LOGINBab 40Pembicaraan di Tribun Pertandingan berjalan memasuki pertengahan kuarter kedua dan suasana arena semakin riuh, sorakan ribuan penonton memenuhi setiap sudut gedung, bercampur dengan suara sepatu yang berdecit di atas lantai kayu lapangan, dan teriakan para pelatih dari pinggir lapangan. Tim Ethan dan tim Harvey bermain jauh lebih agresif daripada yang diperkirakan banyak orang, kedua bintang lapangan basket itu sama-sama memperkuat tim nasional, namun kali ini mereka tidak dalam satu tim dan tidak ada tanda-tanda mereka berniat mengalah satu sama lain.Harvey baru saja mencetak tembakan tiga angka yang membuat tribun pendukungnya meledak dalam sorakan. Di sisi lain, Ethan membalas beberapa menit kemudian dengan lay-up cepat yang membuat pertandingan kembali seimbang.Nichole memperhatikan permainan di lapangan, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Sejak duduk di tribun VIP, ia beberapa kali memeriksa ponselnya tanpa sadar. Tidak ada pesan baru dari Oleg dan tidak
Bab 39Tidak Menarik LagiPesawat pribadi yang dikirim kakek Nichole mendarat di New York menjelang siang. Perjalanan yang seharusnya menghabiskan waktu lebih lama dan melelahkan menjadi jauh lebih singkat, tetapi tidak membuat siapa pun benar-benar merasa tubuh mereka menjadi lebih segar. Selama beberapa hari terakhir mereka terus bergerak dari Baltimore ke Arlington, mengejar petunjuk yang muncul lalu menghilang sebelum sempat digenggam. Bahkan gedung tua yang mereka curigai sehari sebelumnya ternyata tidak lebih dari sarang transaksi narkotika kelas bawah yang sama sekali tidak berhubungan dengan Igor Volkov.Perjalanan kembali ke New York kali ini hanya ada Nichole, Max, dan Fred. Raymond tetap berada di Arlington, memilih mengawasi perkembangan dari sana dan menindaklanjuti beberapa nama yang ditemukan dalam berkas-berkas lama. Sebelum berpisah di bandara, pria itu hanya berpesan agar mereka berhati-hati dan segera menghubunginya jika Oleg benar-benar bersedia menyerahkan alat k
Chapter 38Jalan buntu yang Mulai RetakHujan turun sejak sore sudah berhenti, tetapi jejaknya masih terlihat di kaca jendela Airbnb yang mereka sewa sementara untuk penyelidikan. Ruang makan kecil itu dipenuhi berkas, laptop, dan gelas kopi yang sudah dingin sejak lama. Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bersemangat lagi karena setelah seharian berada di luar tidak menemukan jejak, gedung tua yang mereka awasi dan curigai ternyata hanya tempat transaksi para pecandu narkotika dengan penjual dan itu di luar urusan pencarian Igor. Nichole sedang membaca ulang catatan yang sama ketika ponselnya bergetar di atas meja dan mendapati nomor yang muncul tidak dikenalnya, ia membiarkannya berdering beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu."Halo?"Beberapa detik berlalu tanpa jawaban, hanya suara napas samar dari ujung sana."Nichole Ellingthon?"Suara laki-laki itu membuat Nichole mengangkat kepala. Max yang duduk tidak jauh darinya menangkap perubahan ekspresinya
Chapter 37Memilih Keluarga Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis di ruang penginapan, jatuh pucat di lantai dan dinding, seolah hanya formalitas waktu yang berjalan. Nichole duduk di tepi tempat tidur dengan secangkir kopi yang hampir tidak disentuh, rambutnya masih sedikit berantakan, wajahnya tampak lebih tenang dibanding malam sebelumnya meskipun seolah ada sesuatu yang ditahan.Pintu kamar terbuka pelan dan Max masuk tanpa suara, ia berhenti sejenak ketika melihat Nichole sudah terjaga."Kau tidak tidur lama," kata Max.Nichole mengedikkan bahu sekilas. "Lumayan."Max tahu Nichole berbohong, terlihat dari wajahnya yang tidak terlihat segar tetapi ia tidak ingin membahas masalah tidur Nichole."Raymond bilang ada pergerakan yang tidak masuk laporan resmi, beberapa kendaraan keluar masuk Arlington, tapi tidak tercatat di jalur biasa," kata Max.Nichole mengangguk pelan dan bangkit. "Kalau begitu, kita tidak akan duduk diam di penginapan hari ini."***Mobil bergerak perlahan d
Chapter 36Menempuh jalan SendiriOleg mengambil ponsel yang tersimpan di laci paling bawah. Oleg menatapnya cukup lama sebelum akhirnya menarik napas pendek dan menyalakannya. Layar menyala perlahan, kosong, bersih, dan seperti benda yang memang tidak pernah digunakan untuk waktu yang sangat lama.Oleg mulai mengotak-atik layar ponsel itu lalu jemarinya bergerak pelan menekan kombinasi angka yang tidak masuk akal bagi siapa pun yang melihatnya. Bukan nomor, tetapi lebih seperti pola dan ia berhenti sejenak sebelum menekan panggil. Setelah dering ketiga barulah terdengar bunyi dari spikernya.Oleg tidak langsung berbicara, ia berdiri di dekat jendela apartemennya dengan tirai tertutup seolah dunia di luar terputus untuk sesaat."Sudah kubilang," suara itu akhirnya terdengar, rendah, tenang, dan terlalu familiar, "jangan gunakan jalur ini kecuali kau benar-benar terdesak."Oleg mengatupkan rahangnya. "Aku tidak akan menelepon lagi kalau kau memberitahu di mana Jelena."Hening sejenak,
Chapter 35Kehangatan yang Berbeda Ponsel Oleg bergetar singkat di atas meja sebelum layarnya menyala. Ia menatapnya beberapa detik, lalu mengetik cepat tanpa banyak pikir dan balasan datang kurang dari satu menit. Kemudian setelah dua puluh menit sebuah pesan kembali masuk. Oleg tidak membalas lagi, ia meraih jaketnya dan berdiri di dekat jendela lalu membuka tirai sedikit untuk melihat ke luar. Mobil yang sama masih terparkir di seberang jalan, dua orang di dalamnya berpura-pura tidak memperhatikan apa pun, tetapi kehadiran mereka bukan sebuah kebetulan.Ia menarik napas pelan lalu keluar dari apartemen, langkahnya tenang saat melewati lobi, dan salah satu pria yang biasa ia lihat langsung menghampirinya."Mau ke mana?" tanyanya."Temanku menjemput," jawab Oleg singkat. "Untuk pergi ke gym."Pria itu menatapnya seolah menelaah kebenaran dari mata Oleg. "Gym?" ulangnya.Oleg menahan tatapannya. "Kalau aku tidak keluar hari ini, teman-temanku akan mulai merasa aneh, aku sudah menghi







