Share

07| Pelarian Sesaat

Penulis: sidonsky
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-11 14:36:59

Sudah sepatutnya Raya berbahagia atas apapun pilihan Jagara, bukan? Setidaknya, berkali-kali Raya berusaha menanamkan pemikiran itu di benaknya, merasa bahwa apapun yang mereka lakukan adalah salah, dan keputusan yang Jagara ambil setelahnya—memilih memaafkan Kirani mungkin, serta menyelesaikan urusannya—adalah hal yang benar.

Tapi lihat Raya sekarang. Niat awal yang ingin lari dari masalah di Jakarta justru menimbulkan masalah baru di Bali. Masalah yang lebih parah, dan sakitnya terasa berkali-kali lipat dibanding saat ia menyaksikan perselingkuhan Ardava dengan mata kepala sendiri.

Raya melipat kedua kakinya di atas kasur hotel yang terasa terlalu besar dan dingin, merutuki dirinya sendiri yang nyatanya lebih sering menghabiskan waktu dengan melamun. Di sebelahnya, ponsel hitam milik Jagara tergeletak. Layarnya beberapa kali menyala, menampilkan notifikasi dari aplikasi pesan yang masuk sebelum pesan itu tanpa ia sentuh terbuka, menandakan Jagara juga sudah membuka aplikasi itu dari laptop atau elektronik lain yang tersambung.

Ia belum menyentuh benda itu. Belum membukanya, meski Raya tahu kode ponsel yang Jagara pakai. Sengaja, ia tidak ingin terlalu jatuh dan masuk terlalu dalam ke dalam realita kehidupan sang mantan kekasih. Ia mencoba membuang jauh-jauh pikiran itu ketika, sekali lagi, notifikasi itu muncul.

Dan kali ini, bukan nama yang asing. Melainkan nama seseorang yang membacanya saja sudah membuat jantung Raya seakan diremas-remas.

Kirani: Aku tahu kamu akan selalu ada buat aku, dan semua kesalahan aku akan aku tebus seumur hidup dengan bahagiain kamu.

Hanya sekelebat Raya membaca notifikasi itu sebelum pesan itu menghilang secara otomatis dari screen lock. Dan ia tahu, di suatu tempat, Jagara sudah membacanya. 

Raya menundukkan kepalanya lemah di antara lututnya, merasa telah melakukan dosa paling dalam yang ia punya. Ia tahu ia akan dibenci oleh semua orang jika mereka mengetahuinya. Kepalanya berputar, merasa ada yang tak beres pada dirinya, dalam situasi ini.

Jadi, sebelum pikiran gila itu kembali datang, Raya dengan gerakan terburu-buru menyambar ponsel Jagara dan beranjak dari kasurnya. Ia harus meninggalkan kamar ini, mengenyahkan bayang-bayang siapa pun dari kepalanya.

Berjalan dengan tergesa-gesa menuju lift dan berakhir sampai di lobi hotel, ia meminta seorang valet untuk memesankan satu taksi ke hadapannya. Sembari menunggu, Raya menatap sekitar, dan sialnya, pandangannya kembali mengarah kepada sosok yang baru saja keluar dari dalam mobil Range Rover putih yang diparkir dengan sempurna di area VVIP depan hotel.

Baru berniat menutup pintu mobil itu dan membalikkan arah, pandangannya sekali lagi mendapati Raya di sana. Berdiri tak jauh dari posisinya yang memarkirkan mobil miliknya. Hanya sepersekian detik, Raya memutuskan pandangan itu, bergantikan dengan ia yang segera memasuki taksi yang sudah ia pesan dan meninggalkan tatapan Jagara yang entah memiliki arti apa.

"Ke Finns Beach Club ya, Bli," kata Raya pada supir taksi itu.

Dan sepanjang perjalanan yang memakan waktu cukup panjang, karena Bali yang menjelang sore sudah dipadati oleh jalanan ramai, Raya menatap jendela. Melamun ketika ponsel dalam genggamannya bergetar. Menampilkan nomor tak dikenal yang menghubungi, yang tentu saja tidak Raya angkat. Ia hanya melihat bagaimana panggilan itu masuk dan berakhir dengan sendirinya. Kemudian, sebuah pesan masuk dari kontak asing yang sama muncul.

Kamu mau kemana? Ini hampir malam.

