Share

Chapter 3

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-05-12 11:57:43

Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.

Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu sudah rapi dengan setelan kerja lengkap. Di atas meja, tersaji setangkup roti dan segelas kopi giling yang aromanya memenuhi ruangan.

Pemandangan ini terasa ganjil di mata Tala. 

Dulu, mereka memang sering makan bersama di sini, tapi biasanya karena Jani sengaja memasak banyak dan mengundang Geza datang. Sekarang? Rumah ini hanya menyisakan sunyi yang menyesakkan. 

Seminggu ini benar-benar terasa seperti neraka kecil. Bukan cuma soal duka, tapi karena keluarga besar Geza—termasuk ayah dan ibu tiri Geza—terus-terusan menghujani Tala dengan tekanan untuk menyerahkan Sansaya. 

Mereka seolah tidak memberi ruang bagi Tala untuk sekadar menarik napas.

"Nanti malam saya balik ke sini lagi sama pengacara," kata Geza memulai percakapan, memecah keheningan yang kaku. 

"Iya," jawab Tala datar, bahkan tidak sanggup untuk mengangkat kepala. Urusan pengacara itu lagi sudah membuatnya menguras energi. 

Sejak malam pertama setelah pemakaman, Sansaya masih sering terbangun sambil menangis histeris. Geza terpaksa menginap karena anak itu benar-benar tidak mau ditinggal. Beberapa kali Sansa meracau, menyebut Geza sebagai ayahnya. 

Secara fisik, wajah Geza memang nyaris serupa dengan Arka—hanya tatapan matanya saja yang jauh lebih tajam.

Sampai hari ketujuh, Geza masih bolak-balik menginap di sini. Di malam ketiga dia sempat mencoba pulang ke apartemennya, tapi tengah malam Sansaya terbangun dan menjerit sampai sesak napas. Tangis itu memaksa Geza kembali sebelum subuh menyingsing.

“Nanti siang kamu bawa Sansa ke dokter anak. Sendiri nggak apa-apa?”

“Iya.”

Geza menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah sedang menilai sisa tenaga yang Tala miliki. “Tala, saya rasa kejadian kemarin sudah cukup jelas. Kita ada di kubu yang sama sekarang.”

“Iya.”

“Jadi harusnya kamu bisa respons saya dengan baik.”

Tala memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. “Za, aku nggak punya energi untuk debat.”

Geza baru saja membuka mulut untuk membalas ketika ketukan di pintu terdengar nyaring. Tala beringsut lebih dulu untuk membukakan pintu. Begitu pintu terbuka, seorang perempuan seusia Tala langsung menyerbu dan memeluknya erat. 

“Ta, sorry banget gue baru bisa ke sini sekarang. Baru banget landing semalem. Gue turut berduka.” ucapnya dengan suara tertahan. 

Perempuan itu mundur sedikit lalu menepuk pipi Tala pelan, menatap wajah sahabatnya lekat-lekat. “Ya ampun… kurusan banget kamu, Ta.”

Dia adalah Amika, sahabat Tala sejak mereka masih berkutat dengan tugas-tugas di jurusan Arsitektur.

Beberapa menit kemudian Geza muncul dari arah kamar, menggendong Sansaya yang wajahnya masih setengah mengantuk. “Tata, Yaya mau ikut Om Eja...” ucap bocah itu pelan dengan suara serak khas bangun tidur.

“Nanti aja ya, siang kan Tata mau ajak Yaya jalan-jalan,” jawab Tala sambil mengambil alih Sansaya ke dalam gendongannya. Geza menyerahkan anak itu dengan sangat hati-hati.

“Om kerja dulu ya, yang baik oke.” Geza mengelus rambut Sansaya pelan, menatap bocah itu sebentar sebelum benar-benar keluar. 

Ia sempat mengangguk tipis ke arah Amika, terlalu singkat untuk disebut sebuah sapaan.

Begitu mobil Geza melaju meninggalkan halaman, Amika langsung menatap Tala dengan mata melotot lebar. “Tala… Itu ipar yang ‘itu’, kan?”

Tala mengangguk lirih.

“Sejak kapan?” tanyanya setengah berbisik. 

“Apanya?” tanya Tala seraya merapikan anak rambut keponakannya.

“Punya ipar secakep itu.” Amika menahan napas sejenak, matanya masih mengekor ke Tala yang menggendong Sansaya ke kamar mandi “Gila, Ta. Kalau tahu ipar lo modelan begini, dari dulu gue sering-sering main ke sini!” 

Tala mendengus hambar, hampir ingin memutar mata kalau saja tidak ingat ada Sansaya di gendongannya. “Nggak usah lebay. Dia cuma sementara di sini, gara-gara Sansa nggak mau lepas.”

“Sementara gimana? Sampai kapan?” Amika masih belum puas, dia sekarang sudah duduk tegak di kursinya dengan wajah penuh selidik.

“Sampai kondisi Sansa stabil. Nggak mau ditinggal gue, tapi juga selalu nyari Geza karena wajahnya mirip banget sama Mas Arka,” jelas Tala pelan, suaranya agak serak. “Jadi ya terpaksa dia bolak-balik nginep. Kamar kita juga beda lantai, nggak usah mikir yang aneh-aneh.”

