Mag-log inPonsel Maura yang tergeletak di ruang tengah berdering beberapa kali saat wanita itu tengah memasak di dapur untuk makan siang. Mia yang mendengarnya segera mengambil ponsel itu dan mengantarkannya pada Maura. “Nyonya, HP-nya bunyi terus dari tadi,” ujarnya sambil menyodorkan ponsel Maura. “Oh, siapa yang menelepon?” tanya Maura sambil meletakkan pisau yang tengah digunakannya mengiris bawang merah. “Nggak ada namanya, Nyonya,” jawab Mia. “Oke, makasih.” Maura menerima ponselnya sambil menggeser tombol hijau di layarnya, sementara Mia berpamitan pergi. “Halo?” “Halo, Maura,” sapa seorang wanita di seberang sana, membuat Maura mengerutkan alisnya. “Ini Marina. Kamu masih ingat aku, ‘kan?” “Oh, iya. Ada apa?” tanya Maura yang sedikit bingung karena Marina tahu nomor ponselnya padahal dia sudah mengganti nomornya dengan yang baru sesaat sebelum berangkat ke London hari itu. “Siang ini ada waktu, ‘kan?” tanya Marina di ujung sana. “Siang ini?” “Iya, siang ini. Waktu itu
Hari telah pagi sekitar pukul enam. Dewangga masih memejamkan matanya saat Maura terbangun. Wanita itu menatap Dewangga dalam diam, dengan berbagai pikiran di benaknya. Maura pikir pria itu sama sekali tak peduli saat anaknya meninggal karena wajahnya selalu terlihat datar tanpa kesedihan. Maura pikir pria itu tak menginginkan anaknya karena pernah menawarinya opsi untuk menggugurkan kandungannya. Namun ternyata Dewangga memendam segalanya sendiri. “Kamu kelihatan capek banget,” kata Maura perlahan seolah dia tengah berbicara pada dirinya sendiri. Wanita itu turun perlahan dan segera membersihkan diri. Selesai membersihkan diri dan memakai pakaiannya yang telah kering, Dewangga masih tertidur pulas. Maura turun ke lantai bawah. Tampak Mia dan mbok Narti masih menyapu sisa-sisa pecahan kaca yang berserakan, bahkan beberapa guci dan benda lainnya ikut rusak. “Selamat pagi, Nyonya.” Zefan menampakkan dirinya sambil tersenyum, dengan secangkir kopi di tangannya. “Zefan? Kamu udah di
Dewangga dengan cepat melihat ke luar ke arah bawah. Tampak seorang wanita mendongak sambil memakinya dengan kasar dan terus melemparkan batu. Ada yang mengenai dinding, ada juga yang mengenai bingkai jendela.“Berengsek! Balikin rumah saya! Balikin perusahaan saya!!” teriak wanita itu dari arah luar.“Jangan turun! Banyak pecahan kacanya, nanti kena kaki,” peringat Dewangga saat Maura menyibak selimutnya dengan hati-hati dan mulai menurunkan kakinya.Maura menarik kakinya kembali ke atas ranjang sambil menggenggam erat botol hangat di tangannya, kemudian Dewangga segera mendekat dan menyingkirkan selimutnya jauh-jauh.“Buat sementara, tidur dulu di kamar sebelah, Maura,” ujar Dewangga sambil menggendong Maura dan membawanya dengan enteng.“Itu … itu kayaknya suara tante Silvia, ya?” tanya Maura dengan wajah yang masih syok sambil melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu, meninggalkan botol hangatnya.
