Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 4- Proposal Tak Terduga

Share

4- Proposal Tak Terduga

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-05-12 12:00:39

Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. 

Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.

“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari aspal di depan.

“Iya.” jawab Tala lirih. Matanya menatap kosong ke arah lampu-lampu kendaraan yang mulai menyala di bawah langit mendung.

Geza hanya bergumam pendek. Dia tidak menanggapi lebih jauh soal masa depan karir Tala yang sebelumnya memang sudah berantakan. Padahal sebelumnya ia sudah janji pada Jani dan Arka untuk membantu gadis itu.

Sepertinya hidup memang sedang dipaksa berhenti untuk mereka semua. 

Di tengah duka yang belum genap dua minggu, Tala akhirnya mengambil keputusan berat untuk tidak melanjutkan proses rekrutmen di firma arsitektur impiannya.

Geza tampak mengerti, atau mungkin pria itu hanya terlalu lelah untuk sekadar bersimpati. Hidup tetap harus berjalan, meski dengan langkah yang pincang.

Di kursi belakang, Sansaya yang semula tertidur pulas tiba-tiba bergerak gelisah. 

Tubuh mungilnya gemetar, jemarinya mencengkram udara kosong sebelum sebuah jeritan membelah kesunyian kabin mobil.

“Ayah… Bunda…!”

Tangisnya meledak tiba-tiba. Tala tersentak, jantungnya seolah menghentak keras di rongga dada hingga menimbulkan rasa sakit yang nyata. Tanpa pikir panjang, dia segera melepas sabuk pengaman dan berpindah ke kursi belakang dengan gerakan cepat yang sedikit kikuk.

“Sansa, sayang… Tata di sini,” bisik Tala panik. Dia segera mengangkat tubuh kecil yang gemetar hebat itu ke pangkuannya, mendekapnya erat-erat ke dada.

Sansaya meronta, wajahnya sudah basah kuyup oleh air mata yang terus mengalir deras tanpa henti. “Ayah… Bunda… jangan pergi! Ayah!”

Tangis itu tidak juga mereda, justru makin mengencang hingga napas bocah itu tersengal-sengal, hampir menyerupai cekikan. 

Tala terus menggendongnya, mengayunkan tubuh mereka berdua perlahan sambil mengusap punggung Sansaya dengan tangan yang ikut gemetar.

Melihat kondisi yang semakin tidak terkendali, Geza segera menepikan mobil di bahu jalan yang agak lowong, tepat di bawah temaram lampu jalanan. Ia mematikan mesin, membuat kabin mobil mendadak senyap, menyisakan suara tangis pilu Sansaya yang memenuhi setiap sudut ruang. 

Geza memutar tubuhnya, menatap ke arah kursi belakang dengan gurat kelelahan yang tidak bisa lagi disembunyikan. Wajahnya tampak sangat pucat, rambutnya sedikit acak-acakan, dan matanya menunjukkan sisa-sisa kurang tidur yang parah selama berhari-hari.

“Masih belum tenang?” tanya Geza dengan suara rendah yang terdengar serak.

Tala hanya menggeleng pasrah. 

Geza menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terdengar seperti beban berat yang dilepaskan paksa. Dia ikut mengulurkan tangan, membantu Tala mengelus punggung Sansaya. 

Saat Sansaya menyadari keberadaan Geza, tangis histeris itu perlahan berubah menjadi isakan kecil yang tersendat. Anak itu meraih ujung kemeja Geza, mencengkeram kain kaku itu kuat-kuat, lalu menempelkan wajahnya pada lengan pria itu seolah sedang mencari sesuatu yang hilang.

Butuh hampir setengah jam hingga badai emosi Sansaya akhirnya melemah. Di pinggir jalan yang penuh suara klakson dan deru mesin itu, tangisnya perlahan turun menjadi isakan-isakan kecil yang tersisa. 

“Sayang…”

Tubuh kecil itu perlahan lemas karena kehabisan tenaga dan akhirnya tertidur kembali di pelukan Geza yang kini sudah berpindah duduk di samping Tala.

Pria itu bersandar pada jok mobil, satu tangannya tetap memeluk Sansaya. Tala hanya bisa duduk diam di samping mereka, tidak berani banyak bergerak karena takut akan membangunkan Sansaya kembali. 

Ia menunggu, memastikan anak itu sudah benar-benar aman sebelum mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah yang kini terasa sangat luas dan hampa.

Sudah dua minggu mereka terjebak dalam rutinitas melelahkan ini. Menghadapi trauma Sansaya di malam hari, dan menghadapi tekanan keluarga besar di siang hari. Tala merasa jiwanya perlahan terkikis habis.

“Kayaknya Sansa pengen ditemenin sama kamu terus. Mending kamu tidur di kamarnya aja nanti,” ucap Tala pelan, Tala beringsut perlahan, hendak kembali ke kursi depan agar mereka bisa segera melanjutkan perjalanan pulang. 

“Tala.” panggilnya.

Ia menatap tangan Geza yang masih melingkar di lengannya, lalu beralih menatap wajah pria itu. 

Ada semacam keraguan, sekaligus tekad yang kuat di sana. Mungkin dia takut suaranya akan memicu tangis Sansaya lagi, atau mungkin ada hal lain yang lebih berat.

Dia menanti apa yang akan dikatakan pria di depannya ini.

“Tala, ayo kita nikah.”

Tala terpaku, merasa seluruh pasokan oksigen di sekitarnya mendadak menghilang. Dia menatap Geza tidak percaya, mencoba mencari tanda-tanda kalau pria itu sedang melantur karena kelelahan. Tapi mata Geza sangat jernih. Pria itu serius. Ia mengajaknya menikah sekali lagi.

“Kamu masih mau bahas ini?” bisik Tala dengan suara gemetar. 

Geza menoleh, menatap Tala tepat di matanya. "Keluarga saya nggak akan pernah berhenti menekan kamu, Tala. Mereka punya kuasa untuk mengambil Sansa kalau kita tetap seperti ini. Kamu cuma tante dari pihak ibu yang sekarang bahkan nggak punya status pekerjaan tetap. Di mata hukum, kamu lemah.”

Tala menelan ludah, kenyataan itu menghantamnya telak.

“Tapi kalau kita menikah,” lanjut Geza dengan nada yang semakin rendah namun penuh penekanan, “Hak asuh itu akan tetap aman di tangan kita. Posisi kamu, posisi kita akan lebih unggul. Mereka nggak akan punya celah lagi buat memisahkan Sansa dari kamu. Hanya ini satu-satunya cara tercepat untuk melindungi dia.”

Tala memalingkan wajah, menatap ke arah keponakannya yang masih tertidur pulas dalam dekapan Geza. 

“Jadi. Ayo menikah dengan saya, Tala.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Cindi Maelani
wawwwwww sukaa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   206- Kunjungan ke Apartemen

    Hanya satu hari Geza mengambil cuti dan hari itu dihabiskannya untuk mengurus Tala sambil tetap memasang muka garang—tentu saja. Jelas ia masih menyimpan kesal soal kejadian nomor darurat itu.Tapi mau bagaimana lagi?Semuanya sudah terlanjur terjadi dan sungguh Tala melakukannya bukan dengan maksud lain.Geza sudah mengabari bahwa malam ini ia tidak akan pulang. Ada urusan pekerjaan yang ingin diselesaikan di apartemen katanya. Mungkin, ia juga butuh sedikit ruang untuk menenangkan kepala yang masih dipenuhi kekesalan.Hari keempat pascapenjambretan, Tala sendiri masih belum melakukan aktivitas berarti. Semua urusan proyek Serpong sudah aman ditangani Suwandi. Seharian ini ia hanya mengantar Sansa sekolah, lalu menghabiskan waktu di rumah dengan menemani Sansa bermain, menonton, dan melakukan aktivitas ringan lainnya.Sungguh, ia mulai bosan.Jadi sore ini, Tala memutuskan mengantarkan makan malam untuk suaminya yang sedang marah itu.Membujuk, mungkin?Kini ia sudah berdiri di lobi

  • Sebelum Tiga Tahun   205- Klarifikasi Geza

    Begitu Geza pergi, kamar kembali terasa lebih tenang. Beberapa menit kemudian, Bi Yuni masuk membawa semangkuk sup ayam hangat untuk Tala.“Mbak Tala, udah mendingan? Bibi kaget banget pas denger kabarnya. Daerah situ emang kadang rawan, Mbak. Rame sih rame, cuma kanan-kirinya pan banyak lahan kosong. Sering dijadiin kesempatan buat yang mau jambret begitu.”“Iya, Bi. Ini udah nggak apa-apa, kok. Makasih, ya.”Tala menerima mangkuk yang disodorkan Bi Yuni, lalu meniup pelan uap yang mengepul dari permukaan sup.“Mau mandi gak Mbak? Nanti bibi bantu. Tadi Pak Geza bilang Mbak jangan dibiarin mandi sendiri dulu. Begitu katanye.”“Oh, nggak usah, Bi. Saya bisa sendiri.”Bi Yuni malah terkekeh.“Lho, mau sama Pak Geza aja ya mandinya?” godanya. “Mau kangen-kangenan, ya, Mbak?”Wajah Tala langsung memerah.“Bi Yuni, apaan, sih?”Kangen-kangenan apanya, Bi? Debat yang ada.Bi Yuni semakin terkekeh melihat wajah Tala.“Becanda, Mbak Tala cepet baek lagi, ya. Bibi tinggal, kalau butuh apa-apa

  • Sebelum Tiga Tahun   204- Pria Telaten Ini Lagi

    Begitu kembali ke rumah, Tala mendapati Sansa sudah tidur. Hanya Sus Lia yang masih terjaga dan langsung menyambut mereka dengan raut khawatir begitu melihat kondisi Tala. “Gimana, Mbak kondisinya? Mau saya bantu siapin apa?” “Cuma lecet Sus, udah gapapa. Sansa Aman kan?” Tala bersandar di sofa. Merasakan sekujur tubuhnya mulai pegal dan nyeri. ”Aman Mbak, cuma nanyain aja kayak biasa kapan Tata pulang.” ”Sus bantu aku ke kamar.” pinta Tala. Saat tiba tadi, Geza menurunkan Tala di sofa lalu ia sendiri ke halaman depan untuk menerima telepon dan sepuluh menit sudah berlalu masih belum terlihat tanda percakapan itu akan usai. ”Mari Mbak.” Sus Lia sudah melingkarkan lengan Tala di bahunya, namun pria itu masuk dan segera mengambil alih. “Udah saya bilang, tunggu dulu di sini.” intonasi suaranya tegas. Lantas Geza menoleh kepada Sus Lia. “Sama saya aja, Sus.” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menyelipkan satu tangan di bawah lutut Tala dan tangan lainnya menyangga punggung pere

  • Sebelum Tiga Tahun   203- Mantan Crush Istri

    Geza langsung beringsut mendekat, lalu menarik Tala ke dalam pelukannya. Erat sekali.Jauh lebih erat dari biasanya.Tala sempat membeku beberapa detik. Baru setelah menyadari tubuh pria itu benar-benar menempel padanya, ia perlahan mengangkat tangan dan membalas peluknya. Bisa Tala rasakan detak jantung pria itu berpacu dengan hebat.“Mas... aku beneran nggak apa-apa.”Pelukan itu tidak mengendur.Justru semakin erat, seakan Geza masih perlu memastikan sendiri bahwa perempuan yang ada di dalam pelukannya benar-benar baik-baik saja.”Serius aku gapapa.””Mas...”Saat itulah Geza melepas peluk. Matanya menyapu tubuh Tala dari kepala sampai kaki. “Kamu nggak apa-apa?”“Aku gapapa.” ulang Tala sekali lagi.“Mana yang sakit?”Tala menggeleng. “Cuma lecet sama luka kecil. Dokter juga udah periksa.”“Pusing?”“Sedikit.”“Mual?”“Nggak.”Geza masih menatapnya, belum puas dengan jawaban itu. Tangannya terangkat, menyentuh pelipis Tala yang tertutup plester bening. Jemarinya berhenti di sana, b

  • Sebelum Tiga Tahun   202- Nomor yang Diingat

    “Ada keluarga yang bisa dihubungi, Mbak?” tanya suster yang baru saja selesai memasang perban di siku Tala.“Ada nomor telepon yang bisa dihubungi, Mbak?” ulangnya ketika Tala hanya diam.Tala tergagap. Fokusnya masih belum sepenuhnya terkumpul. Plester bening menempel di pelipisnya, sementara kepalanya masih terasa berat dan berdenyut.Ia mengerjap beberapa kali. Pikirannya bergerak lambat, berusaha menangkap sesuatu yang seharusnya begitu sederhana.Tangannya refleks bergerak ke sisi tubuh, hendak meraih ponsel seperti yang biasa ia lakukan setiap kali membutuhkan nomor seseorang. Namun yang disentuhnya hanya ruang kosong.Baru saat itulah ingatannya seperti tersentak. Tas yang berisi ponsel dan semua barangnya hilang.“HP saya...” gumamnya pelan.“Kenapa, Mbak?”“Kayaknya... ikut hilang.”Suster itu terdiam sejenak, lalu kembali bertanya dengan suara lebih lembut.“Ada nomor yang Mbak hafal?”Tala memejamkan mata.Ia mencoba mengingat satu per satu nomor yang mungkin masih tersimpan

  • Sebelum Tiga Tahun   201- Nostalgic?

    Tala masih berkutat dengan beberapa dokumen untuk final review proyek Serpong sore ini ketika sebuah pesan dari nomor asing masuk.Sekilas ia melirik notifikasinya, lalu memilih untuk mengabaikannya karena yakin tak akan jauh dari pesan spam. Ia malas meladeni di tengah kondisi sesibuk ini. Masih banyak yang harus diselesaikan. Bahkan makan siangnya saja sudah tertunda karena ingin memastikan semua dokumen untuk final review nanti selesai cepat.Proyek revitalisasi yang dulu sempat membuat Janitra heboh itu akhirnya mendekati garis akhir.Tala mengerjakannya dengan jauh lebih hati-hati daripada proyek biasa. Bukan hanya karena proyek tersebut sempat menimbulkan perdebatan di kalangan petinggi Janitra, tapi juga karena Raga pernah mencoba menyusupkan berbagai sabotasenya selama proses pengerjaan. Beruntung sejauh ini, semuanya masih bisa diatasi dan tetap terkendali.Sore nanti, ia akan turun langsung ke lokasi untuk melakukan final review sebelum proyek memasuki tahap soft launch bebe

  • Sebelum Tiga Tahun   3- Rumah Bagi Sansaya

    Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

  • Sebelum Tiga Tahun    6- Ritme Hidup Baru di Tengah Kekacauan

    Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me

  • Sebelum Tiga Tahun   5- Tawaran Perlindungan

    “Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status