Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

Share

6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-05-16 22:21:03

Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir.

Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris.

Ada kalanya mereka bergantian menjaga Sansaya sampai pagi, lalu menjalani hari dengan mata sembab dan tubuh yang nyaris tidak sempat beristirahat.

Di tengah kekacauan itu, rutinitas kecil mulai terbentuk dengan sendirinya—lampu ruang tengah yang selalu menyala sampai subuh, susu hangat yang diaduk tengah malam, dan suara langkah Geza yang hampir selalu pulang tepat sebelum Sansaya tidur.

Dua orang yang sebelumnya hanya terhubung lewat Jani dan Arka itu dituntut belajar hidup dalam irama yang sama.

Mereka nyaris tidak punya cukup ruang untuk diri sendiri, atau sekadar waktu untuk berduka dengan benar.

Sore ini sudah satu jam Sansa hanya duduk di pangkuan Tala sambil memainkan ujung bajunya. Biasanya ada banyak kalimat yang keluar dari mulut kecilnya.

“Yaya mau pancake? Mau mie?” tawar Tala pelan sambil mengusap rambut halus di dahi keponakannya.

Sansaya menggeleng kecil. Jemarinya justru mencengkeram baju Tala lebih erat. “Nanti Tata ilang…” gumamnya lirih tanpa berani mendongak.

Jawaban itu membuat dada Tala terasa sesak seketika. Ia langsung memeluk tubuh kecil itu lebih dekat.

Di meja ruang makan, seporsi mie kari buatan Bi Yuni—ART paruh waktu yang membantu di rumah itu—masih mengepul tanpa tersentuh sedikit pun. Bayangan betapa nikmatnya menyantap mie hangat itu di tengah hari hujan seperti ini, buyar seketika.

Menurut psikolog, Sansaya mengalami regresi perilaku—cara tubuh dan pikiran anak seusianya bertahan setelah trauma besar.

Karena itulah kondisinya makin hari justru semakin mengkhawatirkan. Tangisnya makin sering pecah, pola tidur dan makannya berantakan, dan anak yang dulu cukup cerewet itu kini lebih sering diam. Ia hampir tidak mau lepas, terus mencari pelukan dan gendongan sampai Tala merasa seluruh tubuhnya pegal luar biasa.

Terhitung sudah dua kali mereka menemui psikolog dan sarannya hampir sama dengan dokter anak; Tala dan Geza harus membangun rasa aman dan stabilitas untuk Sansa dan beberapa saran lain yang akan sulit terwujud selama keluarga Geza masih begitu sering datang ke rumah itu.

Semua saran itu jauh lebih sulit dijalani. Nyatanya, saat hari menjelang senja rumah itu kembali ramai.

Awalnya hanya Tante Desi—adik perempuan almarhum ibu kandung Geza—yang datang berkunjung.

Meski Geza sudah berkali-kali mengingatkan agar tidak menerima siapa pun dulu untuk sementara waktu, Tala tidak tega menolak wanita paruh baya itu. Mereka sudah beberapa kali bertemu sebelumnya saat Jani masih ada, dan selama ini Tante Desi selalu bersikap hangat padanya maupun Sansaya.

Seharusnya semuanya masih aman dan terkendali. Tala yakin Geza pun akan mengerti alasan itu.

Namun ia sama sekali tidak menduga Tante Ratna datang menyusul bersama istri Raga dan kedua anak mereka saat Tante Desi masih berada di rumah. Dari situlah kekacauan itu bermula.

Keputusan terburuknya sore itu adalah meninggalkan Sansaya di ruang tengah sementara ia makan sebentar di dapur.

Tadinya ia hanya menuruti ucapan Tante Desi yang menyuruhnya mengisi perut karena sejak siang belum makan apa pun. Tala pikir tidak akan terjadi apa-apa selama ada tante Desi, toh selama mereka mengobrol tadi anak itu tak terlihat terganggu. Nyatanya, justru dalam beberapa menit itulah semuanya berubah kacau.

Anak itu berlari ke arah dapur dengan wajah pucat. Bibir bawahnya bergetar hebat seperti sedang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk tubuh kecilnya.

Tala langsung berjongkok dan memeluknya cepat. “Sansa…”

Begitu tubuhnya terangkat ke dalam gendongan, tangis Sansaya pecah seketika. Keras dan melengking tajam sampai membuat dada Tala ikut bergetar. Anak itu menangis tersengal-sengal, napasnya putus-putus seperti kehabisan udara.

“Mau bunda…” isaknya kacau sambil mencengkeram baju Tala kuat-kuat. “Mau Ayah… ayo cari bunda…pulangnya lama.”

