Share

3. The Love

last update Terakhir Diperbarui: 2021-11-20 12:37:57

Hye Jin menyangga dagunya sembari meratapi layar laptop dengan wallpaper gif  hujan salju yang diberi efek slow motion turun dari langit. Dinginnya salju dan ketenangan yang ia rasakan, membangunkan harapannya untuk dapat melihat salju yang sebenarnya. Musim dingin telah tiba, tetapi salju pertama belum juga datang. Matanya berpindah ke dinding kaca di ruangannya, menunggu salju menghampiri menawarkan ketenangan.

Seonbae!” Dong Joon meletakkan secangkir kopi hangat di hadapan Hye Jin. Ia berdiri tegak, sambil menundukkan kepalanya. “Kau belum bicara denganku sejak kemarin,” keluhnya manja dengan bibir yang mengerucut. Usianya sudah 25 tahun, tetapi sikapnya seperti bocah 6 tahun.

Hye Jin melirik sejenak secangkir kopi di hadapannya. Warna kecokelatan yang tenang dengan granul di atasnya, aromanya mulai mengambil alih konsentrasi gadis itu.  Ia melirik pria yang memberikannya, sebelum memutuskan untuk menyeruput kopi tersebut. “Gomawo[1],” ucapnya saat kopi itu mengembalikan kesegaran di otaknya.

“Sepertinya aku telah melakukan kesalahan, maafkan aku, Seonbae!” Dong Joon

membungkukkan tubuhnya.

Gadis itu menggelengkan kepala, dengan tangan yang masih terlipat di depan dada. “Sepertinya? Kau belum sadar? Kau tidak tahu kesalahanmu?” tanyanya heran dengan kening yang mengkerut.

Dong Joon hanya menundukkan kepalanya, menatap sepasang sepatu Nike hitam yang menutupi kaki besarnya. Pria Tidak Peka lebih pantas menjadi julukannya, daripada julukan Pria Rupawan yang menyebar di seluruh penjuru kantor.

Hye Jin memijat keningnya sejenak, kepalanya terasa berdenyut keras setiap kali berhadapan dengan Dong Joon. “Seorang Aktor yang sedang berkencan, pasti tidak akan sembarangan muncul di tempat umum bersama kekasihnya. Dia akan menggunakan segala cara, menggunakan jalan apapun untuk bersembunyi dan menghindari wartawan. Apa kau tidak tahu?” tanyanya serius. Tatapannya seperti melontarkan pertanyaan “Are you kidding me?” setelah berhari-hari dibuat gila oleh juniornya tersebut.

“Aku sudah mengatakan padamu berkali-kali, aku berlama-lama di dalam toilet karena kesal menurutimu ke sana. Namun, kau tidak mengerti dan tetap memaksaku untuk percaya padamu.” Hye Jin membenarkan letak duduknya menjadi lebih tegak, “Aku menurutimu untuk menghargai usahamu, tetapi kau malah mengecewakan aku.” Ia kembali mengatur intonasi suaranya, setelah hampir pecah karena emosi.

Dong Joon masih menundukkan kepalanya, “Maafkan aku! Maafkan aku!” katanya penuh penyesalan.

“Sudahlah, sekarang kau cari informasi terbaru tentang Kim Jae Ha, dan segera kabari aku jika menemukan sesuatu.” Hye Jin kembali memusatkan pandangannya pada laptop yang masih menyala terang dengan gambar salju di layarnya. Sesekali ia menyeruput kopi yang masih tersisa di cangkir.

“Kau baik sekali, Seonbae! Kau mudah memaafkan, dan tidak menyimpan dendam. Aku beruntung sekali bisa dipasangkan denganmu!” kata Dong Joon bangga, sambil berlalu meninggalkan aroma Citrus yang mengudara di sekitar gadis itu.

Hye Jin terpaku mendengarkan kalimat terakhir dari mulut juniornya itu. Tujuan hidupnya di dunia ini untuk menjadi wanita yang membawa keberuntungan bagi orang-orang di sekitarnya. Ketika kalimat itu keluar dari mulut Dong Joon, entah mengapa sudut bibirnya melengkung membentuk kurva sederhana. Ia tersanjung.

