LOGIN“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”
Geza menoleh. “Mungkin.”
Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.
Menikah.
Nikah kontrak, lebih tepatnya. Tala jelas menolak mentah-mentah. Sementara Geza, pria itu tak acuh seperti biasanya. Tidak menolak, tapi juga tidak menyetujui. Dan tiba-tiba malam ini ia langsung setuju begitu saja.
“Nikah kontrak nggak seburuk itu, Tala. Saya bisa berikan apa yang kamu mau.” suara Geza datar. "Dan... juga omongan tetangga."
Lingkungan tempat tinggal Jani dan Arka adalah kawasan pemukiman yang cukup eksklusif. Meski begitu, hubungan antarwarganya justru hangat dan dekat satu sama lain. Karena itulah dalam situasi seperti sekarang, Tala dan Geza tinggal serumah tanpa status yang jelas cepat atau lambat akan mengundang pertanyaan.
Tala sempat berpikir semua ini hanya sementara. Beberapa hari lagi ia akan membawa Sansaya kembali ke kosannya. Namun setelah konsultasi kala itu, harapan itu perlahan pupus.
Anak itu masih sangat rentan dan membutuhkan kehadiran yang konsisten. dokter menyarankan agar Tala selalu membuat Sansaya merasa aman melalui rutinitas yang tetap, lingkungan yang familiar, dan penjelasan sederhana setiap kali ia harus ditinggal.
Singkatnya, Tala masih harus tinggal di rumah itu selama beberapa minggu ke depan.
Begitu pula Geza. Seiring berjalannya waktu, Sansaya semakin bergantung padanya. Anak itu bahkan beberapa kali terbangun di tengah malam dan menangis jika sebelum tidur belum sempat bertemu Geza.
Pihak keluarga Geza bolak-balik datang untuk membujuk Sansa dan ini justru membuat Sansa takut dan makin menempel pada Tala dan Geza.
“Ya berarti kamu secepatnya balik ke apart kamu cukup nemenin Sansa tidur terus setelahnya buruan balik.” imbuh Tala.
“Gimana dengan ini?” Geza menunjuk Sansa yang tidur di pangkuannya.
Tala memijat pelipisnya pusing. “Geza.” sentaknya, suaranya agak keras. Begitu Sansaya menggeliat Tala menurunkan suaranya. “Kenapa sih kamu nyeret aku ke masalah keluarga kamu yang complicated ini, aku muak harus rebutan hak wali cuma perkara warisan.” gerutu Tala.
Ada helaan kecil. “Aku gak mau terus-terusan jadi tameng buat melindungi kepentingan kamu.” lanjutnya.
Geza menyeringai tipis. “Kepentingan Sansaya.” koreksinya.
Ia berdiri pelan masih menggendong Sansaya, lalu menaruhnya perlahan di ranjang. “Kamu benci saya segitunya?” tanya Geza seraya duduk di tepi ranjang menghadap Tala, matanya menatap Tala lamat.
Tala mengangguk kecil.
“Kenapa?” Geza menambahkan, alisnya sedikit mengerut.
“Kamu juga benci aku kan? Jadi gak usah mikir kalau rencana konyol itu bisa jalan.” kilah Tala matanya menatap sinis.
“Kenapa saya harus membenci kamu?” ujar Geza santai.
Tala tak menjawab.
“Untuk jadi suami kamu, saya yang paling layak. Finansial saya stabil.” ujar Geza santai. Nada itu terdengar seperti sindiran halus, menusuk di telinga Tala.
Tanpa sadar Tala menelusuri fitur di wajah Geza. Secara fisik, pria itu memang menarik perhatian. Terlebih hidungnya yang mancung lurus berpadu dengan rahang tegas dan garis dagu yang terdefinisi. Sekali melihat, orang akan fokus ke sana. Nilai tambah lainnya, dia punya tinggi dan postur tubuh yang tegap.
Tala mengerjap “Tapi kamu sebrengsek itu. kamu bukan tipe aku. Dan aku bukan tipe kamu.”
“Kamu tahu apa soal saya, Tala?" balasnya cepat. "Kita cuma nikah kontrak, gak harus sesuai tipe.”
“Masalahnya, aku nggak mau hidup serumah sama orang yang aku gak suka. Emang kamu bisa?” kilah Tala.
“Bisa.”
Tala mendecak. “Di mata aku, nikah itu sakral. aku nggak mau jadiin ini mainan. Kalau aku setuju… gimana pasangan aku nanti?”
“Kalau kamu mau pacaran dengan yang lain, ya silahkan."
Tala berdecih sambil membenarkan selimut Sansaya.
“Ya pada intinya kamu bebas begitu pun saya.” imbuh Geza lagi. "Cuma ini cara untuk lindungin Sansa.”
Ia berhenti sebentar, lalu menatap Tala lebih dalam.
“Dan lindungin kamu."
Sama seperti yang disampaikan pengacara mereka. Pengadilan akan mengutamakan kebutuhan dan kedekatan emosional anak. Keluarga Geza akan mati-matian menodongnya sampai menyerah. Tala akan dianggap kurang layak—tak punya pengalaman dan kestabilan finansial.
