Mag-log in“Tell me.” ucap Tala lagi, ujung telunjuknya bergerak lambat menyusuri dada Geza.Geza segera mencekal jemari itu. “Kamu mabuk, Tala.”“Nggak, aku masih cukup sadar buat bisa lawan semua fans kamu yang buas itu.” sanggah Tala.“Kenapa? Mereka ganggu kamu lagi?” tanya Geza.“Nggak secara langsung.”“Sorry Ta, ada beberapa hal yang harus saya urus di sini. Jadi sering ninggalin kamu.” sesal Geza.Tala terkekeh. “GM residential development….”“... pasti sesibuk itu sih,” lanjut Tala, nadanya mengayun ringan.Efek segelas setengah wine tadi mulai bekerja, membuat tubuhnya terasa seringan kapas, sekaligus menyulut lebih banyak keberanian. Aroma bergamot yang maskulin dan familier dari jas Geza yang tersampir di bahunya perlahan menguar, mengepung indra penciuman. Aroma itu egois, persis seperti pemiliknya, mengklaim Tala di tengah dinginnya angin malam.Di bawah lampu balkon, tatapannya yang agak sayu menyisir garis rahang kokoh Geza.“Jadi,” Tala memulai lagi, menatap Geza tanpa berkedip,
Suara sumbang itu sukses membuat Tala kesal."Selingkuh? Nggak mungkin ah. Pak Geza nggak kelihatan kayak cowok yang begitu. Kerjaannya aja udah segunung.”Bukan peselingkuh? Komentar itu justru sedikit menggelitik Tala, mengingat beberapa fakta masa lalu yang ia ketahui."Tapi gue tetap nggak rela aja. Yang diucapin terima kasih malah cewek lain, padahal Mbak Kinan yang nemenin semua prosesnya."Realistis. Tapi yang membuat Tala semakin kesal adalah kenyataan bahwa Geza sengaja menyeretnya ke bawah sorotan yang bukan miliknya."Iya sih, gue kalau jadi Mbak Kinan nangis parah. Eh tapi sis, kalau nggak selingkuh nggak mungkin dong tiba-tiba nikah gitu aja."Tala mengenali bahwa suara-suara ini berbeda dari para penggosip yang ia dengar kemarin sore.Astaga. Ternyata jumlah hatersnya lebih banyak dari yang ia kira. Harusnya Tala keluar saja daripada menguping omongan sampah macam itu.Harusnya.Tapi tubuhnya bicara lain. Ia malah tetap berdiri di depan wastafel, berpura-pura merapikan r
Tala baru saja menyapukan blush on di pipi saat pesan dari Rena masuk.Pakai lipstik merah, Mbak. Pasti cantik. Tunjukin kalau Mbak nggak apple to apple sama mantan. Soalnya Mbak levelnya di atas.Tala hanya terkekeh membacanya.Dari obrolan sore tadi, Rena cuma bilang kalau Kinan pernah bekerja di Bhuwana sebelum akhirnya pindah ke luar negeri. Hanya itu. Tala juga tidak berniat mencari tahu lebih jauh. Toh itu bukan urusannya.Ini malam kedua retreat. Bhuwana menggelar dinner sekaligus malam apresiasi atas pencapaian Divisi Residential Development sepanjang tahun ini. Acara itu turut mengundang keluarga para karyawan dan jajaran manajemen, menjadikannya lebih dari sekadar makan malam biasa.Artinya Tala harus kembali tersenyum, berbasa-basi, menjadi istri Geza di depan publik dan jelas menghadapi lebih banyak tatapan penasaran serta bisik-bisik tentang dirinya dan pria itu. Malam saat welcoming BBQ kemarin tingkah Geza yang berlebihan sukses menjadi bahan bakar baru bagi para penggo
“Bisa ternyata ya, Ta. Nikah sama orang yang kamu benci. Dulu dimaki-maki sekarang malah satu rumah.”Kalimat itu diucapkan sambil tersenyum, tetapi Tala menangkap maksud lain di baliknya.“Begitulah, Mbak. Jodoh kan emang jorok,” balas Tala seringan mungkin.Ana—wanita usia pertengahan tiga puluh itu tertawa kecil. “Tapi udah gak dendam dong Ta.”“Kalau dendam, saya gak mungkin nikah sama mas Geza.” balas Tala.Semoga cukup sampai di situ.“Hebat sih, Ta. Kamu bisa nerima dia. Kalau saya jadi kamu, lihat mukanya aja nggak mau.”Tala tersenyum tipis.Sungguh provokatif sekali.Padahal setahunya, dulu Ana dan Geza sama-sama berdiri di sisi yang sama—saling melindungi. Namun kenapa saat diungkit sekarang kesannya dosa yang Geza lakukan lebih besar?“Duluan ya.” Ana pamit, mengajak salah satu rekannya untuk bergabung dengan kelompok lain.Tala mengenal Ana empat tahun lalu, saat proyek kolaborasi antara Bhuwana dan firma tempatnya bekerja mempertemukan mereka. Dari proyek itu pula, ia ber