Tala memeluknya semakin erat, berusaha menenangkan meski jantungnya sendiri mulai berdebar panik. “Iya sayang… Tata di sini dulu ya… pelan-pelan…”

Namun tangis Sansaya justru semakin menjadi. Tubuh kecil itu gemetar hebat di pelukannya, membuat seluruh ruangan mendadak sunyi. Semua mata kini tertuju pada mereka.

“Tante… semuanya… maaf,” ucap Tala pelan dengan napas tidak stabil sambil terus mengusap punggung Sansaya. “Kayaknya Sansa butuh sendiri dulu.”

Mendengar itu, mereka langsung bergegas pamit. Tante Desi bahkan tampak tak sanggup menyembunyikan wajah bersalahnya sebelum keluar dari rumah.

Di luar, langit sudah benar-benar gelap ketika suara mobil berhenti di depan rumah. Beberapa detik kemudian pintu terbuka dan Geza masuk dengan wajah lelah yang langsung berubah dingin melihat keadaan ruang tengah.

“Ada apa?” tanyanya pendek.

Sansa refleks menempel lebih erat ke tubuh Tala. Anak itu menggeleng cepat sambil menangis sesenggukan. “Nggak… nggak mau main…”

Alis Geza langsung bertaut. Tatapannya beralih ke Tante Ratna yang masih berdiri tidak jauh dari sofa.

“Tante bawa siapa ke sini?” nada suaranya rendah, tapi jelas menahan emosi.

Tante Ratna menghela napas kecil seolah tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. “Mama cuma pikir Sansa butuh suasana baru. Anak kecil kalau ketemu teman main biasanya lebih gampang terhibur. Jadi mama ajak cucu-cucu mama.”

“Psikolog udah bilang jangan terlalu banyak orang yang datang.”

“Geza.” Tante Ratna mulai terdengar defensif. “Mereka cuma main sebentar. Lagian sampai kapan anak itu mau terus dikurung begini? Pernah mikir gak mungkin dia makin takut ketemu orang karena gak dikasih kesempatan buat main sama anak seusianya. ”

Rahang Geza mengeras. “Ini bukan soal dikurung.”

“Mama cuma kasihan lihat Sansa murung terus.” balas wanita itu lagi. “Raga sama istrinya juga niat baik datang.”

“Silahkan tante pulang, apa lagi yang mau ditunggu?”

Suasana langsung membeku.

Tala buru-buru mengusap punggung Sansa yang masih menangis hebat di pelukannya. “Za… udah.”

Namun Geza tetap menatap Tante Ratna tajam beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya mendekat ke Tala dan Sansa. Begitu melihat Geza jongkok di depan mereka, tangis Sansa justru pecah lagi lebih keras sambil mengulurkan tangan gemetar ke arah pria itu.

Geza langsung mengambil alih Sansa ke dalam gendongannya, membisikkan kata-kata penenang yang ironisnya gagal menutupi binar amarah di matanya sendiri.

***

Butuh waktu hampir satu jam bagi Geza dan Tala—dalam keheningan yang canggung—untuk membuat Sansa benar-benar tenang dan terlelap di kamarnya.

Namun, ketegangan malam itu belum selesai. Ruang makan menjadi medan laga berikutnya.

“Besok jangan terima tamu dulu. Siapa pun itu.”

Pria itu melonggarkan dasi di lehernya dengan satu tarikan kasar lalu menggulung lengan kemejanya sampai siku, memperlihatkan urat tangan yang menegang sejak tadi.

Tala yang sejak tadi sudah lelah langsung mengangkat pandangan. “Iya Za, maaf. Aku nggak enak nolak tante Desi. Cuma mereka tiba-tiba...”

“Saya nggak peduli niatnya apa.” potong Geza cepat. “Harusnya kamu udah paham.”

Tala mendecih pelan, menahan kesal. “Iya aku paham dan aku salah.”

Geza menghela napas kasar lalu menarik kursi makan, duduk sambil menyandarkan tubuhnya ke belakang. Wajahnya terlihat jauh lebih lelah dari biasanya.

“Kalau gitu, harusnya kamu nggak ninggalin dia sama mereka.”

Kalimat itu langsung membuat Tala terpaku.

“Aku cuma makan bentar.”

“Satu bulan ini kita udah tahu pola Sansa kayak apa.”

“Dan satu bulan ini aku juga yang paling sering jagain dia!” balas Tala tanpa sadar meninggikan suara sebelum buru-buru mengecilkannya lagi. “Aku capek, Geza.”

Geza terdiam sejenak. Tatapannya turun ke wajah Tala yang terlihat pucat dan kusut.

“Saya juga capek.” katanya lebih pelan, tapi kali ini nadanya lebih tajam dari sebelumnya. “Tapi lihat, kondisi Sansa jelas makin buruk.”

Tala tertawa hambar, napasnya pendek. “Jadi sekarang semuanya salah aku?”