Bagi Tala pembagian ini sudah sangat sesuai, tapi tidak untuk Geza.
Ia ingin memastikan apa yang menjadi hak Sansaya benar-benar terlindungi. Karena itulah pengacaranya mencetuskan ide asal-asalan. Nikah kontrak. Tala butuh pendamping hidup yang stabil dan mapan dan Geza adalah pilihan paling tepat saat ini. Selain itu Geza juga om kandung objek yang dilindungi, jelas ini akan makin menguatkan posisi Tala.
Geza bergeser sedikit, menempel di ujung ranjang. Jarak mereka kini terlalu dekat untuk disebut aman. “Kalau saya jadi suami kamu.” katanya lirih. “Mereka nggak bakal ngincar kamu lagi. Mereka bakal hadapin saya.”
Tala mendengus kesal.
Geza menghela nafas pelan kali ini lebih serius. “Saya bisa pastikan kamu aman dalam hal apa pun. Kamu bisa ngelakuin hal yang kamu suka.”
Sudut bibirnya terangkat samar. “Gak usah anggap saya suami. Anggap saya partner aliansi kamu.”
Tala mendelik. “Kamu pikir ini lucu?”
Geza terkekeh pelan. Ia mencondongkan badan lagi, "Sudah malam.”
Telunjuknya terangkat menunjuk dada Tala singkat.
“Atau kamu yang sebenarnya takut jatuh cinta. Benar?” Setelah itu Geza tertawa kecil memecah tegang yang sejak tadi menggantung, seolah sengaja melempar lelucon di tengah perang.
Tala mendelik mendengar kepercayaan diri Geza.
“Gila.”
Tala pun berlalu untuk pergi ke kamarnya sendiri. Saat tangannya hampir menyentuh gagang pintu, suara Geza menyusul dari belakang.
“Tala.”
Tangan kanan Geza terulur ke pintu, menghadang Tala. “Soal perlindungan itu saya serius.”
Geza mendekat perlahan dari sisi kanan, menyejajarkan matanya dengan mata Tala. Jarak antara mereka makin pendek sampai Tala bisa merasakan hembusan nafas menyentuh pipinya. “Saya mau Sansa sama kamu hidup dengan nyaman dan aman.” bisiknya rendah.
Tala menahan nafas, ini terlalu dekat. “Ini bantuan terakhir saya untuk Arka.”
“Minggir.” bentak Tala.
Geza tersenyum tipis tangannya terulur meraih handle pintu kemudian memberikannya untuk Tala.
Ya, dia selalu sebrengsek itu.
Tinggal satu atap dengannya mungkin pilihan paling terbaik dari yang terburuk.
Demi Tuhan, Geza ingin mengumpati orang-orang yang membiarkan Tala mabuk.Senin nanti, ia akan mencecar Rena dan Bastian. Keduanya sudah dititipi untuk mengawasi Tala, memastikan perempuan itu tidak minum terlalu banyak. Nyatanya, Tala tetap lolos dan Geza malah menemukan istrinya di rooftop terbuka, sedang curhat kepada Adrian—mantan crush-nya yang menyebalkan itu—dengan Seno yang sudah mabuk di sampingnya. Sementara orang yang dititipi menjaga Tala masih cukup sadar di lounge, meski mulai tipsy.Setelah mengantar Hanum, Geza sempat menghadapi masalah di kamar Bude Sinta dan Sansa yang mengharuskannya berurusan dengan pihak hotel. Urusan itu membuatnya terlambat kembali ke lounge—dan selama itulah Tala minum terlalu banyak.Geza tidak tahu apa saja yang sudah dibocorkan Tala kepada Adrian. Ia hanya sempat menangkap beberapa kalimat sebelum membawanya pergi.Adrian adalah crush-nya yang dia suka setengah mati.Adrian tampan.Dan entah apa lagi.Huh. Mudah sekali perempuan itu mengobra
“Boleh nggak kalau aku suka kamu? Kalau aku cinta sama kamu?”Tala menatap Adrian dengan mata yang mulai berat, seolah pertanyaan itu sudah terlalu lama ia simpan.“Tapi kamu cuma lihat Kak Sara.” suaranya perlahan melemah. “Jadi aku mesti gimana?”“Ta...”“Aku udah move on, serius.” Tala buru-buru menyela. Ia mengangkat satu jari, lalu satu lagi. “Aku udah pacaran sama satu... dua...tiga.”Ia tertawa puas melihat jarinya sendiri.“Aku juga udah lupain kamu pake Bellini, tahu nggak sih, Kak? Malam itu aku lihat kamu cium Kak Sara. Pulangnya aku minum satu galon Bellini.”Tala menggeleng-geleng, lalu terkikik.“Atau satu jerigen? Atau satu tangki? Pokoknya banyaaaak. Biar aku lupa pernah suka kamu banget. Banget banget.”Sudut bibir Adrian terangkat melihat tingkah dan kalimat Tala yang seperti itu. Lucu.“Tala, nanti lagi kalau kamu mau bicara.”Ia hendak menarik lengan Tala, tetapi perempuan itu buru-buru menepis.“Jangan pegang tangan aku. Aku udah nikah.”Tala mengatakannya dengan