***

Lisan bertukar kata, menjelaskan hal-hal yang hanya dimengerti oleh para penuturnya. Berjalan di tengah hiruk-pikuk kehidupan dengan berbagai macam kisah yang belum tentu menarik untuk dibahas. Berjalan lurus tanpa menoleh ke sana kemari hanya untuk memandangi orang-orang, tidak peduli apa yang mereka rasakan. Fokus pada tujuan, tanpa menghiraukan tujuan orang lain. Begitulah yang dilakukan manusia setiap harinya.

Kedua kaki beralaskan sepatu kets putih, melangkah di atas trotoar yang panjang. Di bawah langit yang cerah, di tengah suhu yang semakin menusuk tulang, Hye Jin mencoba merapatkan jaketnya agar bisa bertahan hidup di tengah suhu udara yang membuat tubuhnya menggigil. Gangnam-Seoul selalu dipenuhi para turis dari berbagai negara.

Kota metropolitan yang terkenal dengan gedung-gedung pencakar langit berwarna-warni di sepanjang jalan. Trotoar tidak pernah sepi dari para manusia, gaya hidup glamour menjadi ciri khas yang melekat di Gangnam. Gadis itu menyebrangi jalan setelah orang-orangan berwarna hijau menyala terang, memerintahkan semua mobil untuk berhenti, bergantian dengan para pejalan kaki.

Hye Jin menjatuhkan tubuhnya di kursi halte bus, memandangi TV besar yang sedang menayangkan video ucapan ulang tahun seorang idol, wajah besarnya memenuhi layar yang terpasang di gedung tinggi tersebut. Setelah bosan memandangi wajah yang sama, pandangannya berpindah ke arah anak-anak SMP dengan seragam mereka tengah bersenda gurau di halte tersebut.

Mereka bersenda gurau, saling melontarkan lelucon ringan yang mengocok perut. Hal sederhana untuk melupakan penat setelah seharian belajar di sekolah. Hal itu membuat Hye Jin tersenyum, kisah saat sekolah terlintas di pikirannya. Kisah manis saat mengenakan rok pendek dan kemeja putih, memang begitu indah untuk dikenang. Gadis itu bersandar di salah satu tiang, untuk masuk lebih jauh pada ingatan tentang sekolahnya dulu.

Saat Hye Jin larut dalam ingatannya, gadis itu juga bernostalgia, menatap sosok dirinya beberapa tahun lalu saat masih menjadi anggota Pers bagian kejahatan dan politik. Berlari ke sana kemari mencari narasumber terpercaya, untuk kasus pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, atau kasus politik seperti korupsi atau penggelapan dana dari beberapa Menteri, dan masalah suap-menyuap yang tak henti.

“Aku rindu masa-masa itu,” keluhnya dengan bibir mengerucut serta kedua mata berkaca-kaca.

Hye Jin bangkit dari kursi halte saat dirasa sudah terlalu lama berada di sana, bahkan anak-anak SMP yang semula memenuhi tempat tersebut, satu persatu menghilang dan meninggalkannya seorang diri. Tidak ada waktu untuk melamun, dia harus berjalan di atas semua jenis bebatuan yang kini bertebaran di depannya. Halte itu hanya membuatnya kembali terpuruk pada penyesalan di masa lalu.

Ia memaksa tubuhnya bangkit, saat itu kedua matanya menangkap sosok tampan yang berdiri tidak jauh darinya. Pria dengan postur tubuh yang  tinggi dan kekar, berseragam Polisi lengkap dengan segala lencana yang menempel. Menunjukkan senyuman lebarnya ke arah gadis itu.

Bibirnya terpancing untuk membalas senyuman itu, senja hari ini terasa lebih indah dari hari biasanya. Cahayanya menghujani wajah pria dengan lesung pipi yang dalam itu, dia bermandikan cahaya.

Senja selalu indah saat dia berdiri di bawah cahayanya, kedua mata Hye Jin berbinar, menatap ciptaan Tuhan yang begitu indah. Entah kebaikan apa yang telah gadis itu lakukan, hingga Tuhan memberikan kado terindah padanya, berupa sosok pangeran rupawan mengalahkan pangeran berkuda putih.

Hye Jin mematung di tempatnya, seakan kedua kakinya tertanam di sana. Ia tersipu malu, menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menyalurkan rasa gugup yang hampir membunuhnya. “Sejak kapan kau ada di sini?” tanyanya canggung.

