首頁 / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 11- Celah di Sofa Abu

分享

11- Celah di Sofa Abu

作者: Sora Carita
last update publish date: 2026-05-20 11:59:30

Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.

Bukan.

Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang memang sudah terbiasa terjaga hingga larut malam; selain karena dulu sering begadang mengejar deadline desain, kebiasaan itu kini berlanjut lagi karena Sansa yang kerap terbangun di tengah malam bahkan sampai pagi.

Dia hanya mengenakan kaos putih longgar kebesaran berbahan katun lembut—merchandise eksklusif dari proyek pameran arsitektur yang pernah dia pegang dua tahun lalu—dan hotpants senada. Itu pakaian tidur ternyaman yang biasa dia pakai sehari-hari di dalam rumah.

Namun, begitu sampai di ruang keluarga, Tala mendapati lampu lantai di sudut ruangan sudah menyala, memayungi sofa panjang abu-abu dengan pendar cahaya yang temaram namun cukup terang untuk membaca.

Di sana, Geza sedang duduk bersandar dengan santai. Di atas meja kopi di hadapannya, berserakan sebuah tablet dan tumpukan berkas blueprint proyek townhouse milik Janitra Properti—perusahaan peninggalan Arka. Pria itu tampaknya baru selesai membersihkan diri setelah menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang dibawa ke rumah; dia mengenakan kaos rumahan abu-abu polos yang pas di tubuh, mempertegas siluet bahunya yang tegap dan kokoh.

Kacamata baca bertengger di hidung tegasnya, dan tangan kanannya yang memegang pulpen merah baru saja selesai memberi coretan koreksi pada draf perencanaan struktur fasad—yang langsung Tala kenali karena itu adalah hasil desainnya yang sudah disetujui Arka.

Dia melangkah tenang dengan kaki telanjang, lalu duduk di ujung sofa yang sama dengan Geza, melipat kakinya ke atas bantalan sofa, dan menatap pulpen merah itu dengan senyum sarkas.

"Pulpen merah lagi, Geza?" tanya Tala, memecah kesunyian malam dengan nada seringan bulu namun tajam. "Kebiasaan ya orang-orang dari korporasi raksasa sekelas Bhuwana tuh datang ke Janitra cuma buat mangkas anggaran estetika demi angka-angka efisiensi yang membosankan."

Geza tidak terkejut dengan kedatangan Tala. Dia perlahan menurunkan tabletnya, pandangan matanya sempat turun sekelebat, menyapu kaki jenjang Tala yang terekspos bebas karena potongan hotpants-nya, sebelum kembali mengunci tatapan mata wanita itu dengan tenang dan dominan.

"Saya sedang mengamankan likuiditas Janitra, Tala," sahut Geza, suaranya berat, datar, dan begitu rasional. "Konsep fasad kamu ini terlalu idealis untuk proyek townhouse kita sekarang. Kalau dipaksakan berdiri, perusahaan Mas Arka bisa kolaps karena pembengkakan anggaran."

Tala mendengus tipis. "Nggak usah sedramatis itu. Struktur itu sudah dihitung matang dan disetujui sama Mas Arka sebelum dia nggak ada. Ini proyek mini-cluster eksklusif, Geza. Daya jual utama kita justru di keunikan desain fasadnya."

Geza menghela napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa dengan santai. Pulpen merah di tangannya berputar sekali dengan lihai.

"Itulah masalahnya dengan arsitek. Kalian cuma lihat estetika, tapi buta sama cash flow," sahut Geza tanpa beban.

"Arka setuju karena dia melihat ini sebagai kakak dan sesama rekan arsitek kamu. Tapi tugas saya di sini adalah realistis sebagai manajemen," potong Geza datar. "Desain fasad tropis modern kamu ini cantik, tapi memakan biaya konstruksi tiga puluh persen di atas budget standar Janitra. Pasar kita sekarang lagi butuh rumah yang fungsional, murah, dan cepat serah terima. Mereka nggak peduli sama dinding estetik kalau ujung-ujungnya harus inden dua tahun lebih lama cuma karena tukang di lapangan kesulitan garap strukturnya."

Tala terkekeh hambar, memeluk lututnya di atas sofa. "Alasan yang sama persis seperti proyek kita tiga tahun lalu? Kamu itu... sebenarnya paham esensi arsitektur nggak, sih? Atau di otak kamu cuma ada kalkulator sama beton pracetak? Orang sipil bentukan korporat besar kayak kamu emang selamanya nggak bakal ngerti apa itu selera dan estetika."

