Beranda / Rumah Tangga / Sebelum Kita Bercerai / Bab 7. KANTOR DEWANGGA

Share

Bab 7. KANTOR DEWANGGA

Penulis: Clau Sheera
last update Tanggal publikasi: 2023-09-03 10:27:16

"Maura, kamu nggak apa-apa, Nak?? Maura? Maura?" Panggilan lembut beberapa kali membuat Maura membuka matanya perlahan.

Dia menatap langit-langit kamar dan mulai teringat bahwa sebelum terjatuh dia berada di sisi ranjang Dewangga.

Di sampingnya, oma Ambar duduk menggenggam tangannya dengan wajah khawatir.

Kemudian Maura merasakan pijatan lembut dan hangat di kakinya. Mia ada di ujung ranjang sambil mengoleskan minyak dan memijat kakinya, sementara Yanti datang membawa teh hangat.

"Syukurlah kamu udah sadar." Kekhawatiran di wajah oma Ambar sedikit berkurang. "Kamu kenapa? Bagian mana yang sakit?"

"Oma?" Maura mencoba bangkit untuk duduk, kepalanya masih sedikit pusing ditambah sakit akibat benturan.

"Jangan bergerak terlalu banyak. Kamu minum dulu tehnya. Dewangga lagi menghubungi dokter," kata oma Ambar sambil menyodorkan teh yang dibawa Yanti.

Maura menoleh ke tempat lain, kemudian meminum setengah cangkir.

Di dekat jendela, Dewangga masih berbicara dengan seseorang di telepon.

"Saya tunggu, Dok," ujar pria itu mengakhiri panggilan teleponnya, dan berjalan ke arah oma Ambar. "Dokter akan segera datang."

"Baguslah." Oma Ambar mengangguk. "Ayo, kamu tiduran dulu," lanjut wanita tua itu sambil menepuk punggung tangan Maura dan membantu Maura berbaring di tumpukan bantal yang dibuat lebih tinggi.

"Kenapa kamu bisa jatuh? Apanya yang sakit?" tanya oma Ambar dengan wajah yang masih cemas.

"Aku ...." Maura ragu ketika sepotong kecil ingatan asing hadir di kepalanya. Dia melirik Dewangga yang memasang wajah datar sambil menatapnya. "Aku nggak apa-apa, Oma. Cuma sedikit kecapekan dan kayaknya kurang darah juga, deh."

"Kecapekan? Kurang darah? Apa kamu nggak makan dengan baik? Nggak istirahat dengan baik?" Oma Ambar semakin terlihat cemas. "Ada apa sebenarnya, Maura? Apa kelas memasaknya terlalu berat?"

"Nggak, Oma, kelas memasaknya seru. Sekarang aku udah baik-baik aja, kok. Oma jangan khawatir, ya."

"Untung tadi Mia masuk ke kamar ini sambil bawa baju Dewangga yang udah disetrika. Kalau nggak, mungkin kamu jatuh nggak ada yang tahu sebelum Dewangga kembali ke sini," ujar oma Ambar dengan ekspresi wajah sedih. "Apa kita ke rumah sakit aja buat periksain kamu?"

"Oma nggak usah khawatir. Aku udah baikan sekarang. Cuma butuh tidur aja kayaknya. Kebetulan juga aku udah ngantuk," kata Maura sambil berpura-pura menguap.

"Ini, tangan kamu lecet-lecet begini kenapa?" tanya oma Ambar sambil meraih tangan Maura yang lecet kemerahan. "Kalau tangan oma kayak gini biasanya dari panasnya detergent pas nyuci baju sendiri waktu dulu. Kamu nggak mungkin nyuci baju sendiri, kan?"

"Eh? Nggak, kok, Oma," sanggah Maura berbohong. "Aku nggak mungkin nyuci baju sendiri. Buat apa coba? Kan ada Mia."

Oma Ambar menatap Mia yang tersenyum kecut sambil tetap memijat kaki Maura.

"Beneran kamu nggak nyuci baju sendiri?" tanya oma Ambar memastikan.

Maura mengangguk. "Beneran, kok, Oma. Mungkin ini karena aku sempat ganti sabun cuci tangan. Sabunnya udah aku ganti lagi kemarin, kok, ke sabun yang biasa dipakai."

