Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 12- Mentor Otoriter

Share

12- Mentor Otoriter

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-05-21 22:57:49
Geza tidak langsung bergerak. Ia membiarkan jemarinya menangkup dagu Tala, menahan wajah itu agar tetap terkunci dalam pandangannya. Napas Geza yang hangat menyapu permukaan bibir Tala, meruntuhkan pertahanan wanita itu seketika.

Mata Tala semakin terpejam rapat. Jantungnya berdegup liar, memukul rusuknya dengan ritme yang tidak karuan. Ia menahan napas, merasakan aroma maskulin Geza yang membaur dengan wangi kopi dingin di ruangan itu. Sebuah perpaduan yang membuatnya kehilangan logika. Ia suda
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Sora Carita
thank you so much kak, semoga betah yaa ngikutin kisah om tante kontrak ini
goodnovel comment avatar
Menik Anjarsari
Aku jarang koment novel yg dibaca, tapi ini bagus ceritanya...
goodnovel comment avatar
Cindi Maelani
ihhh lucu gemes benget dah ah kalian, berantem mlulu, di tunggu romantis2nya yah jangan lupa buat adek ...️...️...️
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   201- Nostalgic?

    Tala masih berkutat dengan beberapa dokumen untuk final review proyek Serpong sore ini ketika sebuah pesan dari nomor asing masuk.Sekilas ia melirik notifikasinya, lalu memilih untuk mengabaikannya karena yakin tak akan jauh dari pesan spam. Ia malas meladeni di tengah kondisi sesibuk ini. Masih banyak yang harus diselesaikan. Bahkan makan siangnya saja sudah tertunda karena ingin memastikan semua dokumen untuk final review nanti selesai cepat.Proyek revitalisasi yang dulu sempat membuat Janitra heboh itu akhirnya mendekati garis akhir.Tala mengerjakannya dengan jauh lebih hati-hati daripada proyek biasa. Bukan hanya karena proyek tersebut sempat menimbulkan perdebatan di kalangan petinggi Janitra, tapi juga karena Raga pernah mencoba menyusupkan berbagai sabotasenya selama proses pengerjaan. Beruntung sejauh ini, semuanya masih bisa diatasi dan tetap terkendali.Sore nanti, ia akan turun langsung ke lokasi untuk melakukan final review sebelum proyek memasuki tahap soft launch bebe

  • Sebelum Tiga Tahun   200- Langkah Si Pria Tua

    Geza baru saja menutup panggilan video dengan Tala ketika Kinan menghampirinya di balkon restoran hotel tempat tim mereka menginap selama perjalanan dinas kali ini.“Geza,” panggilnya lembut.Kinan mengeluarkan sebatang rokok dari tas kecilnya, lalu menyalakan pemantik. Bara merah menyala sesaat sebelum ia mengembuskan asap perlahan.“Wanna?”“No. I’m going back to my room.”Geza hendak berbalik, tetapi suara Kinan kembali menahannya.“Tala marah kalau kita ngobrol berdua begini?” tanyanya. “Biarpun yang kita obrolkan bukan masa lalu?”Langkah Geza terhenti.Ia menoleh. “Apa yang mau kamu bilang?” tembaknya langsung ke inti.Kinan hanya tersenyum tipis, lalu kembali mengisap rokoknya.Tarikannya kali ini lebih dalam. Ia menahannya beberapa detik sebelum mengembuskan asap perlahan, membiarkan kepulan putih itu mengaburkan wajahnya sesaat.Kinan yang seperti ini adalah Kinan yang sedang terpuruk.Angin malam Surabaya berembus pelan. Namun hawa yang hangat dan lembap membuatnya nyaris tak

  • Sebelum Tiga Tahun   199- Sirat Khawatir

    “Hei, mulutnya tolong dijaga,” protes Tala. Ia mengambil kedua benda yang diangsurkan Geza.Sang suami duduk di kloset, sementara Tala berdiri di antara kedua pahanya yang terbuka.Krim cukur dioleskan merata di pipi dan rahang Geza. Mesin menyala dengan dengung halus.Tala menahan dagunya, memiringkan wajah Geza sedikit, lalu menggerakkan mesin dengan sapuan pendek di sepanjang rahang. Saat berpindah ke pipi, ibu jarinya menahan kulit agar tetap tegang.Tatapan mereka sempat bertaut dan dari jarak sedekat itu, Tala baru menyadarinya. Ada kusut di balik tatapan Geza. Bukan sekadar sisa kantuk.“Mas...”“Hm?”Tala mematikan mesin cukur di tangannya.“Kamu lagi banyak pikiran?”Geza mengerjap. “Nggak banyak juga.”“Mikirin apa? Mau cerita?”Geza diam sesaat. Tatapannya turun pada mesin cukur di tangan Tala, lalu mengambil benda itu perlahan, meletakkannya di sisi wastafel, kemudian menarik Tala untuk duduk di pangkuannya.“Papa saya dan Raga belakangan ini terlalu tenang,” ia membuka.Ta