Geza menaruh pulpennya di atas meja dengan ketukan pelan. Dia menatap Tala dengan wajah tanpa ekspresi, lalu menyahut dengan nada yang terlampau datar.

"Kalau saya nggak tahu estetika, nggak mungkin saya nikahin kamu hari ini.”

Tala langsung terdiam. Matanya berkedip sekali, otaknya mendadak lambat mencerna kalimat barusan. Pria di depannya ini terlalu lihai bermain kata. Melihat pipi Tala yang mendadak berubah sedikit merona dalam remang lampu, sudut bibir Geza berkedut tipis, terhibur.

Tala berdeham, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa harga dirinya yang sempat goyah.

"Nggak usah pindah topik" tembak Tala ketus. "Intinya kamu mau cari celah buat mutus kontrak kerjasamaku sama Janitra kan?"

"Saya lagi nyelamatin proyek, Tala, bukan lagi nyari masalah sama kamu," balas Geza. Intonasi suaranya turun satu oktav, terdengar lebih berat dan mengintimidasi. "Kamu mau bilang saya licik lagi? Manipulatif?”

"Karena emang itu sifat asli kamu." ujar Tala tenang. Nada suaranya datar tanpa riak, namun justru di situ letak serangannya.

Tala sedikit mencondongkan tubuh ke arah Geza, menatap pria itu dengan remeh. "Pinter manfaatin celah."

Geza tak langsung membalas. Dia justru menggeser tubuhnya di atas sofa panjang itu.

Pergerakan Geza begitu konstan dan cepat. Sebelum Tala sempat menurunkan kakinya dari sofa untuk menghindar, Geza sudah merangsek maju, memotong sisa jarak di antara mereka. Dalam satu hentakan singkat, ia mengurung tubuh Tala telak di sudut sandaran lengan sofa.

Kedua tangan besar Geza mendarat tegas di sisi kanan dan kiri kepala Tala, mencengkeram kain sofa dan memotong habis ruang geraknya. Meski berpakaian lengkap, kedekatan ini justru terasa jauh lebih menyesakkan karena dada bidangnya kini tepat berada di depan wajah Tala.

Aroma sabun maskulin yang tajam bercampur wangi khas tubuh Geza langsung menyerang indra penciuman Tala, membuat pasokan oksigen di ruang keluarga itu mendadak menguap.

Tala menahan napas, kedua telapak tangannya refleks menempel di dada Geza, mencoba menahan detak jantungnya sendiri yang mulai gila. Bagaimana pun Tala ini wanita dewasa, jarak seintens ini mana mungkin tak membuatnya berdebar.

"Geza, mundur," bisik Tala parau. Suaranya yang biasa terdengar ketus kini bergetar, kehilangan seluruh keangkuhannya yang tadi.

Bukannya menjauh, Geza justru menurunkan pandangannya, mengunci bibir Tala yang sedikit terbuka sebelum kembali menatap sepasang mata wanita itu. "Kenapa? Kamu takut?"

"Nggak usah gila, ya!" Tala mencoba mendorong dada bidang di depannya, namun tubuh Geza sama sekali tidak bergeming. "Kita lagi bahas kerjaan!"

"Saya sedang tidak ingin membahas kerjaan, Tala," potong Geza rendah, suaranya terdengar seperti geraman halus.

Dengan satu gerakan impulsif, Geza melepas kacamatanya lalu melempar benda itu asal ke atas sofa.

"Kamu bilang kalau saya pintar memanfaatkan celah," bisik Geza rendah, getaran suaranya merayap berbahaya di indra pendengaran Tala. "Dan sekarang, kamu sengaja membuka celah itu lebar-lebar di depan saya."

"Geza stop…kamu mau ngapain?" suara Tala makin parau. Matanya bergerak panik, mencoba mencari celah untuk menghindar namun tubuhnya sudah terkunci total.

Bukannya menjawab, Geza justru semakin menunduk, memiringkan kepalanya dan merendahkan wajahnya hingga jarak di antara mereka tidak sampai satu sentimeter. Napas panas Geza yang memburu berembus langsung di atas permukaan kulit wajah Tala, memangkas sisa ruang yang tersisa hingga ujung hidung mereka bersentuhan.

Matanya terpejam perlahan, membuat Tala refleks ikut memejamkan mata erat-erat karena tidak sanggup menerima intensitas sedekat itu.

"Jadi, jangan salahkan saya kalau memanfaatkan celah ini." bisik Geza pelan, tepat di depan bibir Tala yang gemetar. "Kamu lupa, Tala? Mulai hari ini, saya punya hak penuh atas kamu. Dan ini malam pertama kita."

