Share

Jerman

Aruna menarik selimut sampai ke dada Jeso yang tertidur menghadapnya. Lelaki itu sedari tadi masih memeluk pinggangnya, bahkan matanya telah tertutup dan mendengkur halus. Jika dilihat-lihat wajah Jeso saat tidur sangat tampan, ah Aruna terpaku. Aruna tergerak mengelus tulang hidung Jeso dengan jari telunjuknya.

Bukannya terusik, Jeso semakin merapatkan dirinya ke Aruna. Aruna tersenyum tipis dan mengelus lembut rahang tegas Jeso. Tunggu, lelaki ini sudah berapa lama tidak mencukur bulu halusnya. Tiba-tiba tangan Aruna diarahkan Jeso ke puncak kepalanya.

Aruna cukup peka maksudnya dan pada akhirnya ia mengelus rambut Jeso. Ah, besok berangkat ke Jerman pagi-pagi dan ini sudah jam 1 dini hari. Tanpa Aruna sadari ia terlelap dengan sendirinya. Merasa ada sesuatu yang berada di atas kepalanya, Jeso membuka matanya. 

Listrik sudah menyala beberapa menit sebelum Jeso bangun. Jeso mendongak ke atas, Aruna tertidur di atas kepalanya. Akhirnya Jeso memindahkan dan memposisikan Aruna agar ia tidur dengan nyaman. Jeso menatap Aruna yang terlelap dan menarik selimut sampai ke dada Aruna. 

Cupp...

Jeso mengecup lembut kening Aruna dan memeluk pinggang Aruna, serta menyusupkan wajahnya ke leher Aruna. Aruna memiringkan badannya dan memeluk Jeso. 

***

Pukul 05.00, Aruna terbangun. Melihat Jeso yang masih terlelap, perlahan-lahan Aruna memindahkan lengannya yang di pinggangnya. Lalu, pergi ke kamar mandi dan menunaikan sholat Shubuh. Setelah selesai sholat, ia menyiapkan sarapan dan pakaian untuk berangkat ke Jerman. 

Selesai mandi dan menata diri, Aruna membangunkan Jose pelan-pelan. Jujur ia tidak ingin mengganggu lelaki itu tidur, tapi ini sudah 05.30 dan mereka harus berangkat pukul 06.00. 

"Je, bangun." Aruna menepuk pelan pundak Jeso. Akan tetapi, lelaki itu masih terlelap. 

Aruna mendekat dan hendak berbisik, tapi tiba-tiba Jeso berbalik sehingga bibirnya mencium pangkal hidung Jeso. Untung pangkal hidung. Aruna langsung menegapkan badannya dan merapikan rambutnya yang tidak berantakan. Jeso membuka matanya perlahan, mencoba bersikap biasanya. Padahal sejujurnya ia terkejut saat bibir mungil itu mengecup pangkal hidungnya. 

"Kenapa?" tanya Jeso dengan suara serak khas bangun tidur. 

"30 menit lagi jam 6." Aruna beranjak dari duduknya dan keluar kamar. 

Jeso terkekeh kecil. Ia bisa melihat wajah Aruna yang memerah malu. 

Setelah sarapan, mereka berangkat menuju bandara. Sesampainya di bandara, Jeso langsung menggenggam jemari Aruna dan melangkah untuk segera take off. 

Jeso duduk di samping kanan Aruna. Aruna yang tengah mendengarkan lagu di earphone menoleh. 

"Snack?" tanya Jeso. Aruna menggeleng dan kembali mendengarkan lagu. 

Jeso meraih salah satu earphone Aruna, awalnya ia terkejut. Namun, setelahnya ia bersikap normal. 

***

17 jam di perjalanan, kini mereka duduk di mobil menuju hotel. Aruna menatap takjub sepanjang perjalanan. Suasana malam Jerman benar-benar menyita perhatiannya. Ini juga adalah impiannya untuk mengelilingi dunia, tapi Tuhan malah menakdirkannya menikah duluan.

Melihat Aruna yang menggemaskan itu, Jeso merapikan rambut Aruna yang keluar dari ikatannya. Aruna menoleh dan menaikkan alisnya. 

"Biasa aja kali lihatnya," ucap Jeso. 

"Mata-mata gue, terserah gue lah," ketus Aruna dan kembali menatap kaca jendela mobil. Jeso terkekeh kecil. 

Mobil berhenti di depan sebuah hotel ternama di Jerman. The Ritz-Carlton, benar-benar menyita perhatian Aruna. Mereka menuju ke kamar VVIP. Memesan satu kamar? Tentu saja.