Raya meremas kecil ponsel Jagara dalam genggamannya, memilih menyandarkan kepalanya di punggung kursi penumpang. Menghembuskan napasnya panjang sampai membuat sang supir melirik dari kaca spion.

Turun dari taksi, Raya masuk ke dalam klub. Suasana klub itu terbilang sudah cukup ramai bahkan ketika jam baru menunjukkan pukul empat sore. Ia berjalan mendekati sang bartender dan duduk di salah satu kursi bar tinggi. "Bintangnya satu ya, Bli."

Sepertinya hari ini, Raya hanya berniat mendengarkan musik tanpa harus mabuk terlebih dahulu. Jadi ia akan meminumnya dengan pelan dan santai, menyicipi nuansa klub Bali yang berbeda dari klub Jakarta pada umumnya.

"Terima kasih," kata Raya saat bir dalam botolnya datang. Perlahan ia menyicip. Sedikit pahit. Artinya dunia Raya sedang tidak baik-baik saja.

Di dua jam pertama, Raya terhanyut dengan musik dari DJ yang berada di klub ini, menggoyang-goyangkan kepalanya dengan pelan, menenggak bir kelimanya tanpa memakan cemilan apapun. Perutnya seperti tidak ingin menerima makanan apapun. Dan perlahan, klub yang semakin malam semakin ramai. Suara DJ yang tadi hanya memutar musik-musik santai kini berubah menjadi EDM dengan bass yang menggelegar dan teriakan dari arah sekitar.

Sementara Raya masih di posisinya, matanya menatap sekitar, kesadarannya masih aman. Ia masih mengenali lingkungan dan dirinya. Setidaknya itu yang ia butuhkan agar bisa pulang dengan selamat, bukan?

Tiba-tiba, ada seorang pria yang mendekat. Seorang lelaki bule asing dengan mata birunya merangkul Raya, membuat gadis itu sempat terlonjak dan menoleh ke arah sumber penganggunya.

"I've been watching you for a while," bisik pria asing itu di telinga Raya di tengah keramaian. "You're here alone?"

Raya mengangguk singkat. "Yes." Hanya itu.

"Want me to accompany you?" katanya lagi, yang membuat Raya menimbang-nimbang, memperhatikan detail wajah lelaki asing itu yang tampak tampan, dengan tubuh atletis.

Setelahnya, Raya mengangguk. Ditemani seorang lelaki tampan nampaknya tidak begitu buruk untuk pelariannya, bukan?

Lelaki itu duduk di sebelah Raya, menjulurkan tangannya. "I'm Brian. What's your name?"

"Raya," balas Raya sembari membalas uluran tangan itu.

You're only drinking beer?” suara itu terdengar tepat di sebelahnya, sedikit berat namun santai. “Come on, you’re too pretty to stick with that. Want me to buy you something better?

Raya menoleh perlahan. Lelaki itu, Brian, tampak percaya diri dengan senyuman miring yang seolah sudah hafal efeknya pada perempuan lain. Ia melirik meja kecil di depan Raya, di mana tujuh botol kecil bir berjajar rapi seperti saksi bisu pelarian emosionalnya malam ini.

Raya tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip tantangan daripada persetujuan. “Sure,” jawabnya ringan, seolah pilihan itu tak berarti apa-apa.

Atas jawaban itu, Brian memesan minuman keras yang harganya bahkan Raya tidak mau lihat, gelas bening berisi cairan amber yang jauh lebih kuat dari bir. Mereka minum bersama. Satu gelas. Dua. Tiga. Percakapan mengalir begitu mudah, tentang musik, tentang hidup, tentang hal-hal dangkal yang hanya valid sebagai pengalih pikiran.

Raya tertawa, tawa yang sudah lama tidak ia keluarkan. Membuat Brian tersenyum puas, lalu menarik pergelangan tangan Raya secara halus.

Come on,” katanya sambil menunjuk kerumunan penari di lantai dansa. “You look like you need to move a little.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Raya tidak menolak. Ia mengangguk dan mengikutinya menuju lantai dansa.

Lampu-lampu neon berkelip, musik berdentum memenuhi ruang, dan tubuh-tubuh asing bergerak mengikuti irama. Raya membiarkan dirinya hanyut, bahkan menikmati rasanya tidak memikirkan apa pun. Bahunya rileks, tubuhnya mengikuti beat, matanya redup oleh alkohol dan suara dalam kepalanya yang akhirnya sedikit diam.