Hari sudah cukup larut saat Dewangga pulang ke rumahnya dengan menenteng sebuah tas dan jas kerjanya di tangan.Seluruh lampu utama di semua ruangan telah padam dan ruangan hanya diterangi cahaya lampu dinding yang temaram.Pria itu duduk bersandar setengah berbaring di sofa ruang tengah, melepas lelah setelah seharian ini kegiatannya sangat padat dan menguras tenaga. Banyak hal yang harus diurus termasuk perusahaan Ruslan yang sudah diambil alih olehnya. Belum lagi harus mengurus perusahaan ayahnya sehingga dia belum sempat menemui oma Ambar secara pribadi.Dewangga mengecek arlojinya. Jam sudah menunjukkan waktu pukul sebelas lebih.“Seharusnya Maura masih dalam perjalanan ke London,” ujarnya perlahan sambil memejamkan matanya sejenak.Rasa kantuk yang mulai datang memaksanya untuk membuka mata dan naik ke lantai atas. Namun ketika dia tiba di depan kamarnya, dia melihat pintu kamar sebelah sediki
“Tapi ada baiknya kamu menginap di sini,” ujar Dewangga lagi.“Aku nggak bawa baju ganti.”“Nyonya, ini pakaian ganti Anda. Piyama buat tidur malam ini dan satu set pakaian buat besok,” kata Mia yang tiba-tiba datang membawa dua buah paper bag dan meletakkannya di kursi, kemudian berpamitan lagi.Maura terkejut sambil menatap Dewangga yang tengah minum setengah gelas air mineral. Wanita itu melihat isi kedua paper bag itu.Piyama yang disiapkan untuknya model piyama lengan panjang pada umumnya, namun bahannya terbuat dari silk lembut dengan motif bunga mawar.Satu pakaian lagi terbuat dari linen berkualitas, dengan label bertuliskan ‘Belgian Linen’.“Kamu sampai menyiapkan pakaian ini buatku?”“Cuma pakaian. Apa susahnya?” jawab Dewangga enteng. “Menginaplah di sini, Maura. Seenggaknya ada Mia dan mbok Narti kalau besok pagi aku berangkat bekerja.”Maura ragu sejenak, tapi
Maura menatap kosong ke arah kaca pintu mobil yang tengah melaju dengan Zefan sebagai sopirnya.Laju mobilnya stabil, tidak terlalu cepat maupun lambat.Saat wanita itu dan bosnya masih berada di area pemakaman, Zefan dengan sigap meminta seseorang mengantarkan mobil Dewangga ke sana, supaya saat kembali nanti Maura dan Dewangga merasa lebih nyaman dalam perjalanan pulang.Hari telah sore. Meski Dewangga tak mengatakan harus pergi ke mana, Zefan memutuskan membawa mereka pulang ke rumah Dewangga dan memberi tahu Mia lewat pesan teks agar gadis muda itu bisa bersiap-siap menyambut mereka.Hening, tak ada musik, tak ada obrolan apapun seolah setiap orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Zefan sendiri tak berani bersuara meski sesekali dia melirik ke arah belakang melalui kaca spion tengah.Di sisi Maura, di kursi belakang, Dewangga tengah membersihkan jari-jari tangan wanita itu dari sisa tanah merah menggunakan tisu basah.“Lapar?” tanya Dewangga memecah sepi meski dengan suar
Di sebuah kamar yang luas dan lengkap dengan perabotan berkualitas tinggi, Alena duduk di sofa kamarnya sambil menggenggam ponselnya. Televisinya menyala, memutar sebuah film yang tak minat ditontonnya. Wanita itu segera menghubungi seseorang dengan perasaan tak sabar sambil menggigit
“Apa Kakak tinggal sendiri?” tanya pria itu dengan senyum tipis yang membuat Maura merasa tak nyaman.“Oh, saya ….”Sorot lampu mobil yang baru datang dan berhenti di depan pintu pagar, membuat Maura silau namun sedikit lega.Dilihatnya, Mia turun dari mo
Langit di sore itu berubah gelap padahal jam masih menunjukkan pukul setengah lima kurang. Tetesan hujan mulai turun.Dewangga yang pulang lebih awal, mengantarkan Maura sampai depan pagar rumah nenek Amira.“Makasih udah nganterin dan maaf udah ngerepotin,” kata Maura
Keesokan pagi, suasana rumah oma Ambar terasa lebih ramai meski wanita tua itu sempat panik mendapati Maura muntah-muntah. “Kamu pusing? Mual? Mau makan apa? Biar oma suruh orang bikin makanan enak buat kamu biar kamu nggak lemas,” tanya oma Ambar saat melihat keadaan Maura pagi-pa