Oma Ambar mengangguk sambil menghela napasnya panjang.

"Oma, ini udah malam. Oma istirahat aja. Biar saya yang urus Maura. Lagipula ada Mia juga di sini, yang bantuin," ucap Dewangga membujuk.

"Nggak. Oma pengen nungguin dokter datang. Kalau dokternya udah di sini dan bilang sendiri kalau Maura baik-baik aja, baru oma kembali ke kamar," tolak wanita tua itu.

"Oma, sebaiknya Oma istirahat." Maura juga ikut membujuk. "Aku udah agak apa-apa, Oma."

"Nggak. Pokoknya oma mau di sini."

Dokter tiba tak lama kemudian. Dia segera memeriksa keadaan Maura.

"Dokter, gimana keadaan cucu menantu saya?" tanya oma Ambar dengan wajah gusar.

"Keadaan ibu Maura—"

"Dokter, mari kita bicara sebentar," pinta Dewangga memotong pembicaraan.

Dokter wanita itu berdiri sambil mengangguk dan mengikuti Dewangga ke dekat pintu balkon.

"Apa keadaannya baik-baik saja?" tanya Dewangga dengan suara perlahan sambil mengamati oma Ambar, memastikan suaranya tak sampai pada wanita tua itu. "Saat ini dia dalam keadaan amnesia, Dok."

"Keadaan ibu Maura sekarang sudah lebih baik. Hanya saja, sebaiknya besok dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pasien amnesia butuh perawatan yang tepat dan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Biasanya mereka lebih rentan mengalami stress dan tekanan walaupun keadaan tubuhnya baik-baik saja."

Dewangga mengangguk. "Tolong katakan pada oma saya bahwa Maura baik-baik saja. Beliau mengidap penyakit jantung. Jangan sampai beliau terkejut dan jatuh sakit," pinta pria itu penuh harap.

"Baiklah." Dokter itu mengangguk setuju dan menjelaskan perihal kondisi Maura pada oma Ambar sehingga wanita tua itu sedikit lega.

Setelah mengantar dokter sampai pintu depan, dia kembali ke kamar.

"Oma, Maura tak apa-apa," ujar pria itu. "Sebaiknya Oma segera beristirahat."

"Tapi, Dewangga—"

"Besok pagi saya akan bawa Maura ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jadi untuk sekarang Oma istirahat dulu. Saya tak mau Oma juga masuk ke rumah sakit sebagai pasien gara-gara tak mau istirahat."

"Iya, iya. Oma istirahat sekarang. Oma akan kembali ke kamar tamu," ujar wanita itu sambil berdiri. "Maura, kamu lekas sehat, ya, Nak, ya."

"Ya, Oma." Maura mengangguk sambil tersenyum.

"Yanti, antar Oma ke kamarnya. Hati-hati saat di tangga," pinta Dewangga dengan nada tegas.

"Baik, Tuan." Yanti segera mengangguk dan berjalan di sisi oma Ambar, diikuti Mia yang juga berpamitan.

Ketika oma Ambar, Yanti, dan Mia telah berlalu, Maura menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan turun dari ranjang.

"Mau ke mana kamu?" tanya Dewangga dingin.

"Aku ... mau kembali ke kamar," jawab Maura sambil berdiri mengenakan sandalnya.

"Diam di sini, kembali lagi ke ranjang," ucap Dewangga setengah memerintah.

Maura tertegun sesaat dan menatap pria itu ragu.

"Tapi bukannya kamu nggak suka aku ada di sini?" tanya Maura hati-hati.

"Memang iya," jawab Dewangga terus terang. "Lantas kamu pikir oma Ambar tak akan kembali ke sini untuk memeriksa keadaanmu tengah malam nanti?"

"Memangnya oma Ambar akan melakukan hal itu?" Maura kembali tertegun sambil berpikir.

"Naik lagi ke ranjang dan tidur di sana," perintah Dewangga dengan lebih tegas lagi.

Maura melepas sandalnya dan kembali naik. Dia berbaring dengan penuh keraguan.

Sepotong ingatan itu, membuatnya sangat waspada dan ingin melarikan diri sejauh mungkin dari Dewangga. Jelas, pria itu membencinya.

Lampu utama kamar telah dimatikan. Penerang ruangan hanya dari lampu tidur di kedua sisi ranjang.

