LOGINMaura menatap kosong ke arah kaca pintu mobil yang tengah melaju dengan Zefan sebagai sopirnya.Laju mobilnya stabil, tidak terlalu cepat maupun lambat.Saat wanita itu dan bosnya masih berada di area pemakaman, Zefan dengan sigap meminta seseorang mengantarkan mobil Dewangga ke sana, supaya saat kembali nanti Maura dan Dewangga merasa lebih nyaman dalam perjalanan pulang.Hari telah sore. Meski Dewangga tak mengatakan harus pergi ke mana, Zefan memutuskan membawa mereka pulang ke rumah Dewangga dan memberi tahu Mia lewat pesan teks agar gadis muda itu bisa bersiap-siap menyambut mereka.Hening, tak ada musik, tak ada obrolan apapun seolah setiap orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Zefan sendiri tak berani bersuara meski sesekali dia melirik ke arah belakang melalui kaca spion tengah.Di sisi Maura, di kursi belakang, Dewangga tengah membersihkan jari-jari tangan wanita itu dari sisa tanah merah menggunakan tisu basah.“Lapar?” tanya Dewangga memecah sepi meski dengan suar
Langit sedikit berwarna kelabu sore itu. Area pemakaman elit itu begitu sejuk dan sepi dengan ciri khas udara yang terasa lebih kering.Meski begitu, di kejauhan ada beberapa orang yang tengah berkunjung ke sebuah makam sehingga tak membuat Maura benar-benar merasa sendirian.Maura berjalan tenang dengan membawa satu rangkaian bunga lily putih yang dicampur dengan bunga baby’s breath dan diikat pita biru muda yang lembut.Meski langkahnya terlihat tenang, namun hatinya merasa berat seiring semakin dekatnya dia dengan makam anaknya yang sudah dia duga dimakamkan di samping mendiang suami oma Ambar, kakek Dewangga dari pihak ayahnya.Pagi-pagi sekali saat dia terbangun karena mimpi itu, dia tak bisa memejamkan matanya lagi. Hatinya yang memang sering merasakan kegelisahan saat malam sejak kehilangan anaknya, semakin merasa gelisah.Rasanya ada yang mengganjal di hatinya. Rasanya ada sesuatu yang belum tuntas hingga membuatnya memutuskan mengambil penerbangan paling pagi dari London ke S
Maura buru-buru menyembunyikan foto USG bayinya di bawah bantal kemudian memejamkan matanya seolah sudah tertidur saat dia mendengar suara pintu kamar terbuka.Mungkin itu ayahnya, yang ingin melihat apakah dia sudah pulang atau belum.Aroma parfum yang familiar tercium samar. Seharusnya yang masuk ke kamarnya bukan ayahnya, melainkan Dewangga karena Maura hafal betul aroma parfum milik pria itu. Itu adalah parfum yang pernah dipilihkan untuknya dulu.Maura merasakan sebuah tangan hangat mengusap lembut rambutnya sekali, lalu aroma parfum itu semakin tercium jelas seolah Dewangga tepat berada di depannya.“Kamu udah tidur?” Benar saja itu suara Dewangga. Pria itu bertanya dengan suara rendah seolah takut Maura benar-benar sudah tidur dan tak ingin membangunkannya.Hening sejenak karena tak mungkin bagi Maura menjawab pertanyaan pria itu.“Maura, apa yang harus kulakukan untuk menebus s
Siang itu, matahari terasa sangat terik dan membakar kulit. Alena duduk di bangku taman tanpa tujuan, di bawah rindangnya pohon.Tabungannya tak banyak karena dia harus melunasi utang kartu kredit ibunya yang kini sudah diblokir. Tabungan itu paling-paling hanya mampu bertahan untuk seminggu saja. Ralat, dua minggu jika dia bisa mendapatkan hotel murah untuk tinggal dan makan sederhana.Bagaimana dia bisa bertahan hidup nantinya? Dia harus mencari pekerjaan ke beberapa perusahaan, itupun jika Dewangga masih berbaik hati tak memblacklist namanya dari perusahaan-perusahaan besar meski rasanya mustahil pria itu akan sebaik itu.Baru beberapa menit dia duduk, ibunya datang menyusul dengan napas putus-putus karena kelelahan sambil menarik koper yang lebih kecil dari milik Alena.“Kenapa, sih, kamu ninggalin mama?” protesnya kesal sambil duduk. “Mama nggak dibolehin bawa mobil, Alena. Mereka bilang, mobil juga disita. Gimana kehidupa