“Sejak tadi,” jawabnya. “Aku terbawa rasa nyaman saat menatapmu dari sini. Karena kau begitu cantik, bahkan saat sedang melamun,” ungkapnya dengan nada bicara yang lembut. Langkahnya perlahan mendatangi gadis itu, senyuman dari bibir tebal merah jambunya tidak sedikitpun luntur. Ia terlalu menggemaskan untuk menjadi seorang Polisi.

“Jangan menggodaku!” kata Hye Jin malu sambil memegang pipinya yang terasa panas. Pipi merah merona seperti kepiting rebut, ciri khasnya saat tersipu malu.

Pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, “Bahkan bunga mawar ini pun kalah cantiknya denganmu,” godanya lagi seakan tak ada puasnya.

Jantung gadis itu berdetak begitu cepat, tiba-tiba suhu tubuhnya naik karena sang kekasih. Ia bingung harus bereaksi seperti apa. Hye Jin tersenyum lebar, jantungnya terasa berlari-lari di dalam tubuh, memaksa untuk keluar dari tempatnya. 

Mereka saling bertukar pandang, seakan tak pernah bosan untuk melihat wajah satu sama lain dalam waktu yang lama. Bahkan saat wajah itu berubah menjadi semakin tua suatu hari nanti, sepertinya mereka tidak akan bosan.

Aku ingin menua bersamamu, Kim Won Seok.

[1] Terima kasih- Bahasa Korea Non-formal

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Secret Of The "Black"   38. Other Girl

    Aroma telur dan mentega mengudara di dalam sebuah toko kue yang berdiri di pinggiran jalan Gangnam. Kedua mata Hye Jin membulat besar, melihat berbagai macam bentuk kue tar di dalam etalase. Mulai dari rasa cokelat, strawberry, red velvet, hingga green tea, membuat gadis itu dilema untuk memilih. Aroma dari kue-kue itu bercampur di indera penciuman Hye Jin.“Saya mau yang ini ya,” kata Hye Jin menunjuk kue tar di dalam etalase dengan balutan cokelat yang tebal di sekelilingnya. “Tolong tambahkan tulisan juga yah di atasnya.”“Saengil Chukkae, Chagiya[1]!” ucap gadis itu setelah berpikir keras kata-kata yang harus ditulisnya di atas kue tersebut.Sang pegawai dengan seragam hitamnya tersenyum manis, ia menulis di atas kue itu dengan krim tipis berwarna putih. Setelah selesai, kue tersebut dimasukkan ke dalam kotak berwarna putih.Hye Jin meletakkan kotak kue itu di sampingnya, senyumannya tid

  • Secret Of The "Black"   37. Spill

    MayMotel telah menjadi tempat yang sepi setelah kematian seorang gadis, tempat yang menyimpan banyak misteri dengan segudang pertanyaan dari masyarakat. Begitupun dengan Hye Jin, pikirannya masih dipenuhi oleh ribuan pertanyaan tentang hubungan pemilik penginapan tersebut dengan Song Mi Ah, bahkan ambisinya ingin mencari tahu tentang kematian gadis itu lebih jelas lagi.Kini gadis itu berdiri di samping mobilnya dengan kedua mata yang tak berpaling dari pintu utama motel tersebut. Menahan sinar matahari yang menyorot langsung ke arahnya, demi menunggu seseorang keluar dari sana.“Seonbae! Bagaimana kalau kita masuk saja? Kita kan tidak tahu kapan pria itu akan keluar,” kata Dong Joon.Hye Jin menggeleng cepat, “Aku tidak suka masuk ke sana.”Setelah 20 menit berlalu, Kang Gi Won keluar dari motel itu dengan kacamata hitam terpasang di kedua matanya. Tubuhnya seketika mematung saat berpapasan dengan Hye Jin di parkiran mote

  • Secret Of The "Black"   36. The Tears and Black

    Hye Jin berjalan ke dapur dengan menenteng buku pelajaran Sains di tangan kanannya. Ia menenggak segelas air mineral, sambil bersandar pada bar dapur yang tingginya hampir setengah tubuh gadis itu. Di ruang tamu, suara berisik saling bersahutan. Kedua matanya enggan melihat ke arah objek yang membuat kebisingan di hari libur.Gadis itu menatap bukunya di bar dapur dengan tatapan kosong, jari telunjuknya mendorong gelas kosong di samping buku itu sampai ke ujung bar. Prakkk, suara gelas jatuh ke lantai membuat kedua orang yang berada di ruang tamu menyadari keberadaan Hye Jin. Wanita dengan setelan jas berwarna biru menatap ke arah anak gadisnya penuh tanya, hari libur tidak akan membuatnya berdiam diri di rumah. Pria yang berdiri di sampingnya, seorang workaholic lainnya. Beradu argumen tidak pernah ada habisnya saat kedua oramg itu bertemu.Hye Jin menatap kosong pada pecahan gelas di lantai dapurnya. “Kenapa berhenti? Lanjutkan saja!” serunya sambil melangkah keluar dari area dapur.