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Sebelum Tiga Tahun   56- Dia Mau Apa?

    Malam itu, jam digital di atas nakas sudah menunjukkan pukul 01.45 dini hari, namun Tala masih terjaga sepenuhnya. Ia berbaring miring, menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat, menyaring suara gemericik air dari dalam sana.Sesuai dugaannya, Geza baru masuk ke kamar lewat tengah malam setelah menyelesaikan pekerjaannya. Namun, tak seperti malam-malam sebelumnya di mana Geza akan mendapati Tala sudah meringkuk tak sadarkan diri di balik selimut, malam ini Tala sengaja menunggu. Informasi dari Amika siang tadi benar-benar menyita seluruh fungsi otaknya.Pintu kamar mandi terbuka. Geza keluar dengan kaus oblong hitam dan celana pendek abu-abu, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Langkah pria itu mendadak terhenti di ujung ranjang saat menyadari sepasang mata Tala sedang bergerak mengikutinya."Belum tidur?" tanya Geza. Ia melirik jam di nakas, lalu kembali menatap Tala dengan kening berkerut halus. "Ini hampir jam dua.""Susah tidur."Tala mengubah posisinya menj

  • Sebelum Tiga Tahun   55- Alasan Membenci

    “Geza.” Amika menjawab.Tala menggeleng pelan. "Itu cuma asumsi lo doang kali, Mik.""Nggak kok, orang gue punya bukti.""Mana?"Amika menyandarkan punggungnya ke kursi. "Inget gak proyek Cikarang yang bikin lo kelabakan beberapa bulan lalu? Yang hampir batal gara-gara pemilik lahannya tiba-tiba minta harga naik."Tala mengangguk. Ia masih ingat betul bagaimana proyek itu nyaris membuat kepalanya pecah."Lo pikir kenapa akhirnya pemilik lahan itu balik ke harga awal?""Lah, karena negosiasi tim legal Janitra."Amika menggeleng.“Gue baru tahu belakangan dari konsultan appraisal yang ikut duduk di pertemuan terakhir," lanjut Amika, memajukan tubuhnya sedikit demi memberikan penekanan. "Sebelum Janitra masuk lagi buat negosiasi, Geza ternyata pakai pihak lain buat lebih dulu ketemu pemilik lahannya.”Tatapan Tala membeku."Dia nggak nawar. Nggak maksa juga." tutur Amika."Terus?"“Pihak suruhan Geza cuma bilang kalau Bhuwana nggak akan ikut masuk atau ngerebut lahan itu. Dan menurut dia

  • Sebelum Tiga Tahun   54- Penjaga Punggung

    "Kamu lagi dapet, Ta?" tanya Geza dengan suara yang luar biasa serak dan tertahan, menuntut penjelasan dari wanita di bawahnya yang sudah berhasil membuatnya gila setengah mati.Di bawah kungkungan tubuh Geza yang menegang kaku, Tala justru menarik napas panjang, menikmati pasokan oksigen sebanyak mungkin. Alih-alih merasa bersalah atau panik karena tertangkap basah, seulas senyum kemenangan terbit di wajahnya yang merona merah.Dengan gerakan lambat, ia mengalungkan kembali kedua lengannya di leher pria itu, sengaja merapatkan tubuh atas mereka yang sama-sama polos tanpa sekat.“Not tonight…You lose Mas Geza.”Geza mendengkus kesal. Kepalanya mendongak ke langit-langit kamar sejenak, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu berantakan. Rasa panas dan berdenyut di bagian bawah tubuhnya benar-benar menyiksa. “Fine,” ujar Geza akhirnya, menatap Tala dengan senyum miring yang menantang balik. “Kamu menang Tala. Puas? Tapi jangan pikir kamu bisa lepas gitu aja.”Dengan gerakan yang s

  • Sebelum Tiga Tahun   53- Malam Kemenangan Tala

    Pertanyaan Geza menggantung di antara mereka, bergesekan dengan udara kamar yang mendadak terasa gerah. Tala menyunggingkan senyum tipis—sebuah lengkung samar yang penuh arti.Tangannya bergerak menutupi jemari Geza yang masih tertahan di resleting dressnya menuntun tangan pria itu untuk tetap di sana, merasakannya langsung lewat sekat kain gaun yang tipis.“Menyesal?” suara Tala mengalun rendah melebur dengan kesunyian malam. “Pion nggak pernah punya pilihan buat jalan mundur, bukan?”Geza menyentak, menepis tangan Tala yang menutupi jemarinya di atas resleting dress wanita itu. Dalam satu gerakan cepat, tangannya naik ke tengkuk Tala, meremasnya dengan tekanan yang menuntut.“Nggak ada pion yang punya kuasa buat mengacaukan isi kepala saya kayak gini.” balas Geza dengan suara menggeram.Bersamaan dengan kalimat itu, Geza melangkah maju. Dorongan tubuhnya membuat Tala mundur tertatih, kehilangan keseimbangan hingga bagian belakang lututnya membentur tepi ranjang dan di detik berikutn

