun warna merah marun di ponselnya pada Adrian. "Aku mau pakai gaun itu. Bagaimana?" Melihat sekilas, Adrian menganggukkan kepalanya cepat. "Tak masalah. Jas milikku berwarna hitam." "Lalu untuk detail lainnya. Misalnya—" Rhea kembali menjeda kalimatnya. Jari telunjuknya disatukan lalu membentuk simpul saling mengait. Adrian hanya meliriknya sekilas. "—gandengan tangan." "Baca lagi dalam draf. Kita hanya bergandengan tangan atau saling memuji kalau ada target mendekat." "Masalahnya, tangan kamu kaku. Pegang tangan aku kayak pegang kayu. Pak Bram bisa curiga," tegas Rhea. Adrian menunduk sedikit, menatap tangannya yang digeletakkan di atas meja. "Lalu, harus bagaimana?" Rhea menarik tangan Adrian tiba-tiba, Adrian refleks menariknya lagi. Sedikit ragu-ragu, akhirnya Adrian mengulurkan kedua tangannya. Telapak tangan Adrian terasa hangat tapi juga kaku. Itulah yang dirasakan oleh Rhea saat menggenggamnya. Jantung Adrian berdegup kencang saat itu. Napasnya terasa berhenti. Sejenak, telinganya tak bisa mendengar apa saja yang telah diucapkan oleh Rhea. Jiwanya seakan lepas saat matanya terus tertuju pada sosok wanita cantik di hadapannya kini. "Tangan kamu tidak boleh kaku. Tenang saja, aku tidak akan menggigit," ujar Rhea sambil memamerkan senyum manisnya. Adrian menarik napas pendek. Tatapannya masih tertuju pada sosok Rhea yang masih menggenggam tangannya, saling mengunci dengan jemarinya. Untuk pertama kalinya, napas Adrian terdengar tak teratur. "Seperti ini?" suara Adrian terdengar rendah. Ia mencoba mengepalkan jemarinya, membalas genggaman tangan Rhea. "Iya, seperti ini. Tapi jangan terlalu kencang," ujar Rhea tersenyum tipis. "Terasa bedanya, kan? Ini baru yang namanya pasangan." Mata Adrian terpaku pada genggaman tangan itu. Ia tak segera melepasnya, tapi tatapannya justru beralih pada wajah Rhea yang masih tersenyum manis. Dua lesung pipi terlihat jelas, membuat debaran di jantungnya semakin kencang. Anehnya, ia tidak buru-buru mengalihkan pandangannya. Ting! Suara notifikasi pesan dari ponsel Adrian membuyarkan lamunan, keduanya tersentak kaget. Rhea dengan cepat menarik tangannya lalu berdeham canggung. Sementara Adrian melirik dari ujung matanya, melihat pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Setelah membacanya sekilas, ia langsung mematikan layar ponselnya. Wajahnya terlihat dingin, namun ada rona merah tipis di ujung telinganya yang tak bisa ia sembunyikan dari Rhea. "Masalah kantor?" tanya Rhea penasaran. Adrian mengangguk lalu membalas singkat, "Ya." Rhea mengerucutkan bibirnya, bergumam dalam hati, "Ow, dari kantor?" "Ada satu lagi," ujar Adrian cepat. Rhea yang tengah menyeruput minumannya menoleh ke arah pria itu. "Lalu, bagaimana dengan cerita tentang hubungan kita? Kamu sudah siapkan?" Rhea tersenyum tipis, menikmati kepanikan kecil yang ditunjukkan oleh Adrian. "Bilang saja, kita saling kenal karena sering berdebat di meja rapat lalu berlanjut pulang bersama dan saling suka." Adrian menatap Rhea dengan alis terangkat. "Mana ada yang percaya? Itu cerita klise." "Justru yang seperti ini paling minim menimbulkan celah," balas Rhea sambil menggigit kue di piringnya. "Lalu, apa yang kamu persiapkan kalau Pak Bram suruh kita dansa?" "Dansa?" Adrian membelalakkan matanya. "Bilang