Dewangga naik ke ranjang yang sama dan berbaring di sisi Maura, namun masih ada jarak yang cukup jauh di antara mereka.

"Kamu mau tidur di sini?" Maura terkejut sambil bangun dan duduk.

"Ini ranjangku. Memangnya kalau saya tak tidur di sini mau tidur di mana? Di lantai?" Dewangga menutup matanya sambil menjadikan salah satu lengannya sebagai bantal.

Maura menghela napasnya panjang, kemudian dia bergeser lebih jauh dan menatap langit-langit kamar.

"Kamu takut?" tanya Dewangga sambil membuka matanya dan menoleh menatap Maura.

Maura terdiam meremas selimut yang dipakainya, yang juga dikenakan Dewangga.

"Asal kamu tahu, Maura. Dulu kamu selalu ingin naik ke ranjangku," ujar Dewangga datar.

"Tapi dulu kamu mengusirku dengan kasar," ucap Maura sambil menatap Dewangga.

Kedua pasang mata itu saling bertatapan.

"Jadi kamu ingat itu?" tanya Dewangga.

"Aku baru mengingatnya tadi, sedikit."

"Oh, baguslah. Aku bahkan bisa mengusirmu dari rumah ini lebih cepat jika oma Ambar tahu kita pisah ranjang selama ini." Dewangga kembali memejamkan matanya. "Ini sudah malam. Aku tak peduli kamu mau tidur atau tidak. Tapi aku tak ingin diganggu."

***

Keesokan harinya, Maura dan Dewangga sudah berada di rumah sakit.

Setelah menjalani beberapa tes dan pemeriksaan, Maura duduk di depan seorang dokter bersama Dewangga.

"Keadaan ibu Maura cukup baik. Tak ada gangguan kognitif. Perawatan yang dijalani di Perancis sudah tepat," kata seorang dokter sambil membaca hasil pemeriksaan yang baru dilakukan maupun laporan kesehatan Maura yang sebelumnya. "Namun, ibu Maura masih membutuhkan psikolog atau konselor, juga dukungan dari orang-orang terdekatnya agar stress dan tekanannya jauh berkurang."

"Baik, Dok. Terima kasih." Dewangga menatap Maura sejenak. "Kalau begitu kami permisi."

Dokter itu mengangguk dengan ramah serta memberikan sedikit kalimat dukungan untuk Maura sebelum mereka benar-benar beranjak pergi.

Maura dan Dewangga berjalan meninggalkan lobi rumah sakit setelah mengambil obat dan vitamin. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.

"Ayo, Maura. Satu jam setengah lagi saya ada pertemuan penting. Jangan berjalan terlalu lama, saya tak ingin terlambat."

Langkah Dewangga yang besar dan panjang, membuat Maura yang mengenakan heels 5 sentimeter sedikit kesusahan menyesuaikan langkah kakinya yang kecil. Beberapa kali wanita itu harus sedikit berlari agar dia tak ketinggalan.

Ketika keduanya baru mencapai pintu keluar, pijakan kaki Maura goyah dan pergelangan kakinya tertekuk ke samping. Sontak membuat tubuhnya ambruk menabrak tubuh Dewangga yang tegap.

Dengan sigap, pria itu menangkap bahu dan pinggang Maura, kemudian menatapnya tajam.

Desiran aneh yang asing namun familiar menjalar di dasar hati Maura ketika dia menatap sepasang mata tajam milik Dewangga.

Tak!

Jentikan jari di dahinya membuat Maura terperanjat.

"Jangan bengong," kata Dewangga sambil membantu Maura berdiri tegak. "Kakimu baik-baik saja?"

"Aku nggak apa-apa," jawab Maura berbohong menahan sakit.

"Baguslah." Pria itu kembali berjalan, dan Maura kembali mengikuti dengan langkah pincang.

"Katamu kakimu baik-baki saja," gerutu Dewangga ketika dia melihat langkah Maura yang terseok-seok.

Pria itu segera membantu Maura duduk di salah satu kursi tunggu, kemudian berjongkok melihat pergelangan kaki Maura yang kemerahan.

"Kalau dipaksakan berjalan mungkin akan tambah sakit dan bengkak," kata Dewangga.

