بيت / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 10- Rahasia Besar Lain

مشاركة

10- Rahasia Besar Lain

مؤلف: Sora Carita
last update تاريخ النشر: 2026-05-19 17:30:56

Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya.

"Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak mata yang harus diyakinkan kalau pernikahan ini nyata. Itu draf rencana publikasi dan resepsi untuk beberapa bulan ke depan. Pernikahan darurat yang tanpa persiapan matang justru akan memicu kecurigaan."

Dada Tala kembali bergemuruh. Amarah yang sempat padam semalam kini merayap naik, membakar sisa-sisa rasa bersalahnya. "Rencana beberapa bulan ke depan? Tapi tanggal cetaknya dari berbulan-bulan lalu, Geza! Jangan ngeles. Jujur sama aku, apa lagi strategi yang lagi kamu siapin?!"

Tala mendekat sedikit dengan napas memburu. "Aku gak mau ada debat panjang dan saling tuduh kayak semalam lagi. Tolong, jujur."

“Salah tuduh.” koreksi Geza datar. “Kamu yang semalam menyerang dan menuduh saya.”

“Gak minta maaf?” lanjut Geza lagi. Sepasang matanya menatap Tala lurus, menuntut balasan atas amukan Tala semalam.

Tala mendecih. Ia tidak percaya pria di hadapannya justru mencoba membalikkan keadaan di saat dokumen mencurigakan ini ada di tangan mereka. Iya, semalam dia memang sudah terlalu defensif sebelum mendapat penjelasan. Namun, melihat bukti-bukti yang ditemukannya semalam, Geza jelas tidak sebersih itu. Sikap pria itu sekarang seakan-akan menegaskan kalau hanya Tala yang bersalah di sini, padahal mereka berdua sama-sama punya andil dalam keributan semalam.

"Kamu sendiri enggak merasa salah?" balas Tala tidak mau kalah.

“Iya, saya salah Tala. Maaf. Puas?” ucapnya ganti menyerang, tetapi dengan intonasi rendah yang justru terdengar tulus, bertolak belakang dengan kalimatnya yang defensif.

Tala melengos. “Anggap impas, kita sama-sama punya porsi salah di sini.”

"Jadi, strategi apa lagi yang lagi kamu siapin pakai draf sematang ini? Kamu mau pakai aku buat jadi tameng apa lagi?" Tala tidak meledak, hanya cara bicaranya yang terdengar sarkas.

Geza bergeming. Keheningan merayap lambat selama beberapa saat. Tatapannya pada Tala sempat melunak selama beberapa detik, sebelum akhirnya pria itu mengembus napas pendek—seolah terpaksa menyerah.

"Oke, saya jujur." Geza menjeda kalimatnya, nadanya berubah datar, tanpa riak emosi. "Itu draf planning pernikahan yang sudah saya susun dari jauh-jauh hari. Rencana yang awalnya saya siapkan untuk nikahin mantan saya."

Tala tertegun, lidahnya mendadak kelu.

"Semua konsep acara, daftar vendor, sampai detail lainnya di sana... itu mengikuti selera dia." lanjut Geza santai, seolah ucapan itu tidak berdampak apa-apa.

Pria itu tidak bergerak dari tempatnya, namun sepasang matanya mendadak mengunci Tala dengan sorot yang begitu pekat, tajam, dan tidak beralih barang sedetik pun. Geza menarik sudut bibirnya tipis—sebuah senyuman remeh yang justru membuat dada Tala terpantik.

"Kenapa?" tanya Geza rendah. Nada suaranya bergeser, terdengar begitu dalam dan penuh penekanan di tiap katanya. "Kamu keberatan pakai konsep resepsi pilihan perempuan lain?"

Geza menaikkan sebelah alisnya, menatap Tala dengan ekspresi meremehkan yang terasa sangat pongah. "Kamu mau jadikan ini resepsi pernikahan beneran yang sesuai selera kamu? Enggak, kan?"

Pertanyaan beruntun itu menghantam ego Tala, seketika mengunci mulutnya rapat-rapat. Benar. Ini hanya pernikahan kontrak tiga tahun. Kenapa dia harus peduli jika dia harus memakai konsep pernikahan milik masa lalu Geza?

Namun, alarm kewaspadaannya kembali berdering. Bagaimana kalau ini cuma alasan? Bagaimanapun, Geza adalah negosiator ulung yang pintar bersilat lidah demi memenangkan argumen. Bisa jadi cerita tentang mantan itu hanya tameng instan untuk membungkamnya.