“Ya bukannya mikir aneh-aneh, Ta. Tapi serumah sama cowok modelan Geza itu tantangan gila dan kalian ini dua orang dewasa, bisa aja khilaf. Kalau orang lain liat, mereka bakal nyangka kalian ini pasutri. Parah-parahnya, kalian disangka kumpul kebo.” ujar Amika sambil menahan tawa.

Tala jadi teringat, tiap pagi berturut-turut tetangga rumah Jani mengunjunginya untuk menyampaikan belasungkawa.  “Yang ada gue malah darah tinggi tiap pagi. Stop deh, Mik gak usah mikir kejauhan. Jadi… hari ini lo cuti apa bolos ngantor?”

**

“Secara fisik, luka Sansaya ringan.” ujar dokter pelan. “Tidak ada cedera serius. Tapi secara psikologis, dia mengalami trauma berat akibat kejadian itu.” 

Siang ini, Tala membawa Sansaya ke dokter anak seorang diri. Usai sahabatnya pergi, ia berangsur membawa Sansa ke rumah sakit terdekat.

Tala mengusap rambut keponakannya yang basah oleh keringat. “Makanya dia nggak mau lepas dari saya, Dok?” suaranya bergetar.

Dokter mengangguk. “Itu reaksi aman. Dia mencari satu sosok yang terasa familiar dan stabil. Dalam hal ini, Tante Tala.”

Pintu ruang konsultasi terbuka pelan, memunculkan sosok pria jangkung dengan setelan yang masih rapi. Geza melangkah masuk, lalu berdiri menyandar di dinding tepat di sisi Tala. Lengan kemejanya tergulung sampai siku, dasi kerja menyembul dari saku celananya. 

“Maaf terlambat. Jadi, gimana hasilnya?” tanya Geza rendah.

Tala sempat menoleh, sedikit terkejut dengan kehadiran pria itu yang begitu cepat. Ia kira pria itu tak akan datang seperti yang ia katakan tadi pagi.

Geza beralih menatap dokter. “Dia juga terus mencari saya dok. Kalau saya keluar sebentar saja, dia langsung panik.”

“Itu juga wajar,” jawab dokter tenang. “Di pikirannya, orang-orang yang pergi berarti tidak akan kembali. Karena itu, jangan pernah biarkan dia merasa ditinggal tanpa penjelasan.”

Tala menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. “Dia terus nanya ayah bundanya…”

Dokter terdiam sesaat sebelum memberikan saran. “Untuk sementara, jawab dengan kalimat netral. Katakan kalau orang tuanya sedang aman. Jangan sampaikan kabar kehilangan secara mendadak dalam kondisi emosinya yang masih rapuh seperti ini.”

Sansaya bergerak gelisah dalam tidurnya di pangkuan Tala. “Om Eja…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.

Secara refleks, Geza mendekat. Anak itu membuka mata setengah, lalu tangis kecilnya pecah. “Ayah mana… Bunda mana…”

Tala memeluk tubuh mungil itu lebih erat. Dadanya sesak, ada bongkahan pilu yang menyumbat di sana.

“Yang paling penting sekarang,” lanjut dokter lagi, menatap mereka berdua bergantian. “Dia tidak boleh merasa sendirian. Kalian berdua adalah jangkar emosinya. Kalau salah satu harus pergi, beri tahu dulu. Jangan menghilang tanpa pamit.”

Tala dan Geza saling pandang. Hanya sekejap, namun terasa sangat canggung.

Geza mengangguk kaku, mencoba mencerna instruksi tersebut. “Jadi… kami harus selalu ada?”

“Untuk sementara… ya. Sampai dia merasa aman lagi.”

Tala menatap keponakannya yang menggenggam ujung bajunya kuat-kuat, seolah takut dunia akan runtuh jika pegangan itu terlepas. “Kalau kondisi ini terus berlanjut gimana, Dok?” tanya Tala penuh kecemasan.

“Baiknya nanti dikonsultasikan ke psikolog anak. Dengan kondisi begini, dia butuh pendamping tetap. Orang yang dia kenal. Orang yang dia percaya.” Dokter itu menjeda kalimatnya, raut wajahnya mengendur seolah telah menemukan kesimpulan sendiri. 

“Baiknya untuk sementara, kalian berdua yang menjadi figur pengganti orang tuanya. Kalau memungkinkan, urusan wali juga sebaiknya dipikirkan sejak sekarang. Anak ini butuh kepastian, bukan hanya ketenangan.”

Udara di dalam ruangan mendadak terasa begitu berat dan menyesakkan.

Geza mengangkat kepala, alisnya bertaut. “Maksud Dokter… kami?”

Dokter mengangguk pelan tanpa keraguan. “Sebagai pasangan, kalian yang paling dekat dengannya saat ini.”