Cup.Satu kecupan ringan di bibirnya menyadarkan Maura. Wanita itu segera mendorong tubuh Dewangga dan menjaga jarak.“Aku butuh waktu, Dewangga. Waktu tiga tahun itu sudah sangat panjang dan terlalu melelahkan. Aku berjuang sendirian mempertahankan pernikahan yang sudah rusak sedari awal,” ujar Maura sambil membuka pintu. “Rasanya … sulit bagiku untuk bisa kembali.”Dewangga menatap kepergian Maura, menatap pintu yang tertutup rapat di hadapannya seolah pintu itu adalah hati Maura.Sudah terlalu lama memang dia membuat Maura menderita. Sudah terlalu banyak luka yang ditorehkannya. Hanya kata ‘maaf’ saja tentu tak akan cukup membasuh dan menyembuhkan luka-luka itu.Penyesalan memang selalu datang terlambat, bukan?***Alena diam menatap jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Hari masih siang, namun semangatnya tak secerah matahari di luar.Sudah beberapa hari sejak kepulangannya dari rumah sakit, dia hanya berdiam diri dan tak melakukan apapun.“Alena …! Alena …!”Teriakan Sivia terd
Beberapa hari berlalu dengan rasa sesak di dada. Maura berhasil menghindari kontak dengan Dewangga sebisa mungkin meski mereka tinggal di atap yang sama. Pagi-pagi sekali dia harus bangun dan bersiap ke restoran sebelum Dewangga bangun, sementara di awal malam dia akan pulang lebih dulu dan mengunci diri di kamar sebelum Dewangga pulang dari kantornya. Namun malam itu sedikit berbeda. Di atas nakasnya saat dia tiba di kamar, dia menemukan sebuah kotak kado yang dibungkus rapi dengan sebuah pita cantik. Ukurannya tak terlalu besar, namun juga tak terlalu kecil sehingga mudah terlihat. Maura mengerutkan alisnya. Hari ini bukanlah hari ulang tahunnya. Siapakah yang telah masuk ke kamarnya tanpa izin dan meletakkan kotak itu di sana? Apa mungkin ayahnya? Wanita itu segera membuka kotak kado itu. Di dalamnya terdapat satu set perhiasan mahal bertahtakan batu rubin yang dicampur dengan berlian. Rasanya tak mungkin bagi ayahnya untuk membelikannya satu set perhiasan mewah itu meng
“Udah puas?” Maura menatap tajam Dewangga sambil melipat kedua tangannya di dada, menahan kekesalan.Tak pernah sebelumnya dia melihat sisi Dewangga yang seperti itu, impulsif seenaknya masuk ke rumah memeriksa segala sudut meski sudah dilarang.Pria itu dengan wajah acuh tak acuh hanya melirik Mau
Dewangga duduk di tepi ranjang kosong di kamar yang pernah Maura tempati di rumahnya sendiri. Semenjak wanita itu pergi dari sana, dia sering sekali memasuki kamar itu hanya untuk duduk diam dan merenung. Terkadang, dia juga tertidur di sana ditemani aroma stroberi yang tertinggal. Aroma kesukaan
Dua minggu berlalu, namun Maura masih belum mendapatkan surat panggilan untuk sidang perceraian, meski dia rutin memeriksa kotak surat maupun surelnya.Selama dua minggu itu, dia sibuk melakukan banyak hal di restoran, yang membuat pikirannya teralihkan dari masalah perpisahannya sehingga saat pula
“Seperti yang pernah kamu bilang dulu, sekarang aku benar-benar menyesal karena kita menikah. Jadi, ayo kita bercerai, Dewangga.”Bagi Maura, tak mudah mengatakan hal itu. Dia memang sangat mencintai Dewangga.Tentu saja Maura menyesal. Dia menyesal karena tak bisa melihat dengan jelas bahwa hati D