"Aku nggak apa-apa, Dewangga. Tadi kamu bilang kalau kamu lagi buru-buru. Kamu pergi duluan aja, aku bisa pulang sendiri pakai taksi online nanti," ujar Maura sambil menarik kakinya yang masih disentuh pria itu.

Dewangga menarik napasnya sambil menatap Maura, kemudian dia berdiri.

"Kita masih di rumah sakit. Ayo, periksakan dulu kakimu," ucapnya sambil membantu Maura berdiri.

"Nggak usah," tolak Maura cepat. "Cuma butuh istirahat satu atau dua hari, nanti juga sembuh sendiri."

***

"Kamu ikut dulu ke kantor," kata Dewangga saat keduanya sudah berada di dalam mobil dan dia duduk di belakang kemudi, sementara Maura duduk di sampingnya. Kakinya baru saja diolesi minyak gosok aroma terapi.

"Aku udah bilang kalau aku bisa pulang sendiri," jawab Maura keberatan ketika Dewangga membawanya serta.

"Kamu sepertinya ingin sekali aku bermasalah dengan oma," ujar Dewangga sehingga membuat Maura menoleh terkejut.

"Aku nggak-"

"Kamu lupa apa yang oma katakan sebelum kita berangkat ke rumah sakit tadi?" tanya pria itu mengingatkan dengan nada sedikit tinggi. "Dia bilang aku sendiri yang harus mengantarmu pulang dalam keadaan baik-baik saja."

"Oh, itu ... aku bisa jelasin ke oma nanti."

"Aku akan antar kamu pulang setelah pertemuan selesai," kata Dewangga menutup pembicaraan.

Setelah lebih dari saru jam dalam perjalanan, mobil masuk ke area parkir khusus. Dewangga memapah Maura turun dari mobil dan masuk ke lift.

Pria itu memeriksa jam di pergelangan tangan. waktunya sudah tak banyak lagi dan ponselnya berbunyi entah yang keberapa kali.

"Ya, Alena?" kata Dewangga mengangkat panggilannya dan Alena berbicara sesuatu, namun Maura tak dapat mendengarnya dengan jelas. "Jangan khawatir. Saya sudah berada di lift. Lima menit lagi saya sampai."

Dewangga mematikan panggilannya.

"Aku akan mengantarmu ke ruang kerjaku," ucapnya sambil merapikan dasinya, tepat ketika pintu lift berhenti dan terbuka di lantai tempatnya bekerja. "Ayo."

Dewangga keluar dari lift sambil memapah Maura.

Beberapa pasang mata memperhatikan keduanya sambil saling melirik diam-diam dan bergosip ketika keduanya telah berlalu.

Dewangga mendorong pintu ruang kerjanya dan membawa Maura masuk.

"Duduklah aku akan—"

"Bos, saya pikir Anda akan—" Zefan langsung mendorong pintu ruang kerja Dewangga yang tak tertutup rapat ketika Maura baru saja duduk di sofa. Dia tak meneruskan lagi kalimatnya namun wajahnya berubah syok.

"Nyonya Maura?! Bagaimana Anda bisa ada di sini?!" Keterkejutan tak dapat Zefan sembunyikan.

Selama Dewangga menikah, baru kali ini bosnya membiarkan Maura datang ke kantor. Padahal dulu, pria tak berperasaan itu tak pernah sekalipun mengizinkan Maura menginjakkan kakinya walaupun hanya di tempat parkir.

Tapi hari ini dia melihatnya duduk di sofa ruangan kerja bosnya. Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi?

"Oh? Aku ...." Maura hendak berdiri, tapi Dewangga menahan bahunya agar dia tetap duduk.

"Zefan, apa Dewangga udah .... Oh, Dewangga. Baguslah kamu udah dat—" Alena datang dengan beberapa berkas di tangannya. Wajahnya berubah syok sama seperti Zefan ketika dia melihat Maura di sana. "Maura?! Kamu ngapain di sini?!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sebelum Kita Bercerai   Extra 3

