Se connecter"Permisi, Fikri ada?" Suara itu lembut. Jam 6 pagi. RSUD baru buka. Fikri yang lagi melipat sarung bawaannya Mama langsung noleh. Di pintu ruang perawatan kelas 3, berdiri Dinda. Rambutnya diikat dua, masih pakai seragam MOS putih abu-abu, tapi sudah mandi wangi. Di tangannya ada kantong buah. Apel Fuji, jeruk sunkist, anggur hijau. Buah mahal. Bukan buah pasar. "Dinda? Kok pagi-pagi?" Dinda senyum. Senyum yang di kehidupan pertama bikin Fikri langsung salah tingkah. "Aku dengar dari Kak Baim, ayah kamu kecelakaan. Aku mampir sebelum ke kampus, Fik. Tadi aku ke Hero Supermarket jam 5 pagi, beliin buah buat ayah kamu. Semoga ayah cepat sembuh ya." Satu ruangan langsung noleh. Bapak-bapak sebelah yang kakinya diperban langsung bisik-bisik, "Wah, pacarnya cantik banget." Mama yang lagi beresin termos langsung berdiri. "Ya ampun, Neng... repot-repot..." Fikri masih bengong. Di kehidupan pertama, Dinda gak pernah sepeduli ini. Dinda cuma tau minta dijemput. "Eh, sini, Din. Taruh
"Fik, Bapak haus..."Suara Bapak pelan banget, hampir ketutup suara kipas angin berisik di ruang perawatan kelas 3.Fikri yang tadinya nunduk mainin tutup botol oli samping pemberian Ayu, langsung berdiri."Iya, Pak. Sebentar ya, Pak. Fikri ambilin air."Jam 9 malam. RSUD bau karbol campur bau perban. Satu ruangan isi 6 ranjang. Di sebelah Bapak, ada bapak-bapak yang kakinya diperban karena kecelakaan motor juga. Di depannya, ada ibu-ibu yang batuk terus.Fikri ambil gelas plastik, tuang air putih dari termos yang dibawa Mama. Nyuapin pelan-pelan pakai sendok, kayak nyuapin bayi."Pelan-pelan, Pak. Jangan langsung banyak."Bapak minum, lalu ngelirik kaos Fikri."Kaos kamu... kok tulisan Karang Taruna 2008, Fik? Kaos MOS kamu kemana?"Fikri kaget. Kaos MOS putihnya tadi siang sudah kotor oli dan darah, dia ganti pakai kaos oblong pinjaman Mama yang kebesaran."Oh, ini... kaos MOS Fikri kotor, Pak. Tadi jatuh di aspal pas push-up. Mama pinjemin ini dulu."Bapak mengangguk lemah. Matanya
"Fik... Bapak... Bapak di rumah sakit..."Suara Mama pecah di telepon.Dunia Fikri langsung berhenti.Di kehidupan pertamanya, jam 12.17 hari kedua MOS ini adalah penyesalan terbesarnya. Telepon yang sama. Bapak jatuh di proyek. Helm proyek tipis yang Bapak pakai pecah. Fikri telat datang karena nunggu angkot.Bapak meninggal.Dan di kehidupan pertama itu juga, dia kehilangan Ayu. Bukan karena dia miskin. Keluarganya sederhana, cukup. Bapak punya RX-King kebanggaannya, Mama masih bisa nabung. Dia kehilangan Ayu karena dia cuek. Kurang usaha. Ngerasa Ayu bakal selalu ada di sampingnya. Sampai Ayu capek nunggu dan pergi.Tapi kali ini yang hidup di tubuh maba 18 tahun itu adalah Fikri umur 38 tahun. CEO logistik.Dia minta kembali. Bukan untuk jadi lebih kaya. Kekayaannya di masa depan sudah cukup. Dia minta kembali untuk memperbaiki effortnya. Untuk Ayu. Dan untuk hari ini.Makanya 3 hari lalu, hal pertama yang dia lakukan setelah kembali adalah belikan Bapak helm baru dan servis total
