LOGINGeza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus.
Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya.
"Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang.
"Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak mata yang harus diyakinkan kalau pernikahan ini nyata. Itu draf rencana publikasi dan resepsi untuk beberapa bulan ke depan. Pernikahan darurat yang tanpa persiapan matang justru akan memicu kecurigaan."
Dada Tala kembali bergemuruh. Amarah yang sempat padam semalam kini merayap naik, membakar sisa-sisa rasa bersalahnya.
"Rencana beberapa bulan ke depan? Tapi tanggal cetaknya dari berbulan-bulan lalu, Geza! Jangan ngeles. Jujur sama aku, apa lagi strategi yang lagi kamu siapin?!"
Tala mendekat sedikit dengan napas memburu. "Aku gak mau ada debat panjang dan saling tuduh kayak semalam lagi. Tolong, jujur."
“Salah tuduh.” koreksi Geza datar. “Kamu yang semalam menyerang dan menuduh saya.”
“Gak minta maaf?” lanjut Geza lagi. Sepasang matanya menatap Tala lurus, menuntut balasan atas amukan Tala semalam.
Tala mendecih. Ia tidak percaya pria di hadapannya justru mencoba membalikkan keadaan di saat dokumen mencurigakan ini ada di tangan mereka. Iya, semalam dia memang sudah terlalu defensif sebelum mendapat penjelasan.
Namun, melihat bukti-bukti yang ditemukannya semalam, Geza jelas tidak sebersih itu. Sikap pria itu sekarang seakan-akan menegaskan kalau hanya Tala yang bersalah di sini, padahal mereka berdua sama-sama punya andil dalam keributan semalam.
"Kamu sendiri enggak merasa salah?" balas Tala tidak mau kalah.
“Iya, saya salah Tala. Maaf. Puas?” ucapnya ganti menyerang, tetapi dengan intonasi rendah yang justru terdengar tulus, bertolak belakang dengan kalimatnya yang defensif.
Tala melengos. “Anggap impas, kita sama-sama punya porsi salah di sini.”
"Jadi, strategi apa lagi yang lagi kamu siapin pakai draf sematang ini? Kamu mau pakai aku buat jadi tameng apa lagi?" Tala tidak meledak, hanya cara bicaranya yang terdengar sarkas.
Geza bergeming. Keheningan merayap lambat selama beberapa saat. Tatapannya pada Tala sempat melunak selama beberapa detik, sebelum akhirnya pria itu mengembus napas pendek—seolah terpaksa menyerah.
"Oke, saya jujur." Geza menjeda kalimatnya, nadanya berubah datar, tanpa riak emosi. "Itu draf planning pernikahan yang sudah saya susun dari jauh-jauh hari. Rencana yang awalnya saya siapkan untuk nikahin mantan saya."
Tala tertegun, lidahnya mendadak kelu.
"Semua konsep acara, daftar vendor, sampai detail lainnya di sana... itu mengikuti selera dia." lanjut Geza santai, seolah ucapan itu tidak berdampak apa-apa.
Pria itu tidak bergerak dari tempatnya, namun sepasang matanya mendadak mengunci Tala dengan sorot yang begitu pekat, tajam, dan tidak beralih barang sedetik pun.
Geza menarik sudut bibirnya tipis—sebuah senyuman remeh yang justru membuat dada Tala terpantik.
"Kenapa?" tanya Geza rendah. Nada suaranya bergeser, terdengar begitu dalam dan penuh penekanan di tiap katanya. "Kamu keberatan pakai konsep resepsi pilihan perempuan lain?"
Geza menaikkan sebelah alisnya, menatap Tala dengan ekspresi meremehkan yang terasa sangat pongah. "Kamu mau jadikan ini resepsi pernikahan beneran yang sesuai selera kamu? Enggak, kan?"
Pertanyaan beruntun itu menghantam ego Tala, seketika mengunci mulutnya rapat-rapat. Benar. Ini hanya pernikahan kontrak tiga tahun.
Kenapa dia harus peduli jika dia harus memakai konsep pernikahan milik masa lalu Geza?
Namun, alarm kewaspadaannya kembali berdering. Bagaimana kalau ini cuma alasan? Bagaimanapun, Geza adalah negosiator ulung yang pintar bersilat lidah demi memenangkan argumen. Bisa jadi cerita tentang mantan itu hanya tameng instan untuk membungkamnya.
Ia terlalu sibuk mencurigai taktik Geza, hingga luput menyadari satu kontradiksi besar—rahasia yang mungkin baru akan ia sadari beberapa waktu ke depan.
Tala menarik napas panjang, mencoba mengembalikan sisa-sisa harga diri yang sempat terusik.
Ia menegakkan bahu, menatap Geza dengan binar menantang yang sengaja dibuat secukupnya—seolah pembicaraan tentang masa lalu pria itu sama sekali tidak memengaruhi isi kepalanya.
"Oke. Aku gak peduli ini konsep milik siapa," ujar Tala, suaranya kini terdengar jauh lebih datar dan profesional. "Tapi ada satu hal penting yang belum tertulis di draf kontrak ini."