  • Sebelum Tiga Tahun   52- Sengatan Halus

    “Tell me.” ucap Tala lagi, ujung telunjuknya bergerak lambat menyusuri dada Geza.Geza segera mencekal jemari itu. “Kamu mabuk, Tala.”“Nggak, aku masih cukup sadar buat bisa lawan semua fans kamu yang buas itu.” sanggah Tala.“Kenapa? Mereka ganggu kamu lagi?” tanya Geza.“Nggak secara langsung.”“Sorry Ta, ada beberapa hal yang harus saya urus di sini. Jadi sering ninggalin kamu.” sesal Geza.Tala terkekeh. “GM residential development….”“... pasti sesibuk itu sih,” lanjut Tala, nadanya mengayun ringan.Efek segelas setengah wine tadi mulai bekerja, membuat tubuhnya terasa seringan kapas, sekaligus menyulut lebih banyak keberanian. Aroma bergamot yang maskulin dan familier dari jas Geza yang tersampir di bahunya perlahan menguar, mengepung indra penciuman. Aroma itu egois, persis seperti pemiliknya, mengklaim Tala di tengah dinginnya angin malam.Di bawah lampu balkon, tatapannya yang agak sayu menyisir garis rahang kokoh Geza.“Jadi,” Tala memulai lagi, menatap Geza tanpa berkedip,

  • Sebelum Tiga Tahun   51- Pengakuan Dosa

    Suara sumbang itu sukses membuat Tala kesal."Selingkuh? Nggak mungkin ah. Pak Geza nggak kelihatan kayak cowok yang begitu. Kerjaannya aja udah segunung.”Bukan peselingkuh? Komentar itu justru sedikit menggelitik Tala, mengingat beberapa fakta masa lalu yang ia ketahui."Tapi gue tetap nggak rela aja. Yang diucapin terima kasih malah cewek lain, padahal Mbak Kinan yang nemenin semua prosesnya."Realistis. Tapi yang membuat Tala semakin kesal adalah kenyataan bahwa Geza sengaja menyeretnya ke bawah sorotan yang bukan miliknya."Iya sih, gue kalau jadi Mbak Kinan nangis parah. Eh tapi sis, kalau nggak selingkuh nggak mungkin dong tiba-tiba nikah gitu aja."Tala mengenali bahwa suara-suara ini berbeda dari para penggosip yang ia dengar kemarin sore.Astaga. Ternyata jumlah hatersnya lebih banyak dari yang ia kira. Harusnya Tala keluar saja daripada menguping omongan sampah macam itu.Harusnya.Tapi tubuhnya bicara lain. Ia malah tetap berdiri di depan wastafel, berpura-pura merapikan r

  • Sebelum Tiga Tahun   20- Exit Plan Geza

    Setelah rombongan "pasukan pengawal" Geza menghilang dari pandangan, suasana di meja mendadak berubah drastis. Sisa es batu di gelas Amika berdenting pelan saat ia mengaduk minumannya, matanya menatap Tala yang baru saja duduk kembali dengan napas yang masih memburu—sisa emosi yang belum sepenuhnya

  • Sebelum Tiga Tahun   15- Lemburan Pukul Sebelas

    Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ruang kerja Geza adalah satu-satunya tempat yang masih bercahaya di rumah itu, menyisakan kesunyian yang mencekik. Geza duduk di balik meja mahoninya, jemarinya memutar pena dengan ritme yang monoton, sementara matanya tajam mencoret anggaran salah satu proyek Ja

  • Sebelum Tiga Tahun   12- Mentor Otoriter

    Geza tidak langsung bergerak. Ia membiarkan jemarinya menangkup dagu Tala, menahan wajah itu agar tetap terkunci dalam pandangannya. Napas Geza yang hangat menyapu permukaan bibir Tala, meruntuhkan pertahanan wanita itu seketika.Mata Tala semakin terpejam rapat. Jantungnya berdegup liar, memukul ru

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status