*BAB 4: 50 KALI PUSH-UP*"FIKRI! ADMINISTRASI PUBLIK! 50 KALI! SEKARANG JUGA!"Suara Kak Baim menggelegar dari pengeras suara megaphone butut di tengah lapangan upacara. Matahari jam 10 pagi tahun 2010 itu tidak ampun. Aspal lapangan sampai bergetar karena panas.Semua maba 600 orang langsung menoleh.Ayu yang ada di barisan cewek langsung menutup mulutnya. "Fikri!"Fikri menarik napas panjang. Ini jebakan. Jelas jebakan. Di kehidupannya yang pertama, Fikri adalah maba penakut yang kalau disuruh push-up 10 kali saja sudah gemetar, muntah, dan jadi bahan tertawaan seangkatan. Baim tahu itu. Baim ingin mengulanginya.Tapi Fikri yang sekarang bukan Fikri 18 tahun.Fikri adalah Fikri yang sudah 35 tahun, yang setiap pagi sebelum berangkat ke proyek, push-up 40 kali di klaster mewah demi menjaga jantungnya tidak kolaps.Tanpa banyak omong, Fikri maju ke tengah lapangan. Melepas jam tangan karetnya, memberikan pada panitia cewek di samping."Boleh pinjam matras, Kak? Aspalnya panas," kata
"Eh, Kak Fikri! Kak Fikri yang tadi pinter jawab kakak panitia itu, kan?"Suara cewek itu melengking, manis, dan sengaja dibuat manja.Ayu yang tadinya masih menyandarkan kepala di bahu Fikri di bawah pohon ketapang, langsung tegak. Jepit kupu-kupunya kembali miring.Fikri menoleh. Di depannya berdiri seorang cewek. Rambutnya dicat cokelat agak pirang, gaya yang mahal dan berani di tahun 2010. Poninya tipis ala-ala SNSD yang baru debut. Kaos MOS-nya yang harusnya kebesaran dan jelek, ia modifikasi. Lengannya digulung sampai siku, bawahnya diikat ke samping, jadi nge-press di pinggang. Tasnya bukan tas kain karung goni kayak maba lain, tapi tas tote bag bermerek dari 3Second yang lagi hits. Rok abu-abunya agak lebih pendek dari standar.Cantik. Terlalu cantik untuk ukuran MOS yang bau keringat dan debu lapangan."Oh, iya. Fikri," jawab Fikri sopan, mengangguk sedikit."Kenalin, Kak. Aku Dinda. Dinda Kirana, dari Jurusan Ilmu Komunikasi juga. Satu jurusan sama pacarnya Kakak ya?" kata
"Pegangan yang erat, Yu. Jalanan di depan agak berlubang," ujar Fikri setengah berteriak. Suaranya harus melawan deru knalpot Vespa merahnya yang bobrok dan angin jalanan Soekarno-Hatta yang kencang menusuk kulit.Ayu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan tindakan.Lingkaran lengannya di pinggang Fikri mengerat. Dagu lancipnya ia sandarkan di bahu tegap cowok itu, helm retro kremnya sedikit miring menabrak helm butut Fikri. Aroma yang ia hirup bukan parfum mahal. Hanya wangi sabun Lifebuoy dan detergen Rinso dari kaos putih polos katun combed 30s milik Fikri. Wangi yang sangat sederhana, tapi entah kenapa, pagi ini menenangkan sekali.Di sepanjang jalan, Ayu tersenyum sendiri di balik helm. Ada yang aneh dengan Fikri hari ini.Cowok yang semalam ngamuk-ngamuk di telepon karena disuruh mengalah soal jadwal main warnet Point Blank, pagi ini berubah jadi sosok yang jauh lebih dewasa. Cara dia membawa motor lebih stabil, cara dia mengerem tidak menghentak, cara dia sesekali