Geza menaikkan sebelah alisnya, bersedekap dada menanti kelanjutan kalimat Tala.
"Gimana kalau di tengah jalan kamu punya pacar? Atau... gimana kalau kamu tiba-tiba balikan sama mantan kamu ini?" Tala mengetuk permukaan draf di tangannya.
"Pernikahan ini berlangsung tiga tahun, Geza. Aku gak mau dicap sebagai pelakor, atau malah kelihatan kayak korban perselingkuhan di depan lingkaran kita kalau perempuan dari masa lalu kamu itu tiba-tiba datang lagi."
Mendengar cecaran itu, ekspresi Geza kembali berubah datar dan tenang.
"Secara teknis, komitmen kita hanya berlaku untuk luar. Di luar itu, saya tidak punya hak melarang dengan siapa kamu bertemu, begitu juga sebaliknya. Tapi saya bukan orang amatir yang membiarkan urusan personal merusak nama baik dan mempersulit posisi kita di pengadilan nanti," lanjut Geza, menatap Tala lurus-lurus.
"Kalau saya atau kamu punya seseorang di luar sana, aturannya jelas kamu main aman dan rapi. Cari pria yang mau mengerti kondisi kamu. Yang lebih segalanya dari saya."
Tala mendengus remeh, alisnya bertautan erat. "Lebih segalanya dari kamu?" ulangnya, merasa harga dirinya tersenggol oleh arogansi pria itu. Jadi di mata Geza, dia adalah standar tertinggi yang mustahil dilewati orang lain?
"Untuk jaga reputasi kamu kalau kontrak ini selesai, setidaknya kamu dapat yang lebih baik dari saya," jelas Geza lagi.
Suaranya merendah, kehilangan nada pongah yang tadi sempat dia pamerkan.
Tala menunggu. Ia mengira Geza pasti akan melanjutkan kalimatnya dengan sesumbar kalau pria itu juga akan mencari wanita yang lebih di atas Tala untuk dirinya sendiri nanti.
Namun, kalimat itu tak kunjung keluar.
Mungkin pria itu malas perang ego lagi.
Geza tiba-tiba berdeham. Sorot matanya mendadak berubah, tampak menyelidik dengan intensitas yang disembunyikan rapat-rapat.
"Lagipula..." Geza menjeda kalimatnya, mengunci manik mata Tala demi membaca ekspresi wanita itu sekecil apa pun.
"Emang dalam waktu dekat ini, kamu mau punya pacar? Atau... udah ada yang lagi dekat sama kamu sekarang?"
Tala mendengus kesal. "Bukan urusan kamu."
Sambil bersungut, ia merapikan semua dokumen itu ke dalam map. Untuk saat ini, Tala memilih percaya pada ucapan Geza. Namun, jika sampai ada hal besar yang disembunyikan pria itu, ia tidak akan sungkan untuk kembali meledak dan merobek kontrak mereka tanpa sisa.
Berbeda dengan keluarga besar dari pihak Dharma yang mayoritas menetap di Jabodetabek, keluarga mendiang ibu Geza tersebar di berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta hingga beberapa kota lain, bahkan ada yang menetap di luar negeri. Karena itu, perayaan ulang tahun Sansa menjadi salah satu momen langka yang mempertemukan mereka kembali di Jakarta.Salah satunya Bude Sinta, yang siang itu baru tiba dari Jepang. Tala sengaja menjemputnya langsung ke bandara sesuai permintaan Geza. Sudah hampir setahun mereka tidak bertemu. Selama itu pula, mereka hanya sesekali bertukar kabar atau melakukan panggilan video setiap kali Bude Sinta ingin melihat Sansa."Talaa..." Bude Shinta langsung merengkuhnya dalam pelukan hangat. "Aduh, Bude kangen banget."Tala tertawa pelan, balas memeluk wanita paruh baya itu."Gimana setahun ini?" Bude Sinta mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki. "Geza nggak nakal kan? Nggak bikin kamu sedih kan? Kok Bude belum pernah denger kamu ngadu ke Bude?"Tala hanya ters
Jam tidur Sansa selalu tepat pukul sembilan malam. Sebelum tidur, ada satu ritual yang tak pernah boleh terlewat: membaca buku.Siapa pun boleh membacakannya, tetapi favoritnya tetap Om Eja. Padahal, menurut Tala, cara Geza membaca cerita cenderung kaku dan datar. Tala bahkan sempat mengikuti kelas read aloud, tetapi belum juga berhasil merebut posisi favorit itu.Beberapa hari terakhir Geza lebih sering pulang larut karena pekerjaan. Alhasil, ritual itu hampir selalu diambil alih Tala atau Sus Lia. Malam ini pun Sansa sempat menunggu karena Geza sudah berjanji akan membacakan buku, tetapi menjelang jam tidur pria itu mengabari bahwa ia akan pulang terlambat.Setelah cukup lama berceloteh tentang pesta ulang tahunnya yang tinggal empat hari lagi, Sansa akhirnya terlelap.Berselang kemudian, Geza membuka pintu kamar Sansa dengan langkah tergesa. Begitu melihat Tala mengangkat telunjuk ke bibir, pria itu langsung paham."Sorry. Tadi ada trouble di kantor."Ia menjatuhkan diri duduk di sa
Hari itu Adrian datang ke Janitra untuk final review laporan forensik proyek revitalisasi yang hampir setahun terakhir mereka kerjakan. Rapat berlangsung tak terlalu lama. Begitu seluruh catatan akhir disepakati dan berkas resmi ditandatangani, Tala mengajak Adrian ke ruangannya. Ia membuka laci meja, lalu mengeluarkan dua amplop berwarna krem dengan emboss logo Janitra."Oh iya, Kak Adrian." Tala menyodorkannya sambil tersenyum. "Sabtu nanti Sansa ulang tahun. Dateng, ya. Yang satu lagi buat Kak Jia."Adrian menerima kedua amplop itu. Sudut bibirnya terangkat."Wah... akhirnya empat tahun juga."Tala mengangguk kecil."Iya. Cepet banget rasanya.""Nanti aku dateng," jawab Adrian sambil menyelipkan kedua undangan itu ke dalam map yang dibawanya.Tala tersenyum. "Kakak langsung balik ke kantor?"Adrian menggeleng pelan. "Belum tentu. Kenapa? Masih ada yang mau dibahas?""Bukan.""Aku mau ngajak makan siang. Sekalian ngobrol."Adrian mengangguk tanpa banyak berpikir. "Boleh. Di mana?""