Namun situasi berubah ketika tangan Brian menjalar ke pinggangnya, lalu perlahan naik ke atas, mendekati dadanya. Gerakan Raya cepat dan tegas, ia menangkap pergelangan tangan itu dan menurunkannya kembali.

No,” katanya sambil memberi isyarat dengan telapak tangan. “Just friends.”

Tapi Brian justru menampilkan cengiranannya dan kembali berniat meraih pinggang Raya. Raya menolak di situ, dan berjalan menjauh, namun cengkraman Brian yang kuat membawa Raya kembali pada tempatnya.

"I already bought you those expensive drinks," kata Brian menggoda. "At least let me touch your body."

Listen,” suara Raya kini stabil dan dingin, meski musik keras mengelilinginya. “I’m not a slut. And even if I were—” ia mendekat, menatapnya tanpa kedip, “—I still wouldn’t fall for some cheap drink.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sehangat Dekapan Mantan   133| Mungkin, Masih Di Sini.

    Kesadaran Raya kembali perlahan, seperti seseorang yang dipaksa bangun dari dasar laut.Awalnya hanya suara—dengung mesin yang ritmis, halus namun konstan. Entah monitor jantung atau alat medis lain, Raya tak langsung tahu. Kepalanya terasa berat, kelopak matanya kaku, dan tubuhnya seperti bukan miliknya sendiri. Ia mengerjap sekali. Dua kali. Pandangannya masih buram ketika cahaya putih di atas kepalanya menyilaukan, memaksanya memejam lagi.Napasnya terdengar sendiri di telinga.Ketika akhirnya ia membuka mata lebih lebar, siluet seseorang duduk di samping ranjang mulai terbentuk. Sosok itu diam, terlalu diam, dengan postur tegap dan aura yang—bahkan dalam kondisi setengah sadar—terasa begitu familiar.Raya menegang.Indra pendengarannya kembali sepenuhnya bersamaan dengan detak jantungnya yang mendadak memburu.Jagara.Lelaki itu duduk di kursi samping ranjang rumah sakit, kedua tangannya terlipat di depan dada, rahangnya mengeras, dan tatapannya lurus tertuju padanya. Tatapan yang

  • Sehangat Dekapan Mantan   132| Gelap

    Pagi itu datang tanpa membawa apa pun selain rasa kosong.Raya terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh denyut tumpul di pelipis dan mata yang terasa berat seperti diisi pasir. Ia menatap langit-langit apartemen kecilnya di Jerman cukup lama, seolah berharap ada sesuatu yang berubah sejak malam sebelumnya. Tapi tidak ada. Dadanya masih terasa sesak, napasnya pendek-pendek, dan bayangan wajah Jagara—datar, dingin, penuh jarak—masih berputar tanpa izin di kepalanya.Ia bangun dengan gerakan lambat. Langkahnya menuju kamar mandi pun terasa asing, seakan tubuhnya berjalan sendiri tanpa semangat. Di depan cermin, Raya terdiam. Matanya bengkak, kelopaknya sembap, bagian putihnya memerah. Bekas tangis semalam terlalu jelas untuk disembunyikan. Ia menyalakan keran, membasuh wajah berkali-kali dengan air dingin, berharap bisa menghapus jejak malam yang menghancurkannya. Tapi air hanya membuat kulitnya dingin, tidak menyentuh perasaan.“Harus kerja,” gumamnya pelan, seperti mengingatkan di

  • Sehangat Dekapan Mantan   131| Masih Menunggu

    Raya tahu ia tidak seharusnya melakukan ini.Sejak awal, langkahnya sudah salah. Kebodohan terbesarnya adalah ketika ia berdiri terlalu lama di depan meja informasi rumah sakit sore tadi, lalu—dengan alasan yang ia buat sendiri—menanyakan alamat tempat tinggal Jagara kepada bagian administrasi. Ia bahkan masih ingat bagaimana jemarinya sedikit gemetar saat mengucapkan nama itu, seolah hanya dengan menyebutnya saja ia telah mengkhianati keputusan yang susah payah ia buat berbulan-bulan lalu.Dan kini, kebodohan itu membawanya berdiri di sini.Di depan sebuah hotel mewah di pusat kota, bangunannya menjulang dengan fasad kaca dan batu gelap yang memantulkan cahaya lampu malam Jerman. Nama hotel itu terpampang elegan di atas pintu masuk, huruf-huruf emasnya berkilau tenang, seolah tidak peduli pada kekacauan yang sedang berputar di dada Raya.Coat hitam panjang milik Jagara masih tersampir di lengannya, satu alasan yang ia miliki untuk bertemu Jagara, mengembalikan coat itu. Ia tahu alasa