“Saya nggak bilang semua salah kamu.”

“Tapi cara ngomong kamu selalu kayak gitu.” suara Tala mulai naik, menahan sesuatu yang sudah lama mengendap.

Geza menghela napas pendek, lalu menatapnya lebih langsung. “Tala kamu masih sama. Sikap gak enakan kamu ini yang bikin kacau.” ucapnya datar, tapi tegas.

Kalimat itu menghantam Tala pelan tapi dalam, seperti mesin waktu yang melemparnya kembali ke masa lalu. Rupanya waktu tidak mengubah apa pun; di mata Geza

“Fine…” suara Tala pecah tipis, senyumnya getir. “Aku emang nggak capable. Nggak pernah capable di mata kamu.”

Kalimat itu menggantung di udara. Sudah bertahun berlalu, tapi Tala masih ingat jelas bagaimana Geza pernah mengucapkan hal serupa.

“Jadi… silakan kamu yang rebutan hak wali. Toh sekarang Sansa sudah sangat lengket sama kamu.” suara Tala terdengar datar, tapi retak di ujungnya.

“Silakan cari perempuan lain untuk kamu nikahin, supaya posisi kamu kuat dan kamu bisa menang di pengadilan.”

Tala langsung berbalik sebelum pria itu melihat air matanya jatuh. Dia melangkah lebar, melarikan diri dari ruang perdebatan itu. Sementara di belakangnya, Geza masih terpaku di tempat—membatu karena belum sempat mencerna ucapan yang terlanjur ia lepaskan tadi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Cindi Maelani
ahhh gemes perdebatan pasutri
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   200- Langkah Si Pria Tua

    Geza baru saja menutup panggilan video dengan Tala ketika Kinan menghampirinya di balkon restoran hotel tempat tim mereka menginap selama perjalanan dinas kali ini.“Geza,” panggilnya lembut.Kinan mengeluarkan sebatang rokok dari tas kecilnya, lalu menyalakan pemantik. Bara merah menyala sesaat sebelum ia mengembuskan asap perlahan.“Wanna?”“No. I’m going back to my room.”Geza hendak berbalik, tetapi suara Kinan kembali menahannya.“Tala marah kalau kita ngobrol berdua begini?” tanyanya. “Biarpun yang kita obrolkan bukan masa lalu?”Langkah Geza terhenti.Ia menoleh. “Apa yang mau kamu bilang?” tembaknya langsung ke inti.Kinan hanya tersenyum tipis, lalu kembali mengisap rokoknya.Tarikannya kali ini lebih dalam. Ia menahannya beberapa detik sebelum mengembuskan asap perlahan, membiarkan kepulan putih itu mengaburkan wajahnya sesaat.Kinan yang seperti ini adalah Kinan yang sedang terpuruk.Angin malam Surabaya berembus pelan. Namun hawa yang hangat dan lembap membuatnya nyaris tak

  • Sebelum Tiga Tahun   199- Sirat Khawatir

    “Hei, mulutnya tolong dijaga,” protes Tala. Ia mengambil kedua benda yang diangsurkan Geza.Sang suami duduk di kloset, sementara Tala berdiri di antara kedua pahanya yang terbuka.Krim cukur dioleskan merata di pipi dan rahang Geza. Mesin menyala dengan dengung halus.Tala menahan dagunya, memiringkan wajah Geza sedikit, lalu menggerakkan mesin dengan sapuan pendek di sepanjang rahang. Saat berpindah ke pipi, ibu jarinya menahan kulit agar tetap tegang.Tatapan mereka sempat bertaut dan dari jarak sedekat itu, Tala baru menyadarinya. Ada kusut di balik tatapan Geza. Bukan sekadar sisa kantuk.“Mas...”“Hm?”Tala mematikan mesin cukur di tangannya.“Kamu lagi banyak pikiran?”Geza mengerjap. “Nggak banyak juga.”“Mikirin apa? Mau cerita?”Geza diam sesaat. Tatapannya turun pada mesin cukur di tangan Tala, lalu mengambil benda itu perlahan, meletakkannya di sisi wastafel, kemudian menarik Tala untuk duduk di pangkuannya.“Papa saya dan Raga belakangan ini terlalu tenang,” ia membuka.Ta