  • Secret Of The "Black"   35. One of The Secret

    Hye Jin keluar dari kamarnya dengan pakaian yang berbeda, celana pendek hitam serta kaus oversized berwarna putih menutupi tubuh kurusnya sekarang. Ia berjalan menuju dapur sambil melirik ke ruang tamu yang berada tidak jauh dari bar dapurnya. Ia membuat tiga gelas jus jeruk, serta camilan sebagai teman jus itu.Gadis itu menemukan catatan kecil yang tertempel di kulkasnya. Pesan dari Mi Ran yang mengatakan bahwa wanita itu harus pergi Gangnam, menemui adiknya yang sakit. Hye Jin mengambil beberapa bungkus snack dari dalam kulkas dua pintu itu. Setelah menutup pintu kulkas dengan kaki, gadis itu berjalan menuju ruang tamu.“Dong Joon-a! jangan menatapnya seperti itu!” Hye Jin menendang kaki pria yang duduk di sofa panjang. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di sofa kecil berwarna cokelat tua di sana.Dong Joon meringis kesakitan sambil mengusap pelan kakinya yang sakit. Dia tak lagi menatap gadis yang duduk berhadapan dengannya

  • Secret Of The "Black"   34. Deep Hug

    Mobil SUV hitam dengan plat DJ 56 P itu terparkir rapi di jalan dua arah yang berada di tengah perkebunan asri. Gadis itu memandangi perkebunan sayur yang berada di hadapannya lewat jendela mobil, ia bisa melihat udara yang mengalir untuk menggoyang beberapa dedaunan di perkebunan itu.Setelah beberapa saat, pandangannya beralih pada rumah sederhana yang berdiri di samping perkebunan hijau itu. Rumah dengan atap yang pendek serta tampak kumuh di bagian luarnya, seperti sudah tidak layak huni. Namun, faktanya ada seseorang yang tinggal di sana, seketika hati Hye Jin terenyuh.Hye Jin memejamkan kedua matanya, objek yang ditunggunya belum juga muncul. Gadis itu tidak keberatan jika harus menghabiskan waktu cukup lama untuk menunggu, sebab ia menyukai udara yang menemaninya di sana.Bukan seseorang yang sedang ditunggunya yang membangunkan tidur Hye Jin, melainkan suara laju kendaraan yang bising melewati mobilnya, menyemburkan angin yang keras ke wajah gadis itu. Hye Jin menegakkan tubu

  • Secret Of The "Black"   33. I Got You

    Hye Jin duduk seorang diri di depan Mini Mart yang berada di samping HanSung Hospital, tempat dimana Lee Hye Kyung dirawat. Ditemani dengan sepuluh potong gimbab di hadapannya, gadis itu bersandar menatap kosong ke arah gedung Rumah Sakit tersebut. Mulutnya tidak berhenti mengunyah sepotong demi sepotong gimbab itu sambil mencari cara untuk mendapatkan informasi dari gadis tersebut.Kedua matanya menangkap beberapa wartawan yang masih berdiri di depan Rumah Sakit. Hye Jin bisa menangkap keberadaan mereka dengan mudah walau di antaranya bersembunyi di suatu tempat. Gadis itu terdiam sambil menahan suhu dingin yang menembus tulang.Ia menyantap satu potong gimbab yang tersisa di hadapannya walau mulutnya sudah tidak bersemangat untuk mengunyah makanan itu. Hingga potongan gimbab yang cukup besar dengan tekstur yang masih kasar tersangkut di tenggorokannya.“Uhhhuuukkk!” Hye Jin tak berhenti batuk sambil menepuk dadanya pelan. Hal bodoh yang baru disadarinya setelah tersedak adalah, dirin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status