    ​Pesawat komersial mendarat mulus di Bandara Charles de Gaulle.Bagi Maura, ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan awal dari mimpi yang sempat tertunda. Pernikahan pertama mereka berjalan dingin tanpa ada pelukan hangat, apalagi sebuah perjalanan bulan madu.Namun kini, di bawah langit Paris yang romantis, Dewangga siap membayar tuntas semua waktu yang hilang.​Mereka menginap di sebuah hotel mewah di kawasan Place Vendôme. Dari balkon kamar, Menara Eiffel berdiri megah di kejauhan.Begitu tiba, Dewangga langsung memeluk Maura dari belakang, menghirup aroma rambut istrinya dengan mesra.​"Akhirnya kita sampai, Sayang. Maaf ya, baru bisa membawamu ke sini sekarang," bisik Dewangga lembut.​Maura berbalik, mengalungkan tangannya di leher Dewangga sambil tersenyum manis. "Tidak ada kata terlambat, Dewangga. Aku bahagia sekali."​Empat hari di Paris dilewati bagai untaian mimpi indah. Pada hari pertama, mereka berjalan santai menyusuri jalanan berbatu di Montmartre, menikmati atmos

  • Sebelum Kita Bercerai   Extra 2

    Maura masuk ke ruang rias itu. Mungkin memang kehadirannya yang seorang istri bos akan membuat canggung beberapa orang, padahal dia ingin berbaur dengan siapapun tanpa perlu memandang siapa dirinya.Seorang perias dengan dua asistennya menyambut Maura dengan ramah, meminta wanita itu duduk di kursi menghadap cermin.“Mbak, yang lain beneran ada di sebelah?" tanya Maura sedikit canggung.“Iya, Bu.”“Kok rasanya ada yang aneh, ya?” tanya Maura mulai merasakan keganjilan.“Sebaiknya bu Maura nggak perlu berpikir macam-macam. Fokus saja biar hari ini tampil maksimal," sahut penata rias itu dengan nada menenangkan yang justru terdengar mencurigakan.​Kecurigaan Maura memuncak saat dia diminta mengenakan gaun yang tak mirip dengan gaun bridesmaid. Gaun itu berwarna putih bersih, berbahan premium, dengan potongan megah yang sangat indah.​"Mbak, ini salah kostum nggak, sih? Kenapa gaun saya lebih mirip gaun pengantin?" tanya Maura panik sambil menatap pantulan dirinya di cermin.​Penata rias

  • Sebelum Kita Bercerai   Extra 1

    Ponsel Maura yang tergeletak di ruang tengah berdering beberapa kali saat wanita itu tengah memasak di dapur untuk makan siang. Mia yang mendengarnya segera mengambil ponsel itu dan mengantarkannya pada Maura. “Nyonya, HP-nya bunyi terus dari tadi,” ujarnya sambil menyodorkan ponsel Maura. “Oh, siapa yang menelepon?” tanya Maura sambil meletakkan pisau yang tengah digunakannya mengiris bawang merah. “Nggak ada namanya, Nyonya,” jawab Mia. “Oke, makasih.” Maura menerima ponselnya sambil menggeser tombol hijau di layarnya, sementara Mia berpamitan pergi. “Halo?” “Halo, Maura,” sapa seorang wanita di seberang sana, membuat Maura mengerutkan alisnya. “Ini Marina. Kamu masih ingat aku, ‘kan?” “Oh, iya. Ada apa?” tanya Maura yang sedikit bingung karena Marina tahu nomor ponselnya padahal dia sudah mengganti nomornya dengan yang baru sesaat sebelum berangkat ke London hari itu. “Siang ini ada waktu, ‘kan?” tanya Marina di ujung sana. “Siang ini?” “Iya, siang ini. Waktu itu

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 136. TAMAT

    Hari telah pagi sekitar pukul enam. Dewangga masih memejamkan matanya saat Maura terbangun. Wanita itu menatap Dewangga dalam diam, dengan berbagai pikiran di benaknya. Maura pikir pria itu sama sekali tak peduli saat anaknya meninggal karena wajahnya selalu terlihat datar tanpa kesedihan. Maura pikir pria itu tak menginginkan anaknya karena pernah menawarinya opsi untuk menggugurkan kandungannya. Namun ternyata Dewangga memendam segalanya sendiri. “Kamu kelihatan capek banget,” kata Maura perlahan seolah dia tengah berbicara pada dirinya sendiri. Wanita itu turun perlahan dan segera membersihkan diri. Selesai membersihkan diri dan memakai pakaiannya yang telah kering, Dewangga masih tertidur pulas. Maura turun ke lantai bawah. Tampak Mia dan mbok Narti masih menyapu sisa-sisa pecahan kaca yang berserakan, bahkan beberapa guci dan benda lainnya ikut rusak. “Selamat pagi, Nyonya.” Zefan menampakkan dirinya sambil tersenyum, dengan secangkir kopi di tangannya. “Zefan? Kamu udah di

