Share

08| Masih Peduli

Author: sidonsky
last update Last Updated: 2025-12-11 14:40:07

I’m not a slut. And even if I were, I still wouldn’t fall for some cheap drink.”

Kata-kata itu menusuk. Brian terdiam sepersekian detik, shock, lalu marah. Sementara Raya sudah berbalik untuk pergi ketika tangan kasar itu kembali mencengkeram pergelangan tangannya, lebih kuat dari sebelumnya. Tubuhnya kembali dipaksa menghadap Brian.

Napas Brian kini kasar, memburu, dan bau alkohol yang tajam menyeruak ke hidung Raya.

Let fucking go off me, you pervert!” Raya mendesis, suaranya pecah di antara musik keras dan lampu neon yang berkedip."

Brian tertawa kecil. "I'm a pervert? Oh, you little—"

BUGHH!

Suara benturan keras memotong kalimatnya. Tubuh Brian terlempar ke samping seperti boneka kain yang dipukul terlalu keras. Kepalanya hampir membentur kaca meja sebelum ia jatuh setengah berlutut dengan tangan menahan tubuhnya di lantai yang licin.

Raya menjerit kecil, tangannya refleks terangkat menutupi mulutnya. Napasnya tercekat. Sementara suara musik masih terdengar keras, tapi waktu seperti melambat. Beberapa orang menoleh. Sebagian berhenti menari. Sebagian hanya menatap seperti sedang menikmati drama gratis.

Masih dengan posisinya, Brian mengerang pelan, satu tangannya memegang rahang yang mulai memerah.

Dan di depan Raya, berdiri sosok yang baru saja memukulnya.

Seorang pria tinggi, berbalut kemeja hitam yang ujung lengannya sedikit tergulung, memperlihatkan otot lengan dan pembuluh darah yang menegang. Rahangnya mengeras, matanya tajam dan nampak begitu berbahaya.

Ia sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang datang ke klub untuk bersenang-senang.

Ia terlihat seperti seseorang yang datang untuk menghancurkan siapapun yang menyentuh apa yang bukan milik mereka.

Touch her again,” suaranya rendah, nyaris seperti geraman. “And you’ll lose the ability to ever use those hands again.

Brian mencoba bangkit, meski goyah. “Who the fu—

"Get out," potong Jagara dengan suara yang rendah namun mengancam. "Or I'll tell your company you're harassing women here. I'm sure they'd love to know about their immigrant employee's extracurricular activities."

Dan atas ancaman mematikan dan wajah tak bercanda itu, membuat Brian segera bangkit dengan susah payah dan enyah dari sana, meninggalkan seluruh tatapan di klub yang penerangannya minim ini. Jagara kembali menatap Raya yang masih mematung di tempatnya dengan wajah shock.

"Ga... Gara?"

Belum sempat menanyakan apa-apa, Raya sudah lebih dahulu ditarik pergi dari keramaian yang memperhatikan mereka. Jagara membawanya menuju pintu keluar dan mendekati sebuah mobil Range Rover putih yang mesinnya masih menyala. Tanpa bersuara, lelaki itu membukakan pintu penumpang untuk Raya, membiarkannya masuk, sebelum ia berjalan memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi.

Di dalam, suasana hening. Hanya terdengar deru napas tak beraturan Jagara yang terdengar menghujani Raya.

"Kamu gak bisa ya, diem aja di hotel dan jangan bikin saya khawatir?!" Bentakan itu kembali datang secara mengejutkan, membuat tubuh Raya terlonjak dan dengan mata berbinar menatap Jagara dengan wajah merah padam.

"Gak ada yang minta kamu buat khawatirin aku, Gara."

"Fuck!!" bentak Jagara sembari memukul keras kemudinya, membuat Raya kembali menegangkan tubuhnya. Ia seperti berhadapan dengan Jagara yang baru, penuh amarah, dan ini sangat sulit untuk diatasi.

Raya membiarkannya terlebih dahulu, setidaknya sampai lelaki itu tenang.

"Kamu tahu, apa yang baru aja saya tinggalkan demi menjemput kamu?" Kali ini, nada Jagara turun dua oktaf, kepalanya berputar, menatap Raya yang masih menunduk.

Sebelum menjawab, Raya memainkan kukunya. "Makan malam sama calon istri kamu?"

"Damn it, Raya!" serapah Jagara lagi sembari mengacak rambutnya. "Investasi triliunan. Saya baru aja meninggalkan klien penting dari acara makan malam, hanya untuk lihat kamu digerayangi oleh bajingan macam itu?"

Raya semakin menundukkan kepalanya, tak berani mengangkatnya. "Terus kenapa kamu lakuin itu?"

"I don't fucking know!" cicit Jagara kali ini, suaranya penuh frustrasi. "Mungkin karna saya lihat kamu pergi naik taksi sendirian? Mungkin karna saya tahu kamu baca pesan Kirani? Mungkin karna kamu gak ngangkat telfon saya? Atau mungkin karna..." Jagara menjeda kalimatnya, matanya menatap jauh ke depan, seolah berperang dengan dirinya sendiri.

"Saya masih peduli dengan kamu. Saya juga gak tahu."

Pengakuan itu, membawa perlahan kepala Raya terangkat. Berusaha payah menatap Jagara, menatap lubuk hati lelaki yang telah ia hancurkan, yang kini berada di ambang kehancurannya sendiri. Dan di dalam mobil yang sempit dan penuh dengan ketegangan itu, Raya tidak tahu harus merespon apa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sehangat Dekapan Mantan   133| Mungkin, Masih Di Sini.

    Kesadaran Raya kembali perlahan, seperti seseorang yang dipaksa bangun dari dasar laut.Awalnya hanya suara—dengung mesin yang ritmis, halus namun konstan. Entah monitor jantung atau alat medis lain, Raya tak langsung tahu. Kepalanya terasa berat, kelopak matanya kaku, dan tubuhnya seperti bukan miliknya sendiri. Ia mengerjap sekali. Dua kali. Pandangannya masih buram ketika cahaya putih di atas kepalanya menyilaukan, memaksanya memejam lagi.Napasnya terdengar sendiri di telinga.Ketika akhirnya ia membuka mata lebih lebar, siluet seseorang duduk di samping ranjang mulai terbentuk. Sosok itu diam, terlalu diam, dengan postur tegap dan aura yang—bahkan dalam kondisi setengah sadar—terasa begitu familiar.Raya menegang.Indra pendengarannya kembali sepenuhnya bersamaan dengan detak jantungnya yang mendadak memburu.Jagara.Lelaki itu duduk di kursi samping ranjang rumah sakit, kedua tangannya terlipat di depan dada, rahangnya mengeras, dan tatapannya lurus tertuju padanya. Tatapan yang

  • Sehangat Dekapan Mantan   132| Gelap

    Pagi itu datang tanpa membawa apa pun selain rasa kosong.Raya terbangun bukan oleh alarm, melainkan oleh denyut tumpul di pelipis dan mata yang terasa berat seperti diisi pasir. Ia menatap langit-langit apartemen kecilnya di Jerman cukup lama, seolah berharap ada sesuatu yang berubah sejak malam sebelumnya. Tapi tidak ada. Dadanya masih terasa sesak, napasnya pendek-pendek, dan bayangan wajah Jagara—datar, dingin, penuh jarak—masih berputar tanpa izin di kepalanya.Ia bangun dengan gerakan lambat. Langkahnya menuju kamar mandi pun terasa asing, seakan tubuhnya berjalan sendiri tanpa semangat. Di depan cermin, Raya terdiam. Matanya bengkak, kelopaknya sembap, bagian putihnya memerah. Bekas tangis semalam terlalu jelas untuk disembunyikan. Ia menyalakan keran, membasuh wajah berkali-kali dengan air dingin, berharap bisa menghapus jejak malam yang menghancurkannya. Tapi air hanya membuat kulitnya dingin, tidak menyentuh perasaan.“Harus kerja,” gumamnya pelan, seperti mengingatkan di

  • Sehangat Dekapan Mantan   131| Masih Menunggu

    Raya tahu ia tidak seharusnya melakukan ini.Sejak awal, langkahnya sudah salah. Kebodohan terbesarnya adalah ketika ia berdiri terlalu lama di depan meja informasi rumah sakit sore tadi, lalu—dengan alasan yang ia buat sendiri—menanyakan alamat tempat tinggal Jagara kepada bagian administrasi. Ia bahkan masih ingat bagaimana jemarinya sedikit gemetar saat mengucapkan nama itu, seolah hanya dengan menyebutnya saja ia telah mengkhianati keputusan yang susah payah ia buat berbulan-bulan lalu.Dan kini, kebodohan itu membawanya berdiri di sini.Di depan sebuah hotel mewah di pusat kota, bangunannya menjulang dengan fasad kaca dan batu gelap yang memantulkan cahaya lampu malam Jerman. Nama hotel itu terpampang elegan di atas pintu masuk, huruf-huruf emasnya berkilau tenang, seolah tidak peduli pada kekacauan yang sedang berputar di dada Raya.Coat hitam panjang milik Jagara masih tersampir di lengannya, satu alasan yang ia miliki untuk bertemu Jagara, mengembalikan coat itu. Ia tahu alasa

  • Sehangat Dekapan Mantan   130| Sudah Seharusnya

    “Ga… Gara?”Nama itu keluar nyaris tanpa suara, seperti napas yang tersangkut di tenggorokan. Jagara tidak langsung menjawab. Ia memutus kontak mata lebih dulu, seolah jika ia terus menatap, ada sesuatu di dadanya yang akan runtuh tanpa bisa diperbaiki lagi.Langkahnya mantap, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipanggil oleh masa lalunya. Ia berjalan ke arah kursi periksa dokter gigi, kursi dental berwarna putih dengan sandaran tinggi—lalu duduk tanpa banyak ekspresi. Tubuhnya bersandar ketika sandaran kursi perlahan direbahkan oleh perawat, lampu sorot bulat di atas kepalanya dinyalakan, memantulkan cahaya terang yang menusuk mata.Perawat mengenakan dental bib—pelindung kain tipis—di dada Jagara agar pakaiannya tidak terkena cairan. Tangannya cekatan, profesional, seolah ini hanyalah pemeriksaan biasa. Jagara membiarkan semua itu terjadi tanpa protes. Pandangannya kosong, menatap langit-langit putih, sementara pikirannya penuh oleh satu wajah yang kini berdiri kaku di sa

  • Sehangat Dekapan Mantan   129| Jerman dan Musim Dingin

    Jagara selalu menyukai negara ini dari kejauhan.Bukan karena ia pernah berjalan di jalanannya, bukan pula karena kenangan personal yang melekat. Ia hanya menyukai gambaran yang selama ini ia lihat, tentang kota-kota yang tertib, musim dingin yang jujur, dan kesunyian yang tidak memaksa siapa pun untuk berpura-pura bahagia.Kini, untuk pertama kalinya, ia datang.Bukan sebagai turis. Bukan sebagai pebisnis. Dan jelas bukan sebagai pria yang hidupnya baik-baik saja.Dengan hanya sebuah tas tenteng kecil yang isinya tidak lebih dari beberapa helai pakaian dan dokumen penting, Jagara melangkah keluar dari bandara. Tidak ada Baim di belakangnya, tidak ada pengawal yang biasa menjaga jarak satu langkah. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia benar-benar sendirian.Udara menyambutnya dengan dingin yang kasar.Angin menusuk sela-sela coat hitam panjang yang ia kenakan, membuatnya refleks merapatkan kain itu ke tubuhnya. Ia tahu ia salah kostum. Musim dingin di negara ini tidak meng

  • Sehangat Dekapan Mantan   128| Tidak Bisa Keluar Lagi

    Jagara benar-benar mengacau.Bar itu penuh cahaya temaram dan suara musik rendah yang bergetar di dada, tapi tak satu pun benar-benar masuk ke kepalanya. Gelas di tangannya sudah berganti entah ke berapa kali, es mencair, alkohol menggerus kesadarannya perlahan. Jas mahalnya tergeletak sembarangan di kursi sebelah, dasinya sudah tak beraturan. Jagara menunduk di meja bar, bahunya naik turun, napasnya berat, seolah setiap tarikan udara adalah beban yang tak sanggup lagi ia pikul.Ponsel di sakunya bergetar berkali-kali yang tentu tak dihiraukan.Getaran itu akhirnya berhenti, lalu kembali menyala—lebih lama kali ini. Baim, yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya, menghela napas sebelum meraih ponsel itu. Nama 'Mama' terpampang di layar. Jantungnya berdegup tak nyaman.“Gara kamu—” suara Ratna terdengar tajam bahkan sebelum Baim sempat menyapa.“Maaf, Ibu,” Baim memotong dengan sopan, suaranya ditahan agar tetap stabil. Matanya melirik Jagara yang kini benar-benar terkulai di atas mej

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status