Ia terlalu sibuk mencurigai taktik Geza, hingga luput menyadari satu kontradiksi besar—rahasia yang mungkin baru akan ia sadari beberapa waktu ke depan.

Tala menarik napas panjang, mencoba mengembalikan sisa-sisa harga diri yang sempat terusik. Ia menegakkan bahu, menatap Geza dengan binar menantang yang sengaja dibuat secukupnya—seolah pembicaraan tentang masa lalu pria itu sama sekali tidak memengaruhi isi kepalanya.

"Oke. Aku gak peduli ini konsep milik siapa," ujar Tala, suaranya kini terdengar jauh lebih datar dan profesional. "Tapi ada satu hal penting yang belum tertulis di draf kontrak ini."

Geza menaikkan sebelah alisnya, bersedekap dada menanti kelanjutan kalimat Tala.

"Gimana kalau di tengah jalan kamu punya pacar? Atau... gimana kalau kamu tiba-tiba balikan sama mantan kamu ini?" Tala mengetuk permukaan draf di tangannya. "Pernikahan ini berlangsung tiga tahun, Geza. Aku gak mau dicap sebagai pelakor, atau malah kelihatan kayak korban perselingkuhan di depan lingkaran kita kalau perempuan dari masa lalu kamu itu tiba-tiba datang lagi."

Mendengar cecaran itu, ekspresi Geza kembali berubah datar dan tenang.

"Secara teknis, komitmen kita hanya berlaku untuk luar. Di luar itu, saya tidak punya hak melarang dengan siapa kamu bertemu, begitu juga sebaliknya. Tapi saya bukan orang amatir yang membiarkan urusan personal merusak nama baik dan mempersulit posisi kita di pengadilan nanti," lanjut Geza, menatap Tala lurus-lurus.

"Kalau saya atau kamu punya seseorang di luar sana, aturannya jelas: main aman dan rapi. Cari pria yang mau mengerti kondisi kamu. Yang lebih segalanya dari saya."

Tala mendengus remeh, alisnya bertautan erat. "Lebih segalanya dari kamu?" ulangnya, merasa harga dirinya tersenggol oleh arogansi pria itu. Jadi di mata Geza, dia adalah standar tertinggi yang mustahil dilewati orang lain?

"Untuk jaga reputasi kamu kalau kontrak ini selesai, setidaknya kamu dapat yang lebih baik dari saya," jelas Geza lagi.

Suaranya merendah, kehilangan nada pongah yang tadi sempat dia pamerkan.

Tala menunggu. Ia mengira Geza pasti akan melanjutkan kalimatnya dengan sesumbar kalau pria itu juga akan mencari wanita yang lebih di atas Tala untuk dirinya sendiri nanti. Namun, kalimat itu tak kunjung keluar.

Mungkin pria itu malas perang ego lagi.

Geza tiba-tiba berdeham. Sorot matanya mendadak berubah, tampak menyelidik dengan intensitas yang disembunyikan rapat-rapat.

"Lagipula..." Geza menjeda kalimatnya, mengunci manik mata Tala demi membaca ekspresi wanita itu sekecil apa pun. "Emang dalam waktu dekat ini, kamu mau punya pacar? Atau... udah ada yang lagi dekat sama kamu sekarang?"

Tala mendengus kesal. "Bukan urusan kamu."

Sambil bersungut, ia merapikan semua dokumen itu ke dalam map. Untuk saat ini, Tala memilih percaya pada ucapan Geza. Namun, jika sampai ada hal besar yang disembunyikan pria itu, ia tidak akan sungkan untuk kembali meledak dan merobek kontrak mereka tanpa sisa.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Sebelum Tiga Tahun   56- Dia Mau Apa?

    Malam itu, jam digital di atas nakas sudah menunjukkan pukul 01.45 dini hari, namun Tala masih terjaga sepenuhnya. Ia berbaring miring, menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat, menyaring suara gemericik air dari dalam sana.Sesuai dugaannya, Geza baru masuk ke kamar lewat tengah malam setelah menyelesaikan pekerjaannya. Namun, tak seperti malam-malam sebelumnya di mana Geza akan mendapati Tala sudah meringkuk tak sadarkan diri di balik selimut, malam ini Tala sengaja menunggu. Informasi dari Amika siang tadi benar-benar menyita seluruh fungsi otaknya.Pintu kamar mandi terbuka. Geza keluar dengan kaus oblong hitam dan celana pendek abu-abu, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Langkah pria itu mendadak terhenti di ujung ranjang saat menyadari sepasang mata Tala sedang bergerak mengikutinya."Belum tidur?" tanya Geza. Ia melirik jam di nakas, lalu kembali menatap Tala dengan kening berkerut halus. "Ini hampir jam dua.""Susah tidur."Tala mengubah posisinya menj

  • Sebelum Tiga Tahun   55- Alasan Membenci

    “Geza.” Amika menjawab.Tala menggeleng pelan. "Itu cuma asumsi lo doang kali, Mik.""Nggak kok, orang gue punya bukti.""Mana?"Amika menyandarkan punggungnya ke kursi. "Inget gak proyek Cikarang yang bikin lo kelabakan beberapa bulan lalu? Yang hampir batal gara-gara pemilik lahannya tiba-tiba minta harga naik."Tala mengangguk. Ia masih ingat betul bagaimana proyek itu nyaris membuat kepalanya pecah."Lo pikir kenapa akhirnya pemilik lahan itu balik ke harga awal?""Lah, karena negosiasi tim legal Janitra."Amika menggeleng.“Gue baru tahu belakangan dari konsultan appraisal yang ikut duduk di pertemuan terakhir," lanjut Amika, memajukan tubuhnya sedikit demi memberikan penekanan. "Sebelum Janitra masuk lagi buat negosiasi, Geza ternyata pakai pihak lain buat lebih dulu ketemu pemilik lahannya.”Tatapan Tala membeku."Dia nggak nawar. Nggak maksa juga." tutur Amika."Terus?"“Pihak suruhan Geza cuma bilang kalau Bhuwana nggak akan ikut masuk atau ngerebut lahan itu. Dan menurut dia

  • Sebelum Tiga Tahun   54- Penjaga Punggung

    "Kamu lagi dapet, Ta?" tanya Geza dengan suara yang luar biasa serak dan tertahan, menuntut penjelasan dari wanita di bawahnya yang sudah berhasil membuatnya gila setengah mati.Di bawah kungkungan tubuh Geza yang menegang kaku, Tala justru menarik napas panjang, menikmati pasokan oksigen sebanyak mungkin. Alih-alih merasa bersalah atau panik karena tertangkap basah, seulas senyum kemenangan terbit di wajahnya yang merona merah.Dengan gerakan lambat, ia mengalungkan kembali kedua lengannya di leher pria itu, sengaja merapatkan tubuh atas mereka yang sama-sama polos tanpa sekat.“Not tonight…You lose Mas Geza.”Geza mendengkus kesal. Kepalanya mendongak ke langit-langit kamar sejenak, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu berantakan. Rasa panas dan berdenyut di bagian bawah tubuhnya benar-benar menyiksa. “Fine,” ujar Geza akhirnya, menatap Tala dengan senyum miring yang menantang balik. “Kamu menang Tala. Puas? Tapi jangan pikir kamu bisa lepas gitu aja.”Dengan gerakan yang s

  • Sebelum Tiga Tahun   53- Malam Kemenangan Tala

    Pertanyaan Geza menggantung di antara mereka, bergesekan dengan udara kamar yang mendadak terasa gerah. Tala menyunggingkan senyum tipis—sebuah lengkung samar yang penuh arti.Tangannya bergerak menutupi jemari Geza yang masih tertahan di resleting dressnya menuntun tangan pria itu untuk tetap di sana, merasakannya langsung lewat sekat kain gaun yang tipis.“Menyesal?” suara Tala mengalun rendah melebur dengan kesunyian malam. “Pion nggak pernah punya pilihan buat jalan mundur, bukan?”Geza menyentak, menepis tangan Tala yang menutupi jemarinya di atas resleting dress wanita itu. Dalam satu gerakan cepat, tangannya naik ke tengkuk Tala, meremasnya dengan tekanan yang menuntut.“Nggak ada pion yang punya kuasa buat mengacaukan isi kepala saya kayak gini.” balas Geza dengan suara menggeram.Bersamaan dengan kalimat itu, Geza melangkah maju. Dorongan tubuhnya membuat Tala mundur tertatih, kehilangan keseimbangan hingga bagian belakang lututnya membentur tepi ranjang dan di detik berikutn