  • Sebelum Tiga Tahun   198- Dinas Tujuh Hari

    Tala sendiri tak tahu kenapa naluri biologisnya terasa bereaksi kuat malam ini. Mungkin efek Pilates sore tadi. Atau mungkin karena tahu pria di hadapannya ini akan pergi jauh besok hari. “Bantuan yang bikin kacau,” gumam Geza. Baru kemudian Tala menyadari tangan Geza sudah singgah pada buah dadanya. Kimono tidur yang dikenakannya ternyata telah tersibak sejak tadi, menyisakan lingerie hitam yang nyaris tak lagi tersembunyi. Pantas saja reaksi pria itu begitu cepat. Mari bermain gila saja sekalian. Tala membuka kimono itu lalu melemparkannya ke sembarang arah. Kini yang tersisa hanya lingerie berbahan brokat hitam yang lembut sekaligus menerawang. “Shit,” Geza mengumpat pelan. Dengan kedua kaki Tala yang masih melingkari dan tampilan sensual yang seperti itu, jelas saja konsentrasi pria itu langsung buyar total. Geza mengembuskan napas panjang. Tatapannya berpindah dari Tala ke laptop yang masih terbuka, lalu kembali lagi kepada perempuan di pangkuannya. Dilema yang jelas terli

  • Sebelum Tiga Tahun   197- Variasi Gaya

    “Variasiin gayanya, deh, Ta. Jangan gitu-gitu melulu,” ujar Jia enteng. “Ganjel pake bantal.” imbuhnya. Tala melirik tajam. “Jangan lupa kakinya naik ke pundak...Uh, mantap.” lanjut Jia tanpa dosa. Matanya mengerling pada Tala. Astaga. Tala sungguh malu mendengarnya, meskipun sebenarnya kalimat-kalimat seperti itu sudah begitu akrab di telinganya. Bahkan beberapa di antaranya sudah pernah ia praktikkan. Masalahnya, mereka sedang berada di ruang ganti studio Pilates—kelas yang sudah Tala ikuti selama sebulan terakhir. Semua demi satu tujuan yang belakangan ini disebut sebagai promil natural. Gaya hidup sehat. Padahal dulu, olahraga semacam ini hampir selalu menjadi hal terakhir yang ingin dilakukan Tala. Paling banter ia hanya mau lari. Untuk urusan begini, Jia memang juaranya. Selain lebih berpengalaman, perempuan itu juga terkenal paling ceplas-ceplos. Dan, sayangnya, paling provokatif. Untung Amika tidak hadir di kelas sore ini. Kalau perempuan itu ikut, satu sesi ruang ga

  • Sebelum Tiga Tahun   196- Menggeret Anak Buah

    Lingkungan kantor Bhuwana yang dulu terasa asing sekaligus menyebalkan kini justru begitu familiar. Tala sudah cukup sering mampir ke sana, entah untuk mengantarkan makan siang bagi Geza atau mengurus urusan konsorsium. Namun kali ini ia datang bukan untuk keduanya. Ia hendak menjemput pria itu untuk pulang bersama. Pagi tadi Geza berangkat menggunakan mobil kantor, sementara pekerjaan Tala kebetulan selesai lebih awal.Dengan visitor access card yang sudah disiapkan Geza, Tala melangkah melewati lobi. Baru beberapa langkah, ia berpapasan dengan beberapa karyawan perempuan yang dulu pernah dilihatnya saat retreat malam itu.Pandangan mereka kembali jatuh padanya. Sedikit banyak, Tala terusik.Masihkah mereka memandangnya sebagai target?Ah, iya.Kinan sudah kembali.Jelas saja kehadirannya di sini mungkin kembali terasa mengganggu bagi sebagian orang.Bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, Tala mendapati Arvin berjalan cepat ke arahnya dengan paper bag kopi di tangan.“Thank you, Mb

  • Sebelum Tiga Tahun    6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

    Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me

  • Sebelum Tiga Tahun   5- Tawaran Perlindungan

    “Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat

  • Sebelum Tiga Tahun   4- Proposal Tak Terduga

    Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men

  • Sebelum Tiga Tahun   3- Rumah Bagi Sansaya

    Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status