  • Sebelum Tiga Tahun   198- Dinas Tujuh Hari

    Tala sendiri tak tahu kenapa naluri biologisnya terasa bereaksi kuat malam ini. Mungkin efek Pilates sore tadi. Atau mungkin karena tahu pria di hadapannya ini akan pergi jauh besok hari. “Bantuan yang bikin kacau,” gumam Geza. Baru kemudian Tala menyadari tangan Geza sudah singgah pada buah dadanya. Kimono tidur yang dikenakannya ternyata telah tersibak sejak tadi, menyisakan lingerie hitam yang nyaris tak lagi tersembunyi. Pantas saja reaksi pria itu begitu cepat. Mari bermain gila saja sekalian. Tala membuka kimono itu lalu melemparkannya ke sembarang arah. Kini yang tersisa hanya lingerie berbahan brokat hitam yang lembut sekaligus menerawang. “Shit,” Geza mengumpat pelan. Dengan kedua kaki Tala yang masih melingkari dan tampilan sensual yang seperti itu, jelas saja konsentrasi pria itu langsung buyar total. Geza mengembuskan napas panjang. Tatapannya berpindah dari Tala ke laptop yang masih terbuka, lalu kembali lagi kepada perempuan di pangkuannya. Dilema yang jelas terli

  • Sebelum Tiga Tahun   197- Variasi Gaya

    “Variasiin gayanya, deh, Ta. Jangan gitu-gitu melulu,” ujar Jia enteng. “Ganjel pake bantal.” imbuhnya. Tala melirik tajam. “Jangan lupa kakinya naik ke pundak...Uh, mantap.” lanjut Jia tanpa dosa. Matanya mengerling pada Tala. Astaga. Tala sungguh malu mendengarnya, meskipun sebenarnya kalimat-kalimat seperti itu sudah begitu akrab di telinganya. Bahkan beberapa di antaranya sudah pernah ia praktikkan. Masalahnya, mereka sedang berada di ruang ganti studio Pilates—kelas yang sudah Tala ikuti selama sebulan terakhir. Semua demi satu tujuan yang belakangan ini disebut sebagai promil natural. Gaya hidup sehat. Padahal dulu, olahraga semacam ini hampir selalu menjadi hal terakhir yang ingin dilakukan Tala. Paling banter ia hanya mau lari. Untuk urusan begini, Jia memang juaranya. Selain lebih berpengalaman, perempuan itu juga terkenal paling ceplas-ceplos. Dan, sayangnya, paling provokatif. Untung Amika tidak hadir di kelas sore ini. Kalau perempuan itu ikut, satu sesi ruang ga

  • Sebelum Tiga Tahun   196- Menggeret Anak Buah

    Lingkungan kantor Bhuwana yang dulu terasa asing sekaligus menyebalkan kini justru begitu familiar. Tala sudah cukup sering mampir ke sana, entah untuk mengantarkan makan siang bagi Geza atau mengurus urusan konsorsium. Namun kali ini ia datang bukan untuk keduanya. Ia hendak menjemput pria itu untuk pulang bersama. Pagi tadi Geza berangkat menggunakan mobil kantor, sementara pekerjaan Tala kebetulan selesai lebih awal.Dengan visitor access card yang sudah disiapkan Geza, Tala melangkah melewati lobi. Baru beberapa langkah, ia berpapasan dengan beberapa karyawan perempuan yang dulu pernah dilihatnya saat retreat malam itu.Pandangan mereka kembali jatuh padanya. Sedikit banyak, Tala terusik.Masihkah mereka memandangnya sebagai target?Ah, iya.Kinan sudah kembali.Jelas saja kehadirannya di sini mungkin kembali terasa mengganggu bagi sebagian orang.Bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, Tala mendapati Arvin berjalan cepat ke arahnya dengan paper bag kopi di tangan.“Thank you, Mb

  • Sebelum Tiga Tahun   195- Maksud Baik Kinan

    Momen yang selalu menjadi momok bagi Tala, kini datang.Kinan resmi menggantikan orang yang sebelumnya menangani kerja sama dengan Janitra. Maka, hari ini menjadi pertemuan pertama mereka dalam urusan proyek—Kinan sebagai perwakilan Bhuwana, sementara Tala hadir mewakili kepentingan Janitra dan Sansa khususnya.Pertemuan itu berlangsung di salah satu tower Bhuwana, ditemani Suwandi dan juga tim Janitra.Setelah sempat melalui tarik-ulur khas negosiasi korporasi, hari ini mereka akhirnya mencapai kata sepakat.Geza sebenarnya sudah beberapa kali menawarkan Tala untuk mundur dari proyek ini. Ia cukup memantau dari jauh dan tidak perlu terlalu proaktif terlibat dalam setiap prosesnya.Namun, setelah hubungan mereka resmi jadi pernikahan sungguhan Tala memilih bertahan. Ia tak mau bersikap kekanak-kanakan hanya karena mantan kekasih suaminya kini duduk di seberang meja.Dengan semua yang sudah mereka lalui, rasanya tak mungkin Geza berpaling begitu saja.Lagipula, Geza tahu bagaimana rasan

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

  • Sebelum Tiga Tahun   5- Tawaran Perlindungan

    “Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status