  • Sehangat Dekapan Mantan   130| Sudah Seharusnya

    “Ga… Gara?”Nama itu keluar nyaris tanpa suara, seperti napas yang tersangkut di tenggorokan. Jagara tidak langsung menjawab. Ia memutus kontak mata lebih dulu, seolah jika ia terus menatap, ada sesuatu di dadanya yang akan runtuh tanpa bisa diperbaiki lagi.Langkahnya mantap, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipanggil oleh masa lalunya. Ia berjalan ke arah kursi periksa dokter gigi, kursi dental berwarna putih dengan sandaran tinggi—lalu duduk tanpa banyak ekspresi. Tubuhnya bersandar ketika sandaran kursi perlahan direbahkan oleh perawat, lampu sorot bulat di atas kepalanya dinyalakan, memantulkan cahaya terang yang menusuk mata.Perawat mengenakan dental bib—pelindung kain tipis—di dada Jagara agar pakaiannya tidak terkena cairan. Tangannya cekatan, profesional, seolah ini hanyalah pemeriksaan biasa. Jagara membiarkan semua itu terjadi tanpa protes. Pandangannya kosong, menatap langit-langit putih, sementara pikirannya penuh oleh satu wajah yang kini berdiri kaku di sa

  • Sehangat Dekapan Mantan   129| Jerman dan Musim Dingin

    Jagara selalu menyukai negara ini dari kejauhan.Bukan karena ia pernah berjalan di jalanannya, bukan pula karena kenangan personal yang melekat. Ia hanya menyukai gambaran yang selama ini ia lihat, tentang kota-kota yang tertib, musim dingin yang jujur, dan kesunyian yang tidak memaksa siapa pun untuk berpura-pura bahagia.Kini, untuk pertama kalinya, ia datang.Bukan sebagai turis. Bukan sebagai pebisnis. Dan jelas bukan sebagai pria yang hidupnya baik-baik saja.Dengan hanya sebuah tas tenteng kecil yang isinya tidak lebih dari beberapa helai pakaian dan dokumen penting, Jagara melangkah keluar dari bandara. Tidak ada Baim di belakangnya, tidak ada pengawal yang biasa menjaga jarak satu langkah. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia benar-benar sendirian.Udara menyambutnya dengan dingin yang kasar.Angin menusuk sela-sela coat hitam panjang yang ia kenakan, membuatnya refleks merapatkan kain itu ke tubuhnya. Ia tahu ia salah kostum. Musim dingin di negara ini tidak meng

  • Sehangat Dekapan Mantan   128| Tidak Bisa Keluar Lagi

    Jagara benar-benar mengacau.Bar itu penuh cahaya temaram dan suara musik rendah yang bergetar di dada, tapi tak satu pun benar-benar masuk ke kepalanya. Gelas di tangannya sudah berganti entah ke berapa kali, es mencair, alkohol menggerus kesadarannya perlahan. Jas mahalnya tergeletak sembarangan di kursi sebelah, dasinya sudah tak beraturan. Jagara menunduk di meja bar, bahunya naik turun, napasnya berat, seolah setiap tarikan udara adalah beban yang tak sanggup lagi ia pikul.Ponsel di sakunya bergetar berkali-kali yang tentu tak dihiraukan.Getaran itu akhirnya berhenti, lalu kembali menyala—lebih lama kali ini. Baim, yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya, menghela napas sebelum meraih ponsel itu. Nama 'Mama' terpampang di layar. Jantungnya berdegup tak nyaman.“Gara kamu—” suara Ratna terdengar tajam bahkan sebelum Baim sempat menyapa.“Maaf, Ibu,” Baim memotong dengan sopan, suaranya ditahan agar tetap stabil. Matanya melirik Jagara yang kini benar-benar terkulai di atas mej

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status