Menjelang siang, Bi Yuni sudah menyiapkan makan siang untuk mereka. Setelah perut kenyang dan kartun yang ditonton Sansa berakhir, bocah itu mulai gelisah mencari kegiatan baru."Tata... bikin kukis, yuk.""Yaya bobo siang dulu."Sansa menggeleng sampai poninya bergoyang."Nggak mau. Yaya mau bikin kukis. Kayak di sekolah."Tala yang memang tak punya agenda lain akhirnya mengangguk.Tak lama kemudian, berbagai bahan sudah terhampar rapi di atas kitchen island. Soal memasak, Tala sadar kemampuannya biasa saja—bahkan masih kalah jauh dibanding Jani. Dulu, sebelum kakaknya itu menikah, hampir semua urusan dapur memang diambil alih Jani.Tapi kalau urusan baking, ceritanya berbeda.Waktu kuliah, Tala pernah bekerja paruh waktu di toko kue milik tetangganya. Awalnya hanya membantu melayani pelanggan, tetapi lama-kelamaan ia ikut belajar membuat kukis dan aneka dessert."Tante, aku rebahan aja ya di sini." Hanum sudah kembali mengambil posisi favoritnya di sofa abu. "Nggak bisa bantu. Gravi
Mereka baru tiba di rumah sekitar pukul tiga dini hari.Begitu mobil berhenti, Tala nyaris berlari masuk tanpa menunggu Geza. Ciuman-ciuman di dalam mobil tadi sudah lebih dari cukup membuat logikanya limbung. Ia memilih mengurung diri di kamar sebelum pria itu kembali mengacak-acak keputusannya.Sungguh.Sedikit tatapan yang terlalu dalam, beberapa kalimat manis, lalu ciuman yang membuat kepalanya kosong.Laki-laki memang berbahaya. Apalagi kalau laki-laki itu bernama Geza.Pikiran itulah yang menjadi hal terakhir sebelum kantuk akhirnya mengalahkan Tala.Saat kembali membuka mata, Tala langsung mengerjap beberapa kali. Langit di balik tirai sudah terang. Jam di atas nakas menunjukkan pukul sembilan pagi. Setelah membersihkan diri sekadarnya, Tala turun ke lantai bawah.Namun Geza tidak ada.Yang terdengar hanya suara televisi dari ruang keluarga. Sansa sedang menonton kartun, sementara Hanum rebahan santai di sofa abu favoritnya."Morning, Tan. Pules banget nih tidurnya.""Morning."
Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pengulangan dari percakapan yang pernah Amika lontarkan padanya.Kalau Geza menyatakan cinta, apa Tala masih akan pergi?Saat itu jawabannya mudah. Iya.Karena Tala sudah merasa tahu akhirnya. Ia tahu Geza rumit. Ia tahu ada Kinan dan kenangan delapan tahunnya. Ia tahu pria itu punya sisi yang bisa membuatnya terluka.Tapi sekarang...Geza melemparkan pertanyaan yang sama dalam bentuk berbeda. Bukan tentang cinta, apalagi perasaan. Tapi tentang kemungkinan. Jadi apa yang harus Tala jawab saat sepasang mata itu menyorotnya begitu dalam?Tala mengembuskan napas pelan, berusaha menarik kembali kendali atas logikanya. Tatapan dan sentuhan Geza memang selalu punya cara mengacaukan pikirannya. Seolah pria itu tahu persis tombol mana yang harus ditekan agar semua argumen di kepalanya mendadak kehilangan suara."Geza..."Pria itu menunggu."Semua perlakuan kamu malam ini..." Tala menatapnya. "Semua ucapan manis kamu... cuma buat bikin aku sampai ke perta
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me