Acara akhirnya selesai sekitar pukul sepuluh malam.Bude Sinta sudah lebih dulu naik ke kamar menemani Sansa. Geza memang sengaja memesan beberapa kamar di hotel yang sama untuk keluarga dan orang-orang yang mendampingi Sansa. Kamar dirinya dan Tala berada satu lantai dengan kamar Bude Sinta dan Sansa, serta Bi Yuni dan Sus Lia. Sementara itu Hanum ikut-ikutan ingin menginap jadi Geza menyewa satu suite tambahan.Taman yang beberapa jam lalu dipenuhi suara percakapan kini mulai lengang. Tinggal beberapa pelayan yang membereskan meja, sementara lampu-lampu taman masih menyala. Lingkaran teman kuliah Tala sudah bubar hanya tersisa Adrian, Amika, Fredy dan Seno.“Masih kuat, nggak kalian? After party yuk di rooftop.”Beberapa pasang mata langsung berbinar. Tak ada yang kaget mendengar ajakan Amika. Semua tahu, perempuan itu memang ratu untuk urusan begini. Terlebih, rombongan mereka memang sudah bertambah. Ada Bastian, Arvin, Rena, Sania, dan tentu saja Hanum. Jelas ia makin semangat.“Le
Tala membelalak kaget.Hei, sejak kapan topik punya anak empat ini ikut menyebar sampai ke lingkungan pertemanannya?”Pelestarian gak tuh. Siamang kali ah.” celetuk Seno.Satu meja langsung terbahak.”Nggak gitu juga sih kak, buat sekarang serius aku nggak siap.” kilah Tala.Bicara soal kesiapan, Tala sendiri sebenarnya tak pernah merasa siap menikah, apalagi menjadi orang tua. Ia hanya mengambil peran itu karena keadaan memaksanya setelah Sansa kehilangan orang tua.Sampai sekarang pun, ia masih gagap menjalani peran sebagai istri maupun ibu. Namun semuanya tetap berjalan. Mungkin bukan karena Tala sudah siap tapi karena Geza sudah lebih dulu siap menanggung bagian yang belum mampu ia tanggung sendiri.Tiba-tiba saja, suami kontraknya itu terasa seperti suami ideal."Duh, kapan, ya, ketemu jodoh yang tiba-tiba datang terus ternyata nggak patriarkis?" Syifa menghela napas dramatis. "Sayangnya gue nggak punya kakak. Nggak bisa dapat jodoh lewat jalur adik ipar kayak Tala.""Ya udah, bli
Tala memilih mengabaikan alasan mengapa Geza bisa bertahan selama itu di Bhuwana. Lagi pula, tak akan ada habisnya kalau ia terus mengulik dan menebak-nebak pria serumit Geza. Lebih baik ia berhenti berpikir. Toh, pada akhirnya mereka akan bercerai.Karena itu, Tala memilih melipir ke meja teman-temannya."Bu Tala, akhirnya ketemu juga. Susah sekali sekarang bisa dapat waktu dari Ibu. Maklum, kesibukan Ibu di Janitra pasti sudah luar biasa."Seno, teman kuliah sekaligus rekan sesama arsitek, menyambutnya penuh candaan."Tolong deh, Sen. Ngolahnya jangan selebay itu." Tala mencebik protes.”Tahu nih Ta, ngolah mulu dia. Mau nyaingin Choky Sitohang lo?” Amika ikut menyambar."Justru karena itu. In this situation, cari kerja tuh susahnya hampir kayak cari jodoh. Kalau punya teman yang sekarang jadi komisaris, ya harus pinter-pinter di-approach, lah." Seno nyengir. "Bener nggak, Bang?"Adrian, yang malam itu tampil begitu sempurna, hanya tertawa kecil.Berada di meja sebelumnya ternyata cu
Setelah percakapan penuh sindiran itu, Tala belum juga berhasil melepaskan diri dari meja tersebut. Padahal, dari tadi matanya beberapa kali melirik ke arah meja lain, tempat Amika dan teman-teman kampusnya berkumpul. Ia ingin menyapa mereka, sekadar bernapas di tengah suasana yang tidak ada habisnya menguras energi.Kesempatan itu baru muncul ketika seorang pria paruh baya datang menghampiri meja bersama Suwandi.Pria tersebut diperkenalkan sebagai Wibowo, teman kuliah ibu Geza yang sejak dulu dekat dengan keluarga mereka. Berasal dari keluarga pengusaha lama, ia kini mengelola perusahaan keluarga yang jauh lebih besar dan sudah melantai di bursa. Dulu, Wibowo beberapa kali menjadi penyuntik modal ketika Janitra sempat goyah, sehingga hubungan bisnisnya dengan keluarga ibu Geza sudah terjalin sejak puluhan tahun lalu.Begitu percakapan bergeser ke urusan bisnis, beberapa wanita perlahan menyingkir, memberi ruang bagi para pria untuk berdiskusi. Tala ikut menggeser kursinya.Mungkin i
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men