Sesampainya di depan kamar, Aruna berhenti melangkah dan berdiam mematung. Jeso yang merasa ada sesuatu berbalik dan mengerutkan keningnya bingung.

"Masuk," titah Jeso.

"Sekamar?" tanya Aruna. 

"Sekandang. Ya iyalah sekamar. Kenapa? Ngga mau? Toh juga kemarin-kemarin satu ranjang." 

Aruna menggembungkan pipinya dan memasuki kamar malas. Jeso semakin dibuat bingung dengan Aruna. Apa salahnya sekamar, toh mereka suami-istri. 

"Okey Aruna, ini udah malam. Ngga usah bad mood dan ayo kita tidur," batin Aruna. Ia beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. 

Jeso yang selesai mengecek jadwal untuk besok langsung membanting tubuhnya ke kasur. Tak lama ia terlelap dengan baju yang belum terganti. Aruna yang selesai membersihkan diri, menghembuskan napas jengah menatap lelaki yang tertidur tidak dengan semestinya posisi tidur. Setelah menaruh handuk di tempatnya dan koper di sebelah lemari di sana.

Aruna berjalan mendekat ke arah Jeso dan memposisikan Jeso ke posisi yang seharusnya. Posisi yang serong kini berganti lurus. Aruna membuka jaket kulit Jeso perlahan dan membuka kancing kemeja atas Jeso, serta melonggarkan ikat pinggang Jeso. Tak lupa melepas sepatu Jeso. 

Kemudian ia mengambil bantal di samping Jeso dan merebahkan dirinya di sofa yang lebih lebar dari sofa di apartemen Jeso. Keduanya terlelap dengan tenang sentosa.

***

Drttt...

Aruna meraba meja di depannya. Ia membuka perlahan matanya, walaupun ia masih mengantuk. Alarmnya berbunyi, tapi bukannya bangun Aruna justru mematikan alarm dan kembali tidur. Sampai akhirnya tanpa mereka sadari jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. 

Aruna bangun dan mengecek jam di ponselnya. Ia melotot sempurna dan langsung membangunkan Jeso.

"Je bangun Je," ucap Aruna. 

"Je ini udah siang, kamu ngga meeting?" Aruna mengguncangkan lengan Jeso. 

Sang empu hanya berdehem dan masih menutup matanya. "Ck, Je."

Jeso membalikkan tubuhnya menghadap Aruna dan perlahan membuka matanya. 

"Ini udah siang loh," ucap Aruna. 

"Udah tahu," sahut Jeso.

"Ya kalau udㅡ"

Jeso menarik Aruna ke sisi kanannya, sehingga membuatnya berada di pelukannya. 

"Jeso!" kesal Aruna.

"Meeting gue masih jam 2 siang dan gue masih ngantuk."

"Okay, tapi gue mau mandi."

"Ya udah mandi tinggal mandi 'kan."

"Masalahnya sekarang lo meluk gue."

Jeso membuka matanya dan menatap Aruna lekat. "Mandi bareng," ucap Jeso dan menaikkan satu alisnya menggoda.

"In your dream!" Aruna mencoba berdiri dan setelah lepas dari sang singa ia masuk ke kamar mandi. Jeso kembali ke alam mimpinya. 

Sembari menunggu Jeso bangun, Aruna keluar diam-diam. Ia ingin melihat Jerman. Baru saja menutup pintu, Aruna dikejutkan oleh seorang lelaki. Tak lain adalah sekretaris Jeso. Namanya Fakrus Lesmana, akrab disapa Fakrus. 

Ia sudah bekerja cukup lama dengan Jeso, terbilang sejak Jeso merintis karir. Tak ayal jika lelaki berusia 28 tahun itu sangat mengenal bos-nya. Fakrus sudah menikah dan dikaruniai dua anak kembar perempuan. 

"Nyonya mau kemana?" tanya Fakrus sopan.

"Ck, dikata gue emak-emak manggilnya nyonya. Panggil aja Ana."

"Tapiㅡ"

"Ana."

"Baik, Ana."

"Ngga usah terlalu formal. Biasa aja, toh aku juga bukan bos kamu."

"Tapi Anda istri bos saya."

"Terserah deh." Aruna melangkah pergi meninggalkan Fakrus yang menatapnya bingung.

Aruna turun ke lantai bawah dan mencari sepeda. Kenapa sepeda? Karena ia suka bersepeda dibanding dengan kendaraan lain. Ini juga sehat kan. 

Tak butuh waktu lama ia mendapat spot penyewaan sepeda. Aruna pun mengayuh untuk berkeliling. Aruna mengembangkan senyum bahagia.

"Bahagiaku sederhana. Menikmati apa yang sederhana, tanpa ada embel-embel kemewahan."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status