  • Sebelum Tiga Tahun   52- Sengatan Halus

    “Tell me.” ucap Tala lagi, ujung telunjuknya bergerak lambat menyusuri dada Geza.Geza segera mencekal jemari itu. “Kamu mabuk, Tala.”“Nggak, aku masih cukup sadar buat bisa lawan semua fans kamu yang buas itu.” sanggah Tala.“Kenapa? Mereka ganggu kamu lagi?” tanya Geza.“Nggak secara langsung.”“Sorry Ta, ada beberapa hal yang harus saya urus di sini. Jadi sering ninggalin kamu.” sesal Geza.Tala terkekeh. “GM residential development….”“... pasti sesibuk itu sih,” lanjut Tala, nadanya mengayun ringan.Efek segelas setengah wine tadi mulai bekerja, membuat tubuhnya terasa seringan kapas, sekaligus menyulut lebih banyak keberanian. Aroma bergamot yang maskulin dan familier dari jas Geza yang tersampir di bahunya perlahan menguar, mengepung indra penciuman. Aroma itu egois, persis seperti pemiliknya, mengklaim Tala di tengah dinginnya angin malam.Di bawah lampu balkon, tatapannya yang agak sayu menyisir garis rahang kokoh Geza.“Jadi,” Tala memulai lagi, menatap Geza tanpa berkedip,

  • Sebelum Tiga Tahun   51- Pengakuan Dosa

    Suara sumbang itu sukses membuat Tala kesal."Selingkuh? Nggak mungkin ah. Pak Geza nggak kelihatan kayak cowok yang begitu. Kerjaannya aja udah segunung.”Bukan peselingkuh? Komentar itu justru sedikit menggelitik Tala, mengingat beberapa fakta masa lalu yang ia ketahui."Tapi gue tetap nggak rela aja. Yang diucapin terima kasih malah cewek lain, padahal Mbak Kinan yang nemenin semua prosesnya."Realistis. Tapi yang membuat Tala semakin kesal adalah kenyataan bahwa Geza sengaja menyeretnya ke bawah sorotan yang bukan miliknya."Iya sih, gue kalau jadi Mbak Kinan nangis parah. Eh tapi sis, kalau nggak selingkuh nggak mungkin dong tiba-tiba nikah gitu aja."Tala mengenali bahwa suara-suara ini berbeda dari para penggosip yang ia dengar kemarin sore.Astaga. Ternyata jumlah hatersnya lebih banyak dari yang ia kira. Harusnya Tala keluar saja daripada menguping omongan sampah macam itu.Harusnya.Tapi tubuhnya bicara lain. Ia malah tetap berdiri di depan wastafel, berpura-pura merapikan r

  • Sebelum Tiga Tahun   23- Di Balik Dinding Melawai

    Tala menatap keluar jendela kantor lapangan, memandangi kerangka baja Space Creative yang kini baginya tampak seperti sebuah labirin. Di tengah tumpukan proyek perumahan subsidi di pinggiran kota yang selama ini menopang nama Janitra, proyek di Melawai ini jadi salah satu aset prestisius yang diwar

  • Sebelum Tiga Tahun   22- Suami Istri Harmonis

    Suasana ruang keluarga mendadak terasa lebih berat. Di atas meja marmer, tumpukan berkas site visit proyek Janitra yang akan Tala tinjau dalam satu minggu ke depan sudah menggunung. Ini adalah kali pertama Tala terjun langsung ke lapangan dengan posisi baru di Janitra, dan dia butuh persiapan matan

  • Sebelum Tiga Tahun   20- Exit Plan Geza

    Setelah rombongan "pasukan pengawal" Geza menghilang dari pandangan, suasana di meja mendadak berubah drastis. Sisa es batu di gelas Amika berdenting pelan saat ia mengaduk minumannya, matanya menatap Tala yang baru saja duduk kembali dengan napas yang masih memburu—sisa emosi yang belum sepenuhnya

  • Sebelum Tiga Tahun   15- Lemburan Pukul Sebelas

    Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ruang kerja Geza adalah satu-satunya tempat yang masih bercahaya di rumah itu, menyisakan kesunyian yang mencekik. Geza duduk di balik meja mahoninya, jemarinya memutar pena dengan ritme yang monoton, sementara matanya tajam mencoret anggaran salah satu proyek Ja

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status