saja kita tidak bisa dansa." Rhea terkekeh pelan, lalu menyandarkan dagunya di atas telapak tangan. "Justru itu, kita harus memberi poin lebih agar kecurigaan itu hilang. Bagaimana?" Adrian tiba-tiba berdiri dari kursinya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia mengulurkan tangannya ke arah Rhea di tengah kafe yang mulai sepi. Rhea mengerutkan dahinya, bingung. "Maksudnya?" "Berdiri," bisik Adrian rendah, matanya menatap tajam ke arah Rhea. "Kita coba sekarang. Dan lihat siapa yang sebenarnya akan menginjak kaki siapa di lantai dansa nanti.""Rhea!" panggil Nathan dari meja kerjanya. "Kesini sebentar."Rhea baru saja berniat ingin pulang, tiba-tiba saja Nathan memanggilnya. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?'"Tawaran tempo hari masih berlaku. Kamu enggak mau jadi sekretaris saya?" tanya Nathan ramah. Seketika Rhea teringat dengan perbincangan di depan lift minggu lalu. Rhea diam, mencari jawabannya di dalam kepala. "Saya lagi sibuk. Selain urus proyek, ada pekerjaan lain yang mengharuskan saya memiliki sekretaris.""Maaf Pak, saya menolak. Sesuai dengan jawaban saya saat itu," jawab Rhea tegas. Nathan menghela napas kasar. Ia sudah yakin kalau Rhea pasti menolaknya. Wanita ini memang tegas dengan tindakannya. "Rhea, kamu tidak mau jenjang karir lebih tinggi? Kamu selamanya mau jadi editor di sini?" Nathan sengaja memojokkan Rhea. Ingin tahu reaksi wanita itu. Dalam hati diam-diam ia merasa salut. Jarang sekali ada staf yang menolak dipindahkan lewat jalur pribadi seperti ini. "Saya sangat ingin jenjang karir yang lebih b
Di tempat terpisah, Andini yang dihubungi oleh Anna mendadak tegang saat wanita itu mengeluarkan amplop tebal. Ia tiba-tiba menegakkan punggungnya, lalu sebuah ide licik melintas di kepalanya. "Saya mau kamu buat Rhea dicurigai oleh Adrian dan timnya yang lain," ujar Anna yang disambut seringai tipis dari Andini. "Tapi Pak Adrian terlalu sulit didekati, Rhea pun sama. Bagaimana caranya menjatuhkan wanita itu?" tanya Andini yang masih bingung dengan permintaan Anna. Ia memang memiliki sejuta ide licik, tapi terlihat sulit untuk dilakukan. Anna menepuk amplop yang dibawa olehnya. "Di sini ada lima juta. Saya mau kamu menjebak Rhea, bagaimana pun caranya. Yang paling cepat sih, kamu bisa fitnah dia melakukan kesalahan fatal."Mata Andini berbinar. Ia mengangguk paham dengan maksud wanita yang duduk di hadapannya kini. "Saya mengerti."Anna merendahkan kepalanya, berbisik dengan suara pelan. "Buat seolah-olah Rhea adalah seorang pengkhianat. Perlihatkan kejahatan dia yang ingin menjual
Di dalam mobil yang sedang melaju menuju apartemennya selepas mengantar Rhea kembali ke rumah kostnya, ponsel Adrian bergetar. Adrian melirik nama Evelyn yang tertera di layar sebelum mengangkatnya. "Ada apa, Evelyn?" tanya Adrian santai sambil tetap fokus mengemudi. "Adrian, kamu hati-hati dengan Anna," suara Evelyn terdengar serius dari seberang telpon. "Baru saja Anna dari sini, dia mengamuk dan mengungkit masa lalu aku dan sempat mengancam hubunganmu dengan Rhea. Dia sepertinya akan bertindak nekat kali ini." Adrian menyipitkan matanya tajam, cengkeramannya pada kemudi mendadak mengencang. "Dia mengancam Rhea?" "Dari kata-katanya, aku tahu dia akan mengancam hubungan kalian. Kamu tahu kan kalau dia itu sering mengancam dan berbuat nekat? Kalau bukan karena bantuan kakek, kamu dan dia—" "Evelyn, itu masa lalu. Kita berempat sudah saling berdamai dan melupakannya. Kalau dia sampai nekat lagi kali ini, jangan salahkan aku yang tidak akan mentoleransi perbuatanya," tegas Adrian d
Hari itu, cuaca cerah menyelimuti Jakarta yang masih riuh dengan kendaraan berlalu lalang di jalan raya. Dengan emosi kuat dan amarah yang sebentar lagi meluap, Anna memacu mobilnya menuju apartemen Evelyn. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk dan meluapkan seluruh kekesalannya tanpa basa-basi. "Kak Evelyn! Apa kamu tahu tentang hubungan Adrian dengan wanita bernama Rhea?" seru Anna sambil melempar tas mewahnya ke sofa. "Dia bahkan membawa wanita itu ke sebuah restoran mewah hanya untuk merayakan ulang tahunnya. Dia belum pernah melakukan hal itu padaku dulu."Tanpa sadar Anna berteriak, Nana yang tengah menonton film kesukaannya langsung menyingkir dan masuk ke kamarnya karena ketakutan.Evelyn yang sedang menyesap teh hangat di meja makan hanya mendengarkan dengan tenang. Ia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah terkejut atau kepanikan yang diharapkan Anna. Dengan santai, Evelyn meletakkan cangkirnya. "Dari mana kamu tahu? Lalu masalahny
Malam minggu pun tiba. Adrian menjemput Rhea dengan setelan jas rapi tanpa dasi, tampak sangat menawan. Rhea sendiri tampil anggun mengenakan gaun simpel berwarna hitam yang mempertegas kesan elegan. Sepanjang jalan menuju restoran, Rhea tampak sangat bersemangat. Bibirnya terus bersenandung pelan, persis seperti gadis kecil yang baru pertama kali melihat pemandangan jalan. "Susah enggak dapat mejanya?" Adrian menggelengkan kepalanya. "Kamu punya koneksi orang dalam? Kok bisa, dapat tempat di akhir pekan?"Adrian hanya terkekeh pelan, matanya fokus mengamati jalan. "Itu rahasia. Yang penting malam ini kamu bisa makan dengan nyaman di sana."Saat tiba di lokasi, suasana di sekitar restoran cukup ramai pelanggan. Seorang petugas parkir menghampiri Adrian dan menyapanya tanpa perlu bertanya. Di depan pintu masuk, manajer restoran datang menyambut mereka dengan gestur yang sangat formal."Selamat malam Pak Adrian. Area rooftop sudah disiapkan sesuai dengan pesanan anda," ujar manajer sam
Anna masih terlalu bangga dengan pencapaiannya yang bisa membuat keadaan internal Kyama Group sedikit kacau beberapa hari ke belakang. Dengan bantuan Olivia, ia berhasil membuat manajer divisi editorial mengubah draf rancangan naskah yang akan diunggah ke dalam aplikasi. Namun, kebanggaan itu tak berlangsung lama. Setelah kemarin mendapat kabar ada rapat internal tim utama, hari ini divisi marketing Kyama Group menyampaikan surat penawaran kontrak kerja sama dengan format dan draf baru yang telah direvisi. Wajah Anna yang kemarin penuh dengan senyuman, kini berubah datar. Tampak awan gemuruh di atas kepalanya yang siap menyemburkan petir hujan ke sekitarnya. "Apa maksudnya ini?" Anna murka. Meja kerja dibanting kasar hingga suaranya terdengar ke ruangan sebelah. Para staf yang kebetulan lewat di depan ruangannya seketika menoleh lalu pergi terburu-buru, takut terkena imbasnya. Tak lama kemudian, asisten pribadi Anna masuk memberikan dokumen ce