“Ta, kata Geza minggu depan ada gathering Bhuwana di Ciawi ya? Kamu ikut kan?” tanya bude Sinta sambil menyesap teh.“Nggak bude.” Tala menjawab sambil menyusun lego Sansa membentuk sebuah menara sesuai permintaan anak itu yang kini sedang ke toilet bersama sus Lia.“Lah kenapa? Ikut aja Ta, biar Sansa sama bude di sini. Udah anteng ini anaknya.” bujuk bude Sinta.“Bude nggak jadi pulang minggu depan kok,” imbuhnya.“Bude masih betah?”“Iya nih, Ta. Di sana paling mentok cuma ngemong cucu. Di sini juga sama, tapi ya mending di sini lah. Bisa ketemu banyak saudara sama teman-teman lama Bude,” jelasnya sambil tersenyum.Anak tunggal Bude Sinta sudah lama menetap dan bekerja di Jepang. Sementara itu, aset-aset warisan keluarga yang menjadi haknya dikelola secara profesional sehingga ia tak perlu direpotkan urusan manajemen yang memusingkan. Di masa pensiunnya, Bude Sinta memilih menikmati hidup dengan santai.“Ya udah bude di sini aja.”Sejujurnya Tala senang mendengar hal itu, hanya saj
Malam ini Tala memasak sendiri untuk makan malam. Dia hanya meminta Bi Yuni menyiapkan bahan-bahannya agar sepulang dari Janitra, ia bisa langsung mengeksekusi semuanya di dapur. Seluruh menu yang ia buat adalah makanan favorit Geza—yang beberapa waktu lalu sempat pria itu kirimkan lewat surel.Tala menyebut ini sebagai bentuk balas budi untuk semua kebaikan Geza. Terlebih soal tindakan pria itu yang pulang dinas lebih awal lalu berakhir mengorbankan waktu istirahat demi membawa Tala ke rumah sakit di pagi buta.“Sansa udah tidur?” tanya Geza begitu Tala membukakan pintu. Hal yang baru pertama kali Tala lakukan dengan sukarela setelah hampir setahun berstatus istri. Ya…walaupun hanya istri kontrak.“Udah tadi. Ayo makan dulu!” ajak Tala.Geza mengekori sambil menggulung lengan kemejanya sampai siku.Di meja makan, semur daging kentang, tempe cabe ijo, sambal, dan beberapa lauk sederhana sudah tertata rapi. Geza menatapnya sekilas, lalu mengangkat alis.“Tumben masakin buat saya. Dalam
Pukul sebelas lewat tiga puluh, Geza masih berada di ruang rapat lantai dua puluh Bhuwana Sedaya Tower, menghadiri pembahasan kerja sama pengembangan kawasan terpadu yang dihadiri tim proyek, konsultan, dan pihak investor.Setengah jam lagi rapat itu akan selesai. Pembahasan inti sudah tuntas, meny
Jabatan baru Tala di Janitra tak lantas memberinya ruang untuk bernapas lebih lega. Meski Suwandi sangat membantu sebagai CEO, banyak keputusan penting tetap berada di tangannya sebagai wali Sansa. Mau tak mau, Tala harus mempelajari seluk-beluk manajemen Janitra sampai keponakannya itu cukup dewas
Tala meletakkan sepiring lapis legit di atas meja ruang kerja Geza. Secangkir kopi hitam masih mengepulkan uap tipis di sampingnya.Sore tadi, sepulang dari Janitra, Tala berpapasan dengan Tante Desi di parkiran. Ia dititipi kue favorit Geza beserta sebungkus besar kopi giling. Semua sempat terongg
“Ta, kamu mencintai Geza?” tanya Bude Sinta tiba-tiba.“Iya dong, Bude.” Tala mencolek es krim di dalam cup, pura-pura sibuk agar kebohongannya tak terlalu kentara.“Memangnya kenapa Bude tanya begitu?” tanyanya hati-hati. “Aku ada salah? Kurang baik sama Mas Geza?”Sejak Dharma mengaku memiliki bu