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 135. Izin

    Dewangga dengan cepat melihat ke luar ke arah bawah. Tampak seorang wanita mendongak sambil memakinya dengan kasar dan terus melemparkan batu. Ada yang mengenai dinding, ada juga yang mengenai bingkai jendela.“Berengsek! Balikin rumah saya! Balikin perusahaan saya!!” teriak wanita itu dari arah luar.“Jangan turun! Banyak pecahan kacanya, nanti kena kaki,” peringat Dewangga saat Maura menyibak selimutnya dengan hati-hati dan mulai menurunkan kakinya.Maura menarik kakinya kembali ke atas ranjang sambil menggenggam erat botol hangat di tangannya, kemudian Dewangga segera mendekat dan menyingkirkan selimutnya jauh-jauh.“Buat sementara, tidur dulu di kamar sebelah, Maura,” ujar Dewangga sambil menggendong Maura dan membawanya dengan enteng.“Itu … itu kayaknya suara tante Silvia, ya?” tanya Maura dengan wajah yang masih syok sambil melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu, meninggalkan botol hangatnya.

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 134. Serangan Malam

    Hari sudah cukup larut saat Dewangga pulang ke rumahnya dengan menenteng sebuah tas dan jas kerjanya di tangan.Seluruh lampu utama di semua ruangan telah padam dan ruangan hanya diterangi cahaya lampu dinding yang temaram.Pria itu duduk bersandar setengah berbaring di sofa ruang tengah, melepas lelah setelah seharian ini kegiatannya sangat padat dan menguras tenaga. Banyak hal yang harus diurus termasuk perusahaan Ruslan yang sudah diambil alih olehnya. Belum lagi harus mengurus perusahaan ayahnya sehingga dia belum sempat menemui oma Ambar secara pribadi.Dewangga mengecek arlojinya. Jam sudah menunjukkan waktu pukul sebelas lebih.“Seharusnya Maura masih dalam perjalanan ke London,” ujarnya perlahan sambil memejamkan matanya sejenak.Rasa kantuk yang mulai datang memaksanya untuk membuka mata dan naik ke lantai atas. Namun ketika dia tiba di depan kamarnya, dia melihat pintu kamar sebelah sediki

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 76. Kabar dari Mawar

    Maura segera membaringkan tubuhnya begitu dia tiba di kamar. Dia sangat lelah hingga tak sanggup untuk melakukan apapun lagi. “Kondisi awal kehamilan seperti ini rentan keguguran. Sebaiknya Anda perbanyak istirahat, ya, Bu. Jangan terlalu banyak bekerja dan jangan terlalu lelah.” Nasihat dari

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 75. Jangan Sampai Dewangga Tahu

    Sore itu sebelum jam kerja berakhir, di dalam ruang kantor Dewangga, Alena duduk tenang menghadapi atasannya. “Kamu tahu alasan saya memintamu datang ke sini?” tanya Dewangga dengan nada dingin. “Apa karena saya ngambil sesuatu dari laci Anda?” tebak Alena, yang sudah menyiapkan diri jauh-jauh h

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 74. Garis Dua

    Jam menunjukkan waktu sekitar setengah sembilan malam.Dewangga menghentikan mobilnya di depan pintu pagar rumah Maura.Sepanjang perjalanan tak ada obrolan apapun di antara mereka.Bahkan mereka tak membahas soal oma Ambar yang meminta mereka menginap, namun mereka tolak dengan berbagai alasan dan

  • Sebelum Kita Bercerai   Bab 72. Wanita Pengacau Pikiran

    Maura terburu-buru menuruni tangga dan berdiri di depan pintu.Di luar sana, Dewangga masih mengetuk, menunggu Maura membukakan pintunya.“Maura, buka pintunya!”“Nggak, Dewangga. Aku bilang, aku nggak leluasa ketemu siapapun,” ujar wanita itu, yang berdiri dengan gugup

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status