Tala langsung tercekat, lidahnya kelu. “Kami bukan—”

Kalimatnya menggantung begitu saja di tenggorokan ketika Sansaya tiba-tiba meringkuk lebih dalam ke dadanya. Bocah itu menangis kecil sambil memanggil lirih, “Tata… jangan pergi…”

Tala memeluknya semakin erat. Penjelasan yang ingin dia luruskan mendadak terasa tidak sepenting tubuh kecil yang tengah gemetar hebat di pelukannya.

Tala dan Geza kembali bersirobok pandang. Ada ketidaksiapan yang sama besar di mata mereka. Mungkinkah takdir memang sedang memaksa mereka untuk belajar menjadi rumah bagi Sansaya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   Chapter 5

    “Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepatnya. Tala jelas menolak mentah-mentah. Sementara Geza, pria itu tak acuh seperti biasanya. Tidak menolak, tapi juga tidak menyetujui. Dan tiba-tiba malam ini ia langsung setuju begitu saja.“Nikah kontrak nggak seburuk itu, Tala. Saya bisa berikan apa yang kamu mau.” suara Geza datar. "Dan... juga omongan tetangga."Lingkungan tempat tinggal Jani dan Arka adalah kawasan pemukiman yang cukup eksklusif. Meski begitu, hubungan antarwarganya justru hangat dan dekat satu sama lain. Karena itulah dalam situasi seperti sekarang, Tala dan Geza tinggal serumah tanpa status yang jelas cepat atau lambat akan mengundang pertanyaan.Tala sempat berpikir semua ini hanya sementara. Beberapa hari lagi ia a

  • Sebelum Tiga Tahun   Chapter 4

    Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari aspal di depan.“Iya.” jawab Tala lirih. Matanya menatap kosong ke arah lampu-lampu kendaraan yang mulai menyala di bawah langit mendung.Geza hanya bergumam pendek. Dia tidak menanggapi lebih jauh soal masa depan karir Tala yang sebelumnya memang sudah berantakan. Padahal sebelumnya ia sudah janji pada Jani dan Arka untuk membantu gadis itu.Sepertinya hidup memang sedang dipaksa berhenti untuk mereka semua. Di tengah duka yang belum genap dua minggu, Tala akhirnya mengambil keputusan berat untuk tidak melanjutkan proses rekrutmen di firma arsitektur impiannya.Geza tampak mengerti, atau mungkin pria itu hanya terlalu lelah untuk sekadar bersimpati. Hidup tetap har

  • Sebelum Tiga Tahun   Chapter 3

    Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu sudah rapi dengan setelan kerja lengkap. Di atas meja, tersaji setangkup roti dan segelas kopi giling yang aromanya memenuhi ruangan.Pemandangan ini terasa ganjil di mata Tala. Dulu, mereka memang sering makan bersama di sini, tapi biasanya karena Jani sengaja memasak banyak dan mengundang Geza datang. Sekarang? Rumah ini hanya menyisakan sunyi yang menyesakkan. Seminggu ini benar-benar terasa seperti neraka kecil. Bukan cuma soal duka, tapi karena keluarga besar Geza—termasuk ayah dan ibu tiri Geza—terus-terusan menghujani Tala dengan tekanan untuk menyerahkan Sansaya. Mereka seolah tidak memberi ruang bagi Tala untuk sekadar menarik napas."Nanti malam saya balik ke sini lagi sama pengaca

  • Sebelum Tiga Tahun   Chapter 2

    Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu ke mana? Kita bahkan nggak pernah bisa ngobrol baik-baik.”Di depan Jani dan Arka, hubungan mereka selalu terlihat baik-baik saja, layaknya saudara ipar pada umumnya. Namun kenyataannya, setiap kali mereka terlibat percakapan berdua, yang muncul justru benturan pendapat, tatapan sinis, dan kalimat-kalimat pendek yang dipenuhi sarkasme. Entah mengapa, menghirup udara yang sama dengan orang seperti Geza, membuat Tala cukup muak. Mungkin karena keduanya sama-sama merasa terebut perhatian dalam pernikahan kakaknya.Geza tidak menjawab. Ia hanya kembali menjalankan mobilnya dalam diam, seolah penolakan keras Tala barusan hanyalah angin lalu. "Demi asuransi dan warisan, kamu sampai segininya?" t

  • Sebelum Tiga Tahun   Chapter 1

    Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalanya berat karena tangis semalam.Kini, nama Jani–kakak perempuan satu-satunya yang ia punya terukir di batu nisan itu. Tepat di sebelahnya, nama Arka, kakak iparnya menyusul. Dua orang yang selama ini menjadi tempat Tala pulang, kini justru meninggalkannya lebih dulu. Kecelakaan di tol dua hari lalu itu merenggut keduanya sekaligus, menyisakan lubang besar di hidup Tala. Kini yang tersisa hanya dirinya dan Sansaya.Sansa, Keponakan kesayangan Tala yang belum mengerti kenapa ayah dan bundanya tak kunjung pulang, dan kenapa orang-orang berpakaian hitam hari ini memenuhi rumahnya dengan wajah sedih. Di seberang sana, Geza—adik kandung Arka—berdiri tegak dengan rahang mengeras